Hari itu, suasana kantor PT Pesona Cakrawala terasa agak berbeda. Bukan karena AC mati atau snack box telat datang, tapi karena satu pengumuman besar: dua divisi paling sering berseteru, Keuangan dan Marketing, akhirnya harus kerja bareng dalam satu proyek raksasa.
Sheila Rosalina dan Glendy Perdana, duo yang selama ini lebih dikenal karena duel email tajam mereka, sekarang harus berbagi meja rapat. Lebih parahnya lagi, mereka berdua ditunjuk langsung oleh Pak Dimas, si bos besar, sebagai koordinator utama.
"Oke, teman-teman," kata Pak Dimas membuka rapat dengan suara khasnya yang seperti narator sinetron. "Proyek ini besar. Kita mau meluncurkan produk terbaru dengan pendekatan yang nggak biasa—lebih kreatif, lebih bold, dan lebih kolaboratif. Dan Sheila-Glendy, kalian duet mautnya."
Semua mata langsung tertuju ke dua orang itu. Sheila dengan ekspresi datarnya seperti spreadsheet kosong, dan Glendy dengan senyum secerah file PowerPoint yang baru diisi animasi blink-blink.
"Baik, Pak," ucap Sheila, suaranya tenang tapi berbahaya. "Tapi saya harap Mas Glendy tidak membawa ide yang terlalu... mengawang lagi. Budget kami tidak meliputi angan-angan."
Glendy tertawa, ringan, pura-pura santai. "Tenang, Mbak Sheila. Saya pastikan kali ini anggaran tetap mendarat. Tapi boleh dong saya terbangkan semangat tim?"
Sheila menyipitkan mata. "Semangat boleh terbang. Tapi biaya harus tetap berjalan kaki."
Begitulah awal dari kolaborasi mereka. Setiap sesi diskusi jadi ajang saling lempar komentar penuh sindiran halus. Glendy melempar ide pesta kostum untuk roadshow lima kota, Sheila membalas dengan menghitung biaya sewa kostum ala keraton.
"Kita ini perusahaan, Mas, bukan teater kabaret," kata Sheila datar.
"Tapi viralitas datang dari keberanian," bela Glendy sambil menampilkan data engagement dari campaign t****k kompetitor.
"Viral tanpa ROI itu seperti senyum tanpa gigi. Lucu, tapi tidak menguntungkan," balas Sheila tajam.
Namun di tengah perang argumen itu, sesuatu mulai berubah. Mereka mulai... efektif. Ide-ide Glendy yang semula terlalu liar jadi lebih realistis setelah dikawal Sheila. Dan angka-angka Sheila yang terlalu konservatif mulai dilonggarkan oleh sentuhan kreativitas Glendy.
Suatu sore, setelah presentasi sengit, Glendy mendekat ke meja Sheila sambil membawa dua gelas teh tarik.
"Mbak Sheila, kalau nanti project ini sukses, saya ajak Mbak ke pesta kostum, gimana?"
Sheila menatapnya tajam. "Saya ikut kalau saya yang pilih kostumnya."
"Deal. Tapi kalau saya menang pitching, Mbak harus pakai kostum unicorn."
Sheila menghela napas panjang. "Kostum unicorn bisa dibahas... setelah anggaran disetujui."
Namun kantor punya agenda sendiri. Suatu hari, ketika mereka sedang presentasi berdua, tiba-tiba pintu ruang rapat terkunci dari luar. Glendy mencoba gagang pintu. Terkunci.
"Apa-apaan ini?" tanya Sheila.
Glendy merogoh ponsel. Tapi sinyal mendadak hilang. Di luar sana, Rina dan Bram menahan tawa sambil menatap layar CCTV dari pantry.
"Biar mereka bonding. Setengah jam cukup kali, ya?" bisik Rina.
Di dalam ruangan, Sheila mulai gelisah. "Kita terjebak. Saya punya laporan keuangan yang harus saya submit."
"Kita bisa kerja sambil terjebak, kan?" kata Glendy sambil menarik kursi lebih dekat. "Atau kita bisa brainstorming tema roadshow baru. Gimana kalau... konser akustik dengan tema 'Lagu Cinta dan Neraca'?"
Sheila tertawa kecil. Pertama kalinya.
"Kamu itu memang marketing tulen. Nggak pernah kehabisan ide absurd."
"Tapi kamu senyum, artinya ide saya nggak seburuk itu."
Sheila mendesah. "Senyum karena konyol. Bukan karena setuju."
"Tapi kamu tetap senyum," bisik Glendy.
Waktu berlalu. Mereka mulai ngobrol lebih santai. Tentang kenapa Sheila memilih keuangan, tentang masa kecil Glendy yang ingin jadi magician tapi malah nyasar ke dunia presentasi.
Suasana jadi aneh. Bukan karena terkunci. Tapi karena tidak lagi saling serang. Mereka mulai nyaman.
Akhirnya, pintu dibuka. Rina muncul dengan ekspresi pura-pura panik. "Aduh! Maaf banget! Tadi sistem pintunya error!"
"Error, ya?" Sheila menatapnya sinis. "Atau emang sengaja?"
Glendy berdiri sambil menatap Sheila. "Kalau kita terkunci lagi nanti... kamu masih mau ngobrol sama aku?"
Sheila diam sejenak. Lalu tersenyum samar. "Asal kamu nggak bawa proposal pakai kuda sirkus, mungkin iya."
Di luar ruangan, Bram mencatat sesuatu di bukunya. Judulnya: "Proyek Mengunci Hati: Studi Kasus Marketing vs Keuangan."
Rina mengedipkan mata ke Glendy. "Kunci bisa dibikin hilang lagi, lho. Kalau dibutuhkan."
Bab ini ditutup dengan Sheila duduk di mejanya, membuka spreadsheet. Tapi kali ini, di samping angka-angka rapi, ada catatan kecil berjudul: "Ide Roadshow - Kombinasi Waras dan Gila."
Dan di inbox-nya, satu email baru masuk:
From: Glendy P. Mahesa Subject: Rapat Lanjutan (dan mungkin Teh Tarik lagi?)
(Bab selanjutnya: Ketika Anggaran dan Perasaan Sama-sama Tak Terkendali... Akankah cinta tetap berada dalam batas-batas spreadsheet?)