Keesokan paginya Mella seperti biasa menyiapkan sarapan untuk Arkia. Namun tidak seperti biasanya, mereka berdua Melakukan sarapan tanpa adanya sepatah kata pun dari keduanya. Sepertinya diantara keduanya, masih gengsi untuk memulai sebuah percakapan dulu. Hingga akhirnya Arkia pergi berangkat ke kantor, Mella hanya menyalam Arkia dan Arkia pergi tanpa kata apapun.
Setelah Arkia berangkat menuju kantor, Mella kembali sibuk dengan urusan rumah. Hari ini Mella berencana ingin pergi menemui Wira kembali dan beberapa teman yang lainnya. Segera setelah membereskan rumah, Mella pun mempersiapkan dirinya untuk pergi kembali.
***
Arkia POV
Setelah pertengkaran semalam, aku dan Mella sama-sama tidak berbicara sedikit pun. Pagi tadi biasanya kehangatan merasuki dalam rumah tangga kami. Namun setitik kehangatan itu tidak tampak sedikit pun.
“Mella, apa yang terjadi padamu? Kenapa kamu jadi begini sweety?”racauku saat aku tengah lelah memandang dokumen-dokumen yang masuk.
“Udah jam 12? Berarti dari tadi aku memang terlalu fokus. Sebaiknya aku makan siang dulu, kebetulan perutku lapar.”ucapku yang kemudian pergi meninggalkan ruanganku menuju sebuah cafe dimana aku bisa mengistirahatkan pikiran dan perutku.
Setelah berjalan lumayan jauh, aku mampir disebuah cafe dimana banyak remaja atau karyawan tengah mengistirahatkan dirinya di dalam dengan seduhan segelas kopi atau sepiring cemilan singkat.
“Mbak, saya mau coffee latte satu dan chocolate cake-nya satu.”ucapku pada salah satu waiters.
“Baik pak, tunggu sebentar.”ucap waiters itu yang kemudian pergi dari tempat duduk ku. Sambil menunggu pesanan, aku memainkan ponselku dengan melihat-lihat berita terkini dari internet. Tak lama kemudian, pesanan yang ku tunggu datang.
“Ini pesananya pak., dan ini billnya.”ucap waiters itu sambil menyajikan pesananku.
“Silahkan dinikmati pak, kalau tidak ada yang bisa saya bantu lagi. Saya permisi.”ucap waiters itu yang kemudian berlalu dari hadapanku. Aku pun hanya mengangguk tanpa berkata-kata.
Sesaat setelah waiters itu pergi meninggalkanku. Aku mendengar samar-samar suara yang sangat tidak asing lagi ditelingaku. Mereka saat ini sedang tertawa akibat cerita yang lainnya.
“Jadi kalian diam-diaman nih?”tanya seorang wanita yang menggunakan pakaian berwarna merah.
“Berarti rencana pertama lancar dong?”tanya seorang pria dengan kaos ungu.
“Sekarang bagaimana? Apa lo bakal lanjut ke rencana selanjutnya?”tanya seorang pria yang suaranya sangat-sangat tidak asing ditelingaku, namun aku lupa siapa pemilik suara berat itu.
“Selagi drama masih berlangsung, kenapa tidak?”jawab seorang wanita yang suaranya mirip sekali dengan suara Mella. Namun aku tidak boleh sembarang menuduh istriku, karena wajah wanita itu tidak terlihat dari tempatku duduk karena terhalang sebuah tembok penyangga.
“Hohoho... ternyata kawan kita satu ini niat banget buat sandiwara.”ucap pria yang suaranya tak asing ditelingaku.
“Ga papa kali, anggap aja nyalurin bakat terpendam, sekaligus balas acara 5 bulan yang lalu.”ucap suara yang mirip sekali dengan suara Mella.
“Gile lo Mel, kasihan tau.”ucap wanita baju merah yang membuatku sontak terkejut. Mel? Berarti benar pemilik suara itu bukan hanya mirip Mella, tetapi memang benar-benar Mella. Sontak aku pun bangkit dari tempat duduk ku dan berjalan kearah kumpulan yang sedari tadi aku dengar pembicaraannya. Dengan langkah pasti aku mendekat kearah mereka dan melihat benar, bahwa Mella tengah tertawa bersama teman-temannya yang lain. Lalu mataku tertuju pada seorang pria yang benar-benar aku kenal baik. Dia adalah Wira, sahabat SMA ku. Dan dia juga dulu sempat menyukai Mella saat kami kelas 1.
“Mella...”panggilku.
***
Mella POV
Saat aku dan teman-temanku sedang asik bersenda gurau disalah satu cafe, dimana sebelumnya kami juga berkumpul dicafe ini sebagai bentuk reuni. Aku mendengar seseorang memanggil namaku dengan suaranya yang khas.
“Mella...”panggilnya. Aku pun sontak langsung menoleh kearah pemilik suara.
“K..Kia..”ucapku yang terdengar seperti gumaman karena terkejut Arkia bisa berada dicafe ini.
“Mella? Apa yang kamu lakuin disini?”tanya Arkia padaku.
“A..aku sedang reuni bersama teman-temanku.”jawabku takut-takut dia marah.
“Oh.., tapi bolehkah kita pulang sekarang? Ku dengar di rumah sedang ada tamu.”ucap Arkia lembut. Ada apa dengannya? Kenapa dia jadi lembut? Bukankah seharusnya dia marah karena aku bersama Wira? Atau jangan-jangan...
“Mella..”panggil Arkia lagi.
“Ha? Oh baiklah., teman-teman aku pulang dulu ya.”pamitku pada yang lain.
“Ya..”jawab mereka. Namun aku melihat Wira memegang tanganku dan menyalamku layaknya seorang remaja. Arkia pasti melihat itu, habis sudahlah diriku nanti di rumah.
“Oke, kalau gitu kita pamit ya..”ucap Arkia yang kemudian menggandengku kearah mobilnya yang terparkir rapi diparkiran cafe.
Setibanya di rumah, aku dan Arkia masuk ke dalam rumah dan melihat kalau tidak ada seorang pun tamu yang datang. Aku pun akhirnya melirik kearah Arkia dengan tatapan tajam, sedangkan Arkia yang ku tatap tajam malah membalas tatapanku dengan tajam juga.
“Jadi kamu bohong?”tanyaku pada Arkia.
“Ya aku memang berbohong soal tamu. Namun kenapa kamu tidak memberitahu kepadaku, jika kamu pergi dengan adanya Wira?”tanya Arkia balik dengan nada tinggi.
“Kenapa? Bukankah disana masih banyak teman-temanku yang lain? Tidakkah kamu lihat, kalau bukan hanya aku dan Wira yang berada di dalam cafe.”jawabku berusaha tidak melawan.
“Ya tetapi kenapa harus bersama Wira?”tanya Arkia.
“Aku kan sudah bilang, dan kamu juga udah lihat kalau bukan hanya aku dan Wira yang berada disana. Bukankah kalian bersahabat? Jadi kenapa kamu marah?”tanyaku masih bersabar.
“Ya benar, tapi kamu tahu, bukan? Kalau Wira itu dulu sempat menyukai kamu? Mau dibilang wanita apa kamu, mendekati pria yang dulu sempat menyukai kamu? Ha!”ucap Arkia yang kini sudah Melampaui batas.
“Cukup! Aku udah tahan dari tadi dengan menjawab pertanyaan gila kamu. Asal kamu tahu, aku dan Wira udah ga ada apa-apa lagi. Aku dan dia hanya sempat bertegur sapa saat aku mengunjungi kantor kemarin, kami tidak seperti yang kamu pikirkan tuan Arkia.”ucapku dengan nada tinggi pada Arkia, mungkin ini sudah batasku dengan keadaan tubuh lelah begini.
Plak...
Satu tamparan keras aku dapat dari Arkia. Ini adalah tamparan pertama yang mendarat mulus dipipiku setelah aku berumah tangga dengan Arkia. Seketika itu pula air mataku mengalir keluar, membentuk aliran sungai dipipiku. Aku pun memegang pipi kiriku yang ditampar oleh Arkia dengan masih mengeluarkan air mata. Aku pun memandang kearah Arkia yang baru saja menampar diriku dengan tangan kanannya. Aku memandang Arkia dengan wajah tidak percaya dengan perbuatannya.
“Puas? Kamu puas udah nampar aku? Aku ga nyangka kamu kayak gini, Arkia. Aku..aku..hiks..”tangisku pecah dan aku pun segera berlari keluar rumah dan membawa mobilku Melaju kencang dijalan.
“Cukup sudah, aku tidak ingin disakiti lebih lagi oleh dirimu.”ucapku dalam tangis.