Mella POV
7 bulan setelah kejadian ulang tahun Arkia dan 7 bulan sudah kandungan yang ada di dalam perutku. Sejak Arkia tahu aku mengandung buah hati kami, dia langsung membuat aku seperti tahanan. Benar saja, aku tidak boleh belanja ke pasar, aku tidak boleh menyapu atau mengepel, aku juga tidak boleh Melakukan tugas-tugas rumah yang lain. Namun satu yang masih aku untungkan, Arkia tidak Melarangku untuk memasak. Jelas saja, dia selalu ingin makan dari masakanku sendiri, jika dia berada di rumah. Karena katanya makanan yang aku buat ialah sumber energi baginya untuk menghadapi berkas-berkas dan klien-klien yang ada dikantor. Aku yang mendengar alasannya hanya tertawa, karena setahu ku Arkia selalu mengalihkan client-client yang menurutnya tidak penting kepada Hendra.
Saat ini aku tengah berada diruang keluarga menonton TV sambil mengemil buah apel. Entah kenapa sejak aku hamil, aku lebih suka mengemil buah dari pada makan nasi. Aku sendiri heran dengan perubahanku ini, padahal dulu aku paling malas kalau makan buah-buahan. Saat aku tengah asik-asiknya menonton, tiba-tiba aku mendengar suara suamiku-Arkia dari arah pintu depan.
“Sweet heart. Where are you?”tanya Arkia dari arah tamu. Aku yang mendengarnya pun segera menghampiri dirinya yang tumben-tumbennya sudah pulang, padahal jam didinding baru menunjukan pukul 13.00 siang.
“Hai Kia! Gimana tadi dikantor? Tumben kamu pulangnya cepat.”ucapku sambil mengambil tas kantornya, namun dengan cepat dia tangkis.
“Jangan sayang, nanti kamu kecapekan. Biar aku aja yang letak dikamar, oke.”ucap Arkia yang langsung membuatku cemberut.
“Mella, jangan cemberut dong. Kamu jelek lho kalau cemberut.”ucap Arkia sambil mengusap kepala Mella.
“Dek, lihat papa kamu. Dia selalu Melarang mama buat ngerjain tugas mama.”ucapku mengadu pada anakku sambil mengusap-usap perutku yang sudah membesar.
“Dedek, jangan dengerin kata mama ya. Papa lakuin ini juga buat mama, biar mama ga kecapekan.”ucap Arkia ikut mengelus perut besarku dan tiba-tiba saja anakku merespon ucapan Arkia dengan menendang-nendang perutku. Aku dan Arkia saling pandang dan tersenyum, kemudian mengelus perutku dengan bersama.
“Bagus, anak papa pandai sekali. Kamu lihat kan sweety, anak kita saja setuju dengan papanya. Jadi kamu harus nurut, jangan kerja berat-berat dan jangan sampai kecapekan.”ucap Arkia dan aku hanya mengangguk.
“Good. Sekarang aku ganti baju dulu, lalu kita makan siang bersama. Kamu belum makan, kan?”tanya Arkia padaku.
“Belum.”jawabku.
“Baiklah, kamu tunggu diruang makan saja, nanti aku menyusul.”ucap Arkia mengecup keningku dan kemudian pergi meninggalkanku menuju kamar. Aku sendiri segera berjalan menuju dapur dan menyiapkan makan siang untuk kami berdua. Ralat, kami bertiga dengan anakku yang kian membesar di dalam perutku.
Tak lama kemudian, aku pun telah selesai menyiapkan makan siang. Kulihat pula Arkia telah duduk dikursi sambil menunggu makanan yang akan kusajikan padanya. Setelah itu, kami pun makan bersama dalam keadaan tenang.
Selesai makan, aku mencuci piring bekas makan kami. Lalu aku kembali merapikan meja makan dan menghampiri Arkia yang tengah menonton TV. Saat diruang TV, aku duduk disamping Arkia dan menyandarkan kepalaku kedada bidangnya.
“Kok kamu tumben pulang cepat?”tanyaku pada Arkia.
“Kamu ga suka nih, kalau aku pulang cepat?”tanyanya sambil mencubit hidungku.
“Ih.. Kia, sakit tahu.”ucapku sambil mengelus hidungku yang dicubit oleh Arkia.
“Hehe, maaf sweety.”ucapnya. “Aku hari ini pulang cepat karena tugas kantor udah selesai. Lagi pula aku kangen tahu, sama kamu dan dedek.”tambah Arkia sambil mengusap perutku.
“Oh..”ucapku ber ‘oh’ ria. “Hmm, Kia..”panggilku.
“Hmm..”jawabnya lembut sambil mengelus puncak kepalaku.
“Aku pengen jalan-jalan ke mall nih. Boleh, kan?”tanyaku padanya sambil menunjukkan wajah imutku.
“Hmm, bagaimana ya? Nanti kamu kecapekan ga?”tanyanya khawatir.
“Enggak kok. Nanti kalau aku capek, tinggal bilang kamu, kan? Lagian aku bosan di rumah terus.”ucapku membujuknya.
“Baiklah kita ke mall.”ucap Arkia.
“Hore! Dek, akhirnya papa kamu kasih kita jalan-jalan ke mall.”ucapku sambil mengelus perutku dan direspon baik oleh anakku.
“Thank you papa.”ucapku sambil mencium sekilas pipi Arkia.
“Ya sudah, sekarang kita siap-siap dulu. Yuk!”ucap Arkia sambil menuntunku menuju kamar.
***
Arkia POV
Setelah membujuk ku agar pergi ke mall. Kini aku dan Mella telah nerada di mall. Untungnya selama 7 bulan kehamilan Mella, dia tidak seperti ibu hamil yang lain. Yang ngidam ini-itu, pergi sana-situ, dan yang lebih penting, ga ngerepotin. Aku termasuk salut dengan anakku, dia hanya membuat Mella ingin selalu makan buah saja. Tapi jika asupan buah habis di rumah, aku juga yang menjadi amukan darinya. Pernah sekali sewaktu itu dia ingin makan buah melon. Namun dikulkas tidak dia temukan buah itu. Pada saat itu pula, aku tengah mengadakan rapat dikantor dan tiba-tiba saja dia menelponku untuk segera dibelikan melon. Untung saja, rapat itu dapat digantikan dengan Hendra, jadi aku bisa segera membeli buah itu dan mengantarkannya kepada istriku. Namun saat aku meminta Hendra menggantikan diriku dalam rapat tersebut, dia tertawa mendengar pembicaraanku dan Mella Melalui telpon. Disitu lah saat dimana aku pertama kali ditertawai oleh rekan kerjaku saat rapat.
Kini aku dan Mella tiba disebuah toko pakaian. Mella memilih berbagai baju ibu hamil untuk dipakainya di rumah. Alasan dia membeli baju itu, karena baju yang ada di rumah sudah tidak muat lagi dengannya. Ya apa boleh buat, aku hanya bisa mengiyakan perkataannya. Takut dia marah atau ngambek dan nangis. Konon cerita dari Mesakh, katanya ibu hamil itu sensitif. Dia pernah menceritakan kepadaku sewaktu istrinya hamil anak pertama mereka. Katanya, Vamela meminta dia untuk membeli sate saat tengah malam. Dan saat dia telah membeli sate itu, malah Vamela menyuruh Mesakh untuk memakan sate itu sampai habis didepannya. Haha, untung saja Mella tidak seperti itu. Benar sesekali dia mengidam, namun tidak sampai separah itu.
“Kia, aku capek nih.”ucap Mella membuyarkan lamunanku.
“Hah? Ya sudah, kita duduk dulu direstorant itu, ya.”ucapku sambil menuntunnya dan membawa belanjaannya.
Saat kami tiba direstorant tersebut, Mella memesan jus Melon kesukaannya dan aku hanya memesan secangkir kopi. Lalu aku menelpon pak Budi untuk mengambil belanjaan ke dalam mall.
“Halo pak Budi..”ucapku Melalui telpon.
“...”
“Pak, tolong masuk ke dalam mall dan ke restoran KiAm, buat ambil belanjaan ya.”
“...”
“Ok pak, saya tunggu.”ucapku mengakhiri telpon tersebut.
“Kamu nelpon siapa?”tanya Mella sambil menikmati jus melonnya.
“Nelpon pak Budi, buat ambil belanjaan ini.”ucapku menjawab pertanyaanya.
“Oh..,”ucapnya. “Kia..”panggil Mella tiba-tiba.
“Yes sweety.”jawabku sambil melihat kearahnya. “Habis ini kita ke taman boleh, ga?”tanyanya dengan wajah meOlas. Astaga, baru 20 menit yang lalu dia bilang capek. Sekarang mau jalan-jalan ke taman lagi? Hmm, ya sudah lah turuti saja. Dari pada dia ngambek, bisa-bisa aku tidur diluar.
“Hm., ok deh. Tapi ingat, kalau kamu tiba-tiba kecapekan kayak tadi, langsung kasih tahu aku.”ucapku layaknya seorang komandan.
“Siap pak bos.”ucap Mella sambil memberi hormat padaku. Tak lama kemudian, pak Budi pun datang. Segera saja aku memberikan kantong belanjaan yang sempat ku bawa tadi pada pak Budi. Kemudian pak Budi meninggalkan kami berdua.
“Kia, kita pergi sekarang yuk! Keburu sore.”ucap Mella menarik-narik tanganku.
“Baik-baik. Tunggu sebentar, aku bayar dulu pesanan kita.”ucapku yang kemudian pergi membayar pesanan kami.
Setelah aku selesai membayar, aku pun menghampiri Mella yang sedang memainkan ponselnya dan melihatku menghampirinya. “Yuk kita pergi.”ucapku kemudian menggandeng tangannya dan dia menyandarkan kepalanya dipundakku. Aku yakin pasti banyak orang yang menatap iri kepada kami saat ini.