“Tapi, Kak …”
“Apa lagi?” sela seorang lelaki gemas. Kedua bola mata memandang lekat adik semata wayangnya. Tanpa terasa waktu cepat berlalu. Gadis kecilnya sudah tumbuh dewasa. Layaknya bunga yang sangat indah. Banyak kumbang ingin mendekat. Ia tak ingin mengambil banyak resiko. Satu cara untuk mengusir mereka semua adalah mencarikan yang terbaik buat sang adik. “Hanya kenalan dulu, oke!’
Bibir gadis tersebut mencebik kesal, “Dan ujung-ujungnya aku harus nerima dia, gitu? Basi!”
Ia tak peduli akan pelototan sang Kakak. Masa bodoh. Tak ada gunanya perdebatan ini. Pada kenyataan ia harus terima semua kemauan sang Kakak. Menolak pun tidak membuahkan hasil. Lelaki penggila kerja tersebut tak mau bersusah payah mendengar semua ucapannya. Buang-buang tenaga saja. Mending nanti ia kabur. Terserah mau marah atau malah menghiraukannya. Ia sudah terbiasa akan hal tersebut.
“Ini semua …”
“Demi kebaikanmu, Delbar!” potong gadis tersebut sembari meniru gaya bicara sang kakak. Kini ia benar-ebnar telah muak. Tak bisakah sang kakak sedikit mengerti akan perasannya. “Kebaikan dari mana coba?”
Lelaki tersebut membuang napas dalam. Bukan pertama kalinya ia mendapatkan kalimat sadis seperti itu. Mereka memang saudara kandung. Namun ada jarak tak kasat mata. Ia terlalu sibuk bekerja untuk memenuhi kehidupan mereka berdua. Jarang memperhatikan adik tercintanya. Akan tetapi, selama ini dirinya selalu memantau lewat orang kepercayaan. Dan belakangan ini ada yang berbeda dari Delbar. Gadis tersebut terlihat lebih pendiam dan juga tidak mempunyai semangat apapun. Menururt informasi yang ia dapatkan. sang adik mengalami yang namanya patah hati. Tangan ini sudah gatal untuk memukul lelaki yang berani menggoreskan luka pada adik tercintanya. Namun, gadis tersebut selalu diam dan tak menjawab. Maka dari itu jalan ini yang ia ambil.
“Mau ya?”
Delbar menggeleng tegas, “Kenapa Kak Nevan memaksa, sih?”
“Kamu sudah cukup umur. Sudah waktunya untuk …”
“Menikah?” sergah Delbar tak percaya dengan apa yang dipikirkan Nevan. Kakak yang otoriter. Selalu memaksa dan tak pernah peduli akan perasaannya. Ia bukan robot yang bisa mengikuti semua perintah lelaki gila itu. Dirinya punya hati. Yang ia butuhkan hanya pia tersebut mempunyai waktu untuknya. Bukan malah menyuruh cepat menikah. Oh ayolah, ia barusan lulus kuliah. Usianya pun masih dibawa dua puluh lima tahun. Menjalin rumah tangga seperti sahabatnya bukan impian dalam waktu dekat. Itu masih jauh. Setidaknya sampai ia bisa menaklukkan gunung tertinggi di Indonesia. Atau sudah puas menjelajahi alam yang penuh dengan keindahan. “Kenapa tidak Kakak dulu?”
Nevan hanya bisa tersenyum. Tak menyangka kalimat itu akan berbalik untuknya. Sekarang, ia sama sekali tak memikirkan hal tersebut. “Kakak bisa jaga diri sendiri. Sedangkan kamu?”
“Tapi …”
“Kakak mohon. Untuk kali ini saja,” Nevan menyela ucapan sang adik. Ia hanya ingin yang terbaik untuk perempuan tersebut. Tak mungkin mencarikan lelaki yang tidak baik untuk adik tercinta. Sebab ia tak akan rela bila Delbar terluka sedikitpun. Dulu, ia sempat kehilangan waktu menjaga gadis itu. Tak mengerti kalau adik kecilnya mengalami patah hati. Kini, ia tak ingin kecolongan lagi. Delbar Neysa harus bahagia. Karena itu janjinya dulu pada kedua orang tuanya yang kini sudah bahagia di surga. Salah satu cara dengan menikahkannya. Ia sudah menemukan lelaki yang cocok dan juga pas. “Kamu mau, ya?”
Delbar tak tahu harus bagaimana. Gadis itu menundukkan kepalanya. Tidak mengerti apa yang ada di kepala lelaki itu. Ini namanya pemaksaan. Dan ia benci itu. Tapi mau bagaimana lagi. Ia bukan sosok yang membangkang. Paling menghindar sebentar untuk mengkondisikan hati dan pikiran. Selepas itu, ia akan berusaha mencari jalan tengah. Karena pantang untuknya lari dari masalah.
“Kakak tahu kamu pernah terluka. Jadi …”
“Kakak tidak tahu apa-apa!” Delbar berteriak kesal. Ke mana saja selama ini lelaki itu pergi. Ia menjalani hari sendirian tanpa siapa-siapa. Hanya uang yang tiap bulan tak absen masuk dalam rekening. Lalu, sekarang pria tersebut seenaknya menjodohkan dirinya. Apa salah bila ia marah dan menolak. Bicara memang mudah. Tapi yang menjalani adalah dirinya. “Semua itu hanya alasan Kak Nevan agar aku mau bertemu dengannya, ‘kan?”
Gadis itu sudah berusaha menahan amarah. Tapi, sang Kakak tak pernah mau mengerti. Selalu saja menuntut. Ia sangat kecewa dan marah. Tanpa menunggu penjelasan Nevan ia bangkit dan berlalu begitu saja. Menghiraukan panggilan pria menyebalkan itu.
“Delbar!”
Bukannya berhenti, gadis itu malah keluar dari rumah. Langsung masuk dalam mobil dan mengendarai entah ke mana. Yang pasti untuk saat ini ia tak ingin bertemu dengan sang kakak. Padahal ia merindukan lelaki tersebut. Hampir sebulan ini bisa dihitung dengan jari mereka bertemu. Bahkan untuk bicara seperti tadi saja, sudah tak pernah. Mereka ngomong kalau ada yang penting. Selepas itu sibuk dengan kegiatan masing-masing.
Ia benci. Namun tak bisa berbuat apa-apa. Hatinya terlalu sakit saat sang Kakak memilih pergi kuliah ke luar negeri. Meninggalkan dirinya sendiri. Padahal waktu itu mereka baru saja kehilangan kedua orang tua karena kecelakaan pesawat.
Masih ingat dalam otaknya saat sang Kakak meminta izin untuk pergi. Sekuat tenanga ia menolak. Atau bahkan ingin ikut dengan Nevan. Namun penolakan yang selalu ia dapatkan. Untuk memundurkan keberangkatan saja tidak mau. Setahunya, lelaki itu akan berangkat tiga bulan lagi. Bukan sekarang. Karena ia sangat tahu, itu impian Nevan sejak kecil. Dan pria itu memang telah meyiapkan sejauh hari. Tapi keadaannya saat itu berbeda. Ia baru saja kehilangan kedua orang tuanya. Sekarang sang Kakak juga pegi. Lalu sama siapa ia di sini.
“Kak …”
“Kamu akan baik-baik saja di sini, De,” Nevan berusaha menyakinkan Delbar, “Kakak harus berangkat sekarang agar lulus dengan cepat dan mengatur perusahaan yang ditinggal Ayah untuk kita. Kamu mengerti, ‘kan?”
“Tapi kenapa harus secepat ini, Kak? Bukannya …”
“Kakak tidak bisa berlama-lama di sini, De,” potong Nevan kesekian kalinya, “Kakak mohon!”
Delbar menolak mengerti. Yang ia butukan lelaki tersebut. Bukan orang lain. Ia benci sendiri. Tapi kenapa sang Kakak tak mau mengerti. Ini bukan pilihan terbaik. Seharusnya mereka tetap bersama. Bukan malah berjauhan seperti ini.
Akhirnya pun sang kakak pergi begitu saja. Meninggalkannya sendirian di kota besar ini. Sejak saat itu sudah tak peduli dengan sang Kakak. Terserah lelaki itu mau ngapain. Ia tak mau tahu. Saat itu pula hubungan mereka tak berjalan semestinya.
Delbar menepikan mobil. Hatinya benar-benar kacau. Ia tak bisa kosentrasi. Apalagi matanya kini mulai berair. Bulir bening membasahi pengeliatan. Ia tak suka mengularkan air mata. Namun kali ini, dadanya sangat sakit. Kenapa sang Kakak hasrus meminta itu. Pernikaan bukanlah hal yang mudah. Apalagi menyerakan hati dan perasaannya untuk lelaki lain. Mana mungkin. Setelah semuanya telah direbut dan dihancurkan oleh pria masa lalu. Tak ada yang tersisa dalam dirinya.
Ia menghela napas dalam. Menyandarkan tubunya pada jok kemudi. Menghirup napas dan mengeluarkan secara perlahan. Menenangkan sedikit amarah yang masih tersisa dalam diri. Ia tak ingin seperti ini. Larut dalam rasa kesal yang mendarah daging. Berharap sang kakak pulang untuk menemani waktunya. Nyatanya lelaki itu malah memberinya kejutan yang luar biasa buat jiwanya meradang. Dan ia benci itu.
Argh!
Semakin memikirkan ini semua, hatinya bertambah kacau. Tak ada jalan keluar. Dan ia tak tahu harus bagaimana. Sedari tadi telponnya berdering. Tertera nama sang kakak memanggil. Ia tak ingin mengangkatnya. Sebagai balasan ia mengirimkan sebuah pesan. Kalau malam ini akan tidur di rumah temannya.
Setidaknya di sana ia akan merasa tenang. Memikirkan kembali semuanya. Kedatangan sang Kakak yang tiba-tiba dan membawa kabar buruk untuknya. Kalau mengerti akan terjadi hal seperti ini. Buat apa lelaki itu pulang. Lebih baik tak bertemu sekalian. Bila pada akhitmya hanya akan ada luka baru diantara mereka.
Mungkin kalau kedua orang tua mereka masih ada. Hubungan kakak beradik tak akan renggang seperti ini Mereka pasti rukun saat masih kecil. Ke mana-mana bersama. Saling menjaga satu sama lain. Tidak seperti sekarang ini. Berjauhan karena masalah yang tak seharusnya ada.
***