Rio menemui Banyu di luar ruang perawatan. Ia meminta waktu berbicara, tetapi menambahkan bahwa Banyu boleh menolak. Banyu menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk. Mereka berjalan ke kantin yang mulai sepi. Rio tidak membawa alasan atau hadiah untuk melunakkan suasana.
"Gue minta maaf karena mukul lo dua tahun lalu," kata Rio. "Gue juga minta maaf karena datang ke kost Kiran dengan prasangka yang sama dan membuat lo jadi sasaran lagi."
Banyu menyandarkan lengan ke meja. "Lo tahu waktu itu Kiran lagi sakit, tapi tetap menjadikan gue musuh."
"Iya. Gue mempercayai cerita di kepala gue sendiri."
"Dan lo datangi dia sebagai dokter, mantan pacar, terus pakai data pasien buat cari alamatnya."
Rio mengakui semua itu. Ia menjelaskan ia takut terlambat, tetapi tidak menyebut rasa takut sebagai pembenaran. Banyu mengatakan ketakutan tidak memberi seseorang hak menerobos privasi.
"Gue dengar permintaan maaf lo," kata Banyu. "Tapi gue enggak akan langsung percaya lagi. Kiran yang utama sekarang. Kalau lo mau membantu, ikuti batas yang dia pasang."
Rio mengangguk. "Gue enggak minta lo memaafkan gue hari ini."
Mereka berbicara tentang apa yang dibutuhkan Kiran. Banyu akan mengurus barang-barangnya dengan persetujuan tertulis. Rio akan meminta informasi hanya melalui jalur perawatan dan hanya sesuai izin Kiran. Mereka sepakat tidak menjadikan dukungan sebagai persaingan.
***
Saat kembali ke ruang rawat, Rio menceritakan percakapan itu kepada Kiran tanpa melebih-lebihkan. Ia tidak berkata Banyu sudah memaafkannya. Kiran berterima kasih karena Rio tidak mengubah permintaan maaf menjadi klaim kemenangan.
"Aku enggak mau jadi alasan kalian harus baik-baik saja," katanya.
"Kami akan mengurus hubungan kami sendiri," jawab Rio.
Kiran lalu bertanya mengapa Rio dulu begitu yakin Banyu adalah kekasihnya. Rio mengakui ia melihat Banyu selalu hadir dan membiarkan kecemburuannya menyusun kesimpulan. Ia tidak bertanya langsung kepada Kiran. Saat Kiran memutuskan hubungan, ia menganggap kebohongan soal Banyu sebagai bukti bahwa semua kecurigaannya benar.
"Aku takut kehilangan kamu, tapi aku malah membuat kamu sendirian," katanya.
"Dan aku takut membebani kamu, lalu memilih berbohong."
Keduanya tidak saling menyamakan kesalahan. Rio meminta maaf atas tindakannya; Kiran mengakui ia pernah memilihkan masa depan Rio tanpa memberi kesempatan untuk menjawab. Percakapan itu bukan pengadilan. Mereka hanya menamai hal-hal yang selama ini membuat luka semakin dalam.
Kiran bertanya apakah Rio masih menginginkan hubungan mereka kembali. Rio menjawab iya, tetapi ia tidak akan menuntut jawaban sekarang. Ia juga memahami bahwa keinginan itu mungkin tidak cukup untuk membuat Kiran percaya lagi.
"Aku enggak bisa janji enggak akan takut," kata Kiran. "Tapi aku bisa janji untuk bilang kalau aku takut, kalau kamu juga mau mendengar."
"Aku mau."
Malam itu Rio pulang pada waktu yang disepakati. Ia tidak tinggal lebih lama untuk membuktikan cinta. Banyu masih berada di rumah sakit dan Kiran dapat memilih siapa yang menemani. Rio menyadari permintaan maaf yang benar kadang berarti berhenti, menunggu, dan membiarkan orang lain menentukan jaraknya.
Banyu menanyakan apakah Rio ingin bicara di luar kamar. Kiran mengizinkan mereka keluar, tetapi meminta agar tidak ada keputusan tentang dirinya yang dibuat tanpa mengabari. Keduanya menyetujui.
Di lorong, Rio mengakui ia ingin meminta maaf kepada Banyu secara langsung, tetapi tidak mau mengubahnya menjadi cara masuk kembali ke hidup Kiran. Banyu berkata ia bersedia mendengar, tetapi belum bisa memberikan pengampunan. Rio mengatakan ia tidak meminta itu.
Banyu menyebut pukulan yang diterimanya bukan satu-satunya luka. Rio memandangnya dengan tenang dan mengakui ia juga mempermalukannya di depan orang-orang. Ia menuduh Banyu dan Kiran tanpa mencari fakta. Banyu bertanya mengapa sekarang ia bisa mengakui hal itu.
"Karena gue akhirnya melihat tindakan gue sendiri, bukan cuma rasa sakit gue," jawab Rio.
Banyu berkata ia akan memikirkan permintaan maaf itu, tetapi tidak berjanji menjadi sahabat dekat lagi. Rio menerima.
***
Mereka kembali ke kamar dan Kiran meminta Rio menjelaskan apa yang dibicarakan. Rio menceritakan semuanya tanpa menambahkan bahwa Banyu sudah memaafkannya. Kiran berkata ia tidak ingin menjadi hadiah yang diberikan setelah mereka berbaikan.
"Aku mengerti," kata Rio.
Kiran bertanya apakah ia masih memikirkan kebohongan yang dulu tentang Banyu. Rio menjawab iya, tetapi ia kini tahu kecurigaannya bukan bukti. Ia tidak akan terus meminta Kiran mengulang penjelasan.
"Aku belum tentu bisa kembali jadi kekasihmu," kata Kiran. "Aku mau kita jujur soal itu."
Rio menjawab ia masih ingin membangun kepercayaan, tetapi ia tidak akan menuntut hubungan. Kiran berkata ia juga ingin mencoba berbicara lebih jujur, tetapi tidak tahu sejauh apa.
Mereka menetapkan hal sederhana: Rio akan mengirim pesan sebelum datang, Kiran dapat berkata tidak, dan tidak ada yang akan memakai penyakit atau rasa bersalah untuk meminta kedekatan. Bila Kiran meminta Banyu menjadi pendamping, Rio akan menghormatinya.
Rio mengatakan ia juga akan meminta maaf kepada Antoni atas akses data yang ia gunakan dan meninjau prosedur rumah sakit. Ia tidak ingin tindakan yang sama terulang kepada pasien lain. Kiran berkata itu tanggung jawab Rio, bukan sesuatu yang harus ia lakukan demi mendapatkan maaf.
***
Malam itu Rio menulis pesan kepada Banyu bahwa ia berterima kasih karena Banyu bersedia mendengar. Ia menegaskan tidak mengharapkan jawaban. Banyu membaca dan tidak langsung membalas. Rio tidak mengirim pesan kedua.
Kiran melihat Rio meletakkan ponselnya tanpa mengecek. Ia tidak memuji; ia hanya merasa ada perubahan kecil yang nyata. Mungkin kepercayaan mereka masih jauh. Namun untuk pertama kalinya, kesalahan tidak langsung ditutupi dengan desakan agar semua orang cepat melupakan.
Saat pulang, Rio tidak melihat ada balasan dari Banyu. Ia merasa dorongan untuk mengirim penjelasan tambahan, lalu mengingat Banyu telah meminta ruang. Ia meletakkan ponsel di meja dan menyelesaikan rapat direktur yang tertunda. Ia tidak meminta sekretaris mencari nomor pribadi Banyu atau memeriksa keberadaannya.
***
Kiran bertanya apakah mereka sudah bicara. Rio menjawab singkat bahwa ia telah meminta maaf dan Banyu belum menjawab. Kiran berkata itu wajar. Mereka kembali membicarakan hal praktis, dan Rio tidak meminta Kiran menilai permintaan maafnya.
=