Deadline itu seperti monster kecil yang terus mengintai di sudut ruangan. Tidak pernah benar-benar hilang, hanya bersembunyi dan muncul lagi setiap kali kamu lengah. Dan malam itu, monster deadline itu semakin mendekat, menyerang dengan amukan tumpukan pekerjaan yang tidak kunjung usai.
Shelia Rosalina menatap layar laptopnya dengan tatapan setengah mati. Matanya merah, rambutnya sedikit acak-acakan karena beberapa kali ia mengusap dahi lelah. Di sampingnya, Glendy Perdana sibuk mengetik sambil sesekali menyeruput kopi hitam tanpa gula yang sudah dingin.
“Kamu yakin bisa selesai tepat waktu, Mbak Sheila?” tanya Glendy, nada suaranya mengandung sedikit cemas sekaligus candaan.
Shelia menggeleng. “Kalau nggak selesai, besok aku yang jadi bulan-bulanan Bu Yulia. Bisa-bisa aku dikirimin email ‘urgent’ sampai pagi.”
Glendy terkekeh. “Iya, iya, aku juga nggak mau kena getahnya.”
“Kalau kamu nggak kerja, aku yang harus kejar setoran. Ingat, kamu bagian penting di proyek ini. Jangan sampai bikin aku sendirian berjuang lawan tumpukan data,” Sheila menatap Glendy serius.
Glendy menoleh sebentar, menatap Sheila dengan mata yang entah kenapa malam itu terasa berbeda. “Kamu serius, lho. Aku nggak cuma bagian penting proyek, tapi... aku mulai merasa kamu juga bagian penting buat aku.”
Shelia hampir saja tercekik dengan sedotan kopinya. “Mas Glendy! Jangan mulai ngomong gombal malam-malam. Aku belum siap.”
Glendy tertawa kecil tapi matanya tak lepas dari Sheila. “Aku cuma bilang yang sebenarnya.”
Di tengah kesibukan itu, Rina, teman mereka satu divisi, lewat dengan membawa dua gelas kopi hitam panas. “Ini, buat kalian. Dari Pak Joko, katanya supaya tetap semangat sampai pagi.”
Shelia mengambil satu gelas dan mengangkat alis pada Glendy. “Lihat? Bahkan Pak Joko pun tahu kamu sering ngantuk.”
Glendy menerima kopinya sambil membalas, “Aku kan nggak mau jadi beban. Nanti kamu yang kelimpungan.”
Rina tertawa. “Wah, kalau aku jadi kalian, aku bakal bikin lembur kayak kencan rahasia. Biar kerjaan sama senyum bisa jalan bareng.”
Shelia dan Glendy saling pandang dan tersenyum kecil. “Kencan rahasia?” Sheila bertanya sambil menutupi senyumnya.
“Ya, soalnya di kantor kan nggak boleh mesra-mesraan. Jadi harus sembunyi-sembunyi,” kata Rina sambil berbisik penuh dramatis.
“Kalau gitu, besok aku bawa bunga ke meja kamu, Sheila. Jadi sekalian ngerayain deadline,” goda Glendy.
“Ah, Mas Glendy, jangan bercanda. Aku nggak suka bunga, aku suka kopi—tanpa gula,” Sheila membalas cepat.
“Ya, ya, aku catat. Kopi tanpa gula dan senyum tanpa drama,” jawab Glendy sambil tertawa.
Tiba-tiba, suara sepatu hak yang berderap cepat terdengar dari ujung koridor. Bu Yulia, atasan mereka yang terkenal galak tapi sebenarnya perhatian, muncul di depan pintu ruang meeting.
“Ayo, kalian! Deadline besok itu bukan cuma mimpi, tapi kenyataan. Kalau proyek ini molor, saya yang repot!” katanya dengan nada keras, membuat semua orang yang sedang santai langsung serius.
Shelia menghela napas. “Iya, Bu. Kami sudah di jalur finishing touch.”
Glendy menambahkan, “Tenang saja, Bu Yulia. Tim ini sudah seperti tim Avengers. Nggak akan gagal.”
Bu Yulia tersenyum kecil, walau terlihat tegas. “Bagus kalau begitu. Tapi jangan lupa, kerja keras juga harus diimbangi istirahat. Nanti kalian bisa ambruk.”
Shelia dan Glendy saling tatap dan saling angguk.
Malam semakin larut. Kantor sudah sepi, hanya beberapa lampu yang masih menyala dan beberapa staf yang juga lembur. Sheila mulai merasa lelah, dan mulai agak kikuk mengetik. Glendy, yang menyadari hal itu, berdiri dan berjalan ke arah mesin kopi.
“Kalau kamu capek, bilang saja. Aku bisa belikan snack dan s**u cokelat,” katanya sambil menuang kopi untuk dirinya dan Sheila.
Shelia menggeleng sambil tertawa kecil. “Aku ini kuat, Mas. Kalau lelah, tinggal teguk kopi hitam.”
Glendy menyerahkan gelas kopi padanya. “Aku tahu, tapi kadang kamu juga perlu gula, bukan cuma pahit-pahit doang.”
Shelia mengambil kopi itu dan meneguk pelan. “Maksudmu… gula?”
Glendy mendekat, suaranya lebih pelan. “Gula itu, ya, senyuman kamu.”
Shelia hampir saja memecahkan gelas kopi yang dipegangnya. “Kamu nggak kapok ya buat gombal?”
“Kalau kamu nggak senyum, aku harus gimana dong?” Glendy menjawab polos.
Saat Sheila sedang berusaha fokus mengetik, tiba-tiba dari kejauhan muncul Budi, office boy yang sudah hapal rutinitas mereka.
“Permisi mbak..mas...., kalian masih lembur juga? Aku bawain ini,” katanya sambil menyerahkan dua kotak makanan ringan.
Shelia tersenyum hangat. “Terima kasih, Bud. Kamu penyelamat malam ini.”
Glendy ikut tersenyum. “Iya, Bud. Kamu pahlawan tanpa tanda jasa.”
Budi terkekeh. “Santai saja, Mas. Nanti aku bawa teh manis lagi kalau kalian mulai pingsan.”
Shelia menatap Glendy. “Kamu lihat, Mas? Budi saja tahu kamu mulai mirip zombie karena nggak tidur.”
Glendy pura-pura kesal. “Eh, jangan julid, Sheila!”
Waktu terus berjalan, sampai akhirnya di saat yang paling tidak terduga, Sheila menoleh ke arah Glendy yang sedang serius mengetik.
“Kamu tahu nggak, Mas, ini pertama kalinya aku lihat kamu nggak bercanda dari pagi sampai malam,” Sheila berbisik.
Glendy membalas tatapan itu dengan senyum tipis. “Aku juga nggak mau kehilangan kesempatan kerja bareng kamu.”
Shelia merasakan dadanya berdebar sedikit lebih cepat dari biasanya.
“Aku juga... senang kalau kita jadi tim. Mungkin lebih dari sekadar tim,” katanya pelan.
Glendy menatap Sheila, matanya penuh arti. “Aku juga mikir begitu.”
Tak lama kemudian, suara ketukan di pintu memecah suasana. Pak Joko datang membawa amplop berisi dokumen terakhir yang harus mereka periksa.
“Ini, untuk kalian. Jangan sampai ada yang kelewat ya, ini bagian penting,” kata Pak Joko.
Shelia mengambil dokumen itu dan mengangguk. “Terima kasih, Pak. Kami akan cek semuanya.”
Glendy juga menerima dokumen dan berkata, “Pak Joko, kalau nanti kita selesai cepat, kami traktir kopi ya?”
Pak Joko tertawa. “Sip, jangan lupa ajak aku juga.”
Shelia dan Glendy saling bertatapan dan tertawa kecil.
Sekitar pukul 02.30 dini hari, suasana sudah mulai cair. Sheila yang biasanya kaku, mulai terlihat rileks. Glendy yang biasanya agak jutek, mulai sering tersenyum padanya.
“Mas, kamu sadar nggak? Kalau kamu terus-terusan begini, aku bisa lupa kalau kamu itu musuh bebuyutan aku selama ini,” Sheila menggoda.
Glendy pura-pura kesal. “Aku musuh? Aku lebih suka bilang kamu partner crime aku.”
Shelia tertawa. “Partner crime? Kalau gitu, kita sudah resmi jadi duo maut.”
“Tapi kamu tahu, Mbak Sheila, duo maut itu kadang juga perlu... waktu buat santai dan senyum bareng.”
Shelia mengalihkan pandangannya. “Kalau kamu yang ngajak, aku bisa pertimbangkan.”
Glendy melangkah lebih dekat, jarak mereka tinggal beberapa senti. “Kalau begitu, bagaimana kalau setelah deadline ini, kita rayakan dengan kopi—tanpa gula—dan kamu dengan senyum yang nggak boleh hilang?”
Shelia tersenyum, kali ini lebih nyata. “Deal, Mas Glendy.”
Malam itu, di bawah lampu meja kantor yang redup, Sheila dan Glendy menuntaskan pekerjaan mereka. Deadline sudah semakin dekat, tapi entah kenapa jantung mereka berdua berdetak bukan karena stres, melainkan karena hadirnya rasa yang mulai tumbuh pelan-pelan di antara tumpukan dokumen dan kopi pahit.