Lina menatap Alisha.
“Kamu harus sekolah, kalau kamu putus sekolah, mau jadi apa kamu? Setidaknya Mama punya harapan sama kamu,” jawab Lina.
“Iya Ma, Alisha akan ambil formulir pendaftaran besok.”
Lina tersenyum mendengar jawaban Alisha, meskipun hatinya merasa gundah mengingat seragam Alisha yang belum ada.
Keesokan harinya, Alisha mengambil formulir pendaftaran SMA, sedangkan Lina berusaha untuk mendapatkan pakaian SMA.
Lina Akhirnya nekat bekerja jadi kuli panggul untuk bisa membeli seragam Alisha, tentunya bukan seragam baru yang sanggup dia beli, dia hanya sanggup membeli seragam bekas yang di obral di pinggiran jalan.
“Alisha, Mama sudah belikan kamu seragam, tapi maaf, Mama cuma bisa belikan seragam bekas untuk kamu,” ucap Lina sambil menyerahkan seragam bekas yang masih terlihat baru untuk Alisya.
“Alisha, Mama sudah belikan kamu seragam, tapi maaf, Mama cuma bisa belikan seragam bekas untuk kamu,” ucap Lina sambil menyerahkan seragam bekas yang masih terlihat baru untuk Alisya.
“Tidak apa-apa Ma, ini juga masih bagus kok,” jawab Alisha yang menerima pemberian Mamanya dengan senang hati.
“Kapan kamu mulai masuk sekolah?” tanya Lina kembali.
“Senin depan Ma.”
“Kamu belajar yang rajin ya, jangan sampai putus sekolah.”
Alisha menghela napas dengan berat, “Alisha tidak bisa melihat Mama kerja keras terus.”
“Sudah, kamu tidak usah pikirkan itu, Mama sudah tidak apa-apa kok, Cuma kamu harapan Mama,” ucap Lina sambil mengelus rambut Alisha, dia akan berusaha untuk lebih kuat demi Alisha.
Hari berganti hari, Alisha sudah mulai ke sekolah, sedangkan Lina setiap hari bekerja di pasar sebagai kuli angkut barang.
“Eh, Ica sudah pulang, berarti Alisha sudah pulang juga ya?” tanya Lina pada Ica anak penjual sayur di pasar.
“Iya Bu, oh ya, Alisha kenapa belum membayar uang buku Bu?” jawab Ica sambil bertanya pada Lina.
“Uang Buku? Alisha tidak pernah bilang apa-apa sama saya,” jawab Lina dengan menautkan kedua keningnya.
“Iya Bu, sudah seminggu yang lalu di minta sama guru, lima ratus ribu, kalau tidak di tebus, Alisha tidak bisa ikut pelajaran sama guru yang bersangkutan.”
“Oh begitu, iya nanti Ibu bicarakan sama Alisha, terima kasih ya.”
“Sama-sama Bu.”
Lina pulang ke rumah dengan jalan kaki.
“Ya Allah, dari mana aku bisa dapat uang untuk membayar buku Alisha,” gumam Lina yang tidak fokus pada langkah kakinya hingga terjatuh di aspal.
“Aduh,” ucap Lina yang mencoba berdiri kembali.
Tit tit! Sebuah klakson mobil memekakkan telinga Lina.
Dengan cepat Lina menoleh, keluar seorang lelaki yang tak lain adalah suaminya-Galang, bersama seorang perempuan yang terlihat lebih berumur dari suaminya, tapi masih terlihat cantik dengan polesan tebal di wajahnya dan langsung menggandeng tangan Galang.
“Mas Galang, kebetulan sekali aku bertemu sama kamu di sini, aku minta bantuan kamu, Alisha butuh uang 500 ribu untuk membayar uang buku, aku tidak punya uang, tolong kamu bayarin sebentar,” pinta Lina yang seperti mengemis pada suaminya.
Sepasang pasangan yang terlihat hubungannya sangat mesra saling tersenyum satu sama lain dengan senyum kecut mereka masing-masing.
“Aku ke sini ingin bilang sama kamu, kalau aku sudah sah bukan suami kamu lagi! Aku sudah menalak kamu! Dan ini surat putusan pengadilan agama,” ucap Galang sambil melemparkan amplop putih bertulisan pengadilan agama.
Lina menangis sesenggukan melihat isi amplop yang dilempar oleh orang tercintanya dulu.
“Dan kamu lagi butuh uang kan? Ini uang 20 juta dan rumah yang kalian tempati sekarang, ambil saja semuanya buat kalian, karna Mas Galang tidak perlu membawa apa pun untuk hidup bersama saya, salam untuk anak tiri saya,” ucap Reva, istri baru Galang sambil meletakkan uang 20 juta di aspal, tepat di hadapan Lina, lalu mereka berdua masuk kembali ke dalam mobil dan meninggalkan Lina sendirian.
Lina yang merasa terhina dengan perlakuan dua makhluk tersebut membuatnya enggan menyentuh uang 20 juta di hadapannya, tapi dia juga tidak munafik, kehidupannya sekarang sangat jauh dari kata lumayan, mereka hampir tiap hari makan nasi putih dan bahkan hanya makan sehari sekali.
Lina mengambil uang di hadapannya, dan dia langsung pulang ke rumah.
Sesampainya di rumah, dilihatnya Alisha yang sudah tidak berada di rumah, mungkin Alisha sedang keluar untuk jualan. Lina memisahkan uang 20 juta itu, 500 ribu untuk Alisha, yang lainnya akan dia gunakan untuk membuka warung sembako, agar dia dan Alisha tak perlu bekerja keras.
“Alisha, ini uang untuk kamu,” ucap Lina yang menyerahkan uang tersebut saat Alisha sedang memakan nasi berlauk istimewa yang di masak Mamanya.
“Mama dari mana dapat uang sebanyak ini?” tanya Alisha.
“Sudah, kamu tidak perlu tahu, yang penting sekarang kamu bisa bayar uang buku.”
“Mama tahu dari mana Alisha butuh uang? Dari Ica ya?”
“Iya, kamu kalau ada perlu apa-apa bilang sama Mama, jangan kamu tanggung sendiri.”
“Maafin Alisha Ma,” ucap Alisha yang merasa bersalah.
“Iya, mulai besok kamu tidak perlu jualan, kamu bantuin Mama untuk buka warung kecil-kecilan di rumah ya.”
“Memangnya Mama punya uang?”
“Punya, Mama pinjam modal sama Bos Mama,” jawab Lina yang berbohong pada Alisha, dia tidak mungkin mengatakan uang itu dari selingkuhan Papanya, nanti Alisha pasti menyuruh Lina untuk mengembalikannya.
***
Lina dan Alisha mulai mengisi teras rumah mereka dengan jualan, mereka membuat dinding agar jualan mereka aman.
Penghasilan mereka sehari-hari terbilang cukup untuk mereka berdua.
“Ma, Alhamdulillah ya, walaupun tanpa Papa, kita masih bisa bangkit,” ucap Alisha yang di jawab hanya dengan senyuman oleh Lina.
“Kamu jaga warung sebentar ya,” ucap Lina yang berlalu masuk ke dalam kamarnya.
Lina membuka laci meja kecil, lalu mengambil surat cerainya dengan Galang.
“Tega kamu Mas tinggali aku dengan Alisha anak kita,” ucap Lina yang menangis terisak-isak hingga tertidur.
Hari telah malam, Lina yang tidak keluar-keluar dari dalam kamarnya membuat Alisha menyusul ke kamar Lina.
“Ma, mama,” panggil Alisha.
“Hi hi hi, kamu jahat Mas,” terdengar suara perempuan tertawa di dalam kamar.
Alisha mengintip sedikit, takut mengganggu kenyamanan Mamanya, dan betapa terkejutnya Alisha yang mendapati keadaan ibunya yang sudah acak-acakan rambut dan juga bajunya.