“Kenapa masih di sini?”
Ganda mendongak. Tangannya dengan sigap menangkap jaket yang dilempar lelaki tersebut. Langsung memakai karena udara malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Tubuhnya terasa menggigil sampai ketulang. Untung saja sahabatnya peka.
“Kamu mengenalnya, ‘kan?”
Ganda melirik sekilas. Membiarkan lelaki itu duduk di sampinga. Saling bersandar pada pohon yang sama dan menatap jutaan bintang menghias langit malam. “Siapa?”
“Adikku,”
Ganda mengedikkan bahu. Tak tahu harus menjawab apa. Kenyataan yang terpampang jelas di hadapan adalah sosok masa lalu tersebut memiliki hubungan darah dengan sahabatnya. Sungguh Dunia ini tak seluas yang ia kira. Orang yang pernah menggoreskan cerita bersama adalah adik dari kawan karibnya. Ingin rasanya menertawakan diri sendiri. Begitu bodoh tak mengetahui apapun. Asal usul gadis itu misterius. Dan sekarang ia baru menjadarinya. Ke mana aja selama ini. Sampai ia tak mengethui bahwa nama belakang mereka sama.
“Sejak kapan kalian saling kenal?”
“Tadi,” jawab Ganda lirih, Sepelan embusan napas yang keluar dari mulutnya, “kenapa?”
Lelaki berjaket hitam tersebut tertawa. Tak menyangka teman baiknya akan berdusata. “Bohong!”
“Terserah,” Ganda tak ingin membuat keadaan semakin rumit. Bila itu yang diingin gadis tersebut. Ia akan mengikuti saja. Lagian sudah lama mereka tak bersapa. Semua telah terpendam jauh dalam ingatan. Tak mungkin muncul begitu saja.
Terlebih lagi, mungkin ini jawaban yang tepat. Tak mungkin ia maenerima tawaran dari Nevan kalau mengetahui siapa perempuan tersebut. Mundur cara terbaik yang selama ini ia gunakan. Tak akan ada yang sakit dan merasa salah. “Maaf aku menolak permintaanmu, Van.”
Nevan membuang muka. Sudah ia duga. Sejak mereka bertemu terasa ada yang aneh. Adiknya bersikap pendiam dan tak banyak komentar. Padahal sebelumya gadis kecil tersebut sangat antusias dan bahagia. Namun semua berubah dratis ketika kedatangan sahabat dan juga kakaknya.
Bahkan Nevan sendiri pun tak kalah terkejutnya. Ganda datang dengan seorang perempuan yang dikenalkan sebagai adik sekaligus sahabat gadis kecilnya. Benar kata orang, Dunia tak selebar daun kelor. Suasana menjadi canggung seketika. Karena Nevan mengenal gadis bersama Ganda tersebut.
Sedangkan Ganda memilih pergi dari jangkauan mereka. Menyendiri dan memperhatikan dari jauh. Namun pikirannya masih tertuju pada gadis masa lalu. Ia tak bisa menepis semua kenangan mereka. Semua begitu indah namun menyakitkan di lain sisi.
“Kamu sendiri mengenalnya juga, ‘kan?” tanya Ganda yang menyadari ada yang aneh saat Nevan pertama kali bertemu dengan sang adik. Ada sesuatu yang disembunyikan juga. Kemah kali ini mungkin akan memperuwet jalan pikiran. Tahu gitu ia tak ikut dan memilih pergi berdua dengan adik. Dari pada berada di sini menambah luka di hati.
“Aku akan menjawab setelah kamu memberi tahu,”
Selalu seperti itu. Nevan tak akan memberikan balasan tanpa imbalan. Lelaki tersebut dapat memutarkan pembicaraan. Sejenis barter informasi. Dan itu menyebalkan.
“Tak masalah,” Ganda menyahuti dengan santai, “aku bisa mencari tahu sendiri,”
“Oke,” balas Nevan tak mau kalah, “aku juga bisa melakukan hal tersebut,”
Ganda memijat pelipis. Berdebat dengan Nevan tak akan menang. Lelaki itu tahu saja kelemahannya. Mereka berteman cukup lama. Jadi bisa langsung mengerti kondisi satu sama lain tanpa perlu berkata terlebi dahulu. Diam saja sampai orang tersebut menyampaiakan masalah. Tapi ini menyangkut sang adik. Tentu ia harus segera mengetahui. Namun menceritakan masa lalunya bukan hal yang mudah . Dan juga itu bukan hak Ganda untuk membeberkan. Karena gadis itu sendiri memilih menutupi dari pada membuka. Tak etis bila dirinya mengungkap apa yang terjadi antara mereka.
“Maaf …”
“Untuk?” sela Nevan tak sabar, “apa yang terjadi?”
“Tanya saja pada adikmu,” jawaban itu yang keluar dari mulut Ganda, “aku tak bisa mengatakannya,”
“Kenapa?”
“Karena itu kemauan adikmu.”
Nevan terdiam. Terlihat jelas raut terluka dalam bola mata sahabatnya. Tak pernah ia memandang Ganda yang sangat rapuh. Seakan kehilangan arah. Ia semakin bingung. Dan lagi sang adiknya pun tampak kehilangan semangat. Ada masalah apa antara mereka berdua. Semua terasa abu-abu.
“Kamu sendiri …”
“Aku rasa jawabannya sama,” sergah Nevan tersenyum simpul, “biarkan adikmu sendiri yang bercerita. Yang pasti tak ada hubungannya denganku.”
Ganda mengangguk mengerti. Masalah adiknya ia bisa mencari tahu sendiri. Yang terpenting sekarang ia harus pergi. Rasa itu masih ada. Bergejolak dalam jiwanya. Menuntut kepastian gadis masa lalu. Namun, ia bimbang. Kalau pada kenyataan gadis tersebut masih menyimpan nama temannya. Itu sangat menyakitkan, bukan.
“Lalu apa alasanmu untuk mundur?” tanya Nevan setelah keheningan beberapa waktu, “padahal niatnya aku mau mengenalkanmu. Tapi kalian saling tahu terlebih dahulu,”
Ganda tertawa kecil. Tak mengira saja kalau perempuan yang akan diajak bertemu adalah gadis masa lalu. Andai tahu seperti ini. Mungkin ia akan menghindar saja. Dari pada memaksakan keadaan yang akhirnya menggorekan luka satu sama lain.
I'll close my eyes, then I won't see
The love you don't feel when you're holding me
Morning will come and I'll do what's right
Just give me till then to give up this fight
And I will give up this fight
Cause I can't make you love me if you don't
You can't make your heart feel something it won't
Here in the dark, in these lonely hours
I will lay down my heart and I'll feel the power
But you won't, no you won't
'Cause I can't make you love me, if you don't
(I Can’t Make You Love Me – Bonnie Raitt)
Nevan dapat mendengar suara Ganda bernyanyi. Lagu dari Bonnie Raitt berjudul I Can’t Make You Love Me, mengalun indah dari bibir sahabatnya. Sebuah lagu yang menggambarkan perasaan Ganda kali ini. Lelaki itu tak bisa memaksakan cinta. Maka ia lepaskan dan menyerah dengan perasaan ini. Membiarkan larut begitu saja. Karena gadis tersebut tak menginginkan dirinya.
Nyanyian itu keluar begitu saja. Terdengar penuh emosi dan juga kesedihan. Ada pesan tersirat dari lirik tersebut. Nevan dapat merasakannya. Ia mengerti perasaan Ganda kali ini. Memilih diam menikmati suara indah kawan karibnya. Meresapi satu per satu kalimat yang terlontar dalam balutan nada.
Ganda sadar, secara tak langsung ia memberi tahu isi hati lewat penggalan lagu tersebut. Dirinya pun tak tahu mengapa ingin menyanyikan lagu dari Bonnie Raitt. Musik yang beberapa tahun lalu menemani hatinya. Menyatu dengan perasaannya kala itu. Tentang sebuah perjuangan yang tak ada hasilnya. Cinta yang tak berpihak pada dirinya. Dan kebohongan yang sama sekali tak ia mengerti. Melebur menjadi sebuah luka.
“Menyakitkan memang. Tapi itulah cinta,” ujar Nevan setelah Ganda selesai bernyanyi.
“Maksudnya?”
“Cinta itu ibarat air yang tak bisa dipegang. Butuh tempat buat menaruhnya. Dan kamu tahu wadah apa yang tepat untuk itu?”
Ganda menggeleng. Jujur saja ia tak tahu ke arah mana Nevan berbicara. Sama sekali tak bisa menebak analogi dari sahabatnya tersebut. Sebab baru pertama kali ini ia mendengar Nevan berbicara tetang cinta.
“Pernikahan.”
Tubuh Ganda menegang seketika, "Maksudnya?"
"Ganda Abel," panggil Nevan dengan suara tegas. Kini mereka telah berhadap-hadapan. Sorot mata saling bertemu satu sama lain. Menyelami perasaan masing-masing. "Maukah kamu menikah dengan adikku?"
Ganda mengerjap pelan. Dirinya tak sedang dilamar, 'kan. Perkataan Nevan sungguh mengejutkan. berharap sahabatnya hanya bercanda. Akan tetapi sorot mata lelaki tersebut sangat tajam. Mampu menghunus jantung terdalam. "Jangan bercanda ..."
"Aku serius," sela Nevan dengan tegas. Ia bersungguh-sungguh menyampaikan hal tersebut. Sebab ini menyangkut masa depan sang adik. Ia yakin, kawan karibnya mampu membahagiakan Delbar. "Pikirkan baik-baik,"
Nevan bangkit. Meninggalkan Ganda sendirian yang memikirkan ucapannya. Asal lelaki itu mau. Ia kana melakukan segala cara agar Delbar menerima. Apa pun itu akan ia lakukan. Semoga saja alam berpihak padanya. Membuat mereka menyatu dengan sendiri. Semoga saja.
Ganda membuang napas lelah. Pikirannya semakin ruwet. Tak menyangka pertemuan mereka akan berujung seperti ini. Lelaki itu yakin, Nevan belum merundingkan masalah ini dengan sang adik. Terus, jawaban apa yang akan ia berikan. Semua terasa buntu dan gelap. Kalau seperti ini ia membutuhkan Otodan dan juga Mando. Mungkin kedua temannya bisa mengasih solusi. Atau memberikan penjerahan padanya untuk bisa keluar dari labiririn perasaan.
Sial!