Bella menerima pesan dari Kiran menjelang malam. Kiran meminta maaf karena baru membahas Dika sekarang. Bella datang dan duduk di kursi dekat ranjang. Ia tidak bertanya tentang hasil perawatan. Ia menunggu sampai Kiran membuka percakapan.
"Aku dulu pikir kalau kamu enggak minta tolong, aku mungkin enggak akan terluka," kata Kiran.
Bella menarik napas. "Aku enggak pernah minta kamu menanggung apa pun. Dan Dika bertanggung jawab atas kekerasannya."
Kiran mengangguk. Ia tahu kalimat itu benar, tetapi mengulangnya masih terasa sulit. Bella menjelaskan bahwa setelah peristiwa tersebut, ia sempat takut melapor dan takut Dika kembali mendekatinya. Ia akhirnya meminta dukungan orang-orang di sekitarnya dan membuat batas agar tidak bertemu Dika sendirian. Ia tidak menjelaskan detail yang tak perlu.
Kiran bertanya apakah Bella aman sekarang. Bella menjawab ia sudah tidak berhubungan dengan Dika dan mendapat dukungan dari tempat kerja serta teman-temannya. Ia tidak meminta Kiran menjadi pelindungnya lagi. Kiran merasakan lega bercampur sedih. Selama ini ia mengira semua tanggung jawab menjaga Bella ada di pundaknya.
"Kalau kamu sedang sakit, kamu boleh memikirkan dirimu sendiri," kata Bella. "Itu bukan berarti kamu meninggalkan aku."
Kiran menunduk. "Aku juga harus belajar enggak menyelamatkan semua orang dengan cara menyakiti diri sendiri."
Bella mengangguk dan menggenggam tangannya setelah meminta izin. Mereka tak membuat janji bahwa keduanya akan selalu kuat. Mereka hanya sepakat saling memberi kabar dan meminta bantuan bila perlu.
***
Ketika Bella pulang, Rio baru tiba membawa dokumen yang diminta Kiran dari restoran. Ia menunggu di lorong sampai Banyu mengabarkan bahwa Kiran siap menerima tamu. Kiran mengizinkan ia masuk.
Rio bertanya apakah ia boleh duduk. Kiran mengiyakan. Ia berkata Bella akan menghubunginya jika ada kabar terkait keselamatan atau urusan penting, tetapi tidak ingin Rio ikut campur ke dalam kisah Bella tanpa izin. Rio menyetujui.
Mereka kemudian membahas kebutuhan Kiran selama dirawat. Rio menawarkan untuk menyusun jadwal kunjungan, namun Kiran meminta jadwal itu dibicarakan bersama Banyu dan Bella. Rio akan diberi tahu jika ia ingin ia datang. Ia tidak tersinggung. Ia berkata ingin hadir dengan cara yang membuat Kiran merasa aman.
Kiran menatap dokumen kost yang dibawa Rio. "Kamu minta izin dulu sebelum mengambilnya?"
"Iya. Banyu yang mengambil setelah kamu menandai barangnya."
"Terima kasih."
Mereka duduk dalam diam sebentar. Kiran bertanya apakah Rio sudah makan. Rio menjawab belum. Kiran menyuruhnya makan dulu, bukan karena ia ingin mengurusnya, tetapi karena ia tahu Rio sering lupa ketika cemas. Rio tersenyum kecil dan berjanji pergi setelah memastikan Banyu kembali.
Sebelum keluar, Rio berkata ia senang Kiran mulai meminta bantuan. Kiran mengoreksinya. "Aku meminta bantuan bukan untuk membuat kamu merasa semuanya membaik."
"Aku tahu. Aku senang karena kamu enggak sendirian."
Kiran menerima kalimat itu. Ia belum siap menyebut mereka kembali sebagai pasangan. Tetapi ia mulai percaya bahwa kepedulian tidak harus datang dalam bentuk pengorbanan atau keputusan sepihak. Ia dapat meminta, menetapkan batas, dan tetap dicintai.
Bella bertanya kepada Kiran apakah ia ingin mengetahui kabar restoran. Kiran mengiyakan. Bella membuka pesan dari rekan kerja yang mengatakan mereka menyimpan jadwalnya dan tidak mengharapkan Kiran kembali dalam waktu tertentu. Kiran membaca pesan itu dan menahan air mata.
"Mereka enggak marah?" tanyanya.
"Mereka khawatir, tapi tidak marah."
Kiran meminta Bella membalas bahwa ia berterima kasih dan akan menghubungi mereka bila siap. Bella menulis pesan itu, lalu menunjukkannya sebelum mengirim. Kiran mengangguk. Ia merasa lega karena bisa berkomunikasi tanpa menyembunyikan semua hal atau memberikan rincian yang belum ingin dibagi.
***
Banyu membantu mencatat barang-barang kost yang masih perlu diurus. Kiran ingin tetap menyimpan kunci sendiri setelah pintu diperbaiki. Ia tidak ingin tempat tinggalnya dipindah tanpa keputusan. Banyu menyetujui dan berkata pemilik kost telah memberi waktu.
Rio datang sore hari dan bertanya apakah Kiran ingin ia mengurus berkas bantuan administratif. Kiran menjawab ingin mendengar penjelasan petugas langsung. Rio meminta petugas datang sesuai waktu kunjungan. Ia tidak meminta akses ke pembicaraan.
Saat petugas menjelaskan pilihan yang ada, Kiran bertanya siapa yang dapat mengetahui data finansial dan bagaimana informasi itu digunakan. Petugas menjelaskan dengan terbuka. Kiran menuliskan apa yang ia pahami dan meminta salinan. Rio tetap duduk diam.
Setelah petugas pergi, Kiran berkata, "Dulu aku pikir satu-satunya cara agar kamu membantu adalah dengan menerima semuanya dari kamu."
Rio menjawab ia tidak pernah ingin bantuan menjadi alat kontrol, tetapi ia sadar tindakannya dulu dapat terasa seperti itu. Ia meminta maaf.
Kiran berkata ia ingin bisa meminta bantuan tanpa menukar kemandiriannya. Rio menyetujuinya. Jika bantuan datang dari dirinya, mereka akan membicarakan bentuk dan batasnya. Kiran tetap dapat menolak.
***
Malam itu Kiran meminta Rio menghubungi Banyu untuk menanyakan jadwal besok, tetapi ia sendiri yang mengirim pesan kepada Bella. Ia membagi tugas karena ingin, bukan karena orang lain memutuskan.
Banyu mengatakan ia bisa datang setelah bekerja. Bella berkata ia siap membantu membawa pakaian. Kiran berterima kasih dan meminta mereka tidak membatalkan seluruh jadwal hidup demi dirinya.
Keduanya berjanji akan menjaga waktu istirahat. Kiran mulai memahami bahwa bantuan bukan bukti ia tidak mampu. Ia juga tidak harus menolak agar orang-orang lain tetap bebas. Mereka dapat mengatur dukungan secara terbuka.
***
Sebelum tidur, Kiran menatap ponsel dan membuka foto lama Rio. Ia tidak menyembunyikan foto itu, tetapi juga tidak mengirimkannya. Ia belum siap menjadikan kenangan sebagai awal hubungan baru. Ia hanya membiarkan rasa rindu hadir tanpa harus langsung mengambil keputusan.
Kiran meminta Bella bercerita tentang apa yang sedang ia baca. Bella menceritakan jalan cerita secara singkat, tanpa khawatir Kiran tertinggal. Kiran mendengarkan dan bertanya apakah tokoh yang disukai Bella akan muncul lagi. Bella menjawab belum tahu. Kiran tertawa kecil.
Mereka sepakat Bella akan membawa buku itu bila Kiran ingin membacanya nanti. Kiran merasa senang membicarakan sesuatu yang tidak berhubungan dengan rumah sakit. Ia ingin tetap memiliki obrolan biasa dalam hidupnya.
=