“Begini saja Ustadz Harun, untuk biaya hidupnya Alisha, tolong berikan ini sama dia,” ucap Galang mengeluarkan satu kartu debit dan meletakkan di hadapan Ustadz Harun. “Ini pinnya, saya akan mentransfer uang untuk dia setiap bulannya lebih dari yang dia butuh kan, tapi bilang sama dia, jangan pernah mencari keberadaan saya atau mengharapkan pertemuan dengan saya!” tegas Galang membuat Ustadz Harun terenyak menatap Galang yang tidak punya hati sama sekali.
“Baiklah, kalau begitu saya pamit dulu,” jawab Ustadz Harun beranjak keluar dari halaman rumahnya Galang sambil membawa kartu debit tersebut.
Rasanya percuma juga dia lama-lama di sana, pasti tidak akan ada hasil seperti yang dia harapkan, mata Galang sudah dibutakan dengan kemewahan dunia.
Ustadz Harun mencoba mengecek isi kartu Debit yang diberikan Galang, apa bisa berfungsi dengan baik atau hanya tipuan dirinya supaya lepas begitu saja dari tanggung jawabnya.
“Ternyata ini berfungsi dengan baik,” gumam Ustadz Harun yang melihat nominal uang di dalam rekening itu, ada 5 juta, Ustadz Harun menarik seperlunya untuk biaya sekolah Alisha, dia akan memberikan pengertian pada Alisha supaya Alisha bisa mengelola uangnya dengan baik, dan sepertinya uang ini Alisha bisa membelikan motor bekas untuk dia pulang pergi ke sekolah.
“Ustadz tadi ketemu sama Papa kamu, dia sudah tahu permasalahan kamu, dia titip kartu Debit ini sama Ustadz untuk diberikan sama kamu, Ustadz sudah mengeceknya, ini berfungsi dengan baik, nanti Papa kamu akan mengirim uang ke kartu ini tiap bulannya,” ucap Ustadz Harun menjelaskan pada Alisha apa adanya.
“Makasih Ustadz ya,” sahut Alisha dengan mata berbinar menerima kartu Debit tersebut, seumur hidupnya dia belum pernah memegang kartu itu.
“Tapi Papa kamu pesan, kamu tidak usah mencari dia,” lanjutnya lagi yang membuat wajah Alisha kembali murung.
“Apa Papa tidak rindu sama Alisha?” lirihnya dengan hati yang hancur.
“Tidak, mungkin saja dia sibuk bekerja, jadi dia tidak mau di ganggu, sudah tidak apa-apa, oh ya, Ustadz tadi juga sempat mengecek berapa isinya, isinya semua 5 juta, ini Ustadz tarik 1 juta untuk keperluan sekolah kamu, Ustadz pikir kamu bisa membeli motor bekas supaya kamu bisa pulang pergi sekolah naik motor,” usulnya kembali.
“Memangnya cukup Ustadz?” tanya Alisha ragu.
“Untuk motor bekas sih cukup, nanti kamu bisa hutang 2 juta dulu, sambil menyicil dari uang kiriman papa kamu, jadi kalau ada motor, kamu bisa pergi ke kota menarik uang sendiri biar lebih pintar, tidak perlu Ustadz yang narik,” jawab Ustadz Harun tersenyum.
“Makasih Ustadz, Alisha mau dibelikan motor,” jawab Alisha dengan senyum bahagianya.
Ustadz Harun menemani Alisha untuk membeli motor, setelah itu dia menyuruh istrinya untuk mengajari Alisha naik motor pelan-pelan. Tak butuh waktu lama, Alisha pun bisa naik motor sendiri.
Alisha kembali melanjutkan sekolahnya, seperti janji Papanya, setiap tanggal satu, Alisha selalu menerima kiriman uang dari Papanya yang entah berada di mana.
Alisha berjanji pada dirinya sendiri, dia akan sekolah tinggi untuk bisa membiayai hidup dirinya dan ibunya, membuat Alisha terbiasa bekerja keras untuk mengumpulkan pundi-pundi rupiah supaya dirinya bisa melanjutkan kuliah seperti keinginannya.
“Kamu mau kerja di mana?” tanya Filda pada Alisha, teman kuliahnya Alisha.
“Aku belum tahu Fil, aku tidak bisa terus-terusan mengharapkan uang dari papa aku, kirimannya kadang-kadang tidak tentu berapa nominalnya, bahkan bulan lalu papaku pernah tidak mengirimi aku uang, untung aku kerja cuci gosok, jadi punya uang untuk makan,” jawab Alisha melayang pikiran pada nasibnya.
“Gimana kalau Lu daftar jadi model saja?” tawar Filda bersemangat.
“Model? Haha, ada-ada saja kamu ini Fil, orang seperti aku mana pantas jadi model,” jawab Alisha yang melihat kekonyolan sahabatnya itu.
“Aku serius, sekarang lagi buka pendaftaran jadi model, lu cantik kok untuk jadi model,” ucap Filda lagi.
“Gak ah Fil, gua gak pede, muka gua pas-pasan, beda sama orang lain yang tiap hari rajin perawatan, lah aku, haha, boro-boro mau perawatan Lin, cukup untuk makan saja sudah Alhamdulillah.”
“Hei, jangan pesimis seperti itu!” Filda menepuk bahu teman sejatinya itu, “Kalau begitu kamu daftar jadi perancang busana saja, kamu kan sering tu gambar-gambar gaun yang bagus, siapa tahu kamu diterima.”
“Gambar gaun yang biasa aku gambar kalau lagi sedih maksud kamu?” tanya Alisha meyakinkan ucapan temannya.
“Iya, itu gambarnya bagus loh, kamu saja yang tidak memberikan aku untuk menyimpan gambar-gambar itu, malah kamu buang ke sungai dengan alasan biar dia hanyut bersama kesedihan kamu.”
Alisha tertawa mendengar ejekan temannya untuk dirinya, tapi sepertinya apa yang di bilang oleh Filda ada benar juga, dia harus mencoba semua bidang untuk menyambung hidup.
“Temani aku ya untuk daftar jadi desainer,” pinta Alisha merangkul bahu sahabatnya itu.
“Siap, aku selalu ada untukmu!” jawab Filda sambil memberi penghormatan siap pada Alisha, membuat Alisha terkekeh.
Filda satu-satunya teman dia yang tidak pernah peduli terhadap latar belakang kehidupan Alisha yang sebenarnya, rumah yang hampir roboh karna tidak ada uang untuk merehabnya, dan ibu yang berada di rumah sakit jiwa, membuat Alisha sedikit minder berteman dengan banyak orang.
...
“Kamu sudah siap?” tanya Filda yang menjemput Alisha ke rumahnya.
“Sudah, makasih ya kamu sudah mau jemput aku,” ucap Alisha.
“Sama-sama teman, yuk kita berangkat sekarang juga.”
Filda dan Alisha pergi naik motor menuju tempat pendaftaran Desainer, dia juga membawa beberapa desainnya, siapa tahu dia membutuhkannya.
“Antriannya sangat panjang,” keluh Alisha yang tidak enak pada sahabatnya.
“Tidak masalah, kamu antri terus, aku tunggu di kursi sana ya, sambil nonton drakor, hehe,” jawab Filda terkekeh membuat Alisha sedikit lega.
Filda memang sangat suka menonton drama romantis produksi negara Korea, dia kadang beberapa kali terciduk oleh Alisha sedang menangis atau senyam-senyum sendiri sambil menonton.
Sudah satu jam lebih Alisha mengantri, dia sudah sangat berhajat untuk buang air kecil, tapi kalau dia pergi, posisinya pasti akan digantikan sama orang lain.
Dia memanggil-manggil nama Filda, tapi Filda tidak dengar, hingga seorang pemuda berpenampilan biasa saja melewati dirinya.
“Eh Mas, mau minta tolong sebentar, boleh tidak?” tanya Alisha yang sudah sangat kebelet.
“Ada apa ya?” tanya lelaki itu.