Lembur adalah kata yang paling dihindari oleh sebagian besar karyawan, tapi untuk Sheila Rosalina dan Glendy Perdana, lembur justru menjadi ajang saling sindir, saling bantah, dan... saling melirik tanpa sengaja.
Setelah penunjukan mereka sebagai koordinator proyek bersama, hari-hari Sheila tak lagi hanya dihiasi grafik Excel dan pengajuan budget, tapi juga harus diisi dengan menjinakkan ide-ide liar Glendy yang kadang terdengar seperti hasil brainstorming anak-anak t****k yang terlalu banyak minum boba.
“Mas Glendy, kalau mau bikin campaign, tolong jangan masukkan ide flashmob di zebra cross. Itu bisa ditilang,” keluh Sheila suatu malam saat mereka masih berkutat di ruang meeting, jam menunjukkan pukul 21.47.
“Eh, tapi Mbak, flashmob-nya bertema pajak dan pengeluaran negara, lho. Edukatif!” jawab Glendy dengan mata berbinar.
Sheila memutar bola matanya. “Kalau edukatifnya bikin kita ditangkap Satpol PP, saya lebih pilih kampanye di folder Google Drive saja.”
Meski tetap dingin dan fokus pada anggaran, Sheila mulai memperhatikan hal-hal kecil. Misalnya, Glendy selalu membawa kopi hitam tanpa gula, tapi menyimpan stash biskuit manis di laci—kontradiktif, seperti idenya. Ia juga mengetik dengan cara unik: dua jari telunjuk seperti sedang memainkan piano.
Suatu malam, saat hujan deras mengguyur kota dan hanya dua kepala itu yang masih bertahan di kantor, Sheila menyodorkan secangkir teh hangat.
“Ini... buat kamu. Biar nggak ngantuk sambil ngetik proposal yang katanya 'berani dan menggugah emosi rakyat Indonesia’,” katanya datar.
Glendy menerimanya, sedikit kaget. “Wah... Mbak Sheila ngasih teh? Ini pertanda kiamat atau cuma efek lembur?”
“Kalau kamu terus nulis seperti ini, kiamat anggaran bisa datang lebih dulu,” balas Sheila dengan nada tajam namun tatapan tidak sekeras biasanya.
Mereka tertawa. Ya, TERTAWA. Tidak biasa memang, apalagi dari Sheila yang biasanya hanya punya dua ekspresi: netral dan sangat netral.
Beberapa staf mulai memperhatikan kedekatan mereka. Rina bahkan sempat memotret diam-diam momen ketika Glendy secara refleks mengambil sticky note dari rambut Sheila yang tak sengaja menempel.
“Eh, Mbak, ada label 'over budget' nyangkut di rambutmu,” goda Glendy.
Sheila menampar pelan keningnya. “Itu dari proposal kamu, kan?”
Tapi tidak semua lancar. Suatu malam, mereka terlibat perdebatan panas tentang campaign digital yang diusulkan Glendy.
“Kalau kita pakai influencer A, reach-nya besar, tapi biaya per engagement-nya tinggi banget,” ujar Sheila dengan wajah serius, tangan menunjuk grafik tren.
“Ya, tapi dia relevan banget sama market kita! Kadang hasil besar butuh risiko besar, Mbak,” bela Glendy.
“Kamu mau ambil risiko dengan uang perusahaan?”
“Kamu terlalu takut untuk mencoba, Sheila.”
Kata itu menampar Sheila. Diam sejenak. Suasana jadi tegang.
Namun Glendy menghela napas, lalu duduk lebih tenang. “Maaf. Maksudku... kamu selalu punya alasan logis. Tapi kadang, logika juga butuh sedikit rasa percaya. Kita tim, kan?”
Sheila menatapnya, agak tersentuh namun gengsi menunjukkan. Ia mengangguk kecil.
“Baiklah. Kita split 70:30. Coba satu minggu. Kalau nggak perform, kita switch strategi.”
“Deal,” kata Glendy sambil mengulurkan tangan.
Sheila memandang tangan itu sejenak sebelum menjabatnya. Dalam genggaman yang cepat itu, ada listrik halus yang entah kenapa membuat jantung Sheila berdetak dua kali lebih cepat. Mungkin karena kopi. Atau... karena lembur?
Malam itu, saat mereka keluar kantor bersamaan, Sheila menggigil sedikit karena lupa bawa jaket. Glendy langsung melepas jas kerjanya dan menyampirkan ke bahunya.
“Nggak usah gaya drama Korea, Mas. Nanti orang pikir kita syuting,” kata Sheila cepat-cepat.
“Tenang, saya nggak minta kamu jadi second lead kok,” senyum Glendy jahil.
Mereka berjalan di lorong parkiran kantor, langkahnya pelan. Hujan masih gerimis, dan lampu-lampu neon menyinari genangan air di lantai.
Sesekali, mereka saling melirik. Bukan tatapan penuh cinta, tapi ada rasa penasaran... dan sedikit ketertarikan yang masih malu-malu muncul ke permukaan.
POV Glendy
Dulu, aku kira Sheila Rosalina itu semacam algoritma yang disetel untuk menolak semua bentuk kreativitas. Apa pun yang aku lempar, dia selalu punya angka dan grafik untuk memotong semangatku. Tapi makin lama bekerja dengannya, makin terlihat sisi lain yang tidak ditampilkan di laporan keuangan: Sheila punya integritas, punya prinsip, dan... entah kenapa, senyum tipisnya mulai menghantui pikiranku di jam-jam ganjil.
Setiap dia duduk membetulkan kacamatanya sebelum mengetik cepat di laptop, ada sesuatu yang... menarik. Bukan dalam arti klise, tapi seperti teka-teki yang ingin aku pecahkan. Dia dingin, tapi bukan berarti tak peduli. Kadang dia diam, tapi dari diamnya, aku tahu dia sedang menyusun balasan yang tajam—atau memikirkan ideku dengan serius.
Dan aku mulai menunggu-nunggu debat kecil kami. Aku mulai tahu kapan dia akan menghela napas sebelum memotong argumenku. Aku bisa menebak bahwa dia lebih suka teh hangat daripada kopi manis, dan bahwa dia selalu membawa tisu lipat di laci meja kerjanya, 'jaga-jaga kalau data vendor bikin sakit kepala', katanya.
Lucu, ya. Perempuan yang dulu kupikir akan jadi musuh abadi, sekarang malah jadi alasan aku semangat ngantor. Kadang aku berharap proposalnya ditolak, supaya kita bisa rapat lagi berdua. Kadang aku pura-pura salah ngasih file, supaya dia memanggilku ke mejanya.
Aku bukan orang yang cepat jatuh hati. Tapi Sheila bukan tipe yang bisa diabaikan. Dia menuntut dihargai, tapi dengan cara yang tidak memaksa. Dan itu... membuatku ingin jadi orang yang bisa menyeimbangkan dunianya yang penuh logika.
Kalau nanti proyek ini sukses, aku akan ajak dia ngopi. Tapi bukan di pantry kantor. Di luar. Di tempat yang tidak ada laporan pengeluaran dan sticky note warna kuning.
Di meja kerja keesokan harinya, Sheila menemukan sticky note di monitor komputernya:
"Untuk spreadsheet yang terlalu sempurna: Mau nggak kalau anggaran kita tambahkan untuk beli... waktu ngobrol di luar kantor? -GP"
Sheila memandangi note itu lama. Lalu diam-diam, ia tersenyum. Tapi tentu saja, hanya beberapa detik. Setelah itu, ia langsung membuka Excel dan kembali mengetik seperti biasa.
Namun hari itu, Glendy menemukan bahwa kopi paginya sudah tersedia di mejanya. Hitam, tanpa gula. Dan di bawah gelasnya, ada catatan kecil:
"Untuk proposal yang terlalu nekat: Coba bikin campaign tanpa embel-embel kostum sirkus dulu. Tapi... kita bisa bahas sambil ngopi nanti malam. -SR"
(Bab selanjutnya: Ketika Deadline Mendekat dan Jantung Semakin Cepat—Siapa yang Akan Menyerah Lebih Dulu, Anggaran atau Perasaan?)