“Dari mana saja kamu?” sebuah suara mengentikan langkah gadis yang barus saja memasuki rumah, “sudah jam berapa ini?”
Delbar memutar bola mata. Melirik sekilas jam pada pergelangan tangan. Masih pukul setengah dua belas malam. Terlalu dini untuknya kembali pulang. Biasanya ia sampai diatas jam dua dini hari. Atau matahari baru terbit ia baru datang. Dan sekarang, kenapa harus ditungguin sepertii ini.Lagian ia bukan anak kecil lagi. Tak berlaku lagi jam malam untuk gadis seusianya.
“Delbar!” teriak lelaki tersebut memanggil nama sang adik yang berlalu begitu saja tanpa susah payah menghentikan langkah, “apa kamu tidak menganggap Kakak ada?”
Perempuan itu akhirnya berhenti. Menoleh sejenak pada sang kakak yang sudah berdiri tegak. Terlihat aura kemarahan dalam diri Nevan. Tapi, ia tak peduli. Buat apa pria itu bersusah payah menunggu bila pada akhirnya ia ditiggalkan sendirian lagi. “Kenapa?”
Nevan menggeleng tak percaya atas sahutan sang adik, “Kamu bilang kenapa …”
“Kenapa Kakak di sini? Bukankah seharusnya pergi ke luar kota. Atau menghabiskan waktu di kantor?”
Sindirian tegas menampar hati Nevan. Kalimat dingin tersebut terasa menusuk jantung. Lelaki itu diam seribu bahasa. Tak bisa mengelak atau menjawab. Ia sudah kehilangan waktu banyak bersama sang adik. Belum lagi masalah beberapa tahun kemarin yang menguras seluruh energi dan juga pikirannya. Ia sangat menyesal meninggalkan Delbar. Tapi, itu yang bisa ia lakukan agar nama sang adik tak muncul di luar sana. Sebab banyak orang luar yang tak suka keberadaan mereka. Sebisa mungkin ia menyembunyikan Delbar.
“Kakak …”
“Kenapa baru sekarang memperhatikan Delbar?” sela perempuan itu lirih. Tak tahan dengan rasa sesak dalam d**a. Nevan adalah segalanya. Tidak ada yang bisa menggantikan pria itu dalam hati Delbar. “Kenapa tidak dari dulu saja?”
Nevan terpaku. Selama ini memang dirinya jarang mengabiskan waktu bersama Delbar. Tapi bukan berarti lelaki menghiraukan sang adik. Namun ada permasalahan yang membuat hidupnya ruwet dan penuh dengan misteri.
“Maaf …”
Delbar tertawa kecut. Sudah bosan ia mendengar kalimat itu. Tak ada kosa kata lain yang Nevan punya kah. Seolah di sini ia berperilaku egois. Tidak memperhatikan perasaan sang kakak. padahal ia sendiri pun merasa tertekan. Ingin sekali memeluk tubuh tegapnya. Namun hubungan mereka tak seperti saat orang tua masih ada.
Dulu mereka sangat dekat. Sang kakak bisa menjadi sahabat sekaligus penjaganya. Lelaki yang akan pasang badan pertama kali saat ada orang ingin melukai. Mereka sering cerita bersama dan menghabisakan malam dengan bersantai atau bernyanyi. Nevan memainkan gitar. Mengiri Delbar bernyanyi. Dari sang kakak pula dirinya pintar bermain alat musik. Nevan mengajari gitar, piano, bas dan drum. Yang paling Delbar suka adalah gitar dan piano. Bahkan demi sang adik, lelaki itu rela mengurangi uang jajan untuk membuat studio mini di dalam rumah. Agar Delbar nyaman dan kapan pun bisa bermain musik. Karena ada orang yang bilang, musik dapat memperngaruhi mood. Menyegarkan pikiran yang ruwet. Dan tentu saja sebagai teman di kala sepi dan sendiri.
Nevan juga selalu memperhatikannya. Apapun yang ia inginkan selalu dituruti oleh sang kakak. Yang paling membekas adalah mereka pernah mengabiskan malam bersama. Waktu itu Delbar merasa patah hati. Ia menyukai teman semasa sekolah menengah pertama. Akan tetapi lelaki itu memilih saabatnya. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Hanya menangis semalam di pundak sang kakak. Padahal saat itu sekadar perasaan anak kecil. Tapi sang kakak menghiburnya dan menemani sampai besoknya terserang demam. Sebab semalaman mereka berada di teras kamar. Kejadian yang membuat mereka tertawa terbahak-bahak. begitu bodoh sampai tidur di luar tanpa selimut. Membiarkan raga terserang angin malam yang kuar biasa menusuk. Akan tetapi, mereka tak bangun. Jutru semakin terlelap.
Perjuangan Nevan untuknya memang luar biasa. Mereka saling melengkapi dan juga menyanyangi. Namun semua berubah tatkala kedua orang tua mereka meninggal. Sang Kakak memilih pergi ke luar negeri untuk melanjutkan sekolah. Menjual rumah kenangan mereka. Lalu membeli hunian yang sama seperti dulu. Tidak besar dan juga mewah. Akan tetapi, rumah minimalis dengan halaman luas.
Awalnya, Delbar kecewa. Banyak kenangan dalam rumah tersebut. Namun sang kakak melelang tanpa memberitahu. Dan pindah dengan seenaknya. Seolah suaranya tak ada arti. Delbar benci. Lalu dirinya ditinggalkan sendiri dalam suasana baru. Menjengkalkan memang. Tapi apa yang bisa ia perbuat. Hanya bisa menurut tanpa berbuat apa-apa. Menolak pun tak bisa. Sebab bagaimana pun sang kakak satu-satunya saudara yang tersisa.
Dan kini, lelaki itu datang. Memerintah ini dan itu. Seolah mereka saling mengenal dan akrab seperti dulu. Nyatanya, sekarang mereka dua orang yang berbeda. Ada jarak tak kasat mata telah terbuat. Hingga hubungan merenggang.
Waktu berlalu begitu cepat. Merenggakan hubungan mereka semasa anak-anak. Delbar benci mengakui hal tersebut. Namun ia merindukan kehangatan sang kakak. Hanya lelaki itu yang ia butuhkan di Dunia ini.
“Kakak …”
“Delbar capek, Kak,” sela Delbar pada akhirnya. Tak ingin berlama-lama menanggapi sang kakak. Ia takut kecewa lagi. Dan semakin membuat jarak diantara mereka. “Mau istirahat dulu,”
“Tunggu!” cegah Nevan mengurungkan langkah sang adik, “mau kemah bersama?”
Sontak Delbar memutar tubuh. Menatap Nevan lekat-lekat. Lelaki itu serius mengajaknya. Bukan karena rasa bersalah atau malah mengenalkannya dengan sang teman. Bisa jadi, ‘kan. Karena pria itu mempunyai banyak cara untuk menjalankan rencananya.
“Nggak mau …”
“Beneran?” sela Delbar sangsi, “apa ini caranya Kakak mempertemukan aku dengan dia?”
Nevan mengedikkan bahu, “Menurutmu?”
“Itu yang terjadi, ‘kan?”
Nevan diam. Biarkan sang adik menebak. Ia tahu Delbar suka mendaki. Karena dulu mereka sempat kemah bersama. Lelaki itu masih ingat bagaimana antusiasnya sang adik bermalaman di alam. Dan sekarag ia mencoba cara itu kembali. Agar hubungan mereka dekat kembali.
Sebenarnya ini saran dari Ganda. Waktu lelaki itu tanya bagaiaman cara memasuki hati adiknya kembali. Berbagai usaha sudah ia lakukan. Namun hubungan mereka semakin merenggang. Sebab pasti ada percikan perdebatan. Yang menghasilkan hubungan mereka menjauh.
“Kenapa nggak coba melalui hobi,” ujar Ganda kala itu.
“Bermusik?”
“Bisa jadi. Tapi apa tidak ada yang lain? Misalnya kegiatan yang pernah kalian lakukan pada masa kecil,”
Nevan terdiam sejenak. Mencoba mengingat kembali saat mereka masa kanak-kanak. Tidak banyak kenangan yang tercipta. Hanya sebuah kebersamaan yang sekarang jarang mereka lakuakan. Namun ada suatu hal yang membuat adiknya tersenyum bahagia.
“Kemah!”
Ganda mengernyit, “Hah?”
“Dia suka sekali dengan alam. Pasti suka kalau aku ajak kemah seperti dulu.”
Nevan begitu antusias. Merencanakan rekreasi ala mereka. Dari Ganda pula ia bisa menentukan mengajak ke mana. Dari segi perjalanan, dan juga tempatnya. Mungkin di sana cocok. Lagian mereka tidak bisa lama-lama. Karena kerjaan Nevan terlalu padat. Hanya tiga sampai empat hari bisa ia usahakan. Semoga saja sang adik mau dan tak banyak tanya.
“Kak …”
Nevan tersenyum menenangkan, “Iya?”
“Beneran ngajak dia?”
“Nggak, Sayang,” jawabnya sembari berjalan mendekati sang adik, “kita berdua saja, oke!”
Delbar tak percaya. Ia merasa ada yang aneh. Tak mungkin sang kakak rela meluangkan waktu untuknya. Pasti ada alasan yang tersembunyi.
“Kamu masih tidak percaya?”
Delbar mengangguk, “Aku boleh ngajak teman?”
Sudah Nevan duga. Delbar pasti ragu. Semua terlalu cepat. Harusnya ia tak mengajak langsung seperti ini. Namun bagaimana lagi. Ia tak bisa bertele-tele. Langsung pada pokok pembicaraan itu lebih baik dari pada menyiapkan naskah prolog yang pada akhirnya menyamarkan tujuan.
“Gimana?”
“Cowok …”
“Cewek, Kak,” sergah Delbar sebelum sang Kakak berpikiran macam-macam, “nggak masalah, ‘kan?”
Nevan mengangguk, “Tentu saja. kita berangkat Kamis dan pulang hari Minggu. Mau?”
Tentu saja Delbar menerima itu. Jarang-jarang sang kakak mengajak kema. Walaupun empat hari. Tak masalah. Ia juga sudah ingin menghirup udara alam. Pasti terasa menenanggkan. Semoga saja cuaca bersahabat untuk kali ini.
Angan kecil mulai berdatangan pada keapalanya. Berharap semua berjalan semestinya. Sudah lama sekali ia yang berkemah. Sejak kejadian waktu itu. Dirinya tak pernah lagi mendaki. Atau sekedar bermalaman di amal bebas pun tak ia lakukan. Walaupun hatinya ingin sekali merasakan ketenangan alam. Namun ia pendam. Takut akan kenangan itu muncul kembali.