Banyu datang menjelang tengah malam. Ia sempat berhenti di ambang pintu, seolah ingin memastikan Kiran benar-benar ingin ia masuk. Kiran mengangkat tangan sedikit. Banyu mendekat dan meletakkan kantong makanan di meja, kebiasaan lama yang tak pernah hilang meski mereka bukan pasangan.
"Gue bawa bubur. Kalau lo belum boleh makan, ya gue simpan," katanya.
Kiran tersenyum lemah. "Makasih."
Rio berdiri di sisi lain ruangan. Banyu melihatnya sekilas, lalu kembali fokus kepada Kiran. Ia tidak ingin kehadirannya memicu pertengkaran di depan pasien. Kiran meminta mereka duduk dan mengatakan ia tidak ingin ada yang berbicara seolah dirinya tidak ada.
Banyu mengangguk. Ia menjelaskan bahwa ia memberi tahu Rio soal alasan putus karena Kiran berhak mendapatkan bantuan dari orang yang ia percaya. Ia tidak memberikan semua detail hidup Kiran. Ia hanya mengatakan cukup agar Rio berhenti menyalahkan dirinya dan memahami bahwa keputusan itu berakar pada ketakutan Kiran.
"Aku yang menentukan kapan cerita soal kondisiku," kata Kiran.
"Iya. Gue salah kalau membuat lo merasa kehilangan kendali," jawab Banyu. "Gue takut lo makin sendirian. Tapi harusnya gue bicara dulu."
Kiran tidak menyalahkan Banyu, namun ia meminta agar lain kali ia ditanya sebelum informasi pribadinya disampaikan kepada orang lain. Banyu menerima batas itu. Rio juga berkata ia seharusnya tidak meminta Riky mengumpulkan data pribadi Kiran tanpa persetujuannya. Ia menyadari tindakannya sebagai dokter dan mantan kekasih telah bercampur secara tidak sehat.
Kiran memandang Rio. "Kamu tahu itu salah?"
"Iya. Aku seharusnya memakai jalur perawatan yang benar dan menjelaskan siapa yang perlu tahu. Aku juga tidak berhak mendatangi tempat tinggalmu dan masuk tanpa izin."
Banyu menghela napas. "Dan soal dua tahun lalu? Lo masih inget tangan lo?"
Rio menunduk. "Gue inget. Gue mukul lo karena percaya kecurigaan gue sendiri. Enggak ada alasan yang bisa membenarkan itu. Gue minta maaf."
Banyu tidak segera menjawab. Ia menyandarkan punggung ke kursi, menatap Rio cukup lama. "Gue dengar permintaan maaf lo. Tapi gue belum bisa bilang semuanya selesai."
"Gue paham."
Kiran mendengarkan keduanya. Ia tidak ingin menjadi hakim bagi mereka. Ia hanya mengatakan bahwa pertengkaran lama tidak boleh dipakai untuk membuktikan siapa paling berhak mendampinginya. Banyu telah membantunya bertahan selama ini, sedangkan Rio adalah orang yang masih ia cintai sekaligus orang yang pernah melukainya. Dua fakta itu bisa hidup bersamaan.
"Aku enggak mau kalian bertarung demi aku," katanya.
Banyu mengangguk. "Gue di sini karena lo minta, bukan buat bersaing."
Rio berkata ia akan menghormati itu. Jika Kiran ingin Banyu menjadi kontak utama selama ia dirawat, ia tidak akan tersinggung. Kiran meminta Banyu membantu komunikasi praktis, sementara keputusan medis tetap ia bicarakan langsung dengan dokter. Rio tidak akan menerima informasi apa pun yang tidak diizinkan Kiran.
"Terima kasih," kata Kiran.
Banyu kemudian bercerita tentang restoran tempat mereka bekerja dan bagaimana Bella berkali-kali menanyakan kabar. Ia tidak membuat cerita itu dramatis. Kiran tertawa kecil ketika Banyu mengeluh Bella selalu memilih makanan yang paling merepotkan untuk dibawa. Tawa itu membuat ruang terasa lebih ringan.
Rio mendengarkan dari kursinya. Ia tidak memotong atau mencoba memindahkan perhatian Kiran kepadanya. Saat Banyu berpamitan sebentar untuk mengambil air, Rio tetap tinggal.
"Aku enggak akan minta kamu menyelesaikan urusanku dengan Banyu," kata Kiran.
"Aku juga enggak akan minta."
"Bagus. Kalau kalian ingin memperbaiki hubungan, lakukan karena kalian memang ingin."
Rio mengangguk. Ia tahu permintaan maaf bukan tiket untuk kembali masuk ke kehidupan Kiran. Ia harus memperbaiki cara dirinya memperlakukan orang lain, bahkan jika Kiran kelak memilih tidak kembali kepadanya.
Banyu kembali dari kantin membawa air mineral. Kiran bertanya apakah Rio masih ada di lorong. Banyu menjawab iya, tetapi Rio tidak memaksa masuk. Kiran meminta Banyu memanggilnya untuk satu percakapan pendek.
Rio datang dan berdiri menunggu. Kiran memintanya duduk. Ia ingin tahu apakah Rio benar-benar memahami alasan Banyu berada di hidupnya. Rio berkata Banyu telah menjadi teman yang menolongnya saat ia tidak punya keluarga dekat. Ia tidak memiliki hubungan romantis dengan Banyu.
"Aku tahu sekarang," kata Rio. "Tapi aku tahu karena kalian menjelaskan. Dulu aku memilih membuat kesimpulan sendiri."
Kiran bertanya bagaimana Rio akan bersikap jika suatu saat Banyu kembali menjadi kontaknya. Rio menjawab ia akan menghormati pilihan tersebut, meski mungkin ada rasa cemburu atau tidak nyaman. Ia akan mengelola perasaannya sendiri, bukan meminta Kiran menjauh dari sahabatnya.
Kiran berkata ia tidak ingin menguji Rio. Ia hanya perlu tahu bahwa hubungan mereka tidak akan kembali dikendalikan prasangka. Rio menyanggupi untuk bertanya langsung bila ada hal yang membuatnya cemas.
***
Banyu masuk setelah Rio keluar. Ia mengatakan ia mendengar percakapan mereka dari dekat pintu, tetapi tidak menyela. Kiran bertanya apakah ia masih marah pada Rio. Banyu menjawab iya, sebagian. Ia tidak menyembunyikan rasa itu demi membuat keadaan lebih mudah.
"Lo berhak marah," kata Kiran. "Aku enggak mau kamu memaafkan cuma karena aku sakit."
Banyu mengatakan ia akan berbicara dengan Rio ketika siap. Ia tidak ingin Kiran menjadi perantara atau merasa bertanggung jawab memperbaiki hubungan mereka. Kiran mengangguk.
Mereka kemudian berbicara tentang restoran. Banyu menceritakan bahwa ia telah meminta salah satu pegawai menggantikan beberapa jadwal Kiran tanpa mengumumkan alasan. Kiran berterima kasih dan bertanya apakah hal itu menyulitkan. Banyu menjawab ia bisa mengatur, tetapi bila ada masalah ia akan mengatakannya.
Kiran menyadari selama ini ia sering menganggap dirinya beban sebelum memberi orang lain kesempatan menjawab. Ia masih takut meminta bantuan, tetapi ia mulai mencoba mendengar jawaban mereka.
Saat Banyu berpamitan, Kiran mengatakan ia tidak ingin disebut kekasihnya lagi, bahkan hanya untuk memudahkan orang lain memahami situasi. Banyu berkata ia akan memperkenalkan dirinya sebagai teman. Ia tidak merasa kehilangan sesuatu yang memang tidak pernah menjadi miliknya.
***
Malamnya, Rio meminta maaf kepada Banyu melalui pesan, tetapi tidak meminta jawaban. Banyu membalas bahwa ia menerima pesan itu dan akan bicara langsung jika siap. Rio tidak mengirim susulan. Kiran mengetahui hal tersebut dari Banyu dan merasa lega.
Ia tidak perlu berdiri di antara dua orang itu. Mereka bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Untuk pertama kalinya, Banyu dapat berada di sisinya tanpa berpura-pura sebagai pasangan, dan Rio dapat menerima kehadirannya tanpa menganggapnya ancaman.
=