Ben telah selesai membersihkan mobil Kath.
"Aku tidak mungkin memperbaiki ini sekarang, bagaimana jika besok aku menemuimu dan membawa mobilmu untuk ku perbaiki?"
Itu artinya mereka akan bertemu lagi.
"Tidak masalah, tapi-"
"Kenapa?"
"Sebenarnya aku tinggal di asrama wanita, jadi aku tidak mungkin menemuimu disana, jadi temui aku di dekat taman, akan ku tunjukan tempatnya nanti." alasan Kath.
"Baiklah.."
"Apa kau sudah selesai?"
"Ya, aku akan mengantarmu pulang sekarang."
"Biar aku mengobati lukamu lebih dulu."
Ben tidak mengatakan apapun, artinya dia tidak menolak, bahkan Ben dengan cepat duduk di sebelah Kath dan mendekatkan wajahnya pada Kath.
Apa yang Ben lakukan membuat Kath gugup, pasalnya wajah pria itu begitu dekat dengannya, Kath hanya khawatir jika Jennifer sampai mendapati mereka.
Kath dengan cepat menyiapkan kapas serta obat luka, dia membersihkan luka di wajah Ben dengan begitu lembut. Sesekali Ia mencuri pandang pada Ben dan sesekali manik mereka bertemu. Ya, pria itu diam-diam juga memperhatikan dirinya.
Tenang, Ia harus menguasai diri, jangan sampai Ia gugup hanya karena Ben memperhatikannya.
"Berikan tanganmu."
"Kau mengobatiku dengan secepat itu?"
Nyatanya Kath memang membersihkan luka di wajah Ben dengan lebih cepat, namun Ia tetap bisa mengontrol gerakannya sehingga Ben tidak merasakan sakit.
"Apakah kakimu juga terluka?" tanyanya sembari membersihkan luka di tangan Ben.
"Mereka tak habis-habis memukulku."
"Kau harus segera ke klinik untuk mengobati luka di kakimu, dan juga pastikan jika tak ada luka dalam."
"Jangan khawatir, ini akan segera membaik."
Kath mengangguk, "Aku sudah selesai."
"Ayo! Aku akan mengantarmu pulang."
Ben membukakan pintu mobil untuk Kath. Kursi mobil sedikit lembab setelah di bersihkan.
"Maaf membuatmu tidak nyaman dengan ini." ucap Ben.
"Oh, tidak masalah."
"Aku hampir lupa kalau kita berdua sama-sama berasal dari Indonesia."
"Dan ternyata bibi yang kau maksud adalah bibi dari ayahmu, apakah benar?"
Ben tertawa, Ia turun untuk menutup pintu gerbang dan kembali ke mobil, mobil melaju dengan kecepatan sedang.
"Kemana?"
"Daerah sekitar University of Sydney."
"Kau mahasiswa?" Kath mengangguk.
"Tentang pertanyaanmu tadi, apa kau percaya dia adalah bibiku?" lanjut Ben.
Kath mengira Ben tidak akan membuka pembicaraan itu lagi.
"Sedikit tidak percaya."
"Baguslah, dia memang bukan bibi yang ku maksud."
"Lalu kenapa dia ada di sana? Apa dia istrimu?"
"Bukan, aku bahkan belum menikah."
"Jadi kalian tinggal bersama meski belum menikah?"
Ben mengerutkan dahi, sedikit kesulitan menjawab pertanyaan Kath, "Ku yakin kau paham tentang bagaimana pergaulan di Australia."
Kath tersenyum kecut, ternyata Ben benar-benar pria b******k seperti yang Jennifer katakan tadi, entahlah se b******k apa dia tinggal serumah dengan wanita yang masih berstatus kekasihnya, benar-benar Kath harus berhati-hati menghadapi pria seperti itu.
"Mengapa tertawa?" tanya Ben menyadari gadis di sebelahnya ini tersenyum kecut.
"Maaf, apa itu membuatmu tersinggung?"
"Tidak, hanya bertanya-tanya apa yang membuatmu tertawa, tapi aku tak peduli dengan apa yang kau pikirkan tentangku. Oh Kath, berapa umurmu?"
"22 tahun."
"Sungguh?"
"Mengapa? Apakah kita seumuran?"
"Apa aku terlihat tua karena berkencan dengan wanita seperti Jennifer?"
Kath tertawa, "Aku tak peduli Ben."
"Hmm.."
"Lalu apa yang kau lakukan di Australia?"
"Aku melanjutkan bisnis ayahku di sini."
"Begitukah?"
"Ya.. Aku sudah cukup lama tinggal disini."
"Lalu itulah sebabnya kau bertemu Jennifer?"
Ben tertawa kecut, tadi Kath mengatakan jika Ia tidak peduli tentang Jennifer tapi gadis ini malah kembali membahasnya.
"Tepat sekali." singkatnya.
"Tampaknya dia wanita yang cukup baik."
"Kami sudah berkencan cukup lama, meski sikapnya dingin tapi dia berhati baik."
Pantas saja, Ben tampak sudah terbiasa dengan ucapan kasar Jennifer, mungkin memang begitulah sikap Jennifer yang sebenarnya berhati baik.
"Tapi dia tampak tidak peduli dengan luka-lukamu."
"Dia hanya kurang perhatian saja."
"Baik tapi tak perhatian? Hmm.."
"Dia memang bukan wanita yang perhatian sepertimu."
"Sungguh?"
Ben melirik Kath dan tertawa lirih, seperti menertawakan kepolosannya.
Kath merasa malu karena percaya begitu saja ucapan Ben, tentu perhatian yang diberikan Kath tak akan berarti apapun di banding dengan kebaikan hati Jennifer yang sesungguhnya.
"Maksudku, itu pasti tidak benar, Jennifer terlihat begitu mengkhawatirkanmu."
"Kau pikir aku berbohong? Kau memang lebih lembut dan juga lebih peduli padaku dibandingkan darinya."
"Berhentilah. Aku tahu jika apa yang ku lakukan tak sebanding dengan apa yang sudah Ia lakukan padamu selama ini."
"Dia bersikap terlalu dingin padaku, meski sebenarnya aku lebih menyukai wanita yang lembut, tapi aku banyak berhutang budi padanya."
"Kau tidak bisa memaksakan diri untuk mencintai orang lain hanya karena kau berhutang budi padanya."
"Tapi, semua sudah terlambat."
"Terlambat? Mengapa bisa begitu?"
"Lupakan saja, apakah di sekitar sini?"
Kath masih bertanya-tanya, apa maksudnya sudah terlambat?
"Maju beberapa gedung lagi.."
"..nah berhentilah di sini."
Kath melihat jam di tangannya, hampir pukul empat.
"Apa tak ada yang mencarimu?"
"Ya Tuhan, aku bahkan lupa memeriksa ponselku, apa kau melihat ponselku?"
"Ponsel? Sepertinya dibelakang."
Kath menoleh ke belakang bersamaan dengan Ben.
"Ahk!" kepala Kath terbentur kepala Ben.
"Maaf.." ujar Ben lalu meraih ponsel Kath di kursi belakang.
Beberapa panggilan dari Lisa dan Nadin.
"Ya Tuhan, mereka pasti mengkhawatirkan. Apa aku harus menghubungi mereka?" tanya Kath.
"Hubungi nomor salah satu di antara mereka dan minta mereka untuk menjemputmu di sini."
Kath menelfon Nadin dan beruntung gadis dua tahun lebih tua itu menjawab panggilannya.
"Dia akan keluar." ujar Kath seraya menutup ponselnya.
"Katakan padanya bahwa mobilmu mogok dan kau harus memperbaiki mobilmu sehingga kau harus menunggu lama dan pulang terlambat." Kath mengangguk.
"Kath.."
"Ya?"
"Terimakasih telah menolongku, maaf karena sudah membuat mobilmu menjadi kotor."
"Tidak masalah Ben, setidaknya kita berdua selamat."
"Bukankah kita akan bertemu lagi?" tanya Ben.
Kath mengangguk, "Terimakasih sudah mau mengantarku."
"Aku tidak mungkin membiarkanmu pulang seorang diri, sementara kau telah menjagaku."
Kath menoleh pada Ben yang sedang menatapnya, gadis itu tersipu malu, pipinya memerah, Ia bisa jatuh cinta jika terlalu lama menatap wajah tampan Ben.
"Oh! Itu dia!"
Segera Kath dan Ben keluar dari mobil.
"Kath! Kau kemana saja? Aku mengkhawatirkanmu.." Nadin berlari menghampiri Kath dan memeluknya.
"Maafkan aku Kak, mobilku mogok dan aku harus memperbaikinya."
"Oh begitukah? Tapi kau baik-baik saja bukan?"
"Aku baik-baik saja Kak, dia yang menolongku dan membawa mobilku ke bengkel"
Ben menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Nadin, dan Nadin membalasnya.
"Tunggu, apa kau orang Indonesia?"
"Ya, kau benar." jawab Ben.
"Oh.. Pria blasteran." gurau Nadin membuat keduanya tertawa.
"Terimakasih telah menolong dan menjaga Kath-ku, Ben.."
"Tidak masalah.. Kau pasti begitu mengkhawatirkannya." ujar Ben.
"Ya.. Bagaimana tidak, dia sudah seperti adikku sendiri dan menyadari dia yang belum juga kembali membuatku begitu takut."
"Kak.. Aku baik-baik saja." yakin Kath.
"Baiklah, bagaimana jika kita masuk sekarang Kath?"
"Eh, baiklah Kak.."
"Terimakasih Ben, sampai jumpa." Nadin menggenggam tangan Kath dan hendak mengajaknya masuk.
"Aku harus masuk Ben.." ucap Kath seolah menunggu pria itu untuk melakukan sesuatu.
"Boleh aku bicara sebentar dengannya, Kak?" izin Ben pada Nadin.
"Eh, Baiklah.."
Nadin melepas genggaman tangannya pada Kath dan berjalan sedikit jauh untuk membiarkan keduanya bicara.
Ben tiba-tiba menjulurkan tangannya untuk menjabat tangan Kath membuat Kath sedikit terkejut.
"Apakah ini salam perpisahan?" tanyanya.
"Setidaknya.. Kita akan bertemu lagi besok." Ben mengacak rambutnya sedikit merasa canggung.
Kath tidak membiarkan tangan Ben menganggur terlalu lama, Ia segera meraih uluran tangan Ben. Dingin, tangan Ben begitu dingin seperti es, Kath berpikir jika mungkin Ben demam.
"Kau harus memeriksa kesehatanmu setelah ini, kau juga harus rajin mengobati lukamu supaya kau segera pulih."
"Disaat seperti ini kau masih saja mengkhawatirkanku?"
"Aku sedang tidak bercanda.. Aku tahu bagaimana mereka memperlakukanmu tadi."
"Baik Nona.. Aku akan melakukan apa yang kau minta, sekali lagi terimakasih banyak." jawabnya manis membuat Kath tertawa lirih.
"Senang bertemu denganmu." ujar Ben.
"Ini tidak akan ku lupakan." jawab Kath.
"Baiklah.. Sampai jumpa." Ben berjalan mundur dan melambaikan tangan.
"Hati-hati Ben!"
Ben tersenyum, Masih saja Kath menunjukkan perhatiannya.
*
*
“Kath! Bangunlah!” Nadin mencoba membangunkan Kath dengan menarik selimutnya.
“Eumh..” Kath menarik selimutnya kembali hingga menutupi wajahnya, menolak untuk bangun.
“Ini tidak seperti biasanya, kau selalu bangun lebih awal dari kami.” ujar Lisa.
“Apa karena kejadian semalam?”
Mendengar ucapan Nadin sontak membuat Kath membuka matanya, "Ya??” Ia terperanjat.
“Mengejutkan saja!” teriak Nadin.
“Apa maksud kejadian semalam Kak?”
"Bukankah kau mengatakan padaku jika mobilmu mogok? Apa kau melupakannya?”
“Aku bahkan tidak bisa tidur menunggumu pulang.” tambah Lisa.
“Aku terjaga dan kau bahkan tidak menemaniku.” Nadin menarik kuping Lisa.
“Ahk! Maafkan aku Kak.. Setidaknya Kath baik-baik saja bukan?”
“Oh tidak..!” Kath menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur dan menutup wajahnya kembali dengan selimut.
“Aku pikir itu mimpi.” tambahnya.
“Mimpi? Apa kau sedang mengigau?”
“Aku berharap itu hanya mimpi, ayolah aku pasti bermimpi, ini hanya mimpi!” Kath menepuk-nepuk wajahnya sendiri.
“Hentikan Kath, kau tidak bermimpi.. Bangunlah! Cepat mandi kau bisa terlambat.”
“Tapi semalam, aku tidak mendapatkan seragamku.”
“Benarkah? Oh Kath.. Maafkan aku.” Lisa memeluk Kath yang masih terbaring.
“Sudahlah tidak masalah, kalian pergi saja, aku akan bersiap-siap.”
“Bagaimana jika kau gunakan seragam lamaku?”
“Seragam lama? Jadi kau masih memilikinya Kak?"
"Ya, aku masih menyimpannya di lemari."
"Kak Nad! Mengapa tidak kau tanyakan hal itu dari semalam?!”
“Hei, kenapa berteriak? Bukankah kau tidak bertanya tentang seragam padaku."
"Tapi seharusnya kau tawari aku lebih dulu."
"Jadi menurutmu aku yang salah di sini? Baiklah tidak perlu ku pinjamkan.”
“Kakak!”
Nadin terkekeh, “Maaf Kath, ku pikir kau tidak akan mau memakainya.”
Kath meruncingkan bibirnya dan menyilang tangannya di d**a, “Letakan saja dikasur.”
“Baiklah.. Jangan marah..” goda Nadin yang hanya di balas lirikan tajam oleh Kath.
Kemudian Nadin dan Lisa pergi lebih dulu ke Kampus. Kath merasa tidak semangat, seluruh badannya terasa sakit, Ia berharap kejadian semalam hanyalah mimpi, tapi itu adalah kenyataan yang harus Ia jalani. Jika itu mimpi, dirinya pasti tidak akan bertemu dengan Ben.
Mengapa Ia jadi memikirkan Ben? Pertemuannya semalam membuat Kath terbayang wajahnya yang tampan dan sikapnya yang terkesan keren. Siapapun wanita yang bertemu dengannya pasti akan tertarik.
Benjamin? Mengingat jika pria itu akan menemui dirinya sore nanti untuk memperbaiki mobilnya.
“Setelah mobilku selesai diperbaiki, aku tidak akan berurusan lagi dengannya.” Kath berharap hari ini adalah hari terakhir Ia bertemu dengan Ben, karena jika begitu akan lebih mudah baginya melupakan kejadian tidak menyenangkan tadi malam.
*
Hari semakin sore Lisa dan Nadin mengajak Kath untuk kembali ke asrama.
"Aku ada latihan menari." ucap Lisa.
"Dan aku harus datang ke klub buku." tambah Nadin.
“Sebaiknya kalian pulang saja lebih dulu.. Masih ada hal yang harus ku kerjakan.”
“Kalau begitu jaga dirimu dan jangan pulang terlalu larut, hubungi kami jika terjadi masalah.” Nadin mengingatkan.
“Hah! Dengar Kath..” Lisa menggoda.
“Oke oke..”
“Baiklah, ayo Lisa!"
“Sampai jumpa Kath..” Lisa mengecup pipi Kath tiba-tiba dan berlari sembari melambaikan tangan padanya.
“Kebiasaan! Lisa!" kesal Kath membuat gadis itu terkekeh di sana.
Kath melihat jam ditangannya, pukul 5 tepat, sebaiknya Ia menunggu Ben di taman sekarang.
-
-
Kath melihat jamnya lagi, setengah 6 dan Ben belum juga datang sedangkan matahari sudah berwarna jingga.
Ia lupa telah memesan kue pada pemilik kedai di dekat asrama, ya.. Nenek tua yang membuka toko kue baru tepat di sebelah gedung asrama Kath.
“Aku harus menghubungi Kak Nad untuk membayar pesananku dulu.”
Kath mencoba menghubungi Nadin, namun entah apa yang membuat dirinya tak bisa menghubungi nomor Nadin.
“Apa ponselnya mati?” Kath beralih untuk menghubungi Lisa, namun tetap saja nomor keduanya sama-sama tak dapat di hubungi.
“Payah! Mereka berpesan supaya aku menghubungi mereka jika membutuhkan sesuatu, tapi ponsel mereka sama-sama tidak dapat ku hubungi.” Kath menggerutu.
Tok tok!
Kath terkejut mendengar seseorang mengetuk kaca mobilnya, “Ben?”
Ben melambaikan tangannya dan tersenyum.
Oh tidak! Meski kaca mobil menghalangi wajahnya, pria itu masih saja tampan. Segera Kath menurunkan kaca mobilnya.
“Menunggu lama?”
“Lumayan..” Kath membuka pintu mobilnya.
“Oh tidak perlu Kath, kau saja yang mengemudi.”
“Kau atau tidak sama sekali?”
“Hmm, baiklah..”
Kath merasa tidak percaya diri jika Ia harus mengemudi di hadapan Ben, terlebih karena Ia tak pandai mengemudi, tentu akan sangat canggung baginya mengemudi di hadapan pria setampan dirinya.
Kath keluar dari mobil dan bukannya masuk, Ben malah berlari membukakan pintu kursi penumpang untuk Kath.
“Oh! Tidak perlu repot-repot Ben..” bagi Kath, apa yang Ben lakukan begitu manis.
Tunggu, ada sesuatu yang cukup aneh, apakah tadi Ben berlari? Meskipun pria itu hanya berlari kecil tapi bukankah semalam berjalan saja Ben harus bersusah payah. Apakah dia sudah pergi ke dokter dan mendapat perawatan yang baik sehingga kakinya sudah lebih baik?
Kath berpikir jika mungkin Ben hanya ingin segera membukakan pintu mobil untuknya sehingga pria itu harus terburu-buru dan melupakan rasa sakit di kakinya. Mungkin saja.
“Kemana kita?”
“Memperbaiki mobilmu.”
Kath tentu tahu tujuan mereka pergi tapi kemana mereka akan pergi itulah pertanyaannya, Ben memang terkadang menyebalkan. Keduanya hanya terus diam di dalam mobil, sampai mereka tiba di sebuah tempat service mobil.
"Apakah kita sudah sampai?”
“Ya, tunggu sebentar.”
Ben turun dan berbicara pada seorang pria Aussie yang sepertinya adalah temannya.
“Kau bisa turun.”
Kath mengikuti arahan Ben dan segera turun dari mobil, Ia berdiri memperhatikan Ben dan temannya.
“Ini alamatnya? Benar?” Ben memberikan secarik kertas yang tertera alamat asrama Kath.
Kath mengangguk, “Benar.”
“Aku akan meninggalkan mobilmu disini lalu mengantarmu pulang, jika mobilmu sudah selesai, mereka akan mengantarkannya ke alamat itu.”
“Apa tidak masalah jika-“
“Jangan khawatir, mereka dapat di percaya, aku mengenal orang-orang disini.” Kath mengangguk.
“Ikut aku.”
Kath mengikuti langkah Ben, pria itu ternyata memarkirkan mobilnya di belakang. Ya, mobil mewah berwarna hitam metalik.
“Naiklah..” kali ini Ben tidak membukakan pintu untuk Kath, tapi pintu mobilnya terbuka secara otomatis. Ben memundurkan mobilnya dengan lincah, seperti dalam film-film laga.
Dalam perjalanan mengantar Kath, keduanya saling terdiam. Kath sesekali menoleh ke arah Ben, sejak tadi Kath merasa ada yang aneh pada wajah Ben. Wajahnya yang kemaren penuh dengan luka sekarang terlihat baik-baik saja, hanya beberapa goresan kecil yang tampak, bahkan bibirnya yang robek seperti sembuh dengan cepat hanya tinggal goresan saja.
Kath menoleh kembali pada Ben, dan karena merasa di perhatikan Ben membalas tatapan Kath. Kath terkejut dan perlahan membuang muka.
"Ada yang ingin kau tanyakan?"
"Eh, tidak."
"Katakan saja."
"Sebenarnya.."
"Ada apa?"
"Lukamu? Aku melihat lukamu sepertinya sembuh dengan cepat."
"Seperti yang kau minta, malam itu juga aku langsung menemui dokter dan dia memberiku obat paling ampuh untuk menyembuhkan luka."
"Sungguh?"
Ben mengangguk dengan tenang.
"Syukurlah.." Kath tersenyum lega.
"Kath.."
"Ya?"
"Berikan nomor ponselmu." Ben mengulurkan ponselnya pada Kath, bahkan saat kemarin mereka mengatur pertemuan di taman tadi, Kath dan Ben dengan polosnya tak saling bertukar nomor ponsel.
"Oh.. Baiklah." Kath selesai menyimpan nomor ponselnya bersamaan dengan sampainya mereka di asrama Kath. Hari sudah gelap dan Ben meminta Kath untuk segera masuk.
"Hubungi aku jika kau butuh sesuatu, mereka akan mengantar mobilmu malam ini juga."
"Terimakasih banyak Ben."
"Sampai jumpa lagi Kath."
Ben menunggu sampai Kath benar-benar tak terlihat, Ben menjalankan mobilnya perlahan. Tetapi baru melewati beberapa gedung, Kath sudah menghubunginya.
"Hallo.. Kath?"
'Ben! Mereka membawa teman-temanku Ben! Ku mohon.. Tolong aku..'
"Suaramu tidak terdengar jelas, apa kau menangis?"
'Cepatlah kemari, ku mohon..'
"Baiklah tunggu, aku belum terlalu jauh, tetap di sana, tetap tenang."
Kath masih menangis di telfonnya.
"Jangan menangis, sebentar lagi aku akan sampai.. Tenanglah Kath."
•••