Arkia POV
Plak...
Satu tampar*n keras meluncur begitu saja dari tangan kananku. Ini adalah tampar*n pertama yang mendarat mulus dipipi Mella setelah aku berumah tangga dengan dirinya. Seketika itu pula aku melihat air mata Mella mengalir keluar, membentuk aliran sungai dipipinya. Aku melihat dia memegang pipi kirinya, bekas tampar*nku dengan mengeluarkan air mata. Aku pun memandang kearah Mella yang baru saja aku tamp*r dengan tangan kananku.
“Apa yang kau lakukan Arkia? Dia istrimu, seharusnya kau percaya padanya bukannya menamparnya. Arkia, kau bodoh..bodoh..bodoh.”rutukku dalam hati.
“Puas? Kamu puas udah namp*r aku? Aku ga nyangka kamu kayak gini, Arkia. Aku..aku..hiks..”Mella menangis sambil memegangi pipi bekas tampar*nku dan dia pun segera berlari keluar rumah dan membawa mobilnya Melaju kencang dijalan.
“Lihat Arkia, sekarang wanita yang telah kamu cintai telah pergi sambil menangis. Puas kamu? Puas?”rutukku dalam hati.
Melihat Mella yang telah pergi, aku pun segera mengejar dirinya dengan mobilku. Namun sialnya aku telah kehilangan jejak dirinya yang telah ditelan jalan. Aku pun akhirnya pulang dengan hati kesal dan menyesal.
Setibanya di rumah, aku pun mulai menghubungi satu persatu orang-orang yang kenal dengan Mella. Aku menelpon mulai dari karyawan kantor, teman SMA yang dekat dengan Mella, teman kuliahnya dulu, relasi bisnisnya, teman jalannya, dan yang lainnya. Aku belum berani menghubungi keluarganya, karena ini semua salahku sepenuhnya. Aku juga yakin, kalau Mella tidak akan langsung pulang ke rumah keluarganya. Karena dia tidak ingin keluarganya khawatir padanya, maka dari itu sejak dahulu dia lebih suka menyimpan masalah sendiri dari pada di ceritakan kekeluarganya.
***
Story POV
Sudah seminggu Arkia mencari Mella dan sudah seminggu juga Mella tidak pulang ke rumah. Arkia tampak khawatir dan takut terjadi sesuatu pada istrinya. Karena ponsel Mella yang selalu dihubunginya dalam keadaan mati dan Mella sendiri tidak pernah memberi kabar kepada Arkia. Sekarang keadaan Arkia benar-benar kacau, sampai-sampai Hendra-sekretaris pribadi Hizkia saja, prihatin melihatnya. Hendra kasihan melihat Arkia saat ini, dia melihat bahwa yang saat ini dihadapannya bukanlah Arkia atasannya yang selama ini dia kenal. Hendra malah melihat bentuk Arkia sekarang layaknya seperti mayat hidup yang sedang menunggu ajal. Mata bengkak, rambut acakan, pakaian tidak beraturan, tubuh lemas, dan wajah berantakan. Benar-benar bukan Arkia yang selama ini dia kenal.
“Pak, sampai kapan bapak mau seperti ini? Perusahaan masih sangat membutuhkan bapak. Melihat kondisi bapak sekarang ini, saya jadi ikut sedih.”ucap Hendra mencoba menyadarkan Arkia.
“Saya tidak peduli lagi soal perusahaan. Saya hanya menginginkan istri saya kembali, itu saja. Mella segalanya buat saya, uang bisa dicari. Tetapi cinta sejati hanya datang sekali.”ucap Arkia yang langsung membuat Hendra bungkam.
“Saya mengerti. Maafkan atas kelancangan saya.”ucap Hendra.
“Ada apa kamu kemari? Apa yang ingin kamu bicarakan padaku?”tanya Arkia to the point pada Hendra.
“Ini ada berkas yang harus bapak tandatangani. Maafkan saya jika saya mengganggu bapak, karena berkas ini harus sudah dikirim kesalah seorang client kita.”jawab Hendra sambil memberikan berkas itu pada Arkia. Arkia pun dengan segera menandatangani berkas yang diberikan Hendra tersebut, tanpa membacanya terlebih dahulu. Namun tak lama kemudian, ponsel Arkia yang berada diatas meja didekatnya berbunyi. Segera saja Arkia mengambilnya dan menjawab panggilan itu.
“Halo ini dengan Arkia. Ini dengan siapa?”tanya Arkia.
“Halo pak Arkia yang terhormat.”ucap penelpon diseberang.
“Siapa kamu?”tanya Arkia keheranan.
“Santai pak Arkia, saya hanya salah seorang pembisnis yang membenci dirimu dan terutama istrimu.”jawabnya dengan nada evil.
“Apa? Siapa kamu? Apa maumu?”tanya Arkia.
“Mauku? Hm. Mauku adalah melihatmu mati. Hahaha...”tawa si penelpon yang membuat Arkia geram.
“Arkia tolong aku.. Hm.p..hm.p..”teriak seorang wanita yang langsung membuat Arkia terkejut dan naik darah.
“Mella!!”jerit Arkia. “Apa yang kau lakukan pada istriku?”tanya Arkia memukul meja dihadapannya yang langsung membuat Hendra terlonjak kaget.
“Wow.. Santai pak Arkia, santai. Istrimu tidak apa-apa selama kau mau menuruti keinginan ku.”jawab sipenelpon membuat Arkia menggeram marah.
“Apa maumu?”tanya Arkia langsung tanpa basa basi.
“Aku ingin kau datang jam 12 malam kesebuah gedung kosong didekat Boby Cafe dengan sebuah saputangan disakumu.”jawab si penelpon. “Dan satu hal lagi yang paling penting, jangan adukan ini kepihak polisi. Jika anak buahku melihat dirimu membawa polisi, maka aku akan dengan senang hati membunuh istri tercintamu ini. Hahaha.”tambah si penelpon sambil tertawa.
“Kia.. Kia.. hiks.. hiks.. tolong aku Kia.”jerit Mella diseberang telpon yang makin membuat Arkia murka.
“Diam kau.”bentak si penelpon.
“Aw..ssh.. hiks.. hiks..”jerit Mella yang sebelumnya terdengar benda jatuh.
“Aku mohon, jangan apa-apakan istriku. Aku akan datang sesuai keinginanmu. Tapi aku mohon dengan sangat, jangan apa-apakan Mella.”ucap Arkia pasrah dengan tangan masih menggeram marah mendengar jeritan Mella tadi.
“Hahaha.. baiklah pak Arkia, akan saya tunggu kehadiran bapak. Hahaha..”ucap si penelpon yang kemudian memutuskan panggilan itu sepihak. Arkia yang menyadari bahwa panggilan itu terputus, segera ditodong berbagai pertanyaan dari Hendra yang kebetulan belum pergi dari ruang kerja di rumahnya.
“Apa yang terjadi, pak? Dari siapakah itu, pak? Apa bu Mella baik-baik saja? Kenapa bapak marah-marah?”Hendra menyerang Arkia dengan berbagai pertanyaan yang sedari tadi ia kumpulkan.
“Hendra, saya mau kamu keluar sekarang!”ucap Arkia dengan nada tinggi yang membuat Hendra takut.
“B.b.aik pak.”ucap Hendra ketakutan dan langsung pergi dari kediaman Arkia.
“Ya Tuhan, aku dan Mella baru Engkau persatukan. Kenapa semua ini harus terjadi, cobaan ini, kenapa harus?”ucap Arkia sambil memijat-mijat pelipis nya.
“Andai waktu itu aku mengizinkan Mella untuk berlibur kepuncak, andai waktu itu aku tidak membentak Mella, andai saja aku percaya kata-kata Mella dan tidak langsung menamparnya. Pasti aku dan dia masih di dalam rumah ini dan dia tidak akan menderita ditangan orang lain.”ucap Arkia menyesali perbuatannya.
“Ya Tuhan, bantu anak-Mu dalam menyelesaikan masalah ini. Aku yakin dan percaya, Kau tidak akan memberikan cobaan melebihi kekuatanku.”ucap Arkia sambil menutup kedua matanya-berdoa.