"Kenapa kau mengatakan itu ?" tanya Liora yang membuat Aland menghela nafas. "Aku tak bisa menjaga kalian. Saat Lionel hilang kau mengajakku ikut bukan ? Tapi aku lebih mementingkan pekerjaanku. Saat aku sadar aku segera menyusul kalian. Tapi karena peristiwa itu aku malah memarahimu habis-habisan" ucap Aland dengan wajah frustasinya. "Tanpa mengerti jika kau pasti sangat sulit merawat ketiga anak secara bersamaan. Apalagi mengajak mereka berjalan-jalan. Maafkan aku" ucap Aland yang membuat Liora menghela nafas. Liora memegang tangan Aland dengan perlahan. Hal itu membuat Aland menatapnya. Sebuah senyuman muncul di sudut bibir Liora. "Kenapa kau tiba-tiba mengatakan seperti ini hm ? Mereka adalah anakku, anak kita berdua. Kita memiliki kewajiban masing-masing. Kewajibanmu adalah memberikan nafkah untuk kami semua. Sedangkan aku adalah merawat anak-anak kita" "Memang tidak mudah mengurus anak secara bersamaan. Tapi ini semua pilihan kita bukan ? Apa kau akan menyerah denganku ?" tanya Liora yang membuat raut wajah Aland berubah. "Tentu saja tidak. Aku tidak akan menyerah untuk kalian semua" ucap Aland yang membuat Liora tersenyum. "Ini baru lelakiku" ucap Liora yang tiba-tiba mengecup bibir Aland. "Kau sedang tidak sehat, sayang. Ehm... Tapi kau menggodaku" geram Aland yang membuat Liora tersenyum geli. "Aku tidak melakukan apapun" ucap Liora dengan melangkah turun dari ranjang. Belum sempat Liora berjalan menjauh. Aland terlebih dahulu menarik Liora dan menghempaskan tubuh Liora ke ranjang. "Kau sudah membangunkanku. Padahal aku menahannya sejak kemarin. Jadi kau tak boleh pergi" ucap Aland yang langsung mencium bibir Liora dengan ganas. *-*-* Aland merangkul Liora menuruni tangga. Dilihatnya ketiga anaknya tengah menggambar di ruang tamu dengan senyum lebar. "Lihatlah pengasuh mereka" ucap Aland sambil menunjukkan seorang pria yang ikut duduk di lantai. Pria itu menoleh dengan tatapan tajam ketika mendengar ejekan tersebut. Aland juga Liora tertawa melihat wajah kesal Bryan. "Udah dibantuin juga!" ucap Bryan yang membuat Liora terkekeh. Liora melepas rangkulan Aland dan segera berlari kearah Bryan. Liora langsung memeluk Bryan dengan erat dari belakang. Hal itu hampir membuat mereka berdua terjungkal ke depan. Namun Bryan menahannya. "Astaga kau seperti anak kecil saja! Tuh lihat anakmu" ucap Bryan dengam wajah sebalnya. Alano, Lionel dan juga Arsen tertawa melihat kelakuan Mommy mereka. Hal tersebut semakin membuat Bryan kesal dan bersungut-sungut. "Ganteng deh!" ucap Liora dan ingin mengecup pipi Bryan. Namun sebuah tangan menarik badan Liora untuk menjauhi Bryan. Hal itu membuat Liora langsung tertarik ke belakang membuat Liora langsung masuk ke dalam pelukan hangat. Liora mengusap keningnya yang cukup sakit terbentur benda keras. Liora mendongakkan kepalanya dan menemukan wajah garang Aland. "Kau hanya boleh memelukku! Ciumanmu itu hanya untukku dan milikku!" ucap Aland dengan nada cemburunya. Liora memutar matanya. Sedangkan Aland menatap Liora dengan pandangan peringatan. Mereka tidak melihat Bryan sedang membisikkan sesuatu di telinga Arsen. "Daddy cemburu yaaa" sebuah celetukkan membuat Aland dan Liora sadar. Mereka berdua menatap Arsen yang memberikan tatapan bingungnya. Sedangkan kedua saudaranya sudah menggambar kembali. "Bryaaannnn!" ucap Liora yang segera menghampiri Arsen. Entah kemana Bryan saat ini. Sangat dipastikan jika Bryan yang mengajari anaknya dengan kata-kata yang seharusnya belum di mengerti. "Nggak kok. Arsen nggak boleh bilang begitu ya" ucap Liora yang membuat Arsen mengangguk patuh. "Memangnya cemburu apa, Mom ?" pertanyaan Alano membuat Liora dan Aland mengusap wajah kasar. "Bryaan!" geram Aland yang langsung pergi mencari Bryan. *-*-* Liora menatap Bryan yang tengah mengangkat koper masuk ke dalam mobil. Malam ini Bryan akan kembali ke rumahnya. Sudah hampir seminggu Bryan meninggalkan rumahnya hanya untuk membantu Aland. Bryan membalikkan badannya dan menatap Liora. Sebuah senyuman terbit yang langsung dibalas Liora dengan senyuman tak kalah manis. Aland yang melihat hal itu menatap sinis. "Aku mau meluk adikku! Tak peduli kau marah" ucap Bryan yang langsung menarik Liora ke dalam pelukannya. "Jaga diri baik-baik disini" bisik Bryan yang membuat Liora langsung merasa sedih. "Apa benar kau akan ke Jerman ?" tanya Liora dengan mata berkaca-kacanya. "Ya, dua hari lagi aku akan pindah tugas ke Jerman. Semua akan ikut termasuk Papa dan Mama" setetes air mata mengalir di pipi Liora yang segera dihapus oleh Bryan. "Kenapa nggak disini aja ? Papa dan Mama juga ikut. Pasti aku bakalan kangen" ucap Liora yang membuat Bryan terkekeh. "Kau bisa berkunjung kesana. Bukannya suamimu kaya ? Suruh saja membeli pesawat" ucap Bryan yang membuat Liora terkekeh. "Jangan menyalakan suamimu okay ? Aland membantuku dengan memberiku kesempatan untuk mengelola perusahaan di Jerman. Dia banyak membantu kita, Ra" ucap Bryan memberikan pengertian Liora. "Aku tidak akan marah. Hanya saja aku akan menyuruhnya tidur di luar" ucap Liora yang membuat Bryan terkekeh. "Terserah kau saja. Jaga diri baik-baik okay ? Selesaikan masalah dengan suamimu secara baik-baik. Jaga pernikahanmu sebaik mungkin okay ? Aku menyayangimu" ucap Bryan yang membuat Liora mengangguk pasrah. "Aku berangkat! Titip Liora" ucap Bryan kepada Aland. Aland mengangguk dan merangkul Liora sayang. Hal itu membuat Bryan tersenyum lega. Melihat adiknya berbahagia juga membuatnya bahagia. "Itu kewajibanku! Hati-hati" ucap Aland ketika Bryan melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil. "Hadiah anak-anak berada di kamar mereka" ucap Bryan yang membuat Liora dan Aland mengangguk. Mobil melaju meninggalkan perkarangan rumah mereka berdua. Liora tak mengalihkan pandangannya dari mobil yang mulai menghilang tertelan oleh kegelapan. "Kita harus masuk. Cuaca mulai dingin" ucap Aland yang menarik Liora masuk ke dalam rumah. Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam. Ketiga anak mereka sudah tertidur beberapa saat lalu. Beberapa pelayan sudah kembali ke pavilun di belakang rumah. "Kau pasti lelah. Pergilah tidur terlebih dahulu. Aku akan mengecek beberapa pekerjaan" ucap Aland ketika mereka sampai di depan kamar. Liora cemberut mendengar ucapan Aland. Segera dilepaskannya tangan Aland yang sejak taid merangkulnya. Tatapan tajam dilayangkan Liora pada Aland. "Baru tadi pagi kau meminta maaf tapi sekarang diulangi! Ini waktunya tidur" sungut Liora yang membuat Aland menghela nafas. "Seminggu ini aku meninggalkan kantor untuk mengurus anak kita. Pasti tugasku menumpuk" ucap Aland yang membuat Liora semakin cemberut. "Ini dirumah bukan kantor! Jika dikantor kau milik pekerjaanmu. Tapi jika kau di rumah kau milik..." ucap Liora dengan nada menggantung. Wajah Liora tiba-tiba memerah dengan malu-malu. Hal itu membuat sebuah senyuman geli muncul di bibir Aland. "Milik ? Kenapa kau tak melanjutkannya ?" ucap Aland dengan menarik pinggang Liora untuk mendekat ke tubuhnya. "Milikku" gumam Liora dengan suara pelannya. Aland yang mendengar hal itu langsung mengecup hidung Liora dengan sayang serta gemas. Hal itu membuat wajah Liora semakin memerah. Tiba-tiba Aland mengangkat tubuh Liora lalu terkekeh. Sedangkan Liora menelusupkan kepalanya di leher Aland dengan malu-malu. "Kau sangat berat setelah melahirkan ketiga anak kita" ucap Aland dengan kekehannya. Liora langsung melotot melihat Aland. Hal itu semakin membuat Aland tertawa dengan keras. Aland menutup pintu yang baru saja dibukanya dengan kaki. "Aku hanya bercanda. Baiklah karena ini dirumah aku adalah milikmu dan akan selamanya begitu" ucap Aland dengan melemparkan tubuh Liora keatas ranjang mereka dengan lembut. *-*-*