Story POV
Sudah tiga bulan pernikahan Arkia dan Mella. Kini mereka tidak lagi tinggal bersama kedua orang tua, tetapi tinggal disebuah rumah megah dikawasan Bandung. Arkia sengaja membeli rumah masa depannya didaerah Bandung, karena ia tidak terlalu ingin kehidupan rumahtangganya terlalu disorot oleh awak media.
Disuatu tempat dimana tempat masak-memasak terjadi yaitu dapur, Mella tengah memasak sarapan untuk suaminya. Sebenarnya itu sudah menjadi rutinitas Mella sejak dia menikah dengan Arkia, karena Mella ingin Melaksanakan tugasnya sebagai seorang istri yang baik untuk suaminya. Ditengah-tengah kesibukannya, tiba-tiba saja dari belakang Arkia datang memeluk pinggangnya dan memangkukan wajahnya dibahu Mella. Mella yang tiba-tiba mendapat perlakuan itu tersontak kaget, karena ia tidak berpikir bahwa Arkia sudah bangun dari mimpi indahnya.
“Kia, kamu mengejutkanku.”ucap Mella ditengah aksi masak-memasaknya.
“Maaf sayang, aku juga terkejut tanpa sadar istri tercintaku tidak berada disampingku saat aku bangun.”ucap Arkia beralibi.
“Huh.. dasar, pasti itu hanya alibimu saja.”ucap Mella yang sudah selesai membuat sarapan untuk Arkia.
“No sweety.”ucap Arkia.
“Ya sudah, lebih baik kamu sarapan sekarang.”ucap Mella sambil menyodorkan sepiring nasi goreng pada Arkia. Lalu Arkia pun makan dengan diawali dengan berdoa. Namun ditengah-tengah makannya, dia melirik kearah Mella yang tengah menyaksikannya menikmati sarapan dengan lahap.
“Sweety, kamu ga makan?”tanya Arkia sambil melirik kearah Mella.
“Enggak, aku kenyang. Soalnya tadi aku udah makan roti pakai teh manis.”jawab Mella.
“Cuma itu?”tanya Arkia dan Mella hanya mengangguk.
“Enggak boleh, sekarang kamu makan juga. Kita sepiring berdua aja.”ucap Arkia.
“Enggak Kia, aku udah kenyang. Lebih baik kamu saja yang memakannya.”ucap Mella menolak, namun Arkia segera menyendokkan nasi goreng yang ada dipiringnya guna menyuapinya pada Mella.
“Kia, aku udah kenyang. Seriusan deh.”ucap Mella menolak.
“No sweety, please open your mouth.”ucap Arkia. Akhirnya Mella pun pasrah dengan membuka mulutnya dan memakan nasi goreng yang disuapi oleh Arkia.
“Nah, sekarang kita sama-sama makan.”ucap Arkia.
“Ya-ya. Sekarang aku mau nyiapin perlengkapan kamu dulu ya.”ucap Mella.
“Baik istriku.”ucap Arkia.
“Sekarang kamu habisin sarapannya. Lalu setelahnya kamu mandi.”ucap Mella memperingatkan.
“Ya-ya nyonya Arkia.”ucap Arkia menggoda Mella.
“Ya sudah, kalau begitu aku ke kamar dulu. Ingat habisin sarapannya.”ucap Mella kemudian berlalu meninggalkan Arkia didapur menuju kamar.
***
Mella POV
Setelah Arkia berangkat ke kantor, aku pun kembali mengemasi rumah. Sebenarnya di rumah ada pembantu, namun aku terkadang juga ikut membantu mengemas rumah sekedar melepas kebosanan. Lalu aku langsung saja mencuci piring-piring yang tadi aku gunakan untuk membuat sarapan dan segera menyimpannya ditempat penyimpanan piring.
Setelah selesai aku mengemasi rumah, aku pun mulai mengemasi diriku yang memang belum sempat berkemas karena tugas seorang istri. Lalu aku pun segera mengemas diriku dan bersiap untuk berangkat ke kantor sekedar melihat-lihat perusahaan.
“Bi..”panggilku saat aku telah bersiap ingin berangkat.
“Ya nyonya..”sahut bi Ina yang berlari kecil menghampiriku.
“Bi, saya mau ke kantor sebentar. Nanti kalau bapak tiba-tiba pulang, atau ada tamu bilang saya sedang pergi ya.”ucapku.
“Baik nyonya.”ucap bi Ina.
“Kalau begitu saya pergi dulu.”ucapku yang kemudian meninggalkan rumah menggunakan Lamborghini merahku.
Setelah aku tiba di dalam kantor, aku melihat seorang teman lama yang sudah lama tidak aku lihat. Aku pun dengan langkah pasti mendekati orang tersebut dan mulai menyapa.
“Wira..”panggilku saat aku tepat berada disampingnya.
“Mella..”ucapnya yang terkejut melihatku.
“Sedang apa lo disini?”tanya Wira.
“Gue cuma jalan-jalan kunjungi kantor doang. Lo sendiri ngapain disini?”jawabku balik tanya.
“Gue kesini cuma mau beli barang baru dari perusahaan lo.”jawab Wira.
“Oh gitu.”ucapku.
“Hm. Mel, lo sibuk ga? Kalau enggak, lo mau ikut gue nge-cafe ga?”tanya Wira. Aku yang mendengar tawaran Wira pun berpikir sejenak.
“Hm, kebetulan gue ga sibuk. Boleh deh, dari pada gue bosen.”jawabku.
“Ok let’s go.”ucap Wira.
***
Story POV
Sore harinya Mella telah pulang dari jalan-jalannya. Setibanya di dalam rumah, Mella melihat kalau suaminya telah pulang dari kantor. Mella pun segera menghampiri Arkia yang tengah bersantai diruang keluarga.
“Shalom Kia..”salam Mella pada suaminya.
“Shalom.. Kamu dari mana sweety?”tanya Arkia.
“Maaf Kia, aku tadi siang jalan-jalan ke kantor ALEMA dan nongkrong bareng teman lama.”jawab Mella.
“Oh.., no problem sweety.”ucap Arkia.
“Kamu udah mandi? Atau kamu mau makan?”tanya Mella.
“Aku sudah mandi. Kalau makan, sepertinya sebentar lagi. Sebaiknya kamu mandi dulu, terus kita makan malam bersama.”ucap Arkia.
“Baiklah.”ucap Mella yang kemudian meninggalkan Arkia sendiri diruang keluarga.
Setelah Mella selesai mengemasi dirinya, Mella kembali menghampiri Arkia yang masih menonton dengan santai diruang keluarga. Saat Mella tiba disamping Arkia, Arkia segera memeluk tubuh Mella yang mungil.
“Kia..”panggil Mella.
“Yes sweety.”sahut Arkia.
“Kamu marah ga, kalau aku jalan ke Puncak bareng teman-teman aku?”tanya Mella.
“Ke Puncak? Kapan? Kenapa tiba-tiba?”tanya Arkia balik.
“Hm, sebenarnya masih planning sih. Kamu marah ya?”tanya Mella ragu-ragu.
“Hm. Sebenarnya aku bukan marah, cuma kaget aja kamu bilang kayak gitu. Kalau menurut aku sih, sebaiknya kamu ga usah pergi. Karena aku ga bisa nemanin kamu dan ga ada yang bisa jagain kamu.”jawab Arkia sambil mengelus puncak kepala Mella.
“Hm, baiklah kalau begitu. Aku akan bilang ke mereka kalau aku ga bisa ikut.”ucap Mella yang kemudian berdiri dan berjalan menuju dapur. Arkia yang melihat tingkah Mella berubah, segera mematikan televisi dan menyusul Mella yang sudah berada di dapur.
Setelah Arkia tiba di dapur, segera saja dia mendekati Mella yang tengah menyiapkan makan malam mereka dan memeluk pinggang Mella dari belakang. Mella yang menerima perlakuan tersebut sontak terkejut, namun kembali melakukan kegiatan awalnya. Hizkia yang merasa dicueki oleh sikap acuh Mella pun membalikkan tubuh Mella agar menghadap kearahnya.
“Mella! Kamu kenapa? Kamu marah?”tanya Arkia. Namun Mella tidak menjawab pertanyaan Arkia malah menunduk.
“Mella, jawab aku. Kamu marah karena aku tidak mengizinkanmu?”tanya Arkia lagi. Namun Mella kembali tidak menjawab dan hanya menunduk. Arkia yang menerima perlakuan itu dari Mella mengusap wajahnya kasar.
“Baiklah kalau kamu tidak ingin menjawab. Yang penting aku benar-benar tidak mengizinkan kamu pergi, titik.”ucap Arkia dengan nada sedikit meninggi.
“Ya sudah kalau memang itu keputusan kamu. Aku terima, sebaiknya kamu makan dulu. Aku ingin langsung ke kamar.”ucap Mella yang langsung meninggalkan Arkia dimeja makan. Arkia yang melihat Mella seperti itu, nafsu makannya menjadi hilang seketika.
Sementara itu di dalam kamar, Mella menangis tersedu-sedu dalam tidurnya. Dia tidak mampu menghapus ingatannya saat melihat wajah Arkia yang emosi terhadap dirinya. Mella hanya mampu menangis diam agar Arkia tidak mengetahui bahwa dirinya sedang menangis.
“Mella, apa kamu sudah tidur?”tanya Arkia dari arah pintu kamar yang kemudian masuk ke dalam kamar dan duduk ditepi ranjang. Mella yang masih bisa mendengar pertanyaan itu tidak menjawab, melainkan dia hanya diam berpura-pura tidur.
“Mella, maafin aku. Bukan niat aku buat marah sama kamu tadi. Hanya saja aku tidak bisa jauh dari dirimu. Aku tidak yakin dengan dirimu pergi sendiri kesana tanpa adanya diriku. Aku takut terjadi apa-apa padamu.”ucap Arkia dengan nada menyesal.
“Baiklah jika kamu sudah tidur. Good night my sweety.”ucap Arkia kemudian mengecup puncak kepala Mella dari belakang Mella.