Mella POV
Kalian tahu betapa bahagianya diriku saat ini. Arkia memperbolehkan aku berjalan-jalan ke mall dan ke taman. Walau mungkin setiap pagi aku berolahraga ke taman, namun rasanya kini beda. Karena setiap pagi, aku berolahraga secara diam-diam. Kalian tahu bukan? Jika Arkia tidak mengizinkanku keluar rumah jika tidak bersama dengannya, seperti apa yang saat ini aku lakukan? Dan kini aku sangat-sangat bahagia bisa keluar dari rumah tanpa adanya penolakan dari suami tercintaku-Arkia.
Setibanya kami di taman, aku langsung duduk disalah satu bangku taman yang ada dan memejamkan mataku menikmati udara di taman itu. Arkia yang berada disampingku hanya diam melihatku yang memang menyukai taman. Namun tiba-tiba saja ada seorang anak kecil datang menghampiri diriku dan suamiku. Seorang anak laki-laki yang manis, dia sangat lucu datang menghampiri kami. Aku dan Arkia saling pandang dan tanpa ragu Arkia menggendong anak kecil tersebut. Ajaibnya, anak manis itu tidak rewel dan menangis seperti kebanyakan anak lainnya, jika bertemu dengan orang yang tidak dikenalnya.
“Hai manis, nama kamu siapa?”tanyaku sambil memegang tangannya yang mungil.
“Atan..”jawabnya khas anak kecil seumurannya.
“Atan umurnya berapa tahun?”tanya Arkia dengan anak kecil bernama Atan itu dipangkuannya. Atan tidak menjawab, malahan dia menunjukkan 2 jarinya pada kami memberi jawaban.
“Oh, Atan umurnya 2 tahun.”ucapku masih memegang tangan mungilnya dan dia hanya mengangguk sambil membalas pegangan tanganku. Aku dan Arkia yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia. Aku berdoa semoga anakku nanti bisa semanis, selucu, seimut, dan sepintar Atan.
“Atan kesini sama siapa?”tanya Arkia.
“Oh iya, dia kesini bareng siapa, ya?”ucapku sambil memandang kesekeliling.
“P.pa.pa, ma.ma.”ucap Atan dengan cara bicara khas bayi nya. Tak lama kemudian, aku dan Arkia mendengar seorang wanita meneriaki nama anaknya dan itu seperti nama Atan.
“Nathan.. Nathan.., kamu dimana, nak?”teriak wanita tersebut. Aku dan Arkia yang mendengar itu pun segera menghampiri wanita itu dengan Atan atau Nathan digendongan Arkia.
“Bu, apa ini anak ibu?”tanyaku tanpa melihat wajahnya, karena dia membelakangi kami. Lalu setelah wanita itu berbalik, betapa terkejutnya aku melihat Lani ialah wanita itu.
“Lani..”ucapku terkejut, begitupun dengan Arkia.
“Kak Mella? Arkia?”ucapnya tak kalah kaget dengan kehadiran kami.
“Maaf, apa dia anak lo?”tanya Arkia menunjukkan Atan pada Lani. Lani yang melihat Atan digendongan Arkia, segera merebutnya dari gendongan Arkia.
“Nathan, kamu dari mana saja, nak? Mama khawatir sekali mencari dirimu.”ucap Lani sambil menciumi wajah Nathan. Aku dan Arkia yang melihat itu hanya bisa tersenyum bahagia.
“Oh ya, Lani. Kata Nathan, dia kesini dengan kamu dan suamimu. Sekarang dimana suamimu?”tanyaku. Tak lama, aku dan Arkia mendengar suara dari arah belakang kami.
“Lani, apa kamu temukan Nathan?”tanya seseorang dari arah belakang aku dan Arkia. Seketika kami pun membalikan badan, melihat siapa ayah dari Nathan.
“Kak Frans?”tanya Arkia terkejut, begitu pun denganku.
“Lho! Mella, Arkia. Ternyata kalian juga berada disini. Apa kalian menemukan bayi berkeliaran disini?”tanya Frans yang tampak biasa saja dengan pertemuan ini.
“Nathan telah ketemu Frans.”jawab Lani sambil menunjukkan Nathan yang berada di dalam gendongannya.
“Akhirnya, kamu dari mana saja nak?”tanya Frans menghampiri Lani dan Nathan dan memeluk keduanya.
“Hm., kalau begitu kami permisi dulu ya.”ucap Arkia.
“Lho! Kenapa harus buru-buru? Ayo lah, gue pingin banyak bercerita sama kalian.”ucap Frans. “Bukan begitu, Lani?”tanya Frans.
“Hm, ya.”jawab Lani tampak ragu. Aku dan Arkia awalnya saling pandang dan akhirnya menyetujuinya.
“Baiklah, kami mau.”jawab Arkia.
***
Story POV
Setelah dari taman, Frans dan Lani mengajak Mella dan Arkia untuk mampir disebuah cafe dekat dengan taman. Frans beralasan untuk sekedar merayakan pertemuan mereka yang telah lama tidak pernah bertemu lagi. Sedangkan Mella dan Hizkia merasa ada yang janggal dengan alibi Frans, yang sekedar merayakan pertemuan.
“Nah sekarang, bagaimana keadaan kalian?”tanya Frans memulai pembicaraan.
“Baik kok, kak. Kakak sendiri, bagaimana? Aku sekarang jarang mendengar kabar kakak di media.”ucap Arkia. Sedangkan Mella, Lani dan Nathan memiliki dunia mereka sendiri.
“Lani, sejak kapan kamu menikah dengan Frans? Kakak tidak pernah mendengarnya.”ucap Mella bertanya pada Lani sambil bermain dengan Nathan.
“Hm, kami menikah sekitar 3 tahun yang lalu, kak.”jawab Lani. “Nah, kakak sendiri. Kapan menikah dengan Arkia, sampai kakak hamil begini?”tanya Lani.
“Hm., bukankah pernikahan kakak itu go public ya? Kenapa kalian tidak tahu? Kakak menikah dengan Arkia itu, kira-kira setahun yang lalu.”jawab Mella.
“Hm, aku sama Frans ada di New York, kak. Makanya aku ga tahu.”ucap Lani.
“Lho, pernikahan kakak juga diliput wartawan Internasional, kok.”ucap Mella dan Lani tampak salah tingkah. “Kalian kenapa? Apa ada masalah?”tanya Mella penasaran.
“Ah! Tidak kak. Tidak ada masalah apa pun.”jawab Lani.
“Ya, kakak berdoa yang terbaik buat keluarga kalian.”ucap Mella.
“Amin..”Lani mengaminkan ucapan Mella.
“Mella, sudah lama tidak bertemu.”ucap Frans mengalihkan pandangan Mella dari Lani dan Nathan.
“Ha? Ya, begitu lah.”ucap Mella seadanya.
“Sekarang kandungan lo berapa bulan?”tanya Frans.
“Hm., kira-kira 7 bulan lebih.”jawab Mella.
“Oh ya Arkia, bagaimana selama masa kehamilan Mella? Apa lo mengalami masa-masa sulit?”tanya Frans. Arkia yang ditanyai seperti itu, memandang Mella sejenak yang berada disampingnya.
“Ah tidak, kak. Mella termasuk salah satu ibu hamil yang baik. Dia tidak terlalu bertingkah, seperti ibu hamil lainnya. Ngidamnya juga bukan yang macam-macam, jadi aku termasuk pria beruntung yang bisa mendapatkan dirinya.”ucap Arkia sambil memeluk Mella dari samping.
“Ya memang lo beruntung mendapatkan dia.”ucap Frans yang disambut tatapan bingung oleh Arkia, Mella, dan Lani.
“Maksud kak Frans?”tanya Arkia.
“Maksud gue, lo beruntung mendapatkan istri seperti itu. Yang kalau hamil, tidak ngidam yang macam-macam, seperti Lani dulu.”jawab Frans dan ada rasa lega dihati Arkia.
“Memangnya bagaimana Lani dulu, kak?”tanya Arkia.
“Asal lo tahu aja. Gue disuruh membeli burger tengah malam dan itu harus rasa keju campur selada, timunnya dikit, telurnya setengah matang, dan macam-macam. Pokoknya ampun dulu, waktu Lani hamil Nathan.”jawab Frans.
“Mana ada, kak Frans bohong, Ar. Aku ga ngidam macam-macam kok.”ucap Lani menunduk malu.
“Ga papa kali, Lan.”ucap Arkia lembut, membuat Mella sedikit cemburu.
“Oh ya, bagaimana dengan perusahaan lo, Mel?”tanya Frans.
“Ya gitu, masih aku control dari rumah. Cuma sekarang udah ga dibolehin lagi sama suami aku ini. Jadi dia deh yang control. Ya ga, Kia?”tanya Mella sambil melihat wajah Arkia.
“Iya kak. Soalnya takut dianya kecapekan, jadi aku ngelarang buat kerja sampai selesai bersalin nanti.”ucap Arkia.
“Arkia perhatian ya. Coba dari dulu kayak gitu, pasti langgeng sampai sekarang.”ucap Lani membuat Mella kebingungan.
“Langgeng? Siapa?”gumam Mella dalam hati, dengan berbagai pertanyaan.
“Oh ya kak, aku sama Mella pulang dulu, ya. Soalnya udah mau gelap.”ucap Arkia hendak pamit.
“Oh iya-iya. Hati-hati dijalan.”ucap Frans.
“Lan, kakak pulang dulu ya. Bye-bye Nathan.”ucap Mella kemudian Olambaikan tangan pada Nathan.
“Bye-bye Aunty, Uncle.”ucap Lani mewakili Nathan. Kemudian Arkia dan Mella pun pergi meninggalkan cafe tersebut dan Melaju menuju rumah.
Setibanya di dalam rumah, Arkia melihat tingkah aneh dari Mella. Sepanjang perjalanan, tidak ada percakapan menghampiri mereka, Melainkan Mella hanya menggenggam lengan Arkia erat hingga mereka tiba di rumah. Saat mereka tiba di rumah, Mella segera masuk ke dalam kamar tanpa menunggu Arkia. Arkia yang berpikir bahwa Mella mungkin kecapekan, akhirnya langsung berjalan menuju dapur untuk membuatkan s**u ibu hamil buat Mella.