Story POV
Setelah Arkia meniup lilinnya, semua orang yang berada di dalam gedung tersebut kompak bertepuk tangan. Mella yang melihat wajah kebingungan yang masih terpampang jelas di wajah suaminya, berusaha menahan tawa. Begitupun dengan Hendra sekretaris pribadi Arkia. Sebenarnya saat Arkia ditelpon oleh nomor yang tidak dikenal tadi siang, Hendra telah mengetahui semua itu. Karena itu salah satu dari bagian ide gilanya.
“Happy Birthday honey, I hope you’ll be better than yesterday.”ucap Mella sambil mencolek wajah Arkia dengan cream dari kue yang dia pegang, kemudian dia berlari menghindar dari serangan balas Arkia. Arkia yang menyadari itu segera mengejar Mella yang terlihat berlari menjauh darinya.
“Mella...” panggil Arkia yang berusaha membalas perbuatan Mella dengan mengejar Mella dan tak lama berhasil menangkapnya. Arkia pun langsung memeluk Mella dari belakang dan sedikit mengeratkan pelukannya agar Mella tidak lepas dari dirinya.
“Aw..”rintih Mella saat Arkia memeluk perut Mella dengan erat.
“Mella, sweety. Kamu ga kenapa-kenapa, kan?”tanya Arkia dengan wajah khawatir sambil memegang perut Mella yang datar.
“Enggak, aku ga papa kok. Cuma kasihan sama yang di dalam, kamu peluknya kenceng banget.”ucap Mella yang seketika membuat Arkia mematung di tempat. Sejenak Arkia memandang wajah Mella dengan tatapan tidak percaya. Arzkia kembali mengelus perut Mella yang masih datar dan bertanya.
"Di dalam? Maksud kamu?" tanya Arkia tak paham.
"Iya sayang. Ada dia di dalam," balas Mella mencoba menjelaskan melalui nada kata-katanya.
“Kamu hamil?”tanya Arkia pada Mella. Sementara yang ditanya hanya tersenyum mengangguk.
“Iya aku hamil.”jawab Mella malu. Arkia yang mendengar jawaban Mella sontak kegirangan dan ditatap aneh oleh rekan-rekannya yang masih berada di sekitar mereka. Kemudian beberapa dari mereka yang penasaran mencoba bertanya pada Arkia.
“Eh-eh. Arkia, lo kenapa? Masih shock sama kejutannya?”tanya Jebu.
“Kita cuma bercanda, kok.”ucap Shely.
“Iya, lo jangan jadi ayan gini.”tambah Ciny.
“Iya, lo kenapa? Gila lo? Gara-gara kejadian ini?”timpal Ditya.
“Atau jangan-jangan dia memang udah gila karena kejadian ini?”ucap Jeremi.
“Enak aja bilang gue gila. Gue masih waras kali.”ucap Arkia sedikit tersinggung.
“Terus kenapa lo lompat-lompat kegirangan gitu?”tanya Wahyu bingung.
“Gue bakalan jadi ayah.”jawab Arkia dengan ekspresi senang, tak percaya jika Mella akan memberikan kabar gembira ini di hari ulang tahunnya. Mella yang melihat tingkah Arkia hanya tersenyum bahagia, karena tidak percuma dia berkorban sampai sejauh ini untuk menyenangkan hati suaminya.
“What? Lo bakalan jadi ayah?”tanya Shely dan Vela bersamaan yang diangguki oleh Arkia.
“Selamat-selamat. Gue seneng dengernya, jadi kado dari Mella ternyata itu.”ucap Shely sambil menjabat tangan Arkia memberi selamat, begitupun dengan yang lain.
“Selamat ya Ar, ternyata ga percuma lo kacau selama seminggu ini gara-gara ditinggal Mella. Eh ternyata lo dapat hadiah terindah dari Tuhan. Ya ga pa?”tanya Vela pada Mesakh yang berada disampingnya dengan Echa kecil digendongannya.
“Hehehe. Iya ma, ga percuma aku bohong sama dia bilang ga tau Mella kemana. Tapi memang keadaan Arkia parah banget selama ditinggal sama Mella, dia benar-benar kacau luar dalam. Asal lo tahu, Mel. Group band kita hampir kehilangan job gara-gara dia ga datang ke kantor”jawab Mesakh membuka aib Arkia selama seminggu ditinggal Mella.
“Apa benar, Kia?”tanya Mella penasaran.
“Hm. Bisa jadi sweety.”jawab Arkia sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Lalu semuanya teralihkan dengan kedatangan Wira.
“Selamat ya Ar, selamat ulang tahun dan selamat karena lo bentar lagi bakalan jadi seorang ayah.”ucap Wira memberi selamat pada Arkia dan disambut baik oleh Arkia.
“Sorry yang kemaren di cafe itu, cuma sandiwara biar lo cemburu. Dan itu semua ide dari Mella, jadi bukan salah gue sepenuhnya.”ucap Wira.
“Ya-ya. Santai aja bro, gue udah maafin kok. Lagian gue percaya sama penjelasan Mella ke gue kemaren.”ucap Arkia.
“Tapi gue ga suka lo nampar Mella cuma gara-gara gue.”ucap Wira.
“Gue khilaf, gue janji sama diri gue sendiri kalau kejadian itu ga akan terulang kembali.”ucap Arkia sambil memeluk Mella dari samping. Kemudian acara itu berlanjut dengan tawa, canda, dan kebahagian lainnya. Hingga Arkia mengambil sebuah gitar yang ada disana dan menuju kearah tengah ruangan dengan sebuah bangku.
“Perhatian semuanya, gue Arkia mengucapkan banyak terima kasih pada kalian atas acara kejutan-nya . Walau kejutan itu membuat gue hampir gila dan setengah mati, namun gue sangat-sangat berterima kasih pada kalian semua. Sekarang gue akan menyanyikan satu lagu buat kalian semua, terutama istri tercinta gue.”ucap Arkia kemudian memetik senar gitar hingga mengeluarkan nada-nada indah dari petikannya.
"This song for you, sweetheart" Arkia mengerling nakal menatap Mella.
“Mungkinkah bila ku bertanya,
Pada bintang-bintang..
Dan bila ku mulai merasa, Merasa kesunyian..
Salahkah aku yang berjalan,
Dalam kehampaan..
Terdiam, terpana, terbata..
Semua dalam keraguan..
Aku dan semua yang terluka, Karena kita..
Aku kan menghilang
Dalam pekat malam, Lepas ku Melayang..
Biarlah ku bertanya pada bintang-bintang,
Tentang arti kita, dalam Mimpi Yang Sempurna..”senandung Arkia dengan setetes cairan bening keluar dari mata Mella. Arkia yang telah selesai bernyanyi itu pun segera menghampiri Mella yang sedang menatap dirinya penuh bahagia.
“Don’t cry sweety. I don’t want to see your tears.”ucap Arkia sambil mengusap air mata Mella dengan ibu jarinya.
“Enggak, aku cuma terharu lihat kamu. Tenyata seorang Arkia bisa se-romantis ini.”ucap Mella sambil menelungkupkan tangannya di wajah Arkia.
“Aku hanya bisa berlaku romantis jika bersama dirimu. Karena hari ini kamu udah kasih kado terindah dihari ulang tahun aku. Thanks sweet heart, I Love You.”ucap Arkia yang kemudian mencium kening Mella dengan penuh cinta. Semua yang melihat adegan Mella dan Arkia di tempat itu merasa terharu, karena kebahagiaan yang menyelimuti keluarga itu tidak pernah putus.
“Terima kasih Tuhan, Engkau telah membuat hari ini menjadi Mimpi Yang Sempurna.”gumam Arkia dalam hatinya sambil menutup mata dengan Mella dipelukannya.