Keesokan harinya, suasana rumah sakit lebih ramai. Tim yang akan menangani Kiran datang untuk memastikan keputusan dan persetujuannya masih sama. Mereka memperkenalkan diri dan menjelaskan hal-hal yang perlu dipahami tanpa menjejali Kiran dengan rincian teknis. Kiran mengulang kembali apa yang ia pahami dengan kata-katanya sendiri. Ketika ada bagian yang belum jelas, ia meminta penjelasan ulang.
Banyu berada di sisinya. Rio menunggu di ujung ruangan sampai Kiran menyuruhnya mendekat. Ia tidak mengenakan perlengkapan dokter dan tidak membawa hasil pemeriksaan. Hari itu ia hadir sebagai orang yang dicintai Kiran, bukan sebagai ahli bedah yang ingin membuktikan kemampuan.
"Aku masih takut," kata Kiran.
Prima menjawab bahwa takut tidak membatalkan persetujuan. Kiran boleh meminta jeda untuk berbicara, dan tim akan menjelaskan jika keadaan berubah. Ia kembali bertanya apakah keputusan ini tetap miliknya. Prima menegaskan iya.
Kiran mengangguk dan menyatakan persetujuannya sekali lagi. Tim mencatat keputusan itu. Tidak ada ucapan bahwa ia harus kuat demi Rio atau bahwa penolakannya dulu membuatnya pantas menderita. Keputusan tersebut lahir dari keinginannya mencoba menjalani waktu, bukan dari rasa bersalah.
***
Sebelum dibawa ke area perawatan berikutnya, Kiran meminta waktu bicara dengan Banyu. Ia berterima kasih karena Banyu menemaninya tanpa menagih kedekatan. Banyu menjawab ia melakukan itu karena Kiran sahabatnya.
"Kalau nanti aku enggak bisa bicara, kamu enggak perlu menganggap semua keputusan ada di tanganmu," ujar Kiran. "Ikuti apa yang sudah aku sampaikan dan tanyakan pada tim."
Banyu mengangguk. "Gue bakal jadi pendamping, bukan menggantikan suara lo."
Kiran lalu meminta Rio mendekat. Ia mengatakan belum bisa berjanji akan kembali menjadi kekasihnya. Rio menjawab ia tidak meminta janji. Kiran berkata ia ingin Rio tetap menjadi bagian hidupnya, tetapi hubungan mereka harus dibangun kembali dari awal, perlahan, dan hanya jika ia pulih cukup untuk memilih.
"Aku mau mengenal kamu lagi tanpa menganggap kita harus langsung kembali seperti dulu," kata Rio.
Kiran mengulurkan tangan. Rio bertanya dengan tatapan apakah boleh menggenggamnya. Kiran mengangguk. Sentuhan mereka sederhana. Tidak ada sumpah bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Saat tim bersiap melanjutkan proses, Kiran memandang Bella yang berdiri dekat pintu. Bella tersenyum dan mengatakan ia akan menunggu bersama Banyu. Kiran juga menatap Prima, yang berjanji semua informasi akan disampaikan melalui jalur yang mereka sepakati.
Rio mundur satu langkah, memberi jalan kepada tim. Ia ingin ikut, ingin memastikan, ingin melindungi Kiran dari apa pun. Namun ia tahu tugasnya sekarang adalah menghormati keputusan yang Kiran ambil dan mempercayai tim yang bertanggung jawab.
Pintu tertutup di antara mereka. Banyu duduk di ruang tunggu bersama Bella. Rio berdiri beberapa saat, lalu memilih kursi di seberang mereka. Mereka tidak saling memusuhi. Mereka hanya menunggu dengan kecemasan masing-masing.
Kiran telah memilih. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bagaimana hasilnya nanti. Tetapi untuk pertama kalinya, pilihan itu tidak dibuat sendirian dalam kebohongan.
Sebelum menyetujui, Kiran meminta bicara dengan Prima tanpa Rio di ruangan. Ia ingin memastikan keputusannya tidak tercatat sebagai persetujuan karena tekanan orang terdekat. Prima bertanya beberapa hal untuk memastikan ia memahami pilihan dan konsekuensinya. Kiran menjawab dengan kata-katanya sendiri, lalu menyatakan persetujuan.
Ia memilih Banyu sebagai pendamping. Rio tetap menunggu di luar sampai Kiran mengizinkan ia masuk.
***
Kiran memberitahu Rio bahwa ia setuju menjalani penanganan. Ia menegaskan keputusan itu bukan untuk menyenangkan Rio atau menutup rasa bersalah. Ia ingin memberi dirinya kesempatan setelah mendengar informasi dari tim.
Rio mengangguk. Ia ingin berkata banyak, tetapi hanya mengatakan ia mendengar. Kiran memintanya tidak mencoba masuk sebagai dokter. Rio berjanji mengikuti peran yang sudah ditetapkan.
"Kalau aku tidak mau bicara setelahnya?" tanya Kiran.
"Aku akan menghormati."
"Kalau aku berubah pikiran?"
"Kita akan dengar apa yang tim jelaskan. Aku tidak akan menyalahkanmu."
Kiran merasa ada ruang untuk mengambil keputusan tanpa menyerahkan haknya atas langkah berikutnya. Ia mengulurkan tangan. Rio bertanya apakah boleh menggenggamnya. Kiran mengangguk. Mereka berpegangan sebentar.
***
Banyu menyampaikan bahwa ia tidak akan lagi membiarkan orang salah paham dengan menyebut dirinya kekasih Kiran. Ia akan memperkenalkan diri sebagai teman dan manager restoran. Kiran berterima kasih. Rio meminta maaf kepadanya sekali lagi atas pukulan dan prasangka lama. Banyu berkata ia mendengar, tetapi belum siap memberi maaf. Rio menerima.
Bella juga datang. Ia mengatakan kesalahan Dika tidak pernah menjadi kesalahan orang yang berusaha menolong. Kiran mengakui ia sering merasa bersalah, tetapi ingin belajar berhenti menghukum diri sendiri. Bella berkata mereka dapat saling mengingatkan tanpa memaksa.
***
Tim mulai mengatur persiapan pada waktu yang telah dijelaskan. Tidak ada rincian tindakan yang dibicarakan di depan Kiran tanpa persetujuannya. Rio mengundurkan diri dari peran klinis langsung dan meminta Rama menjadi dokter yang menangani. Prima tetap membantu koordinasi sebagai paman sekaligus dokter yang berwenang.
Kiran meminta semua keputusan dijelaskan kepadanya. Tim menyetujui dan mencatat pilihannya.
Pada akhir hari, Kiran merasa lelah. Ia belum tahu hasilnya. Ia hanya tahu ia telah memilih setelah mendengar, bertanya, dan mempertimbangkan. Rio duduk di kursi yang ia tunjuk. Untuk saat itu, mereka belum kembali menjadi pasangan, tetapi mereka kembali berbicara sebagai dua orang yang berusaha jujur.
Setelah konsultasi akhir, Kiran meminta semua orang keluar beberapa menit. Ia ingin memastikan persetujuan itu sungguh miliknya. Ia meninjau kembali pertanyaan, membayangkan bukan reaksi Rio atau Bella, melainkan apa yang ia inginkan untuk dirinya sendiri.
Saat ia memanggil Prima kembali, ia mengucapkan keputusan dengan jelas. Prima mengonfirmasi dan mencatat. Kiran merasa takut, tetapi tidak merasa dipaksa.
Rio menunggu di luar. Kiran memanggilnya hanya setelah ia siap menyampaikan. Keputusan itu tetap berada dalam tangannya.
Sebelum menyatakan keputusan, Kiran meminta waktu beberapa menit sendiri. Ia membaca kembali catatan konsultasi dan mengingat pertanyaan yang telah dijawab. Ia merasa takut, tetapi rasa takut itu tidak lagi menjadi satu-satunya alasan untuk menolak.
Saat memanggil Prima, ia mengucapkan keputusan secara jelas dan meminta agar setiap perubahan dijelaskan kepadanya. Prima menyetujui dan mengulang kembali batas tersebut.
Kiran kemudian meminta Banyu hadir sebagai pendamping. Ia memilih sendiri siapa yang ia percaya untuk duduk di sampingnya.
Kiran memastikan catatan konsultasi tersimpan dekat tempat tidur. Ia meminta perawat memberitahu jika ada perubahan jadwal, bukan hanya mengandalkan Banyu. Perawat mengiyakan, dan Kiran mengulang waktu konsultasi agar tidak salah. Ia merasa lebih siap karena dapat mengikuti prosesnya sendiri.
=