Sore hari kelima, Kiran terbangun sebelum perawat datang. Ia meminta air dan duduk sebentar, ingin melihat halaman rumah sakit melalui jendela. Rio baru tiba dan menunggu di lorong sampai Kiran memberi izin. Ia duduk dekat jendela, tidak menghalangi pemandangan.
"Kamu sudah tidur?" tanya Kiran.
"Sedikit."
"Kamu harus istirahat juga."
Rio tersenyum tipis. "Aku akan coba."
Kiran berkata ia ingin menyampaikan sesuatu kepada semua orang sebelum tim membawanya. Rio bertanya siapa saja yang ia inginkan di ruangan. Kiran memilih Banyu, Bella, Prima dan Rio. Ia tidak ingin terlalu banyak orang berdiri di sekelilingnya.
Mereka berkumpul setelah Kiran sarapan. Kiran mengatakan ia berterima kasih, tetapi tidak ingin siapa pun merasa harus terus kuat demi dirinya. Jika ia takut, ia akan mengatakannya. Jika ia meminta jeda, mereka harus mendengarkan. Banyu mengangguk. Bella menggenggam tangannya. Prima mengonfirmasi bahwa tim akan menjelaskan bila ada perubahan.
Rio berkata ia tidak akan memakai kata cinta untuk membuat Kiran berjanji bertahan. Kiran menatapnya dan mengangguk. Ia tahu Rio takut, tetapi ia tidak ingin menjadi penanggung jawab atas seluruh perasaannya.
***
Ketika perawat datang untuk mengantar Kiran, Banyu berjalan di samping ranjang. Rio tetap beberapa langkah di belakang. Kiran melihatnya dan meminta ia mendekat. Rio menanyakan sekali lagi apakah boleh memegang tangannya. Kiran mengiyakan.
"Aku belum memutuskan apa yang terjadi di antara kita," kata Kiran.
"Aku tahu. Kamu tidak perlu memutuskan sekarang."
"Aku cuma ingin kamu tahu aku memilih ini untuk diriku."
Rio mengangguk. "Aku dengar."
Kiran mengalihkan pandang ke Banyu. Ia berterima kasih karena sahabatnya tidak pernah menuntut sesuatu sebagai balasan. Banyu menjawab ia akan menunggu di ruang tunggu bersama Bella.
Di depan pintu, tim meminta para pendamping berhenti. Kiran menatap mereka satu per satu. Tidak ada yang memberi janji berlebihan. Bella berkata ia akan ada di luar. Banyu mengangguk. Rio menahan air mata dan berkata, "Aku di sini kalau kamu ingin aku."
Pintu tertutup perlahan. Rio tidak mencoba masuk atau meminta pembaruan yang tidak berhak ia terima. Ia duduk bersama Banyu dan Bella. Mereka menunggu dengan ketakutan yang berbeda-beda, tetapi tidak saling menyalahkan.
Banyu menyodorkan air kepada Rio. Rio menerimanya. "Gue tahu lo masih marah."
"Gue masih ingat apa yang lo lakuin," jawab Banyu. "Tapi sekarang kita tunggu Kiran. Nanti urusan kita bisa dibicarakan kalau waktunya tepat."
Rio menerima jawaban itu. Ia menyadari bahwa hari tersebut bukan panggung untuk membuktikan dirinya dokter hebat atau kekasih yang paling berkorban. Ia hanya bisa menghormati keputusan Kiran dan mempercayai tim yang menangani.
Di balik pintu, Kiran memasuki tahap baru dalam perjalanan yang ia pilih. Di luar, orang-orang yang ia izinkan menunggu tanpa menuntut hasil tertentu. Tak seorang pun tahu apa yang akan terjadi. Mereka hanya tahu Kiran telah mengambil keputusan dengan suaranya sendiri.
Pagi menjelang hari penanganan, Kiran meminta Prima mengonfirmasi kembali siapa yang bertugas dan siapa yang memberi kabar. Ia ingin Banyu menjadi pendamping utama dan Bella menjadi kontak kedua. Rio hanya menerima informasi yang diizinkan Kiran. Prima memastikan pengaturan itu tercatat.
Kiran juga meminta satu salinan daftar persetujuan disimpan bersama barang pribadinya. Ia ingin tahu apa yang ia setujui. Tidak ada yang menganggap pertanyaan itu sebagai tanda ia berubah pikiran. Prima menjelaskan dengan sabar.
***
Banyu dan Bella datang sesuai permintaan. Mereka membahas hal yang mungkin Kiran perlukan setelahnya, tanpa merencanakan terlalu jauh. Kiran meminta ponselnya disimpan, bukan diberikan kepada orang lain. Bella berjanji.
Banyu berkata restoran akan tetap berjalan. Ia tidak akan mengirim kabar setiap jam atau meminta Kiran memikirkan pekerjaan. Kiran tertawa kecil dan berkata ia tahu Banyu bisa mengelola restoran, meski kadang ia mengeluh.
"Keluhan gue bagian dari manajemen," kata Banyu.
Kiran menggeleng. Suasana ringan itu membantunya merasa tetap menjadi dirinya sendiri.
***
Rio datang selepas konsultasi akhir. Ia bertanya apakah Kiran ingin berbicara. Kiran mengangguk. Ia mengatakan ia tidak ingin menjadi seseorang yang harus dikasihani. Rio berkata ia tidak memandangnya begitu.
"Kalau keadaan berubah, jangan menyebut aku lemah karena takut," katanya.
"Aku tidak akan."
Rio juga berkata ia tidak akan menganggap penanganan sebagai pembayaran atas hubungan mereka. Kiran tidak harus kembali menjadi kekasihnya karena ia menemani atau membantu.
Kiran mengulurkan tangan. Rio memegangnya setelah mendapat izin. Mereka duduk sebentar tanpa bicara.
***
Sore hari, tim mengingatkan bahwa proses dimulai esok pagi. Kiran meminta agar malam itu tidak ada lagi pembicaraan medis kecuali sesuatu yang perlu diketahui. Semua orang setuju. Bella memilih film ringan di ponsel, Banyu menertawakan beberapa adegan, dan Rio mendengarkan.
Kiran tidak tertawa sepanjang waktu, tetapi ia sempat tersenyum. Ia berkata ia ingin mengingat bahwa hari sebelum tindakan juga memiliki hal biasa, bukan hanya rasa takut.
Saat malam tiba, ia meminta Banyu pulang agar dapat tidur. Banyu berjanji datang pagi. Rio juga pergi setelah Kiran mengizinkan. Ia berjalan keluar dan tidak menoleh berkali-kali.
Kiran menutup mata. Ia belum tahu hasil besok. Namun ia telah mengatur siapa yang mengetahui apa, siapa yang berada di sisinya, dan kapan ia ingin berhenti bicara. Rasa takutnya tidak mengambil semua kendali.
Bella bertanya apakah Kiran ingin memberi pesan kepada rekan kerja tertentu. Kiran memilih satu pesan untuk pegawai baru yang belum lama bekerja. Ia berkata kepada Bella bahwa ia berharap orang itu tidak merasa harus mengambil semua tugasnya.
Bella menyampaikan pesan itu dan kembali dengan jawaban bahwa rekan kerja tersebut mengerti. Kiran merasa lega karena ia masih dapat berkontribusi tanpa harus kembali bekerja dalam keadaan belum siap.
***
Rio mendengar tentang pesan itu dan berkata Kiran selalu memperhatikan orang lain. Kiran menjawab ia ingin tetap perhatian, tetapi tidak ingin menjadikan itu alasan mengabaikan dirinya. Rio menyetujui.
Rio meminta Prima menjelaskan kembali pilihan yang tersedia dengan bahasa sederhana. Ia ingin memahami tanpa mengambil keputusan untuk Kiran. Prima mengingatkan bahwa Kiran berhak menentukan apa yang sanggup ia jalani; tugas mereka adalah memberi informasi dan ruang. Rio mencatat pertanyaannya lalu menyerahkannya kepada Banyu agar Kiran dapat memilih kapan ingin mendengar. Untuk pertama kalinya, ia tidak menganggap menunggu sebagai kelalaian. Menghormati jawaban seseorang juga berarti menahan keinginannya sendiri untuk mengatur hasil. Itu sulit, tetapi ia ingin belajar melakukannya dengan benar.