Beberapa jam berlalu, Kath merasa begitu mengantuk, tapi bagaimanapun dia harus menahan rasa kantuknya.
"Kath.." Ben memanggilnya.
"Ya?"
"Kau mengantuk?"
"Sedikit, aku akan menahannya. Apa kau terjaga sejak tadi?"
"Aku harus tetap terjaga untuk memastikan situasi kita." ujar Ben.
"Aku begitu ingin pergi ke kamar kecil."
"Kau bisa mengatakannya pada mereka."
"Tidak.. Itu membuatku ingin segera keluar dari sini."
"Kalau begitu kau harus terjaga, tunggulah sebentar lagi." Ben berbisik.
"Aku akan mencobanya."
Ponsel seseorang berdering, ternyata milik Nick, pria itu segera menerima panggilan dan berjalan ke belakang.
"Steve sudah sampai." tampaknya pria bernama Steve itu datang dari pintu belakang.
"Cepat bantu dia!" ujar pemilik binatu.
Red mengikuti Nick kebelakang.
Ini saatnya, - batin Ben.
Orang yang sejak tadi selalu memperhatikan mereka adalah Red dan Nick, pemilik binatu sibuk membaca sebuah buku tebal dan pria tinggi sibuk dengan rokoknya, dia hanya memandang sesekali.
"Kath, sekarang!"
Kath menjadi begitu takut, Ia gugup dan nyalinya tiba-tiba menghilang seketika.
"Kath kau bisa melakukannya, percayalah padaku."
Kath mencoba menguatkan dirinya, Ia harus memberanikan diri. Kath merogoh kantong belakang celananya, tapi tangannya kesulitan. Ben menyadari Kath yang kesulitan meraih silet, Ia semakin mendekatkan tangannya agar Kath lebih leluasa.
"Dapat!" Kath mengeluarkan silet dikantongnya, Ia harus berhati-hati, jika siletnya sampai terjatuh dan mengeluarkan suara maka kedua orang di ruangan itu akan menyadarinya.
"Aku berhasil mendapatkannya.." bisik Kath.
"Bagus.."
Kath mencoba memotong tali yang mengikat tangan keduanya, Ia harus bergerak cepat selagi Red dan Nick tak ada disana. Nyatanya begitu sulit karena mereka mengikat tali ke tangan Ben berkali-kali. Tak sengaja Kath melukai tangan Ben, Ben terkejut dan menggeliat karena merasakan sakit.
"Lanjutkan.." ujarnya.
Kath merasa ragu karena Ia kurang berhati-hati sehingga melukai Ben, tapi Ia tak boleh berhenti sampai disitu.
Satu tali telah lepas, dia harus memotong tali berikutnya. Sayangnya Kath terlalu gegabah, Ia banyak melukai tangan Ben dengan siletnya, hingga Kath dapat merasakan tetesan darah dari tangan Ben yang mengenai jari-jarinya.
"Aku baik-baik saja.." Ben berusaha meyakinkan Kath.
Dua, dan sekarang tali terakhir.
"Kau harus cepat, mereka akan kembali." bisik Ben.
"Apa yang kalian lakukan!"
Deg! Kath terdiam seketika mendengar teriakan pria tinggi yang memperhatikan mereka.
"Tidak bisakah kau kecilkan suaramu?" ujar pemilik binatu yang merasa kesal.
"Ku rasa mereka terlalu banyak bicara." jelasnya.
"Aku bahkan tak mendengarnya, suaramu-lah yang malah menggangguku." sindir pemilik binatu.
"Maafkan aku.."
Syukurlah, - batin Kath, Ia mengira pria tinggi telah mengetahui perbuatannya.
Sebenarnya, pemilik binatu duduk di sudut ruangan sebelah kiri Ben tepat disebelah pintu menuju ke ruang depan dan Ia tidak bisa melihat ke arah tangan mereka yang di ikat, begitu pula dengan pria tinggi berambut ikal, Ia berada di sudut sebelah kanan Kath, jika Nick dan Red datang bisa jadi mereka akan menyadari perbuatan Kath, sehingga Ia harus bergegas.
Kath berhasil melepas ikatan tangan Ben dan memberikan siletnya pada Ben, kali ini Ben harus melepas ikatan Kath yang tidak terlalu rumit.
Lepas! Kath merasa lega tak ada seseorang yang menyadari. Masalahnya adalah kaki. Bagaimana dengan kaki Ben yang terikat?
"Ikatan kakiku longgar, bantu aku berdiri dan biarkan aku menyerang pemilik binatu." ujarnya, seolah tahu apa yang Kath pikirkan.
Kath tidak begitu mengerti apa yang harus Ia lakukan, tapi Ia hanya harus membantu Ben berdiri.
"Tuan, aku sudah mendapatkan bawang putih dan kamera serta alat-alat lainnya, hanya tinggal menunggu pagi." teriak seorang pria yang baru Kath lihat, sepertinya itu Steve.
"Woah! Apakah vampir kita ada dua?" tanyanya ketika melihat Kath.
Kath sudah sangat ketakutan jika saja pria itu melihat talinya telah terlepas, dan ternyata steve juga tidak menyadarinya.
"Kurasa dia manusia, tapi kita tetap harus menahannya." jelas pria tinggi.
"Oh benarkah? Dia sangat cantik untuk menjadi seorang tawanan." Steve tertawa.
"Jangan berani macam-macam." Nick datang membawa sebuah kotak dari belakang.
"Hei.. Santai saja, kita bisa berbagi."
Nick meletakan kasar kotak yang di bawanya lalu Ia menarik kerah baju milik Steve.
"Kalian! Hentikan!" pemilik binatu kesal melihat keduanya.
Kath tak terlalu memikirkan mereka, syukurlah jika belum ada yang menyadari. Kali ini Kath dan Ben hanya tinggal menunggu situasi yang tepat.
"Kameranya ada di dalam, bantu aku memasangnya." pinta Steve.
Seketika ruangan berbau aroma bawang putih, apa yang akan mereka lakukan dengan bawang putih?
Steve dan Nick sibuk membongkar isi kotak yang ternyata adalah kamera dengan alat-alat lainnya bahkan ada salib disana.
"Kita butuh ini?" tanya Nick.
"Ya, akan semakin seru bukan? Kita akan menikmati pertunjukan ini, bagaimana jika ku mulai sekarang." Steve menyalakan kamera dan mengarahkannya pada Ben.
Orang-orang gila', pikir Kath.
"Hei! Ikatannya terlepas!" Steve menyadarinya saat mengarahkan kamera pada ikatan mereka.
Sudah terlanjur, saat mendengar teriakan itu tanpa mengumpulkan keberanian, Kath bergegas bangun dan menopang Ben dengan punggungnya, lalu Ben memukul Steve hingga jatuh tepat di hadapan Red yang baru masuk. Nick bergerak maju untuk menangkap Ben tapi pergerakan Ben begitu cepat hingga mereka tak menyadari dalam sekedip mata Ia sudah menyandera pemilik binatu dengan siletnya.
Kath terjatuh di tempat Ia terikat tadi.
"Kath, kemari!" teriak Ben.
Kath berlari ke arah Ben dan berdiri di belakangnya. Nick bisa saja menangkap Kath tadi, tapi entah kenapa Ia seperti sengaja membiarkan Kath lolos.
Pria tinggi sudah bersiap dengan pistol yang Ia arahkan pada Ben.
"Jangan mencoba melakukan apapun! Atau aku bisa membunuhnya kapan saja!" ujar Ben memperingatkan, "Kath, kau datang dengan mobilmu?"
"Ya, aku memarkirkannya di depan." Kath sedikit berpikir, bagaimana Ben tahu jika Ia membawa mobil?
"Kuncinya ada padamu?"
"Aku masih memegang kuncinya." Kath merogoh jaketnya.
Bodohnya mereka bahkan tak memeriksa apapun yang ada pada Kath.
"Gadis ini membawa mobil??" pria tinggi bertanya pada Nick.
"Aku tidak melihatnya."
"Bodoh!!" teriak pemilik binatu.
Ben semakin menekan siletnya dan sedikitpun pergerakan si pemilik binatu di luar perintah, silet itu akan melukai dirinya.
Cukup aneh, pikir Kath. Ketika Nick memeriksa pintu depan, seharusnya Nick sudah mengetahui jika ada mobil disana. Apa dia sengaja, bahkan setelah dia masuk tiba-tiba Nick mengatakan jika Dia mengenal Kath, apa karena Nick mengenali mobil Kath? Bukan waktunya memikirkan ini.
"Berikan kuncinya pada kami!"
"Kuncinya masih di pintu." ujar Nick.
"Kath, periksa pintunya dan siapkan mobilnya."
"Baiklah." Kath berlari ke depan dan benar saja, kunci pintu binatu tidak Nick simpan, Kath dengan mudah membuka pintu binatu dan menuju mobilnya.
"Tetap menjauh!" teriak Ben.
"Perintahkan mereka!" Ben mengancam pemilik binatu.
"Jangan mendekat padanya!" terlihat jelas ketakutan di wajahnya.
Ben berjalan mundur dan sampai di pintu depan, Kath sudah siap dengan mobilnya. Jarak antara jalan raya dengan binatu memang sedikit jauh karena binatu memiliki tempat parkir yang cukup luas. Ben berjalan mundur dengan cepat dan menyuruh ke empat anak buah pemilik binatu untuk tetap berada di pintu masuk binatu.
"Kath, biar aku yang menyetir." Tanpa bertanya, Kath segera pindah ke kursi di sebelah kemudi.
Ben mendorong pemilik binatu dengan kuat sehingga pemilik binatu terlempar jauh dan jatuh tersungkur. Ben bergegas masuk ke mobil dan suara tembakan mulai terdengar. Ia menekan gas dan mobil Kath melaju dengan cepat.
Dari kaca spion terlihat Nick dan Steve membantu pemilik binatu untuk bangun, Red dan si pria tinggi mencoba menembaki mobil Kath, tapi tentu saja jarak yang terlalu jauh membuat banyak tembakan mereka meleset hanya satu dua peluru yang berhasil mengenai mobil Kath.
"Apa kita sudah jauh?"
"Ya, mereka tidak akan mengejar kita."
"Bagaimana kau tahu?"
"Walaupun mereka mengejar, mereka tidak akan menemukan kita."
"Hei! Kau hanya memutar, kita akan melewati binatu lagi."
"Tak apa, ku yakin mereka semua sudah pergi."
Kath ingin sekali bertanya bagaimana Ben seyakin itu, tapi sepertinya Ia akan terlalu banyak bertanya.
Mereka melewati binatu kembali, memang benar binatu terlihat sepi dan pintunya di biarkan terbuka, sepertinya mereka sudah pergi.
"Jika mereka mengejar, mereka tidak akan menyangka kita hanya memutar blok."
"Kau terlihat berpengalaman."
Ben tertawa, "Kau pikir aku tak akan memikirkannya hingga sejauh itu?"
"Tidak, hanya saja-"
"Dimana rumahmu Kath? Sebelum mengantarmu, aku akan membersihkan mobilmu lebih dulu." Ben memasuki sebuah perumahan di daerah Double Bay. Dia memarkirkan mobilnya di depan rumah elite yang tampak gelap dari luar.
"Tunggulah disini." Ben keluar dan membuka pintu gerbang rumah itu lalu memarkirkan mobil Kath di dalam.
"Kau bisa turun." Ben keluar dari mobil di ikuti Kath, lalu Kath memilih duduk di teras rumah mewah itu dan memandangi Ben yang berjalan mengitari mobil Kath memperhatikan semua bagian mobil, beruntung hanya satu dua peluru yang mengenai mobil Kath.
"Apakah aman berada disini?"
"Jangan khawatir."
"Apa ini rumahmu?"
"Sebenarnya bukan." jawaban yang singkat, Ben terlalu banyak diam, pria itu tak banyak bicara, sedangkan Kath memiliki banyak pertanyaan di benaknya.
"Rumah ini adalah milik bibiku." Ben seolah tahu isi hati Kath, sebelum bertanya Ben bahkan sudah menjawabnya.
"Oh.. Apa ini tidak akan mengganggu?"
"Jangan khawatir."
Rumah itu tampak kosong, Kath bahkan mengira Bibi Ben tidak ada di rumahnya.
Ben membuka pintu garasi, terlihat mobil sport berwarna kuning terparkir disana, sepertinya Ben berasal dari keluarga kaya. Ben mengambil ember dengan sabun dan spoons, Ben berjalan pincang, sepertinya mereka terlalu banyak menendang kakinya.
Ia susah payah membersihkan setir dan kursi mobil Kath yang terkena noda darah miliknya. Kath merasa kasihan melihat Ben membersihkan mobilnya dengan luka-lukanya yang seharusnya segera diobati.
"Biar aku membantumu." ujar Kath.
"Kau selalu baik hati, tapi kau bisa mengotori bajumu, biar aku yang menyelesaikan ini sendiri."
"Tapi--"
"Jangan khawatir, bersihkan saja tanganmu, sepertinya darahku sedikit menetes di tanganmu."
Kath sangat sensitif sehingga Ia menjadi sangat sedih melihat keadaan Ben. Ia bangun dan berjalan ke arah kran air yang berada di sebelah kiri mobil. Ia dapat melihat jelas ke arah Ben yang sedang membersihkan kursi penumpang. Ya, sedikit darah yang ada ditangan Kath juga mengotori kursi dan dashboardnya. Kath sangat ingin membantu tapi Ben melarangnya.
"Biar aku mengobatimu setelah ini."
"Aku akan sangat berterimakasih." Ben tersenyum pada Kath.
Kath kembali duduk diteras, Ia tak sanggup melihat Ben terlalu dekat.
"Bagaimana mereka bisa sejahat itu?"
"Aku tidak mengerti, bahkan aku sama sekali tidak mengenal mereka."
"Kita harus melaporkan masalah ini pada kepolisian."
"Biar aku saja, kau bisa pulang dan jalani hari-harimu seperti biasa. Biar aku yang melaporkan mereka, dan aku tidak akan menyebutkan namamu." ujar Ben.
"Tapi, apa kau tidak membutuhkan saksi?"
"Kau tak akan aman jika ikut campur dalam masalah ini."
"Baiklah.." Kath tidak dapat berpikir jernih, mungkin benar apa yang Ben katakan, Ia tidak boleh sampai terkena masalah.
Tiba-tiba seseorang keluar dari dalam rumah.
"Kau membuat masalah babe?"
Kath terkejut dengan kedatangan seorang wanita, tapi Ben mengatakan jika ini adalah rumah bibinya, mungkin wanita itu adalah bibinya.
Tidak, rasanya sama sekali tidak mungkin karena wanita yang keluar tampak seperti orang Australia. Tunggu, Ben adalah keturunan Indonesia-Australia, mungkin dia bibi dari ayahnya, jika dilihat dia memang terlihat lebih tua dari Ben, tapi rasanya dia terlalu muda untuk menjadi bibinya.
Kath jadi semakin memperhatikan wanita itu. Rambut ikal, panjang berwarna coklat, terlihat sedikit acak-acakan, sepertinya dia baru bangun tidur. Bibirnya merah tebal dan warna kulitnya yang kecoklatan. Dia terlihat cantik hanya dengan gaun tidur minim dan kusut.
'Bibi dia bilang? Aneh.'
"Jennifer, apa aku mengganggumu?"
"Sedikit mengganggu, apa kita kedatangan tamu?" tanyanya sembari memperhatikan Kath.
"Ya, aku bersamanya karena dia sudah menolongku."
"Benarkah?"
Jennifer, ya namanya adalah Jennifer. Tapi pertanyaannya adalah, apa Ben memanggil bibinya dengan cara sesantai itu?
Jennifer menjulurkan tangannya, berniat menjabat tangan Kath, "Hai.. Siapa namamu?" tanyanya.
"Oh, Kath."
"Kath?"
"Kathryn, kau bisa memanggilku Kath."
"Yeah.. Kath, aku Jennifer. Terimakasih sudah menolong pria b******k ini." ujarnya dengan melirik ke arah Ben.
Apa?! Pria b******k katanya? Kath sungguh tak mengerti, apa memang keduanya biasa bersikap sesantai itu, tapi jelas sekali dia bukanlah bibi yang Ben maksud.
"Jangan dengarkan dia." Ben tertawa dan berhenti membersihkan bagian setirnya.
"Tunggulah disini, sebentar." Ben meminta Kath untuk menunggu.
Ben masuk bersama Jennifer, mereka berdiri di dekat sebuah tangga antik dan terlihat sedang berbicara. Kath tak dapat melihatnya tapi pantulan cahaya dari dalam membuat bayangan mereka terlihat jelas di daun pintu.
Memikirkan dirinya sendiri di luar membuat Kath menjadi ketakutan, Ia memeluk dirinya sendiri, mengapa mereka begitu lama?
Kath menoleh pada bayangan mereka di pintu, memastikan mereka masih ada disana. Tapi sial, mengapa Ia harus melihat momen itu? Ya, tak sengaja Ia melihat Jennifer mencium Ben, Kath terkejut dan itu membuatnya merasa gugup.
"Kath, apa kau mau ku buatkan minum?" Jennifer keluar bersama Ben, dan Ben kembali membersihkan mobil Kath.
"T-tidak, terimakasih.. Aku sedang tidak ingin apapun."
"Maaf karena dia sudah membuatmu masuk ke dalam masalahnya, dia memang terlalu sering membuat masalah."
Kath reflek menoleh pada Ben yang sibuk dengan mobilnya.
"Kau tidak tertarik padanya bukan? Ngomong-ngomong dia pandai menggoda wanita."
'Apa?? Apa yang dia katakan tadi?' batin Kath, terkejut dengan ucapan wanita itu.
"Aku hanya bercanda." Jennifer tertawa.
"Minta dia untuk mengantarmu pulang setelah ini."
"Eh, kurasa tidak perlu, terimakasih.. Aku akan pulang sendiri."
"Tidak, dia harus memastikan kau pulang dengan selamat." ujar Jennifer sedikit memaksa.
"Jangan khawatir, aku akan mengantarnya pulang." sahut Ben.
"Bagus!" ujarnya ketus.
"Kau tidak perlu mengobati lukanya, dia akan menjadi sangat manja." celetuk Jennifer.
Kath merasa jika ucapan Jennifer sebenarnya adalah sebuah sindiran untuknya. Ucapan Jennifer memang cukup sulit untuk di tebak.
"Kau bisa lihat dirinya, aku hanya khawatir pada kondisinya." jelas Kath meyakinkan jika dirinya sangat membutuhkan obat luka saat ini.
"Baiklah, tunggu."
Jennifer masuk kedalam dan keluar lagi dengan membawa kotak obat.
"Terimakasih kau mau melakukannya, jadi aku tidak perlu repot-repot." lagi-lagi Jennifer membuat Kath kembali bertanya-tanya akan sikapnya.
"Tolong jangan membuat masalah lagi, berhenti menyusahkan orang lain." Jennifer masuk kedalam meninggalkan mereka berdua dan tak kembali lagi.
Ben tersenyum pada Kath, wajah Kath terlihat sangat lucu. Ben tahu Kath kebingungan dengan sikap Jennifer yang terkadang manis dan tiba-tiba berubah menyebalkan.
"Jangan pikirkan ucapannya, dia memang begitu."
Ya, lagi pula siapa yang peduli? - batin Kath.
"Aku akan mengantarmu setelah ini."
"Baiklah." jawab Kath singkat.
•••