Liora menarik selimut tubuh Arsen sebelum duduk di kasur ketiga anaknya. Alano, Lionel dan juga Arsen menatap Liora dari balik selimut mereka masing-masing. "Mommy kenapa nggak makan ?" tanya Arsen dengan suara khas anak kecilnya. "Ya, setelah ini Mommy akan makan" ucap Liora yang membuat ketiga anaknya mengangguk. "Mommy jangan sedih ya" ucap Lionel yang memang anaknya yang paling memiliki rasa kepedulian tinggi. "Kalian nggak nakal jadi buat apa Mommy sedih ?" ucap Liora yang membuat ketiga anaknya berpikir. "Jadi kalau Al nakal Mommy sedih ?" tanya Alano dan diangguki Liora. "Ya, Mommy akan sedih sekali jika anak-anak Mommy nakal" ucap Liora yang membuat ketiga anaknya mengangguk. "Kita nggak akan nakal" ucap mereka bersamaan yang membuat Liora terkekeh. "Sudah malam anak-anak" ucap Liora dengan beranjak dari tempatnya untuk merapatkan selimut. Ketika Liora ingin mengucapkan selamat malam. Tiba-tiba pintu terbuka dan memunculkan Aland yang masuk membawa sebuah bungkusan besar. "Lihat, Daddy bawa apa?" ucap Aland dengan menenteng bungkusan tersebut. "Makanan Jepang!!!" teriak tiga kembar setelah mendudukkan diri. "Tepat sekali!" seru Aland. "Mommy, ke kamar dulu ya" ucap Liora dan berjalan melewati Aland seakan tak mengenalnya. Aland hanya diam saja dan tak mengatakan apa-apa. Melihat Liora yang sudah keluar dari kamar anak-anak mereka membuat Aland menoleh dan kembali menatap ketiga anaknya yang berharap dengan makanan yang dibawahnya. "Mari kita duduk di karpet" ucap Aland sambil membawa makananan tersebut ke karpet bermain anak-anaknya. Besok Aland akan mengatakan pada Christ untuk membersihkan karpet ini. Anak-anaknya ini terkadang makan berantakan dan Aland takut Liora mengomel karena banyak serangga. Ketiga anaknya dengan piyama menggemaskan langsung duduk rapi di depannya. Arsen terlihat mengantuk tetapi dia sangat antusias dengan makanan jepang. "Daddy akan menemani kalian makan okay. Setelah itu kalian tidur. Nanti Mommy marah okay ?" ucap Aland yang diangguki oleh ketiga anaknya yang langsung asik makan. Walaupun raganya sedang berada di sini. Namun pikirannya terus saja teringat dengan Liora yang berlalu meninggalkannya seperti itu. *-*-* Liora menutup pintu kamar mandi dan menemukan Aland sudah duduk di atas ranjang. Liora segera berjalan menuju nakas dan mengambil ponselnya. "Aku akan melihat anak-anak" ucap Liora sambil ingin melangkah menuju pintu kamar. "Kau ingin menghindar bukan ?" ucap Aland yang membuat Liora berhenti. "Tidak" ucap Liora dengan membuka pintu. Namun sebuah tangan menutup pintu dengan keras. Hal itu membuat Liora merasa sangat kaget. Tubuh Aland sudah berada di belakang Liora dan sangat dekat. "Kau sedang marah" ucap Aland di telinga Liora. "Karena perempuan itu ? Kau marah ?" lanjutnya dengan nada yang begitu dalam. "Aku ingin melihat anak-anak" ucap Liora dan berusaha membuka pintu tapi tangan Aland masih menahannya. "Mereka sudah dijaga Christ!!!" bentak Aland yang membuat Liora semakin takut. Aland membalikkan tubuh Liora untuk menghadapnya dan menahan tubuh Liora di pintu. Tatapan Aland terlihat marah dan dingin hal itu membuat Liora begitu ketakutan. "Kau marah! Tapi tak mengakuinya. Apa yang kau inginkan ? Apa sulitnya berkata jujur" bentak Aland yang membuat Liora memejamkan matanya. "Ya aku marah! Karena kau lebih mementingkan perempuan itu daripada keluarga!!!" jerit Liora dengan air mata yang langsung menangis. Aland mengacak rambutnya kasar. Aland melangkah mundur dengan wajah frustasinya. Ditatapan itu terlihat perasaan sedih. "Bukan itu maksudku. Aku tidak bisa mengatakannya" ucap Aland melunak. Liora tersenyum kecut. Dihapus air matanya dengan kasar dan menatap Aland yang terlihat frustasi saat ini. "Mengatakan apa ? Tentang hubunganmu dengannya ?" ucap Liora yang langsung membuat Aland menatapnya tajam. "Jangan meragukan kesetiaanku! Aku tidak ada hubungan dengannya!" bentak Aland dengan keras. "Tapi bukannya kau lebih memilihnya ? Bahkan kau menyuruhku pergi. Tak hanya aku tapi anakmu pun juga!" ucap Liora yang membuat Aland makin frustasi. "Aku menyuruhmu pergi karena tidak ingin kau melihatku lemah!" bentak Aland yang seketika membuat Liora mengernyitkan kening. "Melihatmu lemah ?" tanya Liora. "Ya! Perusahaan diambang batas kehancuran karena penyelewengan dana dengan nilai yang cukup besar. Aku tidak ingin kalian tau tentang ini" ucap Aland dengan nada memelan. "Aku tidak ingin kau memikirkannya" ucap Aland yang duduk di atas ranjang. d**a Liora seakan teremas mendengar penjelasan Aland. Tatapannya seketika melunak dan air mata semakin mengalir. Bodoh! Kenapa Liora begitu cengeng dan selalu menyalahkan Aland! Padahal Aland sedang berada di masalah yang cukup rumit. Liora melangkah mendekati Aland dan menarik kepala Aland di perutnya. Aland langsung melingkarkan lengannya di pinggang Liora dan bersandar. "Maafkan aku. Kenapa kau tak mengatakannya padaku" ucap Liora yang membuat Aland menghela nafas. "Aku tidak ingin kau ikut memikirkannya. Aku akan mengatasi masalah ini dengan segera" "Aku bisa membantumu" ucap Liora yang membuat Aland menggeleng dipelukannya. "Tidak. Kau rawat saja anak kita. Aku akan mengatasinya" "Aku akan membantu, Al. Aku adalah istrimu jadi masalahmu adalah masalahku. Aku akan tetap mendukungmu bagaimanapun" ucap Liora yang membuat Aland menghela nafas. "Ra, aku tidak bisa membiarkanmu membantuku" ucapan Aland seketika dipotong oleh Liora sebelum menyelesaikan ucapannya. "Al, kita harus melewati hal ini bersama. Aku akan membantumu bagaimana caranya" *-*-* Aland menatap Liora yang tiba-tiba datang ke kantornya sendirian. Liora tak ingin duduk disampingnya atau dipangkuannya. Tapi Liora memilih untuk duduk di depan Aland. "Apa yang ingin kau bicarakan" tanya Aland. "Aku akan bekerja" Aland yang mendengar jawaban Liora langsung menggeleng tegas tanda akab penolakan. Terhadapa niat Liora yang baru saja disampaikan. "Aku tidak akan mengijinkanmu bekerja sampai kapanmu" ucap Aland yang membuat Liora menghela nafas. "Al aku harus melakukan ini. Banyak hutang yang harus segera kita lunasi. Sedangkan uang akan terus mengalir untuk kebutuhan" ucap Liora yang membuat Aland frustasi. "Aku tidak akan bangkrut secepat itu, Ra. Aku akan berusaha kau tak perlu khawatir dengan kebutuhan kita" "Al, pergunakan semua uangmu untuk membayar hutang terlebih dahulu agar perusahaanmu bangkit kembali. Masalah kebutuhan kita bisa dapat dari gajiku. Jika semua sudah stabil aku akan resign dari pekerjaanku" rayu Liora yang membuat Aland makin frustasi. "Lebih baik kita saat ini tidak memiliki uang sepersen pun daripada kita memiliki hutang. Al, aku percaya denganmu kau akan membangkitkan perusahaan ini lagi. Banyak orang yang bergantung padamu Aland saat ini. Aku tidak mungkin juga bergantung denganmu" "Aku suamimu! Pantas jika kau bergantung padaku" sela Aland dengan emosi. "Ya aku tau hal itu. Tapi saat ini aku tidak boleh egois. Nasib semua orang ada di tanganmu, Al. Aku tidak bisa melihat orang-orang itu seketika tak memiliki pekerjaan!" ucap Liora dengan menggenggam tangan Aland. Aland menatap Liora dan menyandarkan badannya di kursinya. Pikiran Aland saat ini bercabang. Benar kata Liora lebih baik menyelesaikan utang sebelum semakin berbunga dan mengurusi hal lain kemudian. Namun jika melihat Liora kerja, harga diri Aland sebagai laki-laki seakan tercoreng. Mungkin jika Alaina tau keadaannya saat ini. Saudara kembarnya itu akan menertawainya dan mengejeknya. Inilah yang menjadi alasan Aland tidak mengatakan semua ini pada Liora. Liora dan keluarga kecilnya saat ini adalah kelemahan terbesar bagi Aland. Tetapi mereka juga sebuah semangat untuk menjalankan hidup dan memperbaiki apa yang salah di dalam hidupnya. Mereka yang membuat Aland menjadi lebih baik lagi setiap harinya. Melihat Aland yang terdiam dan memejamkan mata. Liora menaruh tasnya di kursi dan memilih beranjak. Dengan perlahan Liora duduk di pangkuan Aland. Aland langsung membuka matanya dan menarik tangannya untuk memegangi tubuh Liora agar tidak jatuh dari pangkuannya. Liora menampilkan senyuman indah yang menjadi suntikan semangat bagi Aland saat ini. Tak hanya itu Liora juga mengusap pipi Aland dengan pelan. "Aku tidak akan memaksamu untuk menerima ideku. Tapi kumohon pertimbangkan dahulu" Ucap Liora yang membuat Aland menampilkan senyum kecilnya. "Kau sudah tau aku akan menolaknya, Li" Liora menggelengkan kepalanya dan tetap mengusap wajah Aland yang membuat kerutan di wajah Aland sedikit menghilang. "Aku tau kau akan berubah pikiran. Apakah aku benar Mr. Alarice ?" Liora maju dan mencium bibir Aland. Senyuman Aland terlihat mengembang dan Liora ikut tersenyum melihatnya. Sekarang bukan waktunya untuk bersitegang dengan Aland. Saat ini lelakinya sedang membutuhkan sandaran. Sandaran yang terbaik adalah Liora. Ketika kejadian seperti ini. Mereka harus saling menguatkan dan memeluk satu sama lainnya