Lelaki tersebut masih setia memandang pijaran cahaya dalam pekat malam. Kepalanya mendongak. Menatap indah lukisan alam petang ini. Sedangkan tangannya menggenggam cangkir terasa dingin. Tubunya besandar pada sofa yang memang ditaruh pada balkon aparteman. Dari sini ia bisa puas melihat bintang dan juga rembulan. Sembari mendengarkan sebuah lagu yang entah sejak kapan menjadi favoritnya. Sesekali ia ikut bernyanyi. Membuat teringat akan seorang gadis yang sudah lama tak berjumpa. Bohong kalau ia bilang tak merindukan. Nyatanya, ia berusaha melawan diri sendiri untuk melupakan perempuan tersebut. Sosok wanita yang pertama kali bisa menembus benteng pertahanan hatinya.
Dan kini, pikirannya bercabang. Mengingat permintaan sahabatnya yang tak mungkin ditolak. Bisa saja ia mengelak atau tak menerima tawaran gila itu. Namun melihat sinar harapan yang tak mungkin ia abaikan begitu saja. Ia dilema. Terjebak dalam keraguan diri sendiri. Apa salanya mencoba. Lagian ia tak mungkin terpaku pada gadis masa lalunya, ‘kan. Akan tetapi rasanya sangat sulit. Ia benci harus memulai dari awal. Kenalan, jadian dan putus. Selalu saja itu siklus yang terjadi. Ia muak. Maka dari itu, yang ia inginkan kenalan mau serius, oke. Kalau tidak, ia akan mundur teratur. Simple, bukan.
Namun, sahabatnya tak bisa memutuskan hal tersebut. Tak tahu apa adiknya mau atau tidak. Dan ia benci berada dalam posisi seperti itu. Di mana ia berada pada tahap abu-abu. Menanti kepastian yang pada ujungnya membawa duka.
“Ayolah, Gan,” pinta Nevan berulang kali, “cuma kamu yang aku harapkan,”
Ganda menggeleng, “Kamu kan tahu sendiri …”
“Iya,” sela Nevan lirih. Sangat sulit untuk meruntuhkan prinsip sahabatnya. Namun hanya lelaki itu yang pantas untuk adik semata wayang. “Kenalan dulu aja ya,”
“Kenapa harus aku?” tanya Ganda penasaran. Bagaimana tidak, lelaki itu menghubunginya untuk membicarakan masalah serius. Ia kira terjadi sesuatu pada usaha mereka. Namun yang didengar sungguh membuatnya ingin mengumpat. “Kenapa nggak yang lainnya?”
“Siapa?” Nevan bertanya balik, “Otodan sudah menikah. Sedangkan Mando sudah ada calonnya. Tinggal kamu yang tersisa,”
Ia mengerjap tak percaya, “Sejak kapan Mando punya kekasih?”
“Nggak tau,” Nevan baru mengetahu dari Otodan yang sekarang menjadi adik ipar dari Amando Sauqi. Tersisa Ganda yang masih sendiri. “Mau ya?”
Ganda membuang napas dalam. Menatap sahabatnya saksama. Ia ingin tahu kenapa lelaki di hadapannya tetap pada pendirian untuk mengenalkan sang adik. Mereka berempat memang sahabat sejak lama. Karena orang tua mereka pun menjalin kerja sama. Akan tetapi tak pernah mengenal adik satu sama lain. Sebab mereka sepakat untuk tak mengekspos sang adik tersayang. Namun kali ini, kenapa Nevan seolah berharap sekali padanya.
“Ada masalah?”
Sesuai tebakannya. Lelaki itu mengangguk sembari menceritakan sedikit tentang sang adik. Ia menyimak semuanya. Tanpa menyela sedikitpun. Agar mengerti kondisi apa yang tengah dialami sahabatnya.
“Lalu …”
“Aku berharap kamu bisa membahagiannya,”
Ganda tak bisa. Ini terlalu berat untuknya. Ia saja tak bisa membuat hatinya gembira. Apalagi orang lain. Lagian mereka tidak saling kenal. Pasti sulit untuk memahami satu sama lain. Dirinya pun bukan lelaki yang yang gampang berbaur dengan banyak orang.
“Tapi …”
“Aku percaya kamu bisa,” sela Nevan menyankinkan, “kalau dipikir kalian itu mirip,”
“Dari mana?”
“Suara,” Nevan baru ingat. Ganda memiliki suara yang lembut dan penuh tenanga. Bila disandingkan dengan adiknya pasti akan viral. Karena suara mereka benar-benar bagus dan indah. “Ini dengarkan rekaman adikku nyanyi,”
Ganda terpaku. Seolah ia sangat mengenal vocal tersebut. Menyeretnya pada satu nama. Sosok di masa lalu yang pernah menorehkan cerita dalam perjalanan hidupnya. Ia menggeleng. Tak mungkin gadis itu. Mungkin suara mereka hampir mirip. Sudah lama pula ia tak bertemu. Jadi bisa dipastikan itu bukan gadis tersebut.
“Bagus, ‘kan?”
“Iya,” jawab Ganda jujur, “suaranya berkarakter kuat,”
“Apa aku bilang!”
Ganda memutar bola mata malas. Lalu apa hubungannya dengannya. Tak ada sama sekali. Ia memang mempunyai suara yang lumayan bagus kata orang-orang. Sering kali mereka main bersama. Dan ia selalu bagian gitar sama vokalis. Tapi bukan bearti mereka sama, ‘kan.
“Boleh lihat fotonya?”
Nevan menolak, “Ketemu saja. Lihat yang asli lebih memikat dari pada gambarnya.”
Ganda tersenyum kecut. Setidaknya kalau ia bisa melihat paras akan menjadi pertimbangan. Namun lelaki itu malah enggan menunjukkan. Bila tak sesuai ekspetasinya dan jauh dari kriterianya bagaimana. Ia pria pada umunya. Yang melihat dari waja terlebih dahulu.
Cantik relatif. Semua perempuan di Dunia ini tercipta dengan paras rupawan. Namun bila menggemaskan dan imut akan menjadi poin lebih untuknya. Apalagi dengan poni depan. Pasti terlihat gregetan. Sama seperti gadis masa lalu. Dan pada akirnya kriterianya jatuh seperti perempuan itu. Bagaimana bisa maju kalau dalam pikirannya bersarang satu nama.
Terjebak akan bayangan masa lalu memang tak menyenangkan. Yang ada menghambat langkah untuk maju. Menghapus dalam ingatan pun tak mungkin. Sebab yang telah terjadi terukir semua dalam hati dan juga alam bebas. Di mana mereka ditemukan dan dipisahkan.
Ia trak yakin bisa membahagiakan orang lain. Sebab untuk bisa membuat dirinya tersenyum saja susah. Apalagi mengukir seringai bahagia pada raut wajah orang lain. Mana bisa?
“Mau, ya!”
“Aku pikirka lagi,” putus Ganda pada akhirnya. “Tapi aku nggak janji,”
Nevan mengerti, “Oke! Tak masalah.”
Ganda menaruh gelas pada meja sampingnya. Kenapa coba ia bilang seperti itu. Sekarang mundur pun tak mungkin. Yang ada ia bingung alasan apalagi. Mana lagi adiknya sendiri pun terlihat agak aneh. Seperti ada sesuati yang disembunyikan. Ia memang sangat dekat dengan si kecil. Dan mungkin nanti ia kan bertanya.
Entah mengapa kali ini ia ingin bersenandung ria. Mengambil gitar yang sedari tadi berada di sebelah. Mengenjreng dengan not yang disukai. Ia suka memainkan gitar bila sedang sedih atau banyak pikiran. Menyibukkan diri dengan senar lebih baik dari pada memikirkan dia yang tak pernah kembali kepadanya.
Seharusnya ia sadar sejak awal hubungan mereka hanya sebatas sahabat. Tak lebih. Namun pada nyatanya, ia malah menaruh hati. Melabuhkan cintanya pada seseorang yang sudah diisi orang lain. Kecewa, tentu saja. Marah itu yang terjadi. Karena ketika perempuan itu sedih selalu lari dalam pelukannya. Tanpa ia sadari. Ternyata dirinya hanya sebagai tempat pelampiasan. Walaupun ia sadari, wanita itu tak bermaksud demikian. Akan tetapi tetap saja. Rasanya menyakitkan.
Ia mencintai gadis itu, dan perempuan tersebut jatuh pada pesona kawannya. Ia bisa apa selain mundur. Tak ingin menjadi pihak ketiga. Padahal sejatinya ia tak rela. Tapi itu yang harus dilakukannya. Bila ia tak mau terluka lebih dalam. Karena ia tidak akan sanggup untuk bangkit lagi.
Menghilang salah satu cara untuk melepaskan semuanya. Cukup sampai di sini. Tetap saja ia tak bisa melupakan kenangan mereka yang terukir indah. Terpaku akan bayang-bayang nostalgia yang tak pernah usai. Dan tenggelam pada lautan kerinduan yang ia buat sendiri.
Itulah mengapa ia memilih mengubur semuanya. Tak membiarkan rasa itu bangkit kembali. Butuh perjuangan yang sangat lama untuknya bisa pada tahap melepaskan. Karena sejatinya cinta yang tak bisa digenggam lebih baik dibiarkan berlalu begitu saja. Sebab sama saja dengan mengalkan air pada telapak tangan. Mustahil. Yang ada air tersbut menghilang lewat celah jari-jari tangan.
Memikirkan gadis itu berada di mana, sedang apa, masih ingatkah dengan ia. Membuat hatinya meradang. Terbuka lagi luka lama yang tak pernah sembuh. Karena dirinya sendiri tak mau mengobati. Membiarkan semua berjalan begitu saja. Menjadikan dirinya sosok lelaki yang lebih tertutup dan pendiam. Dan ia benci akan hal tersebut.
Tapi mau bagaimana lagi. Kalau dirinya saja tak mau bangkit. Terpaku pada masa lalu yang bahkan sekarang ia tak tahu kabarnya.
Terkadang, cinta membuatnya lupa akan segala hal. Mematikan setiap indra dalam tubuh. Memanipulasi pikiran bahwa semua akan baik-baik saja dan indah pada waktunya. Akan tetapi yang terpapar di hadapan hanya ada duka dan kecewa.
Karena rasa itu penuh dengan misteri. Sekali terjerat oleh pesona mereka. Semakin sulit melepaskan. Untuk berpaling saja membutuhkan waktu yang lama. Apalagi memulai yang baru. Sangat menyulitkan.