Inspeksi lapangan. Dua kata yang terdengar biasa bagi sebagian karyawan, tapi bagi Sheila dan Glendy? Itu seperti undangan duel di tengah arena gladiator.
Mereka harus melakukan evaluasi langsung ke tiga titik pemasangan billboard yang menjadi bagian dari campaign besar kantor. Ide gila Glendy adalah membuat billboard interaktif dengan QR code raksasa yang bisa di-scan dari mobil. Sheila? Tentu menolak mentah-mentah.
“Mas Glendy, logika di mana kalau orang lagi nyetir bisa scan QR code ukuran tiga meter dari flyover?” tanya Sheila dengan nada sengit sambil menatap papan reklame yang bahkan belum dipasang sempurna.
Glendy tersenyum, cuek seperti biasa. “Makanya itu, Mbak. Supaya mereka penasaran dan mau turun mobil. Sekalian olahraga, kan?”
“Ini kampanye pemasaran, bukan kampanye hidup sehat!”
Salah satu staf marketing mereka, Rudi, hanya bisa pura-pura sibuk cek HP, pura-pura nggak dengar dua ‘atasan’nya berdebat lagi.
Yang lebih mengesalkan bagi Sheila pagi itu adalah… Glendy datang dengan kemeja ungu tua. Warna yang sudah ia nobatkan sejak kuliah sebagai warna paling mengganggu di dunia.
“Kenapa warna itu?” tanya Sheila tajam, melirik bajunya.
Glendy pura-pura polos. “Kenapa? Ini... elegan. Ada unsur misterius gitu. Kayak aku.”
Sheila mendesah kesal, membalik badan dan menatap ke billboard. Tapi detik berikutnya, ia sadar—ia terlalu lama memperhatikan Glendy. Bahkan sekarang, ia ingat betul warna kemejanya. Seharusnya dia fokus pada angle papan iklan, bukan lipatan kemeja di lengan Glendy yang digulung dengan “sok keren.”
“Kenapa aku mulai nungguin dia nyindir aku lagi, ya?” pikir Sheila, sambil memukul keningnya pelan.
Beberapa hari setelah itu, Sheila balas dendam. Diam-diam, dia atur jadwal rapat klien Glendy bersamaan dengan audit internal kantor yang biasanya bikin semua orang stres.
“Jadwal bentrok?” tanya Glendy, mengerutkan dahi di depan komputer.
Sheila menjawab enteng, “Yah, kan kamu suka multitasking. Aku bantu wujudkan itu.”
“Jahat kamu, Mbak.”
“Tepatnya: efisien.”
Meski begitu, Rina dan beberapa rekan satu tim mulai menyadari sesuatu. Keributan demi keributan justru membuat Sheila dan Glendy makin kompak. Mereka menyelesaikan proposal dalam waktu lebih cepat dari biasanya, saling lempar ide yang makin nyambung (meski tetap diselingi sindiran), dan… mereka jadi sering saling “cari gara-gara.”
“Kayak Tom & Jerry sih,” bisik Rina ke Rudi.
“Tapi versi corporate, ya. Tom-nya pakai blazer, Jerry-nya bawa pointer,” balas Rudi geli.
Suatu malam lembur, hanya tinggal mereka berdua di kantor. Sheila sedang menyusun laporan saat mendengar suara dari belakang:
“Eh, Mbak Sheila... Kamu pernah mikir nggak, kalau kita ini sebenarnya kayak... dua sisi mata uang?”
“Yang satu mata uang palsu?” sahut Sheila tanpa menoleh.
Glendy tertawa kecil. “Yang satu bikin pusing, yang satu bikin nagih.”
Sheila pura-pura sibuk mengetik, tapi diam-diam, dia mendengar suara jantungnya sendiri berdetak lebih cepat.
“Mas Glendy, kamu kenapa sih... suka banget ganggu aku?” tanya Sheila tanpa sadar, setengah lirih.
Glendy menoleh, sedikit serius. “Karena kalau aku nggak ganggu kamu, kamu bakal lupa kalau aku ada.”
Sheila membeku. Kalimat itu terlalu... tidak nyeleneh. Terlalu jujur. Terlalu—bahaya.
Ia buru-buru berdiri, mengambil dokumen, lalu berkata datar, “Aku pulang duluan. Lampu ruang meeting jangan lupa dimatikan.”
Tapi langkahnya terasa berat. Dan kenapa tadi... hatinya sempat deg-degan?
Keesokan harinya, Glendy datang pagi-pagi dan menemukan satu mug kopi favoritnya di meja.
Tapi isinya... teh manis.
Ia menoleh ke arah meja Sheila, yang sedang pura-pura serius memeriksa laporan keuangan. Di samping keyboard-nya, ada sticky note kecil:
“Biar hari ini nggak terlalu pahit, kamu butuh yang manis. Tapi jangan ke-GR-an ya. Ini cuma kebaikan profesional. –SR”
Glendy tersenyum, menyesap teh itu perlahan.
Rudi yang lewat cuma melirik dan menggumam, “Hmmm... makin nyata ya, ‘klop dalam kekacauan’-nya.”
Di balik kesibukannya, Sheila mulai merasa... bingung. Glendy memang menyebalkan, tapi saat dia tidak ada, Sheila justru merasa ada yang kurang. Saat dia muncul dan mulai menyindir, anehnya—itu jadi titik terang hari itu.
Konflik batin terus berputar dalam kepalanya:
"Kenapa aku mulai nungguin dia nyindir aku lagi, ya? Kenapa aku... senyum pas dia bilang aku ‘nggak bisa santai walau lagi di pantai’? Padahal itu nyebelin banget!”
Tapi Sheila tetap bertahan pada tameng profesionalisme—perfeksionis, tegas, dan ‘nggak punya waktu buat drama.’
Namun di dalam hati... hatinya sudah mulai penuh skenario drama yang bahkan Excel nggak bisa analisis.
Sore itu, saat keluar dari ruang meeting, Glendy menepuk pundaknya pelan.
“By the way, ungu bukan cuma simbol misterius lho. Tapi juga warna keberanian.”
Sheila mengangkat alis. “Berani untuk...?”
Glendy tersenyum penuh makna. “Berani ngajak seseorang yang nyebelin tapi menarik... buat ngopi setelah kerja.”
Sheila berpikir sejenak, lalu menghela napas.
“Kalau kamu berani datang pakai warna netral minggu depan, aku pertimbangkan.”
“Deal. Tapi kamu harus berhenti sengaja bentrokin jadwal aku, ya.”
“Enggak sengaja. Cuma... efisiensi.”
Mereka tersenyum. Kali ini, senyum tanpa sarkas. Mungkin, sedikit ketulusan mulai menembus celah kekacauan yang selama ini mereka bangun sendiri.
Dan di meja pantry, Rina dan Rudi yang mengintip dari balik kulkas jus mangga hanya bisa berseru pelan,
“Duh, fix... mereka bentar lagi jadian. Tapi... pakai sistem tender mungkin.”