Mella POV
Pulang dari cafe, tempat dimana aku, Arkia, Frans, Lani, dan Nathan berkumpul tadi. Aku langsung masuk ke dalam kamar karena capek. Sebenarnya bukan hanya kecapekan, tetapi karena sikap Arkia pada Lani yang membuatku sedikit cemburu. Astaga Mella kenapa begitu saja cemburu, sih? Arkia kan biasa aja sama Lani, tadi. Kok bisa cemburu? Tapi kenapa tadi Lani bilang kalau Arkia perhatian dari dulu, pasti langgeng. Apa maksudnya? Langgeng sama siapa suamiku? Lani.. kamu membuat aku sangat-sangat penasaran!
Tok..tok..tok..
“Mella..”panggil Arkia dari arah pintu. Aku yang dalam keadaan posisi tidur membelakangi pintu kamar pun membalikkan badanku menghadap Arkia yang datang dengan sebuah nampan ditangannya.
“Kamu minum s**u dulu, ya.”ucap Arkia sambil memberikanku s**u yang tadi berada diatas nampan yang dibawanya. Ah! Aku benci dengan s**u, itu memang kelemahan diriku dari dulu dan Arkia tahu itu. Makanya aku tidak terlalu tinggi sekarang.
“Arkia, aku tidak suka baunya.”ucapku sambil menggeleng dan menutup hidungku tidak ingin mencium bau s**u yang dibawa oleh Arkia.
“Ayo lah, sweety. Kasihan dedeknya, dia juga butuh asupan nutrisi dari kamu.”ucap Arkia membujukku.
“Arkia, please! Tadi pagi kan aku sudah minum.”ucapku membujuk Arkia agar dia menyingkirkan s**u itu dariku.
“Sweety. Kamu jangan berbohong, bibi bilang tadi pagi kamu lupa minum susu.”ucap Arkia.
“Hm. Baiklah, aku akan meminumnya. Tapi sedikit demi sedikit.”ucapku.
“No sweety. Jika kamu minumnya begitu, maka itu akan membuat kamu semakin mual.”ucap Arkia menggeleng. “Sekarang kamu minum sekaligus saja, agar bau susunya cepat hilang.”lanjut Arkia memberi saran dan memberikan gelas yang berisi s**u itu padaku. Mau tidak mau aku pun mengangguk sambil menerima gelas itu dari Arkia dan mulai meminumnya hanya dengan satu tarikan nafas.
Setelah aku meneguk habis s**u tersebut, aku kemudian memberikan gelas tersebut pada Arkia dan Arkia segera menjauhkan gelas tersebut dengan meletakkannya diatas meja didekat pintu kamar, agar tidak tercium olehku. Aku pun akhirnya bisa meneguk habis s**u yang memenuhi rongga mulutku dan Arkia membantuku dengan membersihkan sisa-sisa s**u tersebut dari mulutku dengan selembar tisu basah. Memang suami yang pengertian.
“Baiklah, aku mau ke dapur dulu nganter gelas itu.”ucap Arkia hendak pergi. Namun aku segera menarik lengannya agar tidak jadi beranjak. “Nanti aku kembali, aku hanya sebentar mengantarnya.”ucap Arkia mengusap kepalaku dan kemudian mengecup keningku, kemudian aku melepaskan lengan Arkia dan dia pun pergi meninggalkan diriku sendiri di dalam kamar.
Arkia POV
Setelah aku kembali ke kamar, aku melihat Mella tengah duduk sambil bersandar dan memainkan ponselnya. Aku yang melihat itu hanya bisa tersenyum dan menghampirinya dengan laptop dan beberapa berkas yang baru saja aku ambil dari ruang kerja.
“Kamu ngapain, sweety?”tanyaku padanya yang terlihat sedang melamun. Sejenak dia meletakkan ponselnya dan melihat kearahku, kemudian memeluk lenganku erat.
“Ada apa?”tanyaku mencoba lembut padanya.
“Tidak ada, hanya aku merasa aneh dengan Lani.”jawab Mella yang membuatku mengerutkan dahi.
“Maksud kamu?”tanyaku keheranan.
“Maksud aku, ada yang ga beres sama keluarganya.”jawab Mella serius.
“Sweety, ga baik berburuk sangka.”ucapku. “Lagi pula, kamu kenapa bisa beranggapan seperti itu?”tanyaku yang mulai sibuk dengan beberapa berkasku.
“Ih, Kia! Kamu nanti dulu kerjain berkasnya. Aku lagi cerita serius, ini!”ucapnya cemberut dan melepaskan rangkulannya dilenganku. Seketika aku tertawa dan dengan iseng, aku malah menarik hidungnya yang pesek.
“Aw. Kia! Sakit tau!”ucapnya meringis sambil mengelus-elus hidungnya yang baru saja aku tarik.
“Hehehe.., sorry sweety. Biar kamu mancung, aku bosen liat kamu dari dulu pesek mulu.”ucapku yang disertai cekikikan, kemudian menyingkirkan segala macam ponsel, laptop, dan berkas-berkas yang tadi aku bawa.
“Ih, Kia! Aku ngambek ah! Ga jadi cerita.”ucapnya kemudian tidur membelakangiku.
“Cie ada yang ngambek. Ngambek bilang-bilang, ya?”ucapku menggodanya.
“Bodo! Yang penting aku ngambek, titik.”ucapnya masih membelakangiku. Aku pun segera memeluk dirinya dari belakang, agar kekesalannya berkurang.
“Sweety, I’m sorry.”ucapku membelai rambutnya.
“Bodo!”balasnya tanpa menoleh sedikitpun padaku.
“Dek, mama ngambek nih. Bantu papa bujuk ya.”ucapku sambil mengusap perut Mella dan tak lama aku mendengar kekehan keluar dari mulut Mella. “Dek, mama ngeledek papa diam-diam, nih.”ucapku lagi dan tak lama Mella berbalik menghadapku.
“I’m sorry sweet heart. I’m juts kidding.”ucapku meOlas sambil memandang wajah istriku.
“Ok, aku ga ngambek lagi. Tapi dengan satu syarat.”ucapnya sambil tertawa pelan.
“Ok, aku penuhi.”ucapku dan tak lama aku menelan ludahku, mengingat permintaan dari ibu hamil yang bisa bermacam-macam.
“Aku mau kamu temanin aku besok pagi lari pagi.”ucapnya bersemangat.
“Lari pagi?”tanyaku mengerutkan dahi.
“Eits, ga boleh nolak. Nanti dedek kita ileran, gimana? Aku kan ga mau.”ucapnya. Kalau begini jadinya, apa boleh buat? Dari pada nanti anakku menjadi ileran dan dia masih ngambek. Baiklah untuk kali ini aku kembali setuju.
“Baiklah, kalau begitu sekarang kamu tidur dulu. Biar besok pagi kita bisa bangun buat lari pagi.”ucapku sambil menarik selimut agar menutupi tubuhnya.
“Kamu belum tidur, Kia?”tanya Mella menatapku heran.
“Belum, soalnya masih banyak berkas yang belum aku periksa. Kamu tidur duluan saja.”ucapku menjawab pertanyaannya. “Good night sweety, good night my baby.”ucapku sambil mengecup kening dan kemudian mengusap perut Mella.
“Good night Kia.”ucapnya membalas. Lalu tak lama aku pun kembali berkutik dengan laptop dan beberapa berkas yang sengaja aku bawa dari kantor untuk aku periksa di rumah.