Lelaki itu menatap Alisha.
“Saya mau ke kamar kecil, tolong gantiin saya sebentar ya, sebentaaaarrr saja, plisss,” ucap Alisha memohon.
“Iya, saya bantuin,” jawab lelaki itu membuat Alisha langsung berlari ke arah toilet meninggalkan lelaki itu menggantikan posisinya.
Tidak berapa lama Alisha kembali ke tempatnya semula, “Terima kasih banyak Mas ya, sudah membantu saya,” ucap Alisha pada lelaki yang ada di hadapannya itu.
“Sama-sama, kalau begitu saya ke sana dulu,” jawab lelaki itu menunjuk ke dalam butik membuat Alisha penasaran ngapain lelaki itu ke sana, memangnya dia siapanya yang punya butik.
“Mas kenal sama pemilik butik itu?” tanya Alisha membuat lelaki itu tersenyum.
“Saya harus pergi sekarang,” jawabnya membuat Alisha mencebik karna lelaki itu mengabaikan pertanyaannya.
Setelah 4 jam mengantri, akhirnya tiba giliran Alisha.
“Mbak silakan berikan identitas Mbak, dan Mbak bisa merancang di kursi sebelah sana,” ucap petugas penyeleksi.
Alisha berjalan ke arah yang ditunjukkan untuk dirinya, dan Bruk!
Alisha menabrak seseorang hingga semua kertas desain yang dia bawa berhamburan.
“Loh, kamu kan orang yang tadi bantuin saya,” ucap Alisha terlihat bahagia karna bisa bertemu lagi dengan lelaki yang menolongnya.
“Iya, maaf saya tidak sengaja,” jawab lelaki itu sambil memungut kertas-kertas desain Alisha.
“Ini semua kamu yang gambar?” tanya lelaki itu yang takjub pada desain Alisha yang sangat indah.
“Iya Mas, itu desain saya semua, ini saya mau desain lagi, kalau begitu saya tinggal dulu Mas ya,” ucap Alisha yang beranjak pergi ke kursinya supaya bisa segera mendesain.
Begitu juga lelaki itu yang pergi dari hadapan Alisha antah pergi ke mana.
Alisha mendesain gamis untuk wanita sekalian dengan baju formal untuk lelaki, rancangannya sederhana, tapi terlihat sangat indah dan elegan untuk kaum sosialita.
Setelah menyelesaikan desainnya, Alisha langsung mengumpulkan pada petugas, dia akan menerima pengumuman setelah satu minggu mengikuti tes desain di butik tersebut.
Alisha kembali menemui Filda yang masih terus saja sama laptopnya menonton drakor.
“Hei, asyik banget ya, ya ampun,” ucap Alisha yang datang menghampiri Filda, membuat Filda kaget dengan sentuhan Alisha di bahunya.
“Aduh Alisha, tanggung banget, ini 15 menit lagi sudah tamat,” jawab Filda yang sepertinya benar-benar sangat asyik.
“Jadi dari tadi kamu di sini sudah menghabiskan tontonan kamu sampai ending?” tanya Alisha, tapi tidak ada jawaban dari Filda karna sudah kembali fokus pada tontonannya.
Mau tidak mau Alisha terpaksa menunggu temannya 15 menit lagi untuk menyelesaikan tontonan dia.
Untuk pengusir kebosanan di hatinya, Alisha melukis wajah lelaki yang membantunya tadi, dengan harapan dia bisa mengasih lukisan itu untuk lelaki tersebut, sebagai kenang-kenangan karna sudah membantu dirinya.
***
Reva Boutiqiu, butik yang baru beberapa bulan berdiri itu, sedang menyeleksi karya-karya terbaik dari peserta yang mengikuti pendaftaran kemarin.
Lumayan banyak yang mendaftar, bahkan lelaki pemilik usaha itu hampir kewalahan memeriksa karya mana saja yang bagus dan pantas bekerja di butiknya.
“Tolong kalian seleksi karya-karya ini yang menurut kalian bagus, biar nanti saya yang akan pilihkan lagi yang sangat bagus menurut saya,” ucap Lelaki itu.
“Apa Pak Alfin tidak berniat meminta mereka untuk ikut seleksi sekali lagi dari karya-karya terbaik ini?” tanya karyawan Reva Boutiqiu pada Bos mereka.
“Tidak, saya lelah, kalian simpan saja nomor ponsel mereka semua, kalau memang ada yang tidak becus kerjanya, kita tinggal ganti sama orang lain,” jawab Lelaki berbadan tinggi itu, kulitnya yang putih dengan wajahnya yang tampan cukup membuat orang akan mengira dia adalah model papan atas, tapi nyatanya dia tidak pernah minat jadi model, dia lebih tertarik membuka usaha yang menurutnya sangat menguntungkan di jaman sekarang ini, yaitu membuka butik dengan nama Reva Boutiqiu dan bekerja sama dengan model yang berbakat bagian Fashion.
Selain keinginan dirinya untuk membuka butik, Mamanya Alfin juga sangat meminta pada Alfin untuk membuka butik yang sangat mewah, dan Alfin pun mengabulkan permintaan mamanya.
Alfin sudah mengantongi beberapa pendesain terbaik menurut karyawannya, dia hanya butuh beberapa orang untuk bekerja memajukan butiknya.
“Sepertinya, ini sudah pas,” ucap Alfin yang meletakkan map di atas mejanya, kemudian menelpon sekretarisnya.
“Tolong ke ruangan saya, saya sudah memilih siapa saja yang akan bekerja sama dengan kita, kamu bisa menghubungi mereka untuk datang besok pagi ke kantor kita dan langsung mulai bekerja hari itu juga,” ucap Alfin lalu menutup telponnya kembali.
Sekretaris Alfin masuk dan mengambil berkas yang diperintahkan oleh Bosnya, lalu dia menghubunginya satu per satu.
“Apa Mbak?! Saya di terima jadi desainer?!” pekik Alisha masih setengah tidak percaya kalau dirinya akan bekerja di butik mewah dan berkelas seperti itu, awalnya dia ikut daftar hanya untuk mencoba-coba, tapi sepertinya jalan rezeki dia sedang terbentang di sana.
“Iya Mbak, Mbak bisa ke kantor besok juga, dan mulai bekerja,” jawab Sekretaris Alfin.
“Iya Mbak, makasih banyak Mbak,” jawab Alisha terharu.
Alisha langsung menelpon Filda, “Apa sih? Gua lagi tidur, lu ganggu aja, tau gak?” ucap Filda ketus karna Alisha mengganggu tidurnya dengan menelpon dia.
“Aku diterima kerja Fil,” sahut Alisha dengan girang membuat Filda langsung terlonjak dari tidurnya.
“Apa? Kamu diterima? Wah keren banget teman gua satu ini, bisa bekerja di butik sebesar itu, gua tunggu traktiran bakso hot jeletotnya pakai gaji pertama!” jawab Filda yang sudah tidak mengantuk lagi karna mendengar kabar baik dari temannya.
“Sudah pasti, kamu orang yang pertama kali aku traktirin, secara kamu udah bantuin aku untuk mendaftar di sana,” ucap Alisha dengan perasaan bahagia.
“Tidak masalah sobat, yang penting kamu bisa hidup bahagia tanpa kekurangan, aku mau bantu lebih juga tidak mampu,” jawab Filda yang membuat mata Alisha berembun.
“Kamu mewek lagi ya? Ya ampun sahabat aku yang satu ini cepat kali mewek, sudah jangan sedih-sedih, besok permulaan kamu menata kehidupan kamu yang lebih baik, jangan sia-siakan kesempatan itu!” ucap Filda.
“Iya Fil, sekali lagi terima kasih banyak karna lu selalu ada untuk gua.”
"Sama-sama, aku pasti akan selalu ada untuk kamu, kalau kamu perlu apa-apa gak usah sungkan, bilang aja, kalo aku bisa bantu, pasti aku bantuin."
"Iya Fil," sahut Alisha sambil tersenyum.