"Permisi."
"Masuk!"
David masih berkutat di depan layar komputernya.
Kedua mata lelaki yang menggunakan kacamata itu tak lepas memandang layar persegi panjang di depannya, seraya jari jemari David terlihat lihai mengetik sesuatu pada tombol keyboard.
"Pak, ada Pak Antony di bawah. Katanya ingin berbicara dengan bapak."
Seketika itu juga, David memberhentikan kegiatannya.
Ia mendongak menatap sosok lelaki dengan balutan kemeja berwarna putih serta jas hitam, yang berdiri agak jauh dari meja kerja David.
"... Oh, oke. Nanti saya akan turun. Terima kasih. Kamu boleh keluar."
Lelaki yang sebelumnya menyampaikan kabar pada David, lalu keluar dari ruangan David sesaat setelah David menyuruhnya untuk keluar.
Di sisi lain, David mulai melepaskan kacamatanya dan mematikan layar komputer lelaki itu.
Ia mendongakan kepalanya ke atas, menatap langit-langit di ruang kerjanya sambil memijat pangkal hidungnya.
Tak lama, David bangkit dari tempat duduknya.
Ia berjalan keluar dari ruangannya menuju ke arah pintu lift yang masih tertutup.
Namun, langkah kaki David berhenti sejenak ketika ia melihat meja kerja Anggun yang telah kosong tak terisi.
Kedua alis David bertaut, kemana sekiranya sekretaris pribadinya itu?
Biasanya Anggun akan lebih dulu mengirimkan pesan pada David jika ia akan bepergian keluar dari kantor.
David sebenarnya ingin menghubungi Anggun pada saat itu juga, pada saat dirinya tak menemukan Anggun di meja kerja perempuan itu.
Tapi David mengurungkan niatnya, ponsel milik David tertinggal di ruangannya ketika ia selesai dengan pekerjaan yang melelahkan beberapa menit lalu.
Alhasil, David kembali berjalan menyusuri meja-meja kerja para karyawannya sebelum turun ke lantai dasar dengan bantuan lift.
"Selamat siang, Pak!"
"Oh, ya. Selamat siang."
Tak henti-hentinya David menyapa para karyawan yang entah tak sengaja berpapasan dengan David ketika David akan berjalan menuju lift, atau para karyawan yang juga tengah menggunakan lift bersama dengan David.
Sampai pintu lift pada akhirnya berhenti dan terbuka dengan lebar tepat di lantai satu.
David segera berjalan keluar dari dalam lift yang tak begitu sesak.
Langkah kakinya yang lebar membawa David menuju bagian lobi kantor dengan cepat.
Dari kejauhan, David dapat melihat sosok laki-laki yang ia kenal baik.
Namun ada satu hal yang menarik perhatian David, yaitu kehadiran Anggun di hadapan laki-laki tersebut.
Kekasihnya itu rupanya tengah berbincang dengan dua orang tamu yang beberapa saat lalu mencari David.
"David! Ya ampun... Pasti masih kerja di ruangannya? Kalau ga dipanggil, mungkin Anda masih terus kerja sampai larut malam ya? Hahaha!"
Tawa seorang laki-laki pecah, mengisi kegaduhan di lobi kantor.
David mengambil tempat di samping Anggun, ia duduk setelah menyalami kedua tamunya.
Setidaknya, saat ini David tahu jika Anggun berada di lobi kantor dan tak perlu ia khawatirkan.
"Hahaha... Ada perlu apa, Pak Antony? Juga Pak Samuel? Tumben menyambangi kantor saya tanpa memberitahu dulu. Padahal kita bisa keluar sambil makan siang."
Satu laki-laki yang nampak jauh lebih tua dibanding David, menyilangkan kakinya seraya membetulkan posisi kacamata yang ia kenakan.
Sambil bersandar pada sofa yang ia duduki, lelaki itu memandang David cukup lama.
"Begini, kebetulan saya akan segera membuka cabang kantor baru di daerah Jakarta Pusat. Ya, rencananya saya ingin mengadakan pesta terlebih dahulu... Kecil-kecilan. Hanya acara makan bersama, bertemu kolega lainnya, mungkin sekaligus membicarakan rencana bisnis saya ke depannya. Saya ingin mengundang Anda, Pak David. untuk datang ke pesta saya di hari sabtu nanti."
David mengantuk-antukan kepalanya pelan, ia mendengar dengan seksama tiap-tiap kata yang disampaikan oleh lelaki dengan balutan jas berwarna biru tua serta kacamata antiknya itu.
"Bisa, saya akan datang nanti. Semoga pembukaan cabang bisnis Pak Samuel dapat berjalan dengan lancar.
Bapak sampai repot-repot datang ke kantor saya, padahal bisa menyampaikan lewat pesan."
Ucap David sembari terkekeh pelan, yang juga disambut tawa nyaring dari ketiga orang yang berada di sana.
"Bagusnya, Anda datang dengan pasangan Anda, Pak David. Sudah hampir 5 tahun loh, saya tidak melihat juga Anda berhubungan dengan perempuan lainnya setelah perceraian Anda dengan istri Anda."
Suasana yang semula penuh dengan tawa, mendadak hening ketika satu laki-laki lainnya yang mengenakan setelan jas berwarna hitam menggoda David melalui candaan-candaannya tentang pasangan David.
Selaku orang yang saat itu sedang dipojokan, David hanya menganggukan kepalanya pelan penuh irama.
Jari jemari lelaki itu mengetuk lengan sofa, lalu melirik pelan ke arah Anggun yang masih menampilkan senyuman manisnya.
"Iya ya, sudah lama juga... Saya bahkan tidak sadar jika saya telah melajang bertahun-tahun lamanya. Mungkin, saya belum menemukan perempuan yang tepat saja. Nanti kalau saya akan menikah pun, saya pasti mengumumkan ke ruang publik."
Suara tenang David, justru membuat jantung Anggun berdebar saat ini.
Ia mencoba menghalangi pandangan matanya bertemu dengan kedua bola mata hitam pekat yang indah milik David.
Setiap David membicarakan tentang pasangan atau ada seseorang yang menyinggung David perihal pasangan CEO terkenal itu, Anggun selalu merasa gugup.
"Atau jangan-jangan, Nona Anggun yang selalu menemani Anda di mana pun ini, pasangan Anda?"
"Uhuk Uhuk!"
Hampir saja Anggun menyembur seluruh minuman yang berada pada mulutnya itu ke arah dua lelaki yang duduk di hadapannya saat ini.
Buru-buru Anggun menyeka bagian mulutnya.
"Um, Anda kenapa? Bu Anggun? Baik-baik saja?"
David memegang lengan Anggun, memastikan sekretaris pribadinya itu dalam keadaan baik pasca tersedak oleh minuman.
David mencoba bersikap biasa saja dan tak panik saat memastikan kondisi Anggun.
Bagaimana tidak, kekasihnya saat ini tengah terbatuk karena pertanyaan yang dilontarkan oleh salah satu tamu David.
Lelaki itu tahu, karena ini bukan kali pertama orang-orang menaruh curiga pada Anggun yang selalu bepergian ke mana pun dengan David.
"M-maaf, saya cukup kaget dengan ucapan Pak Antony. Jadi terbatuk..."
Sembari menghindari kontak mata dengan dua orang lelaki di hadapannya, Anggun berusaha bersikap senetral mungkin setelah dirinya dengan sangat jelas nampak terkejut saat salah satu di antara tamu bosnya itu memojokan Anggun.
"Kamu baik-baik saja 'kan? Saya bertanya hal barusan karena kalian berdua terlihat sangat dekat. Itu saja. Toh, desas-desus tentang hubungan kalian yang bukan cuma sebatas atasan dan bawahan juga seharusnya sering kalian dengar. Hahahaha!"
Tawa dua orang laki-laki itu kembali meledak mengisi seluruh sudut-sudut lobi kantor yang senggang.
Tanpa keduanya ketahui, jika David dan Anggun yang saat ini berada di hadapan mereka, nampak setengah gugup dengan berbagai spekulasi dari keduanya.
"... Iya, saya sudah sangat sering mendengar desas-desus itu. Tapi, hubungan saya dan Anggun benar-benar hanya sebatas pekerjaan saja. Toh Anggun terlihat selalu bersama saya, juga karena tuntutan pekerjaan dia sebagai seorang sekretaris pribadi saya."
Ujar David mencoba meluruskan dugaan-dugaan yang saat ini menimpanya dengan Anggun.
Beruntung, dua orang tamu yang menyambangi Kantor David itu tak lagi bertanya tentang status David dan Anggun.
Obrolan mereka lama kelamaan tergerus dengan obrolan seputar saham dan hal-hal memuakan lainnya.