Alisha menidurkan Mamanya dan Mamanya tertidur dengan pulas, dia ikut tidur sambil memandangi wajah Lina yang dulu penuh ceria, penguat untuknya di saat dia putus asa, Alisha akhirnya ikut tertidur dengan air mata.
Keesokan paginya, Alisha sudah menyuapkan makan untuk Mamanya, dia juga sudah memandikan Mamanya dan memakai pakaian indah yang biasa dia gunakan ketika pergi keluar.
“Ma, mungkin ini bakti Alisha yang terakhir untuk sementara, Alisha akan sering menjenguk Mama, Mama harus cepat sehat, Alisha rindu dengan Mama yang dulu,” ucap Alisha yang kembali menangis dan memeluk Mamanya.
Suara mobil terdengar mendekati rumahnya Alisha, Alisha segera keluar dengan Mamanya.
“Kalian sudah siap?” tanya Pak Ustadz yang di dampingi dua orang suster dan satu orang sopir ambulans.
“Sudah Pak Ustadz,” jawab Alisha sambil menyeka air matanya, banyak tetangga yang datang memberi bantuan untuk Alisha, untuk biaya rumah sakit Mamanya.
“Terima kasih banyak untuk semua,” ucap Alisha dengan suara parau.
“Sama-sama, kamu jangan takut akan hidup sendiri, kamu bisa tidur di rumah kami kalau malam,” ucap salah satu dari mereka.
“Iya, tidur di rumah ibu juga tidak apa-apa,” jawab yang lainnya.
“Iya Bu, terima kasih banyak, kami permisi dulu,” ucap Alisha yang sudah tidak dapat menahan tangisannya, dia langsung membawa Mamanya masuk ke dalam mobil agar tak lagi mendengar iba tetangga kepadanya.
Mereka langsung menuju ke rumah sakit, sesampainya di sana, Alisha di bantu Pak Ustadz untuk mengisi data Mamanya di ruang administrasi, sekaligus membayar biaya bulanan, karna Alisha masih mempunyai tabungan dari hasil menjualnya selama ini.
Setelah semua selesai, Alisha mengantar Mamanya ke kamar.
“Tolong jaga Mama saya dengan baik suster ya,” ucap Alisha yang terlihat berat untuk melepaskan tangan Mamanya.
“Sudah pasti, karna itu sudah tugas kami,” jawab perawat itu.
“Alisha pulang Ma ya,” ucap Alisha yang memeluk erat Mamanya kemudian mencium wajah Mamanya entah sampai berapa kali, kemudian kembali memeluknya dengan erat.
Selesai memeluk Mamanya, Alisha langsung berlari keluar dari ruangan Mamanya dan berhenti di parkiran sambil menangis sesenggukan.
“Insya Allah Mama kamu akan baik-baik saja, lebih baik kita pulang sekarang, kamu bisa menata kembali hidup kamu yang sudah lama terabaikan.”
Alisha masuk ke dalam taksi yang di pesan oleh Pak Ustadz, dan dia pulang ke rumah dengan hati yang terasa kosong.
Sasya membuka dompetnya, hanya tinggal dua lembar uang berwarna biru, sedangkan dia belum ada pekerjaan yang bisa menghasilkan uang.
“Apa aku minta sama Papa saja?” gumamnya yang merasa enggan menyebut lelaki itu sebagai papanya lagi.
“Alisha, kamu kenapa?” tanya Ustadz Harun yang membantu Alisha mengantar Mamanya ke rumah sakit jiwa. Alisha yang sedang memegang dompetnya segera menutup rapat-rapat dan menjauhi dari pandangan mata Ustadz Harun.
Ustadz Harun tahu apa yang sedang disembunyikan oleh Alisha.
“Ini Ustadz ada sedikit uang untuk kamu,” ucap Ustadz Harun menyerahkan beberapa lembar uang berwarna merah ke dalam hadapan Alisha.
“Jangan Ustadz, sayq tidak mau merepotkan Ustadz,” tolak Alisha dengan cepat.
“Siapa bilang merepotkan, tidak ada yang merasa direpotkan, oh ya, apa kamu tidak bersekolah lagi?” tanya Ustadz Harun, dia tahu seharusnya Alisha masih sekolah dan masih duduk di kelas satu SMA.
Alisha menggeleng lemah, “Sudah tidak ada uang untuk melanjutkan sekolah Ustadz,” jawabnya putus asa.
Ustadz Harun menarik nafas berat, “Nanti Ustadz coba tanya ke sekolah kamu ya, apa saja yang harus di bayar,” sambung Ustadz Harun lagi.
“Tapi Ustadz,” Alisha ingin melarang, tapi Ustadz Harun langsung memberi isyarat dengan telunjuknya bahwa Alisha tidak boleh protes.
“Kamu harus terus melanjutkan sekolah kamu, kalau kamu tidak sekolah, bagaimana kamu bisa mengurusi Mama kamu nanti, coba pikirkan hal itu.”
Alisha menatap wajah Ustadz Harun dengan sendu, membuatnya merindukan sesosok bapa yang sebaik dan sebijak lelaki berumur setengah abad di hadapannya sekarang.
Tapi kenyataannya sangat lah berbeda, Papanya lelaki tidak punya hati yang hanya mementingkan nafsu duniawi dan memilih wanita lain untuk hidup bersamanya.
“Iya Pak Ustadz, Alisha akan sekolah,” jawab Alisha tegar membuat lengkungan di bibir Ustadz Harun karna jawaban tegas Alisha.
Ustadz Harun mendatangi sekolahnya Alisha dan bertanya apa saja yang harus dilengkapi oleh Alisha untuk bisa bersekolah kembali.
“Alisha harus membayar uang sekolah, dan juga uang buku, Alisha juga belum memiliki seragam, jadi dia harus membeli seragam juga,” jawaban dari gurunya Alisha tergiang kembali di telinga Ustadz Harun yang hanya petani biasa, dia tidak punya uang sebanyak itu untuk melunasi semua biaya sekolahnya Alisha.
“Saya harus menemui Ayahnya Alisha, dia ayah kandungnya Alisha, sudah sepatutnya dia bertanggung jawab sama hidupnya Alisha!” batin Ustadz Harun yang melajukan motornya menuju rumah Galang, Papanya Alisha.
“Saya ingin berbicara serius dengan Pak Galang,” ucap Ustadz Harun saat mendatangi rumah mewah seperti gedung tersebut.
“Siapa Pa?” tanya Reva, wanita cantik yang terlihat serasi dengan Galang keluar dari dalam rumah.
“Ini Ma, Ustadz di kampung,” jawab Galang santai.
“Oh, ada apa Pak Ustadz ya? Kalau kedatangan Pak Ustadz hanya untuk meminta suami saya rujuk lagi sama istri lamanya, lebih baik Pak Ustadz tidak usah bersuara saja,” jawab Reva dengan nada congkak.
Ustadz Harun menggelengkan kepalanya melihat sifat Reva yang tidak ada sopan santunnya sama dia.
“Saya ke sini hanya ingin menyampaikan, Pak Galang punya anak perempuan yang masih harus pak Galang nafkahi, Ibunya Alisha depresi berat dan harus di rawat di rumah sakit jiwa, sedangkan Alisha tinggal seorang diri di rumah, alangkah baiknya kalau kalian mengajak Alisha untuk tinggal bersama,” ucap Ustadz Harun.
“Apa? Tinggal bersama?” pekik Reva yang sangat tidak setuju dengan permintaan Ustadz Harun. “Tidak! Itu tidak akan pernah terjadi! Mas Galang! Aku dari awal sudah bilang sama kamu, kamu boleh memberikan uang berapa saja untuk anak kamu, tapi tidak untuk tinggal bersama!” Reva memperingati Galang dengan suara penuh penekanan.
Tentu saja Galang tidak bisa membantah permintaan istrinya itu, toh semua harta yang dia pakai milik istrinya, dia hanya numpang hidup enak di bawah ketiak istrinya.