Dan di sinilah ia. Melihat gugusan bintang di balik jendela lantai lima apartemen milik kawan baiknya. Sudah hampir sejam ia duduk pada kursen jendela. Membiarkan rambut lebat tertiup angin. Setidaknya malam ini ia ingin sendiri. Merenungi semua yang telah terjadi. Ingin rasa ia melampiaskan semua pada alam. Mencurahkan persaannya lewat pendakian yang sangat menantang. Tapi, apa daya. Semua sibuk dengan keperluan masing-masing. Dan ia bneci bila harus pergi sendirian. Karena tak enak rasanya bila di alam bebas tanpa teman.
Kalau dulu masih ada seseorang yang siap kapan saja menemaninya ke mana pun. Kini, tinggal kenangan. Sebab lelaki itu memilih pergi dan tak pernah kembali dalam kehidupan Delbar. Tinggal kenangan yang tersisa di antara mereka. Dan juga rasa penyesalan yang sangat dalam gadis itu pendam sendiran. Tanpa ada seorang pun yang mengetahui. Termasuk sang Kakak.
Berulang kali ia membuang napas dalam sembari menutup mata. Menyerap semua energi postif dari alam. Sungguh terasa damai dan menentramkan. Setidaknya ini yang ia butuhhkan sekarang. Agar bisa sedikit melupakan polemik yang ada.
Terkadang berdiam diri menjadi cara terampuh untuknya menekan amarah. Menahan semua rasa kesal yang menyangkut ditenggorokkan. Tak mau ucapan keluar dari mulut melukai orang yang disayangi. Itulah alasan kenapa ia memilih pergi. Bukan karena tidak menghargai kedatangan sang kakak. Tapi Delbar hanya menghindar sejenak. Agar jarak yang tercipta nggak semakin melebar dan dalam. Akan sulit bagi mereka untuk bersatu kembali seperti dahulu kala.
“Sampai kapan kamu akan di situ terus?”
Delbar membuka mata perlahan. Netranya melirik sekilas seseorang yang sudah berdiri di depan pintu. “Entah," jawaban yang tak pasti. Sebab dirinya masih betah berada di sini. "Kenapa?”
“Nggak papa, sih,” sahut perempuan itu yang kini sudah duduk di atas ranjang, “ada masalah apa lagi?”
Delbar tersenyum masam. Sahabatnya tahu saja kalau dirinya ada masalah. Mau bagiamana lagi. Apartemen ini menjadi tempat singgah untuknya dikala galau melanda. Hanya di sini ia bisa sedikit tenang. Lagian tak ada orang yang tahu tempat ini kecuali mereka para sahabatnya.
“Kemaren Viera yang dari sini. Sekarang giliran kamu,”
“Serius?” tanyanya tak percaya. Setahunya kawan satu itu jarang sekali ke sini kalau mereka tidak mengadakan acara kumpul bareng. Karena diantara mereka berempat hanya Viera yang terlihat normal dan baik-baik saja. Selalu bisa menyembunyikan setiap masalah yang ada. Dan anaknya terlihat sangat tenang. “Ada masalah juga, Reen?”
Reen mengedikkan bahu tak tahu. Dirinya tak pernah memaksa mereka bercerita. Karena takut menyinggung privasi masing-masing. Tapi satu hal yang bisa dipastikan. Ketika para kawannya berada di sini pasti dalam kondisi yang tak baik-baik saja. Sebab apartemannya seperti tempat singgah buat orang galau.
Delbar beroh ria. Ia menamndang kembali jalanan yang terlihat lengang di bawa sana. Malam semakin larut. Namun ia tetap terjaga. Permintaan sang Kakak menganggu pikirannya. Bagaimana pun lelaki itu satu-satunya keluarga yang ia punya. Lalu apa yang akan ia lakukan. Lari pun sampai kapan. Yang ada semakin membesar. Dan sulit mencari jalan keluarnya.
“Reen …”
“Apa?”
“Kalau kamu tiba-tiba disuruh kakakmu menikah bagiamana?”
Delbar menanti jawaban yang keluar dari sahabatnya tersebut. Mereka berkawan sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Saat putih abu-abu pun mereka dipertemukan kembali. Awalnya tidak pernah seakrab ini. Mereka berteman karena orang tua juga saling bekerjasama. Sampai suatu ketika mereka terikat karena sebuh takdir. Kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan pesawat yang sama. Sejak itu mereka saling menguatkan satu sama lain. Tolong menolong dalam segala hal. Saling mengisi kekosongan yang ada. Maka dari itu persahabatan mereka sangat erat. Sebab semua tahu bagimana rasnya kesepian dan hidup sebatang kara.
“Alasannya kenapa dulu?” tanya Reen yang bingung harus menjawab apa, “bukan seperti Riani, ‘kan?”
Delbar menggeleng, “Nggak lah! Mana mungkin aku kayak kakak iparmu,”
Reen tertawa lepas. Riani juga bagian dari mereka. Perempuan itu yang pertama kali melepaskan masa lajang. Dan itu semua karena desakkan sang kakak. Yang paling mengebohkan awal pernikahan mereka adalah kesalah fahaman dengan Reen. Riani mengira kalau Reen main belakang dengan sang suami. Eh, tidak tahunya Nasreen adalah adik dari suaminya sendiri. Sehingga hubungan mereka sekarang ini menjadi kakak dan adik ipar. Mengingat hal itu, Reen menggeleng tak percaya. Dunia terasa sempit, bukan. Semua dipertemukan tanpa sengaja. Menghantarkan mereka pada takdir yang mengejutkan.
“Bagaimana keadaan tu anak?” pertanyaan Delbar menghentikan tawa Reen. Perempuan itu slealu bisa tampil apa adanya di depannya. Tapi kalau di luar sana. Jangan harap bisa kenalan atau mendekatinya. Karena Reen selalu memasang tembok untuk semua lelaki yang mau modus. Maklum saja gadis itu jago bela diri.
“Baik,” jawab Reen sekenanya, “kemaren dia di sini sama Viera juga,”
“Lah? Kenapa nggak ada yang hubungi aku?”
Reen tersenyum menenagkan, “Katanya Kakakmu datang? Kita nggak mau ganggu kamu lagi.”
Delbar mengerti. Kemarin ia cerita kalau sang kakak akan kembali setelah kurang lebih dua bulan tidak bertemu. Ia mengira mereka akan mengabiskan waktu bersama. Saling bercerita mengenai kegiatan masing-masing. Akan tetapi yang terpampang adalah, kakaknya atang ganti baju pergi lagi. Untuk menyapanya saja hanya senyuman yang ia dapatkan. Sampai sore tadi mereka bertemu. Yang akhirnya menghasilkan perdebatan.
“Lalu kenapa kamu di sini?” tanya Reen heran. Setahunya kemaren Delbar sangat antusias. Bahkan gadis itu rela memasak untuk sang kakak. Lalu kenapa malam ini menginap di tempatnya. Aneh.
“Itu …”
“Karena pertanyannmu tadi?” Reen menyela. Ia sudah menebak akan hal itu. Mudah sekali membaca raut Delbar. Bisa dipastikan gadis itu sedang dilema. “Jadi?”
“Dia bilang ingin mengenalkanku sama sahabatnya,” jawab Delbar akhirnya, “tentu saja aku menolak,”
“Kenapa?”
“Karena aku nggak suka …”
“Yakin?” sela Reen sangsi, “bukan karena kamu menunggu si Suara Merdu itu, ‘kan?”
Delbar terbelalak tak percaya. Kawanya benar-benar gila dalam menebak. Selalu saja tahu isi hatinya. Padahal ia sendiri benci mengakui hal tersebut. Kenyataannya itulah yang terjadi. Mengharapkan lelaki itu datang kembali. Seperti merindukan kedua orang tua yang tak akan datang menemuinya.
“Kalau seandainya lelaki itu sudah menikah, atau memiliki kekasih. Bagaimana?” tanya Reen sembari menelisik keterkejutan wajah Delbar, “bukannya sia-sia?”
Yang dikatakan Reen ada benarnya juga. Bisa saja pria itu sudah menikah. Atau malah mempunyai anak yang lucu. Lalu, ia harus bagaimana. Tetap berada pada zona ini pun tak ada gunanya. Dirinya tak bisa berkembang. Masih terpaku dalam masa lalu sama saja menanti sebuah kepastian yang tidak ada hasilnya. Waktu akan terbuang sia-sia. Merugikan diri sendiri, bukan.
“Terus?”
“Kenapa tidak mencobanya?” ujar Reen sembari bangkit, “tak ada yang salah. Kalaupun tak cocok kamu bisa bicara baik-baik dengan kakakmu. Aku yakin dia tidak akan sembarangan memilih lelaki untukmu,”
“Tapi …”
“Jangan banyak memikirkan kata itu,” potong Reen mendekat ke aranya. Berdiri di depan Delbar. Sama –sama melihat ke langit malam. “Karena itu akan semakin membuatmu ragu. Percayalah dan coba bicara baik-baik. Jangan pernah ada kata penyesalan dikemudian hari.”
Reen benar. Mungkin ini semua tak terjadi kalau mereka bicara dengan terbuka. Dirinya percaya sang kakak akan melakukan apa saja untuk kebahagiannya. Kepergiannya kala itu pun karena belajar tentang perusahaan yang ditinggalkan orang tua mereka. Dulu, ia sangat kecewa. Marah dan benci pada sang kakak. Tapi semakin ke sini, Delbar sadar. Itu semua dilakukan untuknya.
Kedua sahabat tersbeut menatap langit malam dengan pikiran yang berbeda. Delbar berjanji akan meminta maaf pada sang kakak karena sudah keterlaluan. Masalah perkenalan bisa diatur nanti setelah sang kakak mau mendengarkan ucapannya.
Delbar tersenyum senang. Malam ini ia bisa tidur tenang. Karena Reen membantu keruwetan otaknya. Ia sudah mendapatkan jawaban atas semua pertanyannya. Akan tetapi, netranya setia menatap cantiknya lukisan malam. Seindah senyuman yang terbit dari bibir manisnya.
Alam selalu bisa membuatnya tersenyum. Sama seperti lelaki tersebut. Entah mengapa belakangan hari ini ia memikirkan mantan sahabatnya. Sosok yang pernah mengisi hari dan juga menuliskan cerita indah bersama. Karena sebuah kesalah pahaman, berujung perpisahan. Meninggalkan penyesalan yag melekat dalam jiwa Delbar Neysa.