Arkia POV
Tepat pukul 11.30 malam, aku segera keluar dari rumah dengan menggunakan mobil lamborghini hitamku. Sesuai dengan perintah orang yang menelponku tadi siang, aku pergi dengan hanya membawa sebuah sapu tangan dikantongku. Aku membawa mobil dengan kecepatan 60 km/jam, karena aku tahu jalanan sudah sepi jika tengah malam begini. Lagi pula jarak dari rumahku dan gedung itu lumayan jauh, bisa-bisa memakan waktu sekitar 30 menit.
Lebih kurang setengah jam kemudian, aku tiba digedung tersebut. Aku menelpon nomor yang tadi siang menelponku. Namun tak lama terdengar suara orang Melalui speaker disudut ruang bawah.
“Akhirnya kau datang pak Arkia, sekarang naiklah ke lantai 3.”ucap suara itu. Aku pun dengan segera menuruti arahan dari suara itu.
Aku pun menaiki satu persatu tangga yang ada dibangunan itu. Aku yakin akan bisa menemukan dan menyelamatkan Mella secepat mungkin. Sambil menaiki anak-anak tangga tersebut, Aku memanjatkan berbagai doa kepada Tuhan. Hingga akhirnya aku tiba dianak tangga terakhir dilantai 3. Namun saat aku benar-benar berada dilantai 3, aku melihat tepat jauh dari mataku, seorang wanita yang tengah duduk disebuah bangku dengan tangan diikat kebelakang, dan mulut diikat agar tidak bisa bersuara.
“M..Mella..”jeritku hendak berlari, namun langkahku terhenti karena sebuah teriakan dari arah belakang Mella.
“Berhenti...”teriak orang itu berjalan mendekat kearah Mella.
“Akhirnya kau datang pak Arkia.”ucap orang itu yang aku yakini ialah seorang pria. Sayangnya pria itu memakai topeng pengubah suara, sehingga aku tidak bisa menebak siapa orang itu.
“H..m.p.. H..m.p.. H..m.p..”gerutu Mella mencoba melepaskan ikatannya. Aku yang melihat istriku tersiksa, aku ikut merasa tersiksa.
***
Story POV
Melihat keadaan Mella saat itu, Arkia terpaksa menahan amarahnya untuk tidak langsung bertindak. Sedangkan orang bertopeng yang kini tengah berada disamping Mella, menarik rambut Mella agar kepalanya melihat kearah Arkia tengah berdiri.
“Heh.! lihat suamimu disana datang menjemputmu dan juga menjemput ajalnya ditempat ini.”ucap orang itu sambil menarik rambut Mella paksa dan kemudian melepas ikatan yang ada dimulut Mella.
“Akh.. hiks.. Kia, tolong aku Kia. Aku takut Kia.”ucap Mella sambil menangis.
“Hahaha, menangislah bodoh. Sebentar lagi kau akan melihat suamimu mati ditempat ini. Hahaha..”ucap orang itu sambil tertawa.
“Jangan, aku mohon jangan apa-apakan istriku.”ucap Arkia hendak berjalan maju.
“Oops, jangan berani mendekat kesini. Atau kau akan melihat Mella digores oleh pisau tajam ini.”ucap orang itu sambil menunjukan pisau yang berada ditangannya.
“Baik-baik aku tidak akan mendekat. Aku mohon jangan apa-apakan istriku.”ucap Arkia sambil memohon.
“Hohoho.! Ternyata seorang pak Arkia bisa juga memohon. Wah, wah, wah.. sungguh luar biasa.”ucap pria itu berdecak kagum. “Semua sudah terlambat pak Arkia. Hahaha, sekarang waktunya pertunjukan.”ucap orang itu sambil memainkan pisaunya kearah wajah Mella dan Mella yang melihat itu langsung terlonjak kaget melihat sebuah pisau tajam tengah bermain-main disekitar wajahnya. “Kita lihat seberapa besar cinta suamimu padamu.”bisik orang itu tepat ditelinga Mella, membuat Mella bergidik ngeri dan langsung bungkam takut-takut orang itu berlaku lebih kepadanya.
“Baiklah tuan Arkia. Sekarang ambil saputangan yang sebelumnya aku suruh bawa.”ucap orang itu dan Arkia langsung menurutinya. Kini di sebelah tangan kanan Arkia, telah terdapat sebuah saputangan.
“Baik, sekarang tutup matamu dengan saputangan itu. Pastikan kau tidak bisa melihat apapun,”ucap orang itu memberi perintah.
“Jangan Kia, jangan lakukan itu.”jerit Mella mencoba memberitahu.
“Heh., sudah jangan berisik. Atau kau ingin mati duluan?”tanya orang itu yang langsung membuat Mella terdiam. Tak lama, kini Arkia benar-benar menutup matanya dengan saputangan itu dan dia tidak bisa melihat apapun.
“Hahaha, bersiaplah menerima ajalmu tuan Arkia.”ucap orang itu yang kemudian menepuk kedua tangannya.
Prok..Prok..Prok...
Dorrr...
“Kia...”jerit Mella saat suara tembakan baru saja diluncurkan.
“Hahaha...”tawa jahat orang bertopeng tersebut.
***
Arkia POV
“Baik, sekarang tutup matamu dengan saputangan itu. Pastikan kau tidak bisa melihat apapun,”ucap orang itu memberi perintah. Tak lama, kini aku benar-benar menutup mataku dengan saputangan itu dan aku tidak bisa melihat apapun.
“Hahaha, bersiaplah menerima ajalmu tuan Arkia.”ucap orang itu yang kemudian menepuk kedua tangannya.
Prok..Prok..Prok...
Dorrr...
“Kia...”jerit Mella saat suara tembakan baru saja diluncurkan.
“Hahaha...”tawa orang bertopeng tersebut.
Suara tembakan dilepaskan, aku terkejut dan merasakan jika bukan aku yang terkena tembakan itu. Karena aku tidak merasakan sakit apapun menjalar ditubuhku. Perlahan aku membuka saputangan itu, karena aku tidak mendengar suara apapun lagi dan takut-takut jika Mella lah yang menjadi korbannya.
Setelah aku membuka seluruh saputangan itu dari mataku, aku terkejut bukan main. Karena dilantai 3 tempat Mella disekap ini, aku tidak menemukan Mella sama sekali. Dilain hal aku bersyukur, aku tidak kenapa-kenapa, namun dilain hal pula aku takut terjadi sesuatu pada Mella. Aku menyapukan pandanganku keseluruh ruangan untuk mencari jejak orang itu. Dan tak lama kemudian terdengar suara tembakan lagi.
Dorrr...
“Mella.. kamu dimana?”teriak ku. Kemudian..
“Happy Birthday to you..
Happy Birthday to you..
Happy Birthday.. Happy Birthday..
Happy Birthday to you..”sorak sejumlah orang yang berada di dalam gedung itu. Tak lama kemudian, lampu ruangan pun dinyalakan. Aku melihat Mella tanpa luka sedikit pun muncul dari tengah-tengah membawa sebuah kue dengan lilin menyala diatasnya.
“Happy Birthday to you my husband.”ucap Mella tersenyum sambil menyodorkan kue kehadapanku. Aku jujur saja masih bingung dan terkejut dengan semua ini. Apa-apaan ini semua? Kenapa rekan kantor, sahabat, teman, dan keluargaku berkumpul disini? Hendra? Dia juga berada disini sambil tertawa melihatku.
“Hehe. Maaf pak Arkia.”ucap Hendra sambil menundukkan kepalanya, namun masih dengan tawanya.
“Mella.., apa maksud dari semua ini?”tanyaku penuh kebingungan. Bukan jawaban yang aku terima, malah dia hanya tertawa kecil melihat wajahku.
“Akan ku ceritakan kemudian, sekarang tiup dulu lilinnya. Jangan lupa make a wish.”ucap Mella sambil tersenyum manis. Tak butuh waktu lama, aku pun meniup lilip yang telah berada dihadapanku ini. Namun sebelumnya aku berdoa sejenak meminta kepada Tuhan dipertambahan usiaku tahun ini.