Ganda menyandarkan tubuhnya pada batang pohon besar. Meluruskan kaki sembari menatap gemerlap bintang bertaburan di angkasa. Sedangkan kedua tangannya bersendekap. Memeluk tubuh terasa dingin. Wajar saja, dirinya hanya memakai sweater biasa. Udara dingin bisa leluasa menembus. Seharusnya ia membawa jaket juga. Namun untuk mengambil saat ini bukanlah waktu yang tepat. Dirinya masih enggan kembali ke tenda. Berada di sini lebih menyenangkan.
Merasakan kesendirian dan dapat mendengarkan nyanyian alam adalah kesukaan lelaki tersebut. Semilir angin berembus halus menerpa wajah tampannya. Ditambah aneka suara binatang yang saling menyahuti. Sungguh malam yang begitu indah. Tak akan bisa ia dapatkan di kota ketenangan seperti ini. namun tetap saja hatinya gelisah. Memimikirkan rentetan kejadian yang baru saja ia alami.
Beruntung sekali ia mengiyakan ajakkan sang adik. Karena memang sudah lama ingin merasakan kembali alam bebas. Tempat di mana bisa memulihkan otak dan tubuhnya. Lokasi yang sangat pas untuk melepas kepenatan. Tentu saja ini adalah hobi yang sudah lama Ganda tinggalkan.
Waktu itu sang adik tiba-tiba mengetuk pintu kamar. Tak biasa gadis itu menemuinya tengah malam seperti ini. Untung saja dirinya belum tidur. Masih ada beberapa kerjaan yang harus diselesaikan malam ini. Agar beberapa minggu ke depan lelaki itu bisa bebas dari beban batas waktu pengerjakan sketsa proyek. Dan tentu saja hari libur ingin mengajak sang adik jalan-jalan ke luar kota. Sudah lama mereka tak pergi bersama.
“Ada apa?” tanya Ganda membuka pintu lebar. Membiarkan adiknya masuk ke dalam kamar dan duduk di kursi kerja.
“Kakak sibuk?” Viera bertanya karena melihat banyak sekali barang yang berserakan di atas meja. Belum lagi kamar sang Kakak yang seidkit berantakan dari sebelumnya. Biasanya lelaki tersebut paling rajin dan rapi daripada dirinya. Bisa dipastikan kakaknya lagi mengerjakan beberapa proyek. Ia jadi ragu mengutarakan keinginannya.
“Nggak juga,” jawab Ganda apa adanya, “kenapa?”
“Boleh izin?”
Ganda mengernyit heran. Tumben sekali meminta persetujuan.“Memangnya mau ke mana?”
“Kemah …”
“Hah?” sahut Ganda tak percaya dengan apa yang telah didengarnya. Matanya menatap lekat gadis tersebut. Tak biasanya gadis itu tertarik bermalam di alam bebas. Sebab ia pernah mengajak. Dan tentu saja penolakkan yang diterimanya. “Kok …”
“Nggak boleh ya?”
“Bukan begitu,” ujar Ganda sembari duduk di atas ranjang. Beradapan langsung dengan adiknya yang sedang menundukkan kepala. “Tumben saja. Ada apa?”
“Temenku yang ngajak,”
“Cowok?”
Sang adik menggeleng, “Cewek. Boleh, ya?”
Ganda menghela napas dalam. Kalau sampai ada lelaki yang berani mengajak adiknya. Bisa dipastikan tak akan diperbolehkan. Berhubung temannya perempuan. Tidak ada masalah untuknya. Namun, otak lelaki itu masih berpikir. Tumben sekali sang adik mau menerima ajakkan tersebut. Pasti ada sesuatu yang disembunyikan gadis tersebut.
“Bagaimana?” tanya perempuan itu hati-hati. Ini adalah pertama kali dirinya kemah dan meminta perkenan sang kakak. Semoga saja kakaknya tak masalah dan turun restu untuk berangkat. Lagian otak gadis tersebut butuh udara segar. Terlalu banyak masalah yang datang bertubi-tubi belakangan hari ini. Dan ia tak berani memberi tahu semua pada lelaki yang kini memakai kaos hitam. “Nggak papa, ‘kan?”
“Temenmu sama siapa saja?” Ganda harus mengetaui dengan jelas. Bersama siapa saja, berapa orang, anak mana dan lain sebagainya. Sebab ia tahu bagiamana rasanya di alam. Apapun bisa terjadi. Dan ia tak ingin sesuatu buruk menimpa adik semata wayangnya.
“Dia sama kakaknya saja,”
“Laki-laki?” terlihat sang adik mengangguk ragu, “berapa hari?”
“Berangkat Kamis pulang Minggu,”
Ganda tersenyum, “Boleh. Asal Kakak ikut,”
“Tapi …”
“Kerjaan sudah beres,” sela Ganda yang mengetahui lirikan mata sang adik, “lagian Kakak juga ingin mengajakmu jalan-jalan kok. Kalau gitu kemah bareng saja sama temanmu. Tanyakan lokasinya di mana, berangkatnya bersama apa sendiri-sendiri. Dan masalah logistikmu nanti Kakak yang mengatur,”
Terlihat binar bahagia pada bola mata indah tersebut, “Makasih, Kakak!”
Ganda menggeleng lemah melihat tingkah laku sang adik. Menatap kepergiannya sampai menghilang di balik pintu. Semua terasa kebetulan. Ia juga rindu dengan udara pegunungan. Setidaknya di sana ia bisa mengenal sahabat adiknya yang tak pernah ia ketahui. Bukan ide yang buruk, ‘kan.
Akan tetapi saat mengetaui siapa kawan karib adiknya. Waktu terasa berhenti. Netranya terpaku pada sosok tersebut. Gadis yang mengoceh panjang lebar di hadapan sang adik karena keterlambatan mereka. Awalnya akan berangkat bersama. Akan tetapi ia masih ada kerjaan sedikit yang mendadak. Akhirnya memutuskan untuk bertemu langsung di sana. Biarkan mereka dahulu yang mencari tempat dan membangun tenda. Jadi dirinya tak perlu bersusah payah membawa tenda. Sebagai gantinya menambah logistik makanan untuk berempat.
Dunianya terasa terhenti seketika. Bola mata tak ingin lepas dari siluet perempuan itu. Tubuhnya membatu seketika ketika mendengar suara itu lagi. Ini bukan mimpi. Ia bertemu kembali dengan sosok tersebut. Dan perjumpaan kali ini masih satu area dengan pertama kali mereka saling berkenalan. Ini bukan kebetulan yang disengaja, ‘kan. Mereka bersua lagi setelah beberapa tahun saling menjauh dan menghilang.
Lebih tepatnya dirinya yang menghindar. Pergi dari kehidupan cewek itu begitu saja. Karena itu cara satu-satunya yang ia lakukan untuk menyelamatkan hati. Tanpa mereka sadari, saling menyakiti satu sama lain. Meninggalkan luka tak kasat mata pada jiwa. Dan sebuah cerita yang belum usai. Menyisahkan kebimbangan dalam diri untuk melangkah ke depan. Karena pada dasarnya mereka telah terjerat rasa yang sama dalam zona pertemanan.
Kini mereka disatukan oleh semesata. Alam mengiring langkah mereka untuk saling mendekat. Memyelami satu sama lain ketika empat bola mata itu bertemu. Terlihat jelas raut keterkejutan dan juga tak percaya. Bahwa mereka akan bertatapan muka di tempat penuh kenangan ini.
Ganda membuang napas lelah. Percuma saja mereka berada pada lokasi yang sama. Kalau pada akhirnya sosok masa lalu tersebut memilih pura-pura tak mengenal dirinya. Ia bisa apa. Hanya mengikuti skenario yang dibuat gadis penggila teh hijau itu. Terserah apa maunya. Yang pasti ia akan terus diam sampai perempuan itu membuka mulut untuk bersuara.
Alam memperkenalkan mereka. Ancala mempersatukan kedua makhluk berbeda jenis tersebut. Dan bukit menjadi saksi perpisahan kedua insan yang tanpa sadar telah menyimpan cinta dalam diri masing-masing. Tanpa saling mengungkapkan dan masih ragu dengan rasa yang singgah dalam hati. Beranggapan kalau hubungan mereka sebatas sahabat tak lebih. Akan tetapi, akhirnya saling menghindar untuk melindungi diri agar tak merasakan sakitnya jatuh cinta.
Setelah sekian lama pergantian musim tak saling bersua. Mereka berpapakan dalam bumi perkemahan. Memilih memulai dari awal. Berkenalan dan berlagak baru pertama kali jumpa. Tanpa mereka sadari menjadi jiwa orang munafik. Menyakiti satu sama lain karena kebohongan yang tercipta.
Mereka bisa menipu banyak orang. Akan tetapi tidak dengan hati. Padahal ada banyak hal yang harus diselesaikan. Membutuhkan pembicaraan yang sangat panjang untuk menemukan titik temu untuk masalah di masa lalu.
Bukankah mereka dulu bersahabat. Tertawa dan saling bercerita satu sama lain. Kenapa sekarang seperti orang yang baru ketemu, tapi sorot mata saling berhubungan satu sama lainnya. Lirikan bola mata menjelaskan ada yang mereka sembunyikan. Ada sesuatu yang ingin diutarakan. Namun mereka memilih memendam sendirian.
Ganda tak bisa berbuat banyak. Memilih diam dan menlihat saja. Tak menyangka sejauh ini alam memainkan takdir mereka berdua. Menghela napas dalam untuk mengisi rongga paru-paru yang terasa kosong. Ia membutuhkan udara segar. Namun tidak ingin larut akan masa lalu. Tetapi dihdapannya sungguh membuka kisah lama yang berusaha ia lupakan.
"Cantik, "kan?" tanya Viera berbisik di sebelah sang kakak, "dari tadi dilihatin melulu,"
Ganda gelagapan. Segitu jelasnya kah mata lelaki itu memperhartikan wanita tersebut. "Jangan ngaco,"
"Beneran," ujar Viera menyakinkan, "kalian terlihat saling mengenal namun pura-pura tak mengetahui satu sama lain. Ada apa, Kak?"
Pria tersebut tersenyum sekilas. Mata adiknya sangatlah tajam untuk menganalisa mimik wajah. Apa yang diutarakan Viera ada benarnya. Namun ia memilih tak mengucapkan apapun. "Soh tahu,"
"Yakin?" tanya Viera sangsi, "dia bukan Neysa mantan sahabat Kakak, 'kan?"
Ganda mengedikkan bahu. Malas untuk membahas masalah ini. Biarkan saja alam melakukan tugasnya. Terpenting ia harus bisa mengendalikan emosi dan raut wajah. Sebab berpura-pura bukan keahliannya.