Kalimat Kiran masih menggantung di antara mereka. "Aku takut ... jika ini adalah pelukan terakhir, sebelum semuanya hanya tinggal kenangan."
Rio tidak langsung menjawab. Kedua lengannya semula melingkari Kiran, tetapi ia melonggarkan pelukan itu sedikit demi sedikit, memberi perempuan itu kesempatan mundur. Kiran tidak menjauh. Jemarinya justru mencengkeram punggung kemeja Rio, seolah tubuhnya belum percaya bahwa pria itu benar-benar ada di sana.
"Aku dengar," kata Rio akhirnya. Suaranya serak. "Kamu takut kehilangan waktu. Kamu takut aku pergi sebelum kamu siap."
Kiran menutup mata. Air matanya membasahi bahu Rio. "Aku takut kamu lihat aku seperti pasien yang harus diselamatkan. Aku takut kamu terus menatapku dan cuma melihat penyakit ini."
Rio menelan ludah. Ia teringat betapa sering ia datang dengan keputusan yang sudah dibuat sendiri, bahkan masuk ke kamar Kiran tanpa izin. Kepeduliannya mungkin tulus, tetapi itu tidak menghapus cara ia menerobos batas. "Aku sudah melakukan banyak hal tanpa bertanya. Aku minta maaf."
Kiran melepas pelukan dan menatap wajahnya. Jarak mereka hanya sejengkal, tetapi ada dua tahun yang belum selesai di antara keduanya.
"Aku bukan minta kamu memaafkan aku sekarang," lanjut Rio. "Dan pelukan ini bukan berarti kamu setuju kembali denganku atau setuju operasi. Aku cuma ingin tahu apa yang kamu butuhkan malam ini."
Kiran memandang tangan Rio yang masih tertahan di sisi tubuhnya. Ia kemudian mengangguk kecil. "Duduk di sini. Jangan pergi dulu."
Rio duduk di lantai dekat ranjang, menjaga jarak yang Kiran tentukan. Kiran kembali bersandar pada bantal. Rasa nyeri masih tersisa, membuatnya mengernyit ketika mengubah posisi. Rio memperhatikan, tetapi tidak segera menyentuhnya.
"Boleh aku panggil Prima?" tanyanya.
Kiran ragu. Selama ini ia menghindari pembicaraan itu karena khawatir setiap kalimat akan berubah menjadi bujukan. "Kalau Om Prima datang sebagai dokter yang menjelaskan keadaan, bukan untuk membuat aku merasa bersalah."
"Aku bisa bilang begitu. Tapi kamu yang memutuskan. Kalau kamu tidak mau sekarang, aku tidak akan memaksakan."
Kiran menatap pintu yang tadi didobrak. Gemboknya rusak dan daun pintu menyisakan bekas benturan. "Kamu tadi masuk tanpa izin."
"Iya." Rio tak mencari pembenaran. "Aku panik saat dengar kamu kesakitan. Tapi itu tetap bukan alasan untuk mendobrak pintu. Aku seharusnya menghubungi bantuan dan memastikan kamu aman. Maaf."
Jawaban itu tidak menghapus ketakutan Kiran, namun setidaknya Rio tidak menyebutnya sebagai tindakan romantis. Kiran menghela napas pelan. "Aku ingin ke rumah sakit. Tapi aku tidak mau kamu mengambil alih semuanya."
"Aku akan menghubungi Rama atau Prima. Kamu bisa memilih siapa yang mendampingi dan siapa yang menjelaskan."
Kiran menyebut Prima. Ia ingin mendapat pemeriksaan karena serangan nyeri tadi, tetapi tidak ingin Rio menjadi dokter yang menangani dirinya malam itu. Rio mengangguk, lalu bertanya apakah boleh menggunakan ponselnya untuk menelepon. Kiran mengizinkan.
Ia membiarkan Rio duduk di sana sampai napasnya kembali teratur. Tidak ada janji tentang masa depan, hanya keputusan kecil untuk melewati malam itu satu langkah demi satu langkah. Ketika Prima tiba, Kiran meminta penjelasan sebagai pasien dan Rio menyetujui untuk menunggu di luar jika itu yang ia inginkan.***
Sambil menunggu Prima, mereka tidak membicarakan operasi. Rio bertanya apakah Kiran ingin air, lalu meletakkan gelas di meja agar ia dapat mengambilnya sendiri. Kiran memperhatikan gerakan kecil itu. Dulu Rio sering merawatnya tanpa diminta, dan ia menyukai perhatian tersebut. Namun malam ini, setelah dua tahun penuh rahasia, ia ingin diperhatikan tanpa kehilangan kendali.
"Aku harus jelasin sesuatu," kata Kiran.
Rio menatapnya dengan sabar. "Aku dengarkan."
"Aku memutuskan kamu bukan karena aku berhenti mencintai kamu. Aku bilang Banyu kekasihku karena waktu itu aku pikir kalau kamu membenciku, kamu akan berhenti mencari tahu."
"Aku tahu sekarang."
"Tapi kamu sempat percaya."
"Iya." Rio menunduk. "Aku percaya pada prasangkaku. Aku menyakiti kamu dan Banyu. Aku tidak akan menyalahkan penyakitmu atau keputusanmu untuk menjelaskan itu."
Kiran terdiam. Ia masih ingat wajah Rio ketika menuduhnya, juga cara pria itu pergi dari restoran. Ia tidak bisa berpura-pura semua luka hilang hanya karena Rio kini memahami alasan sebenarnya.
"Aku belum bisa bilang kita kembali," katanya.
"Aku tidak meminta itu."
"Aku juga belum tahu apa aku mau menjalani operasi."
"Aku tahu."
"Jangan jawab seolah kamu bisa menerima semuanya dengan mudah."
Rio mengangkat pandangannya. "Aku tidak mudah menerima. Aku takut, marah, dan menyesal. Tapi perasaan itu bukan alasan untuk mengambil keputusan dari kamu."
Ketukan terdengar dari luar. Rio berdiri, tetapi menunggu Kiran mengangguk sebelum membuka pintu. Prima masuk bersama Rama, yang membawa perlengkapan pemeriksaan. Prima menyapa Kiran terlebih dahulu dan bertanya apakah ia bersedia diperiksa. Kiran mengiyakan, lalu menyampaikan dengan tegas bahwa ia ingin mendengar penjelasan tanpa tekanan untuk menyetujui tindakan malam itu.
Prima setuju. Ia menjelaskan pemeriksaan akan berfokus pada kondisi Kiran saat ini dan bahwa setiap pilihan akan dibicarakan setelahnya. Tidak ada yang menjanjikan hasil tertentu. Kiran melirik Rio. Pria itu berdiri di dekat dinding, bukan di sisi ranjang, membiarkan tim medis berbicara langsung kepada pasien.
Sesudah pemeriksaan awal, Prima mengatakan Kiran perlu dibawa ke rumah sakit untuk penilaian lebih lanjut. Kiran bertanya apakah ia boleh didampingi Banyu juga. Rio menjawab tentu, dan tidak menunjukkan keberatan.
Kiran menatapnya lama. "Aku tidak mau malam ini menjadi bukti bahwa aku sudah kembali."
"Aku paham," jawab Rio. "Malam ini kita hanya memastikan kamu mendapat pertolongan yang kamu izinkan."
Untuk pertama kalinya sejak Rio datang, Kiran mengangguk tanpa merasa sedang menyerah. Ia menerima bantuan karena memilihnya, bukan karena takut kehilangan cinta seseorang.
***
Kiran meminta segelas air lagi. Rio bertanya apakah boleh menyerahkan gelas itu langsung kepadanya. Kiran mengangguk. Saat tangannya menyentuh gelas, jari mereka hampir bersentuhan. Rio menarik tangannya setelah Kiran mengambilnya, tidak menahan lebih lama.
"Aku tahu kita belum kembali seperti dulu," kata Rio.
"Kita bahkan belum tahu akan seperti apa nanti."
"Aku tidak akan memaksa kamu memberi nama."
Kiran menghela napas. "Bagus. Aku cuma mau kamu tetap mendengarkan kalau aku bilang cukup."
Rio menjawab, "Aku akan mengingatnya." Ia tidak menyebut dirinya dokter atau kekasih. Ia hanya duduk di kursi yang Kiran pilihkan, menunggu Prima datang sesuai permintaan pasien.
=