Alisha langsung menangis.
“Mama, Mama kenapa?” tanya Alisha dengan deraian air mata, tapi Lina masih terus tertawa dengan tidak jelas.
Alisha mengambil surat yang sudah di robek oleh Lina, “Jadi ... Papa sudah menceraikan Mama,” ucap Alisha yang bertambah rasa marahnya pada lelaki yang telah meninggalkan dia dan Mamanya.
“Papa kamu masih sayang kok sama kita, Papa kamu itu cinta sekali sama Mama, ahahaha ...,” Lina meracau tidak jelas.
“Mama, istigfar Ma, ingat Alisha Ma, Alisha masih sangat butuh sama Mama,” ucap Alisha sambil memeluk Lina dengan erat.
“Suami aku sudah menceraikan aku, hiks hiks hiks, tapi dia sangat mencintai aku kok, dulu kami berdua sangat bahagia, aku sangat mencintai dia, hihihi,” Lina kembali meracau membuat Alisha menangis meraung-raung membuat tetangga berdatangan ke rumah Alisha.
“Kenapa Alisha?” tanya mereka.
“Mama ... Mama Alisha sakit,” ucap Alisha dengan tangis yang tak tertahankan, tetangganya juga tak bisa menahan air mata mereka, karna Alisha dan Mamanya orang yang sangat baik.
“Kamu bawa Mama kamu untuk di rawat di rumah sakit, biar Dokter saja yang tangani,” usul salah satu tetangganya.
“Tidak! Mama tidak boleh di bawa, Alisha cuma punya Mama, Alisha tidak mau sendiri,” ucap Alisha yang kembali menangis sambil memeluk Lina, sedangkan Lina masih tertawa tidak jelas.
“Aku akan merawat Mama, aku mohon jangan bawa Mama ke rumah sakit, aku mohon,” pinta Alisha yang menangis sesenggukan.
Akhirnya tetangga mengiyakan permintaan Alisha, dan mereka membubarkan diri mereka masing-masing.
Hari berganti hari, Mamanya Alisha bukan terlihat membaik, dia malah semakin parah, kencing dan berak sembarangan, hingga membuat Alisha harus menutup warungnya, karna tidak ada yang berbelanja ke warungnya karna jijik yang kadang-kadang kedapatan kotoran Lina berserak di halamannya.
Alisha tak pernah lagi ke sekolah, dia fokus pada kesehatan Mamanya tiap hari yang ada saja tingkahnya melebihi tingkah anak kecil.
“Alisha!” teriak salah satu tetangga Alisha dengan kasar.
Alisha yang tertidur di sofa, dengan cepat bangun dan lari ke luar, “Ada apa Bu?” tanya Alisha dengan jantung yang berdebar karna kaget dengan panggilan mendadak dan keras.
“Ada apa-ada apa, itu lihat Mama kamu lagi ngapain di rumah saya?!” bentak perempuan yang dulu sangat dekat dengan Mamanya.
Alisha segera berlari ke rumah yang dimaksud, “Mama, Mama ngapain di sini?” tanya Alisha yang langsung memeluk Mamanya, tidak peduli Mamanya sudah sekotor apa karna bermain di dalam got, dan sekarang mengotori teras rumah tetangganya.
“Kamu bawa pulang dulu Mama kamu, ini biar kami saja yang urusi,” ucap Pak Ustadz yang kebetulan mendengar ribut-ribut saat dia lewat, dan memilih berhenti agar masalah tidak berkepanjangan.
Alisha membawa pulang Mamanya, dan dia langsung memandikan Mamanya, meskipun tidak ada perlawanan, tapi sangat sulit mengarahkan Mamanya untuk menuruti apa yang di perintahkan oleh Alisha.
Alisha mengurung Mamanya di kamar yang sudah di persiapkan khusus untuk Mamanya, kamar yang hanya ada kasur dan batal untuk tempat tidur, yang lain semua sudah diamankan oleh Alisha ke kamar lain.
“Mama di sini dulu ya, Alisha pergi ke rumah sebelah sebentar,” ucap Alisha sambil mengecup dahi Mamanya kemudian keluar dari kamar menuju rumah tetangganya.
Terlihat ibu-ibu lain sedang bergotong royong membersihkan rumah yang di kotori oleh Mamanya Alisha.
“Alisha minta maaf Bu ya, maafkan kelakuan Mama Alisha,” ucap Alisha yang dengan cepat mengambil sikat dan ikut menyikat dinding rumah tetangganya.
Tetangganya hanya menjawab seadanya saja, karna mereka sudah lelah dengan kelakuan Lina yang menjadi pengganggu kenyamanan mereka.
Setelah selesai membersihkan rumah tetangganya, Alisha hendak pulang ke rumah, “Saya bisa bicara sebentar?” tanya Pak Ustadz kampung mereka pada Alisha.
“Bisa Ustadz, silakan,” jawab Alisha penuh hormat.
“Di rumah kamu saja,” jawabnya.
“Mari Pak Ustadz.”
Mereka berdua berjalan menuju rumah Alisha, sesampainya di teras, Alisha mempersilahkan Pak Ustadz untuk duduk.
“Begini Alisha, maaf kalau ini membuat kamu jadi sedih, tapi saya harus menyampaikan ini,” ucap Pak Ustadz yang terasa berat untuk mengucapkan kalimatnya.
“Tidak apa-apa Pak Ustadz,” jawab Alisha yang mulai menduga-duga apa yang akan dibicarakan Ustadz di depannya.
“Sepertinya, lebih baik Alisha serahkan Mamanya Alisha ditangani Dokter, kasihan Mamanya Alisha kalau terus-terusan mendapat bentakan dari orang lain,” ucap Pak Ustadz dengan berat, “Saya tahu, kamu sangat menyayangi dia, tapi kamu juga butuh orang lain untuk membantu merawat Mama kamu, setidaknya dengan Mama kamu ada ditangan Dokter, kamu bisa sekolah dan membuka warung lagi, untuk kelanjutan hidup kamu,” sambung Pak Ustadz lagi.
Alisha hanya diam mendengar perkataan dari Pak Ustadz, sedikit banyaknya dia membenarkan perkataan dari Pak Ustadz.
“Apa di sana Mama saya akan baik-baik saja?” tanya Alisha.
“Insya Allah akan baik-baik saja, di sana kan ada Dokter dan perawat yang akan mengawasi Mama kamu.”
“Apa saya masih boleh bertemu dengan Mama di sana?”
“Tentu saja boleh.”
“Kalau begitu saya mau Pak Ustadz, saya juga tidak tega melihat Mama dipandang sinis sama orang-orang, apa lagi sampai di bentak seperti tadi.”
“Iya, kamu yang sabar, kamu harus terus berdoa supaya Mama kamu segera sehat.”
“Amin.”
“Jadi besok Ustadz bantu kamu untuk mengantar Mama kamu ke rumah sakit ya,” ucapnya kembali.
“Iya Ustad, terima kasih banyak sudah mau membantu Alisha.”
“Sama-sama, besok kamu persiapkan semua baju Mama kamu, sekalian perlengkapan identitas Mama kamu, saya akan memanggil ambulans agar datang ke sini besok pagi.”
“Iya Pak Ustadz.”
Pak Ustadz pergi dari rumahnya Alisha, sedangkan Alisha masuk ke rumah untuk membereskan pakaian Mamanya dan berkas-berkas yang akan di perlukan.
“Mama, malam ini kita tidur berdua ya,” ucap Alisha yang memeluk Mamanya, sedangkan Mamanya senyum-senyum sambil memainkan rambutnya.
“Mama harus sehat, Alisha masih sangat butuh sama Mama,” lanjutnya lagi yang mencium kedua pipi Mamanya dengan deraian air mata.
Lina mengusap air mata yang tumpah ke tangannya dan kembali tertawa melihat Alisha menangis dan Alisha hanya bisa menangis sambil memeluk mamanya.