Setelah Banyu kembali, Kiran meminta Rio menunggu sampai ia selesai berbicara dengannya. Banyu memahami dan menawarkan diri berjaga di luar. Ia tidak bertanya apakah Kiran yakin. Ia hanya mengatakan bahwa ia akan berada dekat jika dibutuhkan.
Ruangan menjadi sunyi. Kiran memainkan ujung selimut dengan jari. Rio duduk di kursi yang sama, tidak mendekat.
"Aku mau cerita, tapi jangan ubah ceritaku jadi alasan buat membenci dirimu sendiri," kata Kiran.
Rio menarik napas pelan. "Aku akan dengar."
Kiran menceritakan bagaimana ia mengetahui kondisinya setelah benturan saat menolong Bella. Ia mengingat rasa takut saat dokter pertama menjelaskan keadaan kepalanya dan menyarankan tindakan. Pada saat itu Rio sedang sibuk dengan pekerjaannya, selalu berusaha menjadi dokter yang tak pernah gagal. Kiran tahu ia tidak pernah meminta Rio berhenti bekerja, tetapi ia takut kabar itu akan mengubah seluruh hidup mereka.
Ia mengira dengan menjauh, Rio akan tetap memiliki masa depan yang ia impikan. Ketika Rio bertanya soal Banyu, Kiran memilih alasan yang paling mudah membuat Rio berhenti bertanya. Ia tidak menyangka kebohongan itu akan membuat mereka berdua terluka lebih lama.
"Aku salah karena memilihkan hidup buat kamu," kata Kiran. "Tapi aku juga ketakutan. Aku enggak tahu cara minta bantuan tanpa merasa jadi beban."
Rio tidak menyela. Ia mendengar bagian yang paling sulit: Kiran menyimpan rasa sakit sendirian, menjalani hari sambil berpura-pura tidak ada yang berubah. Ia ingin berkata seandainya Kiran memberitahunya, ia akan melakukan segalanya. Namun kalimat itu terdengar seperti cara menyalahkan masa lalu. Ia menahan diri.
"Aku marah karena kehilangan dua tahun," ucapnya. "Tapi aku juga sadar aku punya pilihan saat itu. Aku memilih percaya prasangkaku. Aku menyakiti kamu dan Banyu. Aku enggak bisa menaruh semua kesalahan di pundakmu."
Mata Kiran berkaca-kaca. "Aku enggak minta kamu pura-pura enggak sakit."
"Aku memang sakit. Tapi itu bukan alasan untuk membuatmu membayar rasa sakitku."
Kiran bercerita bahwa selama dua tahun ia menyimpan foto lama Rio di ponsel. Ia sering melihatnya, lalu menutup layar sebelum ada orang yang menyadari. Ia merasa itu memalukan karena ia sendiri yang memutuskan hubungan. Rio tidak mengejek atau meminta foto itu dihapus. Ia berkata kenangan tidak wajib dibuang agar seseorang bisa mengambil keputusan baru.
"Aku masih mencintaimu," kata Kiran. "Tapi aku belum tahu apakah aku bisa mencintaimu dengan cara yang sama lagi."
Rio menunduk, menyerap kalimat itu tanpa mengubahnya menjadi janji. "Aku masih mencintaimu juga. Tapi kamu tidak berutang hubungan kepadaku karena itu."
Kiran tampak lega mendengar batas tersebut. Untuk pertama kalinya, mereka berbicara tentang cinta tanpa menjadikannya alat tawar. Mereka sepakat tidak menyebut diri kembali sebagai pasangan malam itu. Mereka akan membangun kepercayaan melalui tindakan, dan Kiran tetap bebas mengubah pikirannya.
***
Banyu masuk lagi membawa air hangat. Ia menyampaikan Bella ingin datang, tetapi hanya jika Kiran bersedia. Kiran meminta Bella menunggu sampai besok. Ia terlalu lelah untuk menerima banyak orang malam itu. Banyu mengirim pesan atas izinnya.
Rio kemudian bertanya apakah Kiran ingin ia pulang atau tetap di lorong. Kiran meminta ia pulang dan beristirahat. Ia tidak ingin Rio kembali memaksa tubuhnya terus bekerja karena rasa bersalah.
"Aku akan pulang setelah memastikan Prima tahu kamu ingin bicara dengannya besok," kata Rio. "Aku tidak akan masuk lagi tanpa izin."
Kiran mengangguk. Sebelum pergi, Rio meminta maaf sekali lagi karena mendobrak pintu dan menekan pembicaraan operasi. Kiran menjawab ia mendengar, tetapi butuh waktu untuk melihat apakah permintaan maaf itu menjadi perubahan.
Rio menerima. Ia menutup pintu perlahan dan pergi menemui Prima. Di lorong, ia meminta pamannya menjelaskan pilihan perawatan kepada Kiran tanpa menganggap hubungan mereka sebagai faktor dalam keputusan. Prima berkata itu memang tugasnya sebagai dokter.
Di dalam kamar, Kiran berbicara sebentar dengan Banyu tentang hal-hal praktis. Ia ingin ponsel dan barang-barangnya dijaga, serta meminta Banyu menghubungi pemilik kost mengenai pintu yang rusak. Tidak satu pun dari mereka membicarakan masa depan terlalu jauh.
Hujan di luar mulai reda. Kiran masih takut akan kehilangan, tetapi ia tidak lagi merasa harus menyembunyikan ketakutannya di balik kebohongan. Dua tahun yang hilang tidak dapat diambil kembali. Yang bisa mereka lakukan adalah tidak mengulanginya dengan diam yang sama.
Kiran mengingat percakapan mereka di kafe pada malam hujan saat hubungan mereka berakhir. Ia pernah berharap Rio mengejarnya, tetapi pada saat yang sama takut ia benar-benar melakukannya. Dua keinginan yang saling bertentangan membuatnya memilih kalimat paling tajam agar perpisahan tampak mutlak.
"Aku pikir kalau kamu membenciku, kamu akan lebih mudah melanjutkan hidup," katanya.
Rio menatapnya. "Aku memang mencoba membenci kamu. Tapi ternyata aku lebih banyak membenci cerita yang kubuat sendiri."
Kiran berkata ia tidak membenarkan kebohongannya. Ia memahami mengapa Rio terluka. Namun ia juga ingin Rio memahami bahwa ia tak sedang bermain-main dengan perasaannya. Ia berusaha melindungi Rio dengan cara yang keliru, sebab ia tidak percaya dirinya layak meminta bantuan.
Rio menerima ucapan itu tanpa menjadikan niat baik sebagai penghapus dampak. Ia berkata ia harus meminta maaf karena memukul Banyu dan mempercayai dugaan tanpa bertanya. Kiran menjawab permintaan maaf itu penting, tetapi ia belum tahu apakah mereka akan kembali.
Mereka berbicara tentang kata "beban". Kiran mengira biaya yang pernah Rio bantu saat ia masih muda membuatnya berutang untuk selalu memberi kabar. Rio menjelaskan ia tidak pernah menganggap bantuan itu utang. Ia seharusnya mengatakannya lebih jelas, bukan memakai uang dan pengorbanan sebagai alasan Kiran harus patuh.
Kiran berkata ia juga seharusnya tidak diam tentang penyakitnya. Namun ia ingin keputusan masa lalu dibicarakan dengan mengingat bahwa mereka sama-sama masih muda dalam menghadapi keadaan berat, tanpa mengubahnya menjadi pembenaran.
***
Sore itu mereka meninjau cara berkomunikasi selama Kiran dirawat. Kiran meminta Rio tidak datang mendadak. Rio harus mengirim pesan dan menunggu izin, kecuali tim menyatakan keadaan darurat yang memerlukan bantuan. Ia juga meminta agar Rio tidak melihat catatan medis yang bukan bagian dari penugasannya.
Rio menyetujui dan menawarkan untuk meminta Prima menunjuk dokter utama lain. Kiran setuju. Ia tidak ingin Rio menghadapi konflik kepentingan sendirian. Mereka mengatur bahwa Rio dapat datang sebagai pengunjung bila Kiran mengizinkan, sementara tim lain menangani perawatannya.
Kesepakatan itu membuat Rio sedih karena ia ingin berbuat lebih banyak, tetapi ia tidak menunjukkan kesedihan itu sebagai tekanan. Kiran mengatakan batas bukan hukuman. Rio menjawab ia tahu.
Sebelum percakapan berakhir, Kiran berkata ia masih menyimpan foto lama. Rio tidak meminta melihatnya. Ia berkata Kiran berhak menyimpan atau membuang foto itu sesuai keinginannya.
Kiran merasa ada sesuatu yang melunak di antara mereka. Bukan keputusan untuk kembali, melainkan ruang agar percakapan berikutnya dapat terjadi tanpa asumsi lama.
=