Pagi hari keempat, Kiran meminta Prima datang setelah sarapan. Ia sudah membaca kembali catatan dan menandai pertanyaan yang belum dijawab. Rio menunggu di lorong. Banyu berada di kamar, sementara Bella sedang mengurus beberapa keperluan.
Prima mendengar setiap pertanyaan tanpa terburu-buru. Kiran bertanya tentang proses persetujuan, siapa yang bertanggung jawab menjelaskan perubahan rencana, dan bagaimana ia bisa meminta waktu bila merasa tidak nyaman. Prima menjawab secara umum dan memastikan tim akan hadir untuk menjelaskan hal yang spesifik. Ia tidak memberikan rincian tindakan yang tidak perlu.
"Kalau aku berubah pikiran sebelum tindakan dimulai?" tanya Kiran.
"Beritahu tim. Kami akan membicarakan pilihan yang tersedia dan apa artinya bagi keadaanmu."
Kiran menatap Prima. Ia ingin tahu apakah penolakannya dulu membuat dokter marah. Prima berkata tidak. Ia mungkin berharap Kiran memilih penanganan yang dinilai sesuai, tetapi keputusan tetap milik pasien. Ia tidak menyalahkan Kiran karena takut atau karena menunda.
Setelah konsultasi, Kiran meminta Rio masuk. Ia memberitahu bahwa ia akan menyetujui penanganan yang sudah dijelaskan, tetapi ingin semua informasi penting disampaikan langsung kepadanya dan Banyu menjadi pendamping. Rio boleh hadir jika diminta, namun tidak akan menjadi dokter yang menangani.
Rio mengangguk dengan berat. Ia ingin mengambil alih sebagai ahli bedah, tetapi memahami kedekatan emosionalnya dapat mengganggu penilaian dan keputusan Kiran. Ia berkata, "Aku akan menghormati tim yang kamu pilih."
"Jangan jadikan keputusan ini alasan kamu harus membalas dengan menyelamatkan aku."
"Aku enggak akan."
Kiran menandatangani dokumen setelah Prima memastikan ia sudah memahami. Keputusannya tidak dibuat karena Rio memohon, tetapi setelah ia mengajukan pertanyaan dan mendapat penjelasan. Saat pena menyentuh kertas, tangannya bergetar. Banyu menaruh tangan di dekatnya tanpa menyentuh, menunggu izin. Kiran mengangguk dan Banyu menggenggam jarinya sebentar.
***
Siang harinya, Kiran berbicara dengan Bella tentang rasa takutnya. Ia berkata ia ingin memberi dirinya kesempatan, tetapi tidak tahu bagaimana menghadapi kemungkinan hasil yang berbeda dari harapan. Bella menjawab ia tidak perlu membayangkan semuanya sekaligus. Hari itu mereka hanya perlu menjalani langkah yang sudah disepakati.
Rio mendengar dari kursi. Ia tidak menyela dengan keyakinan bahwa ia dapat mengalahkan semua kemungkinan. Ia berkata ia akan tetap berada di rumah sakit sesuai permintaan Kiran, tetapi tidak akan mendekat bila Kiran ingin ruang.
Kiran bertanya apakah Rio merasa kecewa karena ia tak menangani sendiri. Rio menjawab yang ia rasakan bukan kekecewaan pada Kiran, melainkan kesadaran bahwa cinta tidak memberinya hak mengambil keputusan medis. Ia harus menerima peran yang diminta.
Kiran memejamkan mata sejenak. Ia merasa lega, tetapi juga lelah karena setiap hal harus dipikirkan. Banyu mengingatkan bahwa ia boleh berhenti bicara dan beristirahat. Kiran mengangguk. Ia meminta semua orang pulang bergantian, bukan meninggalkannya sekaligus.
Malam itu, Rio mengirim pesan singkat: Aku di rumah sakit. Aku menunggu sesuai yang kamu minta. Kiran membalas: Terima kasih. Jangan lupa istirahat.
Kiran belum tahu apa yang akan terjadi setelah penanganan dimulai. Namun ia telah melakukan sesuatu yang dahulu sulit baginya: meminta penjelasan, menyampaikan batas, dan memilih untuk dirinya sendiri.
Setelah konsultasi, Kiran meminta waktu sendiri untuk meninjau catatan. Banyu dan Bella keluar. Rio menunggu di ruang tunggu dan tidak mengirim pesan berulang kali. Ketika Kiran sudah siap, ia mengirim satu kata: masuk.
Rio datang dan duduk di kursi. Kiran menyampaikan bahwa ia memiliki beberapa pertanyaan tambahan tentang pemulihan dan risiko. Ia tidak akan memutuskan sampai ia mendapat jawaban. Rio berkata itu haknya. Ia juga berjanji tidak akan menggunakan kedudukannya untuk membuat jawaban datang lebih cepat dari prosedur.
***
Prima kembali dan menjawab pertanyaan Kiran. Ia memastikan Kiran memahami bahwa ada ketidakpastian dan tidak ada jaminan. Kiran bertanya apakah keputusan bisa dibicarakan lagi jika ia merasa berubah pikiran sebelum tahap berikutnya. Prima menjawab tim akan berbicara dengannya sesuai kondisi.
Kiran meminta Rio berada di ruangan, tetapi tidak menjawab untuknya. Rio duduk diam. Saat Prima bertanya apakah Kiran memahami penjelasan, Kiran sendiri yang mengulang poin-poinnya. Ia menyebut ia masih takut, tetapi mulai condong menerima tindakan yang disarankan.
Prima bertanya apakah ia ingin menyatakan keputusan sekarang atau menunggu. Kiran memilih menunggu satu malam. Ia ingin memikirkan pilihannya tanpa tekanan. Prima menyetujui.
***
Rio bertanya apakah Kiran ingin membicarakan rasa takutnya. Kiran menjawab ia takut dirinya memilih hanya karena sudah terlalu lama menolak. Ia ingin tahu apakah keputusan itu benar-benar keinginannya.
Rio berkata ia tidak dapat menentukan jawabannya, tetapi ia dapat tetap berada di dekat tanpa mendorong. Kiran mengingatkan bahwa kedekatan mereka belum kembali. Rio mengakui.
Mereka berbicara tentang dua tahun yang terlewat, tetapi tidak mengulang semua hal. Rio berkata ia ingin suatu hari mengenal Kiran lagi, bila Kiran juga menginginkannya. Kiran menjawab ia belum tahu, tetapi ia tidak ingin menutup percakapan.
Sebelum tidur, ia meminta Banyu tinggal di ruang tunggu. Rio diminta pulang. Rio menerima permintaan itu dan berkata ia akan datang hanya jika Kiran memanggil.
Kiran membaca catatannya sekali lagi. Ia merasakan takut, tetapi juga keinginan untuk memberi diri sendiri kesempatan. Ia memisahkan keputusan itu dari keinginan Rio dan rasa bersalah kepada Bella. Besok ia akan menjawab setelah mendengar penjelasan yang sama sekali lagi.
Kiran bertanya kepada Banyu apakah ia juga merasa takut terhadap keputusan esok hari. Banyu menjawab iya, tetapi ia tidak ingin rasa takutnya memengaruhi pilihan Kiran. Ia akan menyampaikan bila dirinya butuh istirahat, bukan berpura-pura kuat.
Kiran mengucapkan terima kasih. Ia berkata ia ingin orang-orang jujur jika lelah, agar ia tidak menebak-nebak. Banyu menyetujui dan mengatakan hubungan mereka tidak bergantung pada ia selalu tersedia.
Prima memberi Kiran kartu kontak tim yang bertugas. Ia menjelaskan Kiran dapat meminta pertanyaan ditujukan kepada dokter yang menangani, bukan kepada Rio. Kiran menyimpan kartu itu.
Rio bertanya apakah ia boleh membawa salinan jadwal. Kiran berkata ia sudah punya. Rio menerima dan menyimpan ponselnya.
Mereka tidak harus menyepakati semuanya malam itu. Kiran menutup percakapan dengan meminta istirahat, dan semua orang keluar sesuai permintaannya.
=