SORA
“Ah, sepertinya kali ini benar-benar hujan.” Tanganku menengadah pada langit dan penglihatanku tidak salah. Aku melihat rintik hujan membasahi telapak tangan ini.
Sejak kami sampai di ketinggian empat ribu seratus empat puluh kaki, kabut mulai menyapa dengan kandungan air yang membawanya sebagai hujan buatan. Ketinggian yang legal untuk dikunjungi hanya sebatas ini karena jika ingin mencapai pada ketinggian aslinya, kita harus membuat persiapan yang matang dengan perbekalan yang mumpuni untuk bertahan hidup selama mengarungi hutan yang terus menanjak. Namun, aku juga tidak tahu apakah ketinggian itu pernah dijamah atau tidak karena saat aku bertanya pada Eza, dia pun tidak tahu persis jawabannya.
Saat aku tengah fokus pada jalan, tiba-tiba seseorang menyampirkan sesuatu di bahuku. “Eh, kenapa ini?” Eza menyampirkan jaket yang sedari tadi digenggamnya.
“Sudah, pakai saja.”
“Tidak perlu. Aku rasa kau akan membutuhkannya nanti.”
“Sudah, tidak apa-apa. Kita berteduh dulu nanti di warung itu.” Eza menunjuk salah satu warung yang tersedia di lokasi ini.
Aku masih ingin memprotes padanya, tapi Eza mengisyaratkan untuk diam dan dia pun melanjutkan langkahnya lebih dulu. Aku merasa takjub padanya yang terus bergerak tanpa mengenakan jaket sejak di pertengahan jalan saat naik, padahal aku masih kedinginan dengan jaket yang kukenakan.
Akhirnya aku pun diam dan terus melangkah turun karena langit tidak mau bersahabat dengan kami. Untung saja tadi kami memutuskan turun lebih awal dari perkiraan. Aku baru mengetahui jika Eza cukup banyak tahu tentang kegiatan yang kami lakukan. Bahkan dia bisa mendeteksi situasi alam, di mana aku hanya bisa mengangguk dan mengikuti arahannya saja. Seperti orang awam lagi.
“Huft, masih cukup jauh ternyata,” keluhku saat hujan semakin menunjukkan kegagahannya. Setengah tubuhku terlindungi karena jaket milik Eza berbahan tahan air di luarannya dan hangat di bagian dalam. Namun, aku terkejut saat kakiku sedikit terpeleset yang membuat perhatian Eza kembali padaku.
“Sora, hati-hati.” Eza pun mengulurkan tangannya ke arahku. “Pegang tanganku! Ayo!”
Entah kenapa, aku masih sempat berpikir untuk menerima atau tidak uluran tangannya, padahal ini sudah masuk dalam keadaan genting. Saat aku masih berpikir tentang hal itu, Eza langsung meraih tanganku tanpa menunggu lagi jawaban dan itu cukup membuatku terkejut.
Langkah kaki ini terus mengikuti langkah kaki Eza. Seolah mengerti, kecepatan langkah kakinya tidak membuatku kesulitan padahal panjang kaki kami berbeda. Akhirnya aku pun menggenggam tangan Eza yang setia pada tanganku. Cukup erat, karena Jujur saja, kali ini aku benar-benar kedinginan. Bahkan kontrol diri saja aku mulai kesulitan. Seketika memori yang lalu pun kembali.
Tidak! Aku harus bisa bertahan. Aku tidak boleh membuatnya khawatir seperti mereka dulu. Aku tidak ingin kehilangannya. Aku tidak ingin kehilangan lagi temanku.
Tidak terasa air mataku menetes kembali di tengah guyuran hujan. Dengan segera aku menyekanya saat kami tiba di salah satu warung yang masih buka. Aku tidak ingin Eza melihatnya.
Kami pun duduk di salah satu kursi, lalu memesan minuman hangat. Aku memperhatikan derasnya hujan yang kini mulai berangin. Tidak lama, pesanan kami pun datang. Aku langsung menerima minuman itu saat Eza mengulurkannya padaku. Tanpa aku sadari, aku langsung meminumnya tanpa aba-aba.
“Sora ....”
Aku pun menatap Eza yang entah kenapa menatapku dengan heran. “Iya, kenapa?”
“Apa kau baik-baik saja?”
“Tentu, aku baik-baik saja.”
“Kau tidak merasakan panas?”
Seketika aku membeku mendapat pertanyaan itu, karena sejujurnya aku tidak merasa kesulitan saat menelan minumanku.
“Mungkin minumannya dingin lebih cepat.” Aku berusaha menjawabnya dengan logis, meski keraguan aku rasakan.
“Kemari! Duduklah lebih dekat padaku,” pintanya.
“Hah?” Aku bingung harus bagaimana. Namun, Eza meraih tanganku kembali. Bahkan dia sedikit menarikku agar aku mau melakukannya.
Aku begitu gugup sekarang, meski kami tidak hanya berdua di sini. Perlakuan Eza semakin membuatku bingung, tapi nyaman. Dia menggosok tanganku yang mulai kebas, dan sesekali dia meniupkan hawa panas dari mulutnya.
“Apa ini lebih baik?” tanyanya. Aku melihat dia khawatir, meski dia tidak banyak bicara sekarang.
“Iya, terima kasih.” Aku berniat menarik kembali tanganku, tapi Eza menahannya.
“Aku tahu kau kedinginan. Diamlah dulu!”
“Aku baik-baik saja.”
“Berhentilah bicara seperti itu, jika kau tidak benar-benar merasakannya! Aku hanya ingin membawamu pulang seperti apa yang kau katakan.”
Aku tertegun mendengar penuturannya. Rasanya jantungku dihujami benda tajam. Ucapannya begitu tepat sasaran.
Dengan hati-hati aku pun mulai menatap Eza yang hanya fokus pada tanganku. Aku bisa melihat ketulusannya. Bahkan kemeja yang dikenakannya terlihat basah sekarang.
“Apa di kawasan ini ada yang menjual baju?” tanyaku pada Eza.
“Biasanya ada, tapi tidak di sini. Kita harus turun dulu,” jelasnya, “kenapa kau menanyakannya? Apa bajumu basah?”
Eza memalingkan wajahnya padaku. Matanya mulai menelusuri tubuhku dari atas hingga bawah dan itu membuatku malu. Seketika aku menarik tanganku yang sedari tadi genggamnya, lalu sedikit mendorong wajah Eza ke satu sisi agar dia memalingkan tatapannya.
“Tidak. Hanya ujung celanaku yang basah.”
“Ah ... baiklah.”
Aku pun tersadar dengan apa yang aku lakukan dan menarik tanganku dari wajahnya. “Ya ampun. Maafkan aku! Tanganku refleks. Sekali lagi aku minta maaf.”
“Tidak apa-apa, harusnya aku yang minta maaf.”
Suasana menjadi canggung di tengah hujan yang masih belum juga puas jatuh ke bumi. Sesekali aku melihat Eza menyugar rambutnya yang terlihat lembab. Rambutnya sedikit panjang untuk seukuran pria. Aku rasa dia belum sempat pergi ke barber shop untuk merapikannya. Namun, entah kenapa mataku terpana saat dia melakukan itu. Terlihat tampan dengan bentuk wajahnya yang tegas. Seketika aku memalingkan wajah saat dia mengalihkan pandangannya ke arahku.
“Sepertinya kita akan pulang terlambat. Apa kau baik-baik saja soal ini?”
“Aku akan mencoba menghubungi orang rumah.”
“Ah, baiklah. Semoga saja hujannya cepat reda!”
Meski lokasi ini jauh dari perkotaan, tapi di sini masih mampu menangkap sinyal provider. Walau mungkin hanya beberapa yang timbul dan membutuhkan beberapa menit untuk membuat pesanku berubah menjadi terkirim. Setelah selesai dengan ponsel, aku lebih memilih menatap ke depan dengan perasaan hampa dan sendu. Berharap hujan segera berakhir. Namun, perkiraan Eza benar. Bahkan hampir petang, hujan baru mereda.
Kami pun memutuskan untuk turun. Sebelum itu kami mengecek bagasi sepeda motor dan tidak menemukan sesuatu yang kami butuhkan jika hal genting seperti tadi terjadi lagi.
“Semoga saja tidak hujan lagi!”
“Hm, semoga!”
Eza mulai melajukan sepeda motor setelah aku duduk di belakangnya. Kali ini rasa panik itu sedikit berkurang karena aku tidak perlu takut jika motor ini tiba-tiba berhenti lagi. Namun, aku berharap jika rem sepeda motor ini berfungsi dengan baik karena aku tidak ingin jika motor ini oleng dan terjadi hal yang tidak diinginkan.
“Apa semua baik-baik saja?”
“Aman. Kau hanya perlu bersantai di belakang,” ucapnya.
“Gayamu!” Aku menepuk bahu Eza yang membuatnya terkekeh.
Aku ingat jika kemeja Eza basah tadi. “Sebaiknya kita beli pakaian.”
“Untuk apa? Apa kau ingin membeli oleh-oleh?” tanyanya.
“Aku tidak berniat membeli oleh-oleh sejak awal, tapi bajumu basah.”
“Ah, begitu. Aku tidak apa-apa, Sora. Aman.”
“Bahkan kau menolak aku mengembalikan jaketmu. Bagaimana kau bisa aman?”
“Sudah, kau tidak perlu memikirkan hal itu. Yang penting nanti jangan hujan lagi. Baru aku akan kesulitan.”
“Sejak tadi kau hanya memikirkanku, tanpa peduli bagaimana keadaanmu sekarang. Kau pikir aku senang melihatmu kedinginan seperti ini.” Entah kenapa aku merasa tidak suka dengan sikap Eza yang ini.
Pria di depanku ini hanya diam. Bahkan dia hanya terus melajukan sepeda motor sampai keluar kawasan. Rasanya aku ingin memukulnya sampai Eza kewalahan menghadapiku. Aku tahu dia sengaja menghindar, tapi kenapa dia begitu enggan menerima tawaranku.
“Eza, kau bisa sakit. Apa kau tidak tahu hal itu?” keluhku.
“Bajuku mulai kering. Kau tidak perlu khawatir. Aku akan baik-baik saja.”
Sungguh, aku begitu ingin mencubitnya yang begitu keras kepala, tapi dia sedang berkendara. Entah kenapa aku begitu repot memikirkannya. Padahal dia sendiri tidak peduli dengan kekhawatiran yang aku rasakan. Tiba-tiba saja kesal. Jadi, aku lebih memilih diam sepanjang jalan kami pulang.
“Sora ...” panggilnya. Namun, aku malas menjawabnya. “Sora ....”
“Hm ....”
“Kau marah?”
“Aku tidak memiliki hak untuk itu,” ketusku.
“Jelas kau memilikinya.”
“Atas dasar apa?” Eza pun diam kembali, tidak menjawab pertanyaanku. “Bukannya kau sendiri tahu jika di bagasi motor tidak ada satu pun jas hujan. Bagaimana jika nanti hujan lagi? Bahkan aku masih ingat jika kau berkata bahwa jangan mengatakan hal yang memang tidak benar-benar aku rasakan. Menjadi orang bijak itu sungguh mudah, ya.”
Entah kenapa rasanya kami seperti sepasang kekasih yang tengah merajuk, padahal kami hanya sekedar teman satu kampus. Dan kenapa aku bisa sekesal ini hanya karena Eza tidak mau mendengarkanku. Apa naluri anak tunggalku tengah beraksi? Bahkan aku tidak berhak mengaturnya.
“Ck!” Aku berdecak cukup keras tanpa sadar.
Astaga, Sora!
Tiba-tiba laju motor ini mulai berkurang. Bahkan sekarang Eza menepikannya di salah satu ruko yang sudah tutup. Dahiku mengernyit sekarang.
“Ada apa? Kenapa berhenti?” tanyaku.
Eza memutar tubuhnya setelah aku mendengar suara standar motor turun. Aku menatapnya bingung. Raut wajah Eza terlihat masam.
“Maaf, sudah membuatmu kesal.”
Aku sedikit terkejut mendengarnya. Hanya untuk ini dia begitu murung sampai kami harus berhenti sejenak di tepi jalan. Tiba-tiba aku merasa tidak enak hati. Jadi, aku memilih memalingkan wajah ke arah lain.
“Aku hanya ingin menepati ucapanku untuk menjagamu. Aku sudah berani mengajakmu, bahkan sampai kita basah kuyup seperti ini,” ucapnya.
“Terima kasih kau sudah mau berusaha menepatinya. Hanya saja sebelum kau memikirkan keselamatan orang lain, pikirkan dulu keselamatanmu. Sebelum kau menjanjikan sesuatu pada orang lain, kau harus tahu pros and cons-nya. Kau harus memikirkan di mana salah satu pihak tidak dirugikan. Itu yang mananya kerja sama. Bukankah kita sama-sama setuju untuk pergi? Lalu, kenapa hanya kau yang menanggungnya seorang diri? Aku juga memiliki perasaan. Kau itu temanku. Aku juga tidak ingin melihat kau menderita.”
Ini bukan pertengkaran yang berarti. Namun, orang lain pasti akan mengartikan hal lain. Bahkan ada beberapa orang yang memperhatikan kami seolah mereka tahu segalanya dengan apa yang kami permasalahkan. Anggaplah jika kami seperti sepasang kekasih yang tengah bertengkar. Namun, harus diingat jika kami hanya teman.
Aku pikir Eza akan sangat marah padaku, tapi nyatanya tidak. Dia malah mengeluarkan kata-kata yang membuatku semakin tidak tega padanya.
“Terima kasih sudah mengingatku. Lain kali aku akan memperbaikinya. Maaf, jika aku egois. Aku hanya merasa bersalah apalagi saat melihatmu begitu kedinginan.” Sejenak Eza menjeda ucapannya. “Aku tahu, kau bohong sejak tadi.”
Iya, aku tahu. Aku pun bersalah di sini. Namun, aku memiliki alasan lain kenapa aku melakukannya. “Aku hanya tidak ingin membuatmu terlalu khawatir.”
“Justru karena kau menutupinya, aku semakin khawatir, Sora.”
“Hm, maafkan aku.”
“Apa pun yang kau rasakan, tolong beritahu aku! Jangan berjuang sendirian dengan menutupi semuanya.”
Sedikit demi sedikit perlakuan Eza membuatku merasakan hadirnya seseorang yang berarti. Aku merasa tidak sendiri lagi. Dari hari ke hari sosok Eza mulai masuk dalam kisahku. Kisah yang sebelumnya rapuh yang kini mulai tertata dengan keinginan dan harapan.
“Sora ....”
“Hm ....”
“Jangan marah lagi.”
“Kenapa kau begitu peduli dengan itu?”
“Karena aku tidak senang melihat kau marah.”
“Apa aku mengerikan saat marah?”
“Sejujurnya, aku ingin bilang iya, tapi aku takut kau semakin marah.”
Mataku membelalak dengan mulut ternganga, di mana dia malah terkekeh sekarang.
“Kurang ajar!” Tanganku seketika mencubit perutnya. Bukannya kesakitan dia malah semakin tertawa.
“Kau!” Aku kesal, tapi aku juga ingin tertawa melihatnya terpingkal-pingkal. Dan sekarang aku bingung harus seperti apa.
“Sora, berhenti. Bisa-bisa tengah malam sampai rumah jika kau terus mencubitku,” keluh Eza di tengah sisa tawanya.
“Iya, sudah. Ayo pulang!”
“Senyum dulu,” titahnya.
“Apa sih? Sudah cepat, kita pulang.” Aku mendorong bahunya agar dia memutarkan tubuhnya kembali. Namun, kepalanya masih menoleh ke arahku dengan tatapannya yang membuatku malu. “Eza, ayo!”
Entah perasaan dari mana, tiba-tiba aku bersikap manja padanya. Aku semakin bingung dengan tingkahku sendiri. Sora, sadar!
Motor ini mulai melaju lagi. Eza cukup hati-hati mengendarainya karena kondisi jalanan cukup licin saat keadaan basah. Hari mulai gelap. Situasi jalanan yang sedang kami lewati pun cukup sepi. Naas, sepertinya hujan mulai turun lagi. Aku hanya bisa menghela napas. Eza menepikan kembali sepeda motornya di sembarang tempat di pinggiran jalan, karena derasnya hujan tidak bisa kami terjang. Namun, perasaan aneh menyapa tiba-tiba.
“Rasanya hari ini sungguh sial. Harusnya aku lebih bersiap tadi.” Eza mulai mengeluh dengan keadaan karena dia tidak bisa mengantarku pulang tepat waktu. Aku tidak mengidahkan ocehannya. Perasaanku hanya berfokus dengan sesuatu yang begitu mengganggu.
Aku semakin tidak nyaman, seolah ada yang tengah memperhatikan aku dan Eza. Namun, aku tidak ingin mencarinya karena bulu kudukku sudah meremang sejak saat Eza memarkirkannya di tempat ini. Bahkan kondisi lampunya pun begitu temaram dan terkadang seolah berkedip yang cukup membuat suasana semakin merinding. Tanpa sadar aku meremas kemeja Eza yang terasa dingin.
“Sora, apa kau kedinginan lagi?” tanyanya.
“Hah? Ah, iya,” jawabanku dengan ragu.
“Kemarilah!” Eza menutupi tubuhku dari hembusan angin dan cipratan air hujan. Aku hanya menurut padanya.
Fokusku hilang dan aku gelisah sekarang. Di sini begitu berisik seolah suara itu tengah berlomba dengan derasnya hujan. Aku hanya berharap kendaraan lain berlalu lalang utuk meramaikan suasana jalan raya. Namun, tidak seperti biasanya. Bahkan aku tidak menemukan satu pun di sini.
“Eza, bisakah kita pergi?”
“Tapi hujannya masih deras.”
Aku menimang-nimang keputusan, tapi di sisi lain aku ingin segera pergi dari tempat ini. Nada bicaraku begitu rendah karena tidak ingin mengusik orang lain, walau di sini hanya kami berdua sejak tadi. “Aku mohon, bisakah kita pulang sekarang.”
Tiba-tiba Eza mengelus punggung tanganku. “Baiklah, kita pulang.”
Kepalaku mengangguk begitu semangat setelah mendengar persetujuan Eza atas keinginanku. Aku begitu egois mengorbankannya untuk diriku. Mungkin setelah kita pergi dari sini aku akan minta maaf padanya nanti. Padahal aku sudah seperti orang bijak tadi. Namun, sekarang aku malah membuatnya menderita.
Kami pun akhirnya membelah derasnya hujan. Semua pakaian kami sudah tidak bisa terselamatkan. Namun, saat baru beberapa detik sepeda motor melaju, aku memberanikan diri untuk menoleh ke belakang. Mataku membelalak saat menyadari jika tempat yang kami singgahi adalah bangunan tua tidak terawat. Tanpa sadar, tangan ini melingkar pada tubuh Eza dengan keringat dingin yang bercampur dengan derasnya air hujan.
Jadi, tadi suara apa?