“Kak …”
Ganda menoleh. Terlihat seorang perempuan memakai piyama panjang warna biru tua berdiri pada pintu geser. Ia tersenyum dan menepuk sofa sebelahnya. Sudah lama mereka tak mengabiskan malam bersama. Mungkin kali ini akan menjadi waktu mereka berdua. Kakak beradik tinggal berdua di aparteman pinggir kota. Bisa saja mereka bernaung pada hunian yang agak besar. Akan tetapi adiknya menolak. Memilih tinggal di apartemen saja. Lagian lebih aman juga meninggalkan gadis kecilnya di sini. Dari pada di sebuah perumahan yang rawan akan kejahatan.
“Kakak belum tidur?”
Ganda menggeleng, “Kamu sendiri?”
“Nggak ngantuk,”
Mereka terdiam sesaat. Menikmati udara malam yang menyapa tubuh. Menghirup kebebasan alam yang terasa menentramkan. Larut dalam pemikiran masing-masing. Dan seketika semua menjadi hening.
Ganda memilih menaruh kembali gitar. Melirik sejenak adiknya yang terlihat menikmati embusan angin dengan mata tertutup. Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Gadis kecil disampingnya tumbuh dengan cantik dan mempesona. Ia ingin tahu apa adik bungsunya sudah memiliki orang special. Atau malah sekarang sedang dekat dengan lelaki lain. Memikirkan melepaskan keluarga satu-satunya yang ia miliki terasa sesak. Apa ini yang dirasakan Mando ketika merelakan sang adik menikah.
“Kak?” tanya gadis manis itu membuka mata.
“Iya …”
“Apa jatuh cinta itu menyakitkan?”
Ganda terdiam sejenak. Menelisik ke dalam bola mata sang adik. Tak biasanya membicarakan tentang ini. Apa benar adiknya sudah terserang virus merah jambu. Kalau iya, apa yang akan ia lakukan. Mencari tahu siapa lelaki tersebut. Atau menyerahkan semua keputusan pada sang adik. Dan mengawasinya dari jauh.
“Kamu tahu rasanya jatuh itu bagaimana?” tanya Ganda mendapatkan anggukan, “dan itu berlaku pada cinta. Sakitnya tak terlihat namun bisa dirasakan. Dan sulit untuk disembukan. Benar, ‘kan?”
Gadis itu mengangguk mengerti. Mungkin itulah yang ia rasakan saat ini. Merasa nyeri dalam d**a. Akan tetapi tidak ada luka yang terpampang dalam tubunya. Hanya jiwa yang dapat mengerti dan mengetahui.
“Kenapa?” Ganda mulai curiga. Kediaman gadis tersebut menyimpan banyak makna. Ia benci bila disuruh menerka-nerka. Sebab dirinya bukan cenanyang yang tahu isi pikiran orang lain.
“Hanya tanya aja,” alibi yang sangat bagus untuk menutupi perasaannya, “kakak sendiri ada apa? Suka sekali dengan lagu Langit Abu-Abu,”
Ganda mengedikkan bahu tak tahu alasan pastinya. Yang ia rasakan ketika mendengar lagu itu adalah sesuai dengan apa yang dialaminya. Dan juga mengingatkannya pada gadis masa lalu. Sebuah lagu yang ia persembahkan saat perpisahan itu terjadi.
Persahabatan antar lelaki dan perempuan itu terjalin karena murni pertemanan atau terdapat sebuah rasa terpendam. Dan ia berada pada opsi kedua. Awalnya hanya kawan, lama-lama rasa terlarang itu muncul. Berulang kali ditepis tak berhasil. Malah terpatri semakin dalam. Menenggelamkannya dalam zona pertemanan.
Ganda menghela napas dalam, “Kalau Kakak berkenalan dengan seorang perempuan bagimana?”
Mungkin mendengar saran dari sang adik tak ada salahnya. Bagaimana pun ketika ia memilih calon istri syarat utama harus bisa menerima gadis kecilnya. Bahkan mau diajak tinggal bersama. Sebab ia tak tega meninggalkan adiiknya sendiri.
“Siapa?” tanya sang adik antusias, “nanti ajak aku juga ya!”
Ganda membuang napas dalam. Melihat binar bahagia pada bola mata gadis tersebut. Ia yakin tak akan ada masalah. Akan tetapi, hatinya masih bimbang. “Adiknya sahabat Kakak. Tapi …”
“Kakak ragu?”
Ganda mengangguk. Terlalu banyak pertimbangan dalam jiwanya. Ada rasa yang menahan dan melarang. Ia takut malah melukai hati perempuan itu. Karena dirinya saja masih terpaut pada gadis masa lalu. Tapi ia tak bisa mengabaikan begitu saja permohonan Nevan. Terasa ruwet dan juga mbulet.
“Kenapa nggak dicoba?”
Ganda tersenyum masam, “Emangnya permainan?”
“Bukan juga, sih,” kesal sang adik. Bicara dengan kakaknya itu membutukan stok sabar yang banyak. Terlalu kaku, ruwet dan apa adanya. Selalu blak-blakan. “Apa salahnya coba?”
Tidak ada yang salah di sini. Hanya waktunya tidak tepat. Lalu kapan saat yang pas. Sampai ia kakek-kakek karena mengharapkan yang belum pasti. Bisa saja gadis masa lalunya sudah mempunyai suami. Bahkan anak yang lucu. Sedangkan dirinya. Masih terpaku dalam kenangan lampau yang tak bisa kembali lagi.
“Sekarang kenapa Kakak takut? Apa ada seseorang yang sedang Kakak tunggu?”
Adiknya selalu peka. Mengerti akan kebimbangan hatinya. Ia bersyukur masih mempuyai Vi. Satu-satunya keluarga yang ia punya. Di dunia ini hanya Vi dan ketiga sahabatnya yang menjadi saudaranya.
“Menurutmu?”
“Kakak terjebak dalam zona persahabatan, bukan ?” tanya Vi sembari menatap langit malam, “dan itu dulu. Sekarang Kakak sudah nggak pernah bertemu dengannya, ‘kan?”
Ganda terbelalak tak percaya, “Kamu tahu dari mana?”
Vi tertawa lepas. Ternyata sang kakak lupa. Seingatnya dulu, Ganda pernah sakit panas. Demamnya tinggi sekali. Dalam tidur mengumamkan satu nama. Asma yang sampai detik ini tak ia ketahui wujudnya. Sang kakak begitu tertutup. Akan tetapi yang ia tahu, perempuan ini sahabatnya saat mendaki. Keren, mereka berkenalan saat di alam. Pasti ceritanya nanti akan abadi.
“Kalau tidak salah namanya,” Vi berusaha mengingat, “Ney … Neysa! Benar, bukan?”
Ganda terkejut. Tak menyangka sang adik akan menyebutkan nama itu. Yang menjadi pertanyaan terbesarnya, dari mana gadis itu mengetahui. Seingatnya tak ada yang mengerti. Bahkan ketiga sahabatnya pun tak tahu menahu. Lah, ini. “Kamu kok bisa tahu?”
“Kakak sering menggumamkan nama itu tanpa sengaja,” jawab Vi alakadarnya, “jadi siapa dia?”
Ganda membuang napas dalam. Haruska sang adik tahu. Tapi buat apa juga ia menyembunyikannya. Tak ada gunanya. Mungkin dengan beercerita ia mendapatkan jalan keluar dari ruwet pemikirannya.
“Neysa … dia sahabat Kakak waktu mendaki. Awalnya kenal saat Kakak ikut gabung dalam kelompoknya. Waktu itu, kenal sama leader-nya. Jadi, dari pada naik berdua sama Asta. Akhirnya kita gabung, deh,”
“Terus?” tanya Vi penasaran, “kok bisa kenal?”
“Ya, biasa. Waktu malam nongkrong bersama kenalan deh,”
“Serius?” Vi tak percaya begitu saja. Sang Kakak kalau mau cerita setenga-setengah. Menambah rasa ingin tahunya. Pasti ada kelanjutanya.
“Nggak percaya, yaudah.”
Kan, nyebelin. Kenapa nggak langsung cerita gitu. Ia kan penasaran bagaimana sosok Ganda Abel berkenalan dengan perempuan. Karena setahunya sang kakak sangat membatasi diri dengan kaum hawa. Alasannya simple sih, lelaki itu tak ingin melukai perempuan. Sebab Ganda mempunyai adik yang harus dijaga dan lahir dari rahim wanita. Maka dari itu pantang baginya menggoreskan duka.
Selama hidup Ganda hanya sosok Neysa yang ia kenal. Tak ada wanita lain yang menarik atau membuatnya ingin mendekati. Ia takut bila kehadirannya menjadi harapan. Yang akhirnya patah karena dirinya mashi terpaku pada masa lalu.
Alasan itulah yang mengganggu dirinya untuk menyetujui permintaan Nevan. Membuat orang gembira itu pekerjaan yang sangat sulit. Sebab dirinya tak mengerti tentang perasaan wanita. Bahkan detektif terkenal sepanjang masa di London pun tak bisa memecakan kasus tersebut. Karena Sherlock Holmes tidak bisa mencerna perasaan orang yang dicintainya.
Apalagi dirinya sendiri yang tak pandai beredukasi. Sangat menyebalkan memang. Alibi itulah yang selalu ia pakai untuk membatasi diri sendiri. Ia akan mengenal perempuan saat hatinya suda merasa mantap untuk dijadikan pendamping hidup. Bukan untuk ditunjukkan ke semua orang kalau ia mempunyai kekasih bila pada akhirnya berhenti di tengah jalan. Bukankah itu sama saja menancapkan pisau pada hati wanita. Mengajak tanpa ada tujuan yang jelas.
“Terus giamana, Kak?”
“Nggak tau,” jawab Ganda ambigu, “lihat saja nanti.”
Dirinya tak ingin memberikan balasan yang akan menambah beban pikian. Biarkan berjalan apa adanya. Kalaupun mereka ditemukan. Pasti itu kehendak dari pemilik alam ini. Dan ia tak akan bisa menolak bila tangan sang Kuasa beraksi, bukan.
Ganda hanya berharap, semua akan indah seperti bintang yang menyinari malam. Setidaknya bisa menjadi penerang di kala gelap gulita. Seperti dulu. Ia juga menjadi cahaya dikala sinar cerah menghilang dari kehidupan gadis masa lalu.
Bukan cinta kalau tak ruwet. Sebab didalamnya penuh dengan rasa bahagia, sedih, kecewa, dan senang melebur menjadi satu. Membuat sebuah kisah yang menghiasi perjalanan hidup seseorang, Semua pasti pernah merasakannya. Bahkan tak jarang yang terjebak d dalam sana. Membuat kedua mata buta akan kenyataan yang ada. Karena cinta penuh dengan misteri yang tak bisa dipecahkan.