Alisha menata penampilannya dengan rapi, untungnya dia masih punya beberapa style baju layak untuk mulai kerja hari ini.
“Aku harus membawa lukisan ini, siapa tau aku bisa ketemu lelaki ini lagi nanti di butik,” gumam Alisha yang memasukkan lukisan wajah lelaki yang membantunya kemarin, dia segera keluar dari rumahnya dengan menutup pintu tanpa mengunci, karna percuma juga di kunci, jendela rumahnya sudah pada lepas, dan tidak ada barang berharga apa pun di dalam sana, hanya kamarnya yang masih sedikit bagus karna di suruh renovasi oleh istri Ustadz Harun sama suaminya, supaya Alisha aman tidur di rumahnya.
Alisha memilih naik angkutan umum untuk menuju tempat kerjanya, bajunya yang sopan dengan dandanan biasa saja membuat Alisha aman tanpa di ganggu oleh siapa pun.
“Bismillahirrahmanirrahim,” ucap Alisha begitu kakinya menginjak gerbang butik tersebut, dan terus berjalan hingga bertemu dengan karyawan di sana.
“Mbak Alisha?” tanya perempuan itu pada Alisha.
“Iya benar,” jawab Alisha dengan hormat.
“Silakan Mbak Alisha ke ruangan Pak Alfin, beliau sudah menunggu di dalam,” ucapnya.
“Baik, Mbak.”
Alisha bergegas menuju ruangan pemilik butik tersebut, “Assalamu’alaikum,” ucap Alisha dengan sopan di balik pintu ruangan Alfin yang terbuka.
“Wa’alaikum salam, silakan masuk,” jawab Alfin tanpa menoleh karna sibuk menulis di atas berkas-berkas di mejanya.
Alisha melangkah perlahan tapi pasti, “Silakan duduk,” ucap Alfin lagi yang meminta Alisha untuk duduk di kursi di depannya.
“Nama kamu siapa?” tanya Alfin mulai melihat ke arah Alisha, membuat Alfin dan Alisha sedikit terkejut, karna sepertinya mereka tidak asing dengan wajah manusia di depannya.
‘Ini perempuan yang waktu itu minta bantu sama aku, apa kira-kira dia bisa kenal sama aku?’ batin Alfin karna kebetulan waktu itu dirinya hanya memakai baju kaos, sandal jepit dan peci, yang sedikit berbeda dengan jati dirinya yang asli.
‘Lelaki ini sangat mirip sama lelaki yang bantu aku waktu itu, tapi apa iya ini orang yang sama, sepertinya lelaki yang itu tidak serapi ini, ah, mungkin Cuma kebetulan saja mirip,’ batin Alisha yang kembali santai.
“Nama Saya Alisha Cantika Pak,” jawab Alisha sopan.
Alfin mencari berkas punya Alisha, setelah didapatkannya, dia melihat desain Alisha kembali untuk mengenal karakter desainnya, kemudian Alfin mengambil surat kontrak kerja.
“Kamu bisa memilih sampai berapa tahun kamu akan bekerja di sini, kalau kamu masih cocok, kamu bisa sambung lagi, tapi kalau kami merasa kamu kurang cocok sama kami, kami minta maaf harus memecat kamu, jadi bekerjalah dengan maksimal,” ucap Alfin.
“Baik Pak, saya akan bekerja dengan maksimal.”
“Kalau begitu, tanda tangan di sini,” pinta Alfin lagi.
Alisha menaruh lukisannya di atas meja Alfin dan mulai menandatangani kertas yang disodorkan oleh Alfin, sedangkan Alfin sendiri fokus pada lukisannya Alisha, Alfin meraih lukisan tersebut.
“Bukannya ini aku dengan penampilanku yang waktu itu ya?’ batin Alfin lagi mengerutkan keningnya.
“Kenapa Pak?” tanya Alisha yang melihat Alfin memperhatikan lukisannya.
“Tidak, tidak ada apa-apa, ini kamu lukis sendiri?” tanya Alfin.
“Iya Pak, kebetulan kemarin ada lelaki yang bersedia bantuin saya, saya mau ucapin terima kasih dengan memberikan lukisan ini, tapi sepertinya hari ini dia tidak ke butik ini,” jawab Alisha.
‘Jadi dia tidak mengenali siapa aku? Benar-benar polos perempuan ini,’ batin Alfin.
“Saya suka sama lukisan tangan, boleh saya simpan?” tanya Alfin.
“Eem, memangnya itu pantas di simpan sama Bapak?” tanya Alisha yang minder sama karyanya sendiri.
“Ini bagus, kamu jangan cepat minder sama karya kamu sendiri, yang kamu anggap buruk belum tentu buruk juga di mata orang lain, jadi percaya diri itu sangat diperlukan!” jawab Alfin dengan tegas.
“Baik Pak,” jawab Alisha menunduk.
“Sekarang kamu bisa keluar dan tanyakan di mana meja kerja kamu sama sekretaris saya di luar.”
“Baik Pak, kalau begitu saya permisi.”
Alisha keluar dari ruangan Alfin, jantungnya hampir copot karna Alfin mempermasalahkan dirinya yang pesimis sama karyanya sendiri.
Alfin menatap lukisan tersebut, kemudian dia meminta sopirnya untuk membingkai lukisan itu untuk pajangan di ruangan kerjanya, karna lukisan Alisha benar-benar indah.
Alisha menanyakan di mana mejanya sama ketua Staff, setelah dia mendapatkan mejanya, dengan segera dia mulai memfokuskan dirinya untuk desain busana.
Ada banyak kertas kosong untuk mendesain dan juga komputer, semua karyawannya bebas mendesain menggunakan apa saja, yang terpenting hasilnya memuaskan.
Alisha lebih memilih mendesain menggunakan kertas hvs, dia tidak begitu cekatan menggunakan komputer, karna sudah terbiasa menggunakan pensil untuk mendesain.
Sudah satu minggu Alisha bekerja di butik yang dikelola oleh Alfin, sudah banyak hasil karya-karya Alisha yang sudah sampai di tangan Alfin sendiri, sampai pada sebuah lukisan yang membuat Alfin bingung cara mengeksekusikan bahan dari hasil desain Alisha.
“Kamu bisa menjelaskan bagaimana cara mengatur kain harus persis seperti desain kamu?” tanya Alfin pada Alisha.
“Bisa Pak,” jawab Alisha dengan hormat.
Alisha mulai mengatur kain seperti yang dia gambarkan, tidak sulit bagi Alisha membentuk kain tersebut agar menyerupai gaun yang dia desain sendiri, karna dia selalu mendesain sambil memikirkan cara untuk menyatukan kain saat pemrosesannya.
“Sudah selesai Pak,” ucap Alisha pada Alfin membuat Alfin takjub pada hasilnya.
“Ini ukuran kecil ya, apa kamu mendesain sambil membayangkan memakainya sendiri?” tanya Alfin sambil melihat-lihat kain yang belum terpotong itu tapi sudah terlihat rapi dengan keahlian tangan Alisha.
“Eum ... iya Pak,” jawab Alisha sambil malu-malu.
“Bagus ini, kamu berbakat!” puji Alfin membuat Alisha makin tersipu malu.
Setelah melihat kelebihan Alisha dalam mendesain, Alfin makin mengandalkan desain Alisha untuk dikembangkan agar lebih modern.
...
Alisha yang masih duduk di bangku kuliah, harus membagikan waktu antara mendesain dan juga belajar, tapi kesibukannya dalam mendesain membuatnya tidak punya banyak waktu untuk belajar hingga akhirnya nilai ujian dia turun drastis membuat posisi dia sebagai mahasiswa yang menerima beasiswa kuliah gratis menjadi terancam di hapuskan.
“Kalau nilai kamu terus begini, semester ke depan beasiswa kamu akan dicabut, kita hanya membiayai mahasiswa berprestasi bukan mahasiswa yang malas-malasan belajar!” ucap Dosennya Alisha membuat Alisha bersedih.