Delbar memasuki kamar dengan senyum merekah. Tak menyangka saja sang kakak akan meluangkan waktu dengannya. Sebenarnya ia hanya ingin berdua saja. Namun takut nanti di sana suasana semakin aneh. Bagaimana pun ini perjalanan pertama mereka setelah beberapa tahun saling menjauh.
Walaupun dirinya harus menyiapkan jiwa dan juga hati. Kembali bertemu alam akan membawa dirinya larut akan masa lalu. Penyesalan yang sampai sekarang menghantui Delbar. Akan tetapi, ia abaikan semua. Berdoa semua akan berjalan sewajarnya. Alam memang memiliki kuasa membuka cerita masa lampau. Tetapi tetap saja. Semua telah berlalu. Yang tersisa hanya kenangan dan kisah usang. Tak pantas untu diingat lagi.
Meskipun otaknya berputar ke mana mana. Tapi mata gadis itu fokus membaca balasan pesan dari sahabatnya. Berharap ada yang mau menemani. Bukan jawaban yang masuk melainkan dering telepon pada layar tertera nama Nasreen.
“Hallo …”
“Maaf,” sela Reen di seberang sana, “aku nggak bisa,”
“Kenapa?” tanya Delbar yan g membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Biasanya Reen selalu antusias bila diajak kemah atau mendaki dari pada Vi atau Riani. Sedangkan untuk mengajak Riani itu tak mungkin. Yang ada nanti dirinya jadi obat nyamuk pasangan halal tersebut. Mereka enak bisa leluasa berduan. Lah, dirinya. Bisa apa coba. Kalau Vi, kemungkinan kecil mau. Sebab perempuan itu enggan pergi ke alam bebas. Lebih suka menghabiskan waktu di kamar dari pada menikmati udara luar yang bebas dan menenangkan. Lalu, siapa yang mau menemaninya. “Emangnya kamu ada acara apa?”
Terdengar hela napas di sana, “Ada urusan yang sangat penting. Coba kamu ajak Vi …”
“Dia bakalan nolak, Reen!” sela Delbar sembari mengacak rambutnya, “kamu tahu sendiri, ‘kan?”
“Emang sudah coba tanya?” Reen bisa memastikan kalau Delbar belum menghubungi Vi. Gadis itu selalu pesimis sebelum mencoba. “Aku yakin Vi bakalan mau,”
“Kok …”
“Sudah,” sela Reen menghentikan ucapan Delbar, “hubungi dia gih. Sudah ya aku tutup dulu.”
Belum sempat menajwab, telepon terputus. Gadis itu menggerutu sebal. Bagaimana bisa Nasreen yakin kalau anak itu mau diajak kemah bersama. Tapi apa salahnya mencoba. Tanpa berpikir lagi, Delbar mengirim pesan. Menanyakan apakah akhir minggu depan ada acara atau tidak. Setidaknya ia masih berusaha. Kalauapun Vi tak bisa, mungkin ini cara Tuhan membuat mereka bersatu kembali. Semoga saja.
Sembari menunggu balasan dari sang kawan, Delbar memilih membersihkan diri terlebih dahulu. Berharap air segar dapat menjernihkan pikirannya. Dan mengurangi sedikit rasa capek pada badan. Seharian ini terlalu banyak pengunjung toko kue. Sehingga ia ikut turun tangan dalam melanyani pelanggan. Setidaknya di sana ia tak merasakan kesepian dan sendiri. Selalu banyak orang yang datang dan para pegawai yang ada setiap waktu.
Membuat kue adalah keahliannya. Ia paling suka jajanan manis. Apalagi kue kering dengan rasa keju akan senantiasa ada dalam lemari kamarnya. Dengan menyibukan diri mencoba beberapa resep baru. Membuat hatinya terisi akan rasa bahagia dan senang. Apalagi kue buatannya terasa lezat dan banyak peminat. menajdi poin penting dalam menumbuhkan semangat dalam jiwa gadis yang menyukai teh hijau itu.
Namun, saat langkah kakinya memasuki rumah. Kehampaan datang menyapa. Hanya kekosongan yang ada. Tanpa ada sesorang yang ia harapkan hadir menemani. Sebenarnya ia tak suka akan keheningan. Namun mau bagaimana lagi. Di dalam hunaian ini hanya ada dirinya. Kalaupun sang kakak datang bisa dipastikan tidak akan berada lama di sini. Paling sibuk dengan urusan kantor dan yang lainnya. Maka dari itu, ia lebih sering menghabiskan waktu di tempat sahabatnya. Untuk mengusir rasa sepi dan juga lenggangnya malam.
Delbar terpaku membaca balasan dari kawab karibnya. Tak menduga kalau Viera menerima ajakannya. Tanpa basa-basi langusung saja menekan tombol telepon. Pada dering kesekian baru terdengar suara salam.
“Kamu serius?” tanya Delbar langsung, “tumben?”
Terdengar decakkan dari sana, “Mau nggak? Kalau keberatan ya …”
“Oke!” sela Delbar sebelum sahabatnya berubah pikiran, “tapi aneh saja …”
“Sesekali tak masalah untuk merasakan kenikmatan alam, ‘kan?” potong Viera, “lagian nggak ada kegiatan juga,”
Delbar mengangguk saja waluapun kawannya tak bisa melihat. Tapi tetap saja. Rasanya aneh sekali kalau Viera menyutujui ajakannya. Ia sangat tahu betul seperti apa gadis tersebut. Hingga pikiran aneh bermunculan dalam otak cantiknya.
“Tapi aku nggak sendirian,”
“Hah?” tanya Delbar tak mengerti, “maksudnya?”
“Aku sama Kakakku,” izin Viera. Lagian ia tak mungkin berangkat sendiri. Yang ada ceramah dari sang kakak. Maka dari itu tadi ia balasnya lumayan lama. Karena menanyakan dulu, kakaknya bisa apa nggak. “Gimana?”
“Nggak masalah,” sahut Delbar. Yang terpenting ia ada temannya, “nanti biar tidur sama Kak Nevan,”
“Oke! Nanti masalah logistik kita bicarakan lagi ya. Udah ngantuk.”
Setelah menjawab salam Delbar tutup teleponnya. Akhirnya, ada yang menemani. Ia tahu kalau Viera mempunyai kakak cowok. Namun tak saling kenal. Bertemu aja tidak pernah apalagi mengetahui namanya. Mereka memang bersahabat. Akan tetapi tertutup untuk masalah pribadi. Bukan karena tak ingin mengenalkan sang kakak. Tapi sintuasi dan kondisi yang tak memungkinkan. Lagian mereka semua mempunyai kesamaan. Sama-sama ditinggal sang kakak setelah kedua orang tua meninggal dunia. Jadi buat apa memperkenalkan mereka yang tengah merantau jauh. Tak ada gunanya.
Jadi, mereka saling mengerti keadaan satu sama lain. Walaupun sekarang jarang bertemu. Tapi komunikasi tetap berlangsung. Kalaupun ada masalah pasti akan berkumpul di apartemen milik Reen. Karena berempat bukan sahabat lagi. Melainkan saudara. Saling mengisi satu sama lain. Menegur dan mengingatkan bila salah melangkah.Karena mereka dipertemukan oleh luka yang sama.
Delbar yakin, Viera sedang ada masalah. Terkadang alam menjadi tempat yang tenang untuk meluruskan segala keruwetan dalam pikiran. Pelampiasan akan kekesalan dalam diri sendiri akan menguap begitu saja dengan udara sejuk yang meneduhkan hati. Karena alam memiliki segalanya. Ketenangan, kedamaian, kesunyian, kehampaan, melebur menjadi satu. Menjelma sebuah tempat yang indah untuk membersihkan jiwa dan raga.
Banyak orang yang bilang, “Buat apa kemah, yang ada badan capek semua,” atau, “nggak ada gunanya naik gunung itu. Nggak seru.”
Bahkan ada yang terang-terangan mengatakan, “Naik gunung atau kemah itu membuang-buang waktu dan juga uang. Nggak berfaedah sama sekali.”
Delbar hanya bisa tersenyum tatkala medengarkan orang-orang berpendapat seperti itu. Dalam hati mengumpat mereka yang tak tahu apa-apa, tapi komentarnya melebihi para ahli. Coba sekali saja kemah, pasti ingin balik lagi. Kalau tak percaya buktikan sendiri. Dan rasakan menyatu dengan alam.
Awalnya ia hanya ikutan sang Kakak berkemah. Selepas itu saat menjadi mahasiswi ikutan pecinta alam. Alasannya untuk mengusir rasa bosan dan sebagai pelampiasan akan kesendirian. Di sana ia memiliki banyak teman dengan solidaritas yang tinggi. Dan juga banyak sekali pengalaman yang telah didapatkannya.
Kegiatan yang paling disuka adalah saat mendaki gunung. Dari situ, Delbar bisa belajar bagaimana menjadi manusia yang tolong menolong dalam keadaan apapun. Berjuang keras agar bisa sampai puncak. Pantang menyerah sebelum mecapai batas akhir.
Dan dari sana pula ia mendapatkan pelajaran berharga serta sebuah kenangan tak bisa dilupakan. Asal muasal cerita masa lalu yang sampai sekarang membelenggu hatinya. Karena alam, suara, dan sosok tersebut saling berkaitan dalam rangkain kisah terindah dalam hidupnya.
Ia berharap sang Kakak tidak mengajak ke tempat itu. Setidakmya ia bisa menghindar dari hantu masa lalu. Yang selalu berkeliaran dalam otak dan perasaan. Sebab waktu ditanya mau kemah di mana. Jawaban Nevan adalah rahasia.
"Kenapa kamu ingin tahu?"
Delbar memutar mata jengah. Dirinya harus bisa memastikan dulu tempat apa yang ingin dituju. Karena sebagian alam memiliki kisahnya. Ia tak ingin mengumpuilkan puzle. Yang pada akhirnya akan melukai diirnya kembali, Sebab ia sama sekali tak menerima kabar dari lelaki tersebut.
Setelah peristiwa di air terjun itu. Mereka berpisah. Tak ada lagi persahabatan diantara mereka. Semua komunikasi putus. Meninggalkan jejak cerita mereka berdua.
"Pengen tahu saja," jawab Delbar alakadarnya, "emang mau ke mana?"
Nevan menggeleng. Tak berniat memberi tahu sang adik. "Nanti juga tahu sendiri."
Delbar mengalah. Tidak sanggup lagi beradu argumen dengan sang kakak. Mending ke kamar sembari menunggu jawaban dari mereka.
Dan pada akhirnya Viera yang besedia. Gadis itu mau merasakan alam bebas. Delbar yakin semua akan berjalan semestinya. Semoga saja,