Pagi hari kedelapan, Kiran sempat membuka mata saat Naya datang. Naya bertanya apakah ia ingin mendengar cerita atau ingin beristirahat. Kiran menggerakkan jari, meminta Naya bercerita. Naya menceritakan tanaman di rumah yang hampir mati karena Antoni lupa menyiramnya. Ia tidak mengatakan Kiran harus pulang untuk melihatnya.
Kiran tampak berusaha tersenyum, lalu memejamkan mata. Naya tidak menafsirkan senyum itu sebagai tanda semua akan baik. Ia duduk sebentar dan keluar setelah Kiran tertidur kembali.
***
Rio datang menjelang siang. Ia bertanya kepada Banyu apakah Kiran ingin menerima kunjungan. Banyu menyampaikan pertanyaan itu kepada perawat, lalu kembali dengan jawaban bahwa Kiran sedang beristirahat. Rio tidak memaksa.
Ia duduk di lorong bersama Renaldy. Renaldy bertanya apakah Rio sudah makan. Rio berkata belum lapar. Renaldy mengingatkan bahwa tubuhnya tetap membutuhkan perhatian. Rio akhirnya menerima makanan yang dibawa Naya.
"Lo biasa mengingatkan pasien buat menjaga diri," kata Renaldy. "Sekarang lo juga harus belajar menerapkan itu."
Rio tertawa singkat tanpa humor. "Gue gak tahu caranya berhenti berharap."
"Enggak ada yang minta lo berhenti berharap. Tapi jangan mengubah harapan jadi kepastian."
Kalimat itu menemani Rio sepanjang siang. Ia tidak berjanji Kiran akan pulih, tidak kepada dirinya sendiri dan tidak kepada orang lain. Ia hanya berharap tim dapat memberinya kesempatan lebih banyak waktu.
Prima memberikan pembaruan bahwa kondisi Kiran masih memerlukan perhatian intensif. Ia berbicara dengan Banyu selaku pendamping, kemudian memberi tahu keluarga sesuai persetujuan. Rio tidak mengajukan pertanyaan klinis yang tidak seharusnya ia tangani.
***
Ketika Kiran kembali sadar sebentar, ia meminta Banyu menyampaikan bahwa ia ingin Rio masuk. Rio masuk setelah mendapat izin. Kiran menatapnya lama sebelum berkata, "Jangan janji kamu akan selalu bisa menjaga semua orang."
Rio terdiam. "Aku enggak akan."
"Aku dulu juga berpikir aku harus menjauh supaya kamu enggak kehilangan apa pun. Itu salah."
"Kamu membuat keputusan dalam ketakutan. Aku juga."
Kiran menggerakkan tangannya. Rio bertanya apakah boleh menggenggam. Ia mengangguk. Rio merasakan tangan itu lemah di telapak tangannya, tetapi ia tidak menyebutnya tanda tertentu.
Kiran berkata ia masih mencintai Rio. Kalimat itu tidak disertai permintaan kembali atau janji masa depan. Rio membalas bahwa ia juga mencintainya, dan ia tidak akan menggunakan kata itu untuk menahan Kiran.
Setelah Kiran tertidur, Rio keluar. Di lorong, Banyu melihat wajahnya dan tidak berkata apa-apa. Mereka duduk berdampingan. Tidak ada yang dapat menjanjikan bagaimana keadaan esok hari. Mereka hanya menjaga ruang agar Kiran tidak perlu menanggung ketakutan orang lain selain miliknya sendiri.
Antoni meminta Rio makan sebelum kembali ke lorong. Rio menolak, lalu berubah pikiran saat Naya berkata Kiran tidak akan ingin ia jatuh sakit. Ia makan beberapa suap. Naya tidak memuji atau membuatnya merasa seperti anak kecil. Ia hanya duduk menemani.
Rio berkata ia biasa mengatur jadwal semua orang, tetapi sekarang tidak tahu apa yang harus dilakukan. Naya menjawab ia tidak harus mengatur duka orang lain. Ia dapat mengatakan apa yang ia rasakan dan meminta orang lain duduk bersamanya.
***
Rama menghubungi Rio untuk menyampaikan bahwa tim masih memantau Kiran. Rio bertanya apakah ada sesuatu yang keluarga perlu lakukan. Rama menjawab belum, dan meminta mereka mengikuti arahan. Rio tidak meminta penjelasan di luar kapasitasnya sebagai keluarga.
Ia menyadari peran direktur tidak memberinya jalan untuk mengendalikan keadaan. Ia mengirim pesan kepada Antoni agar tugas rumah sakit tetap dikelola pihak yang tepat. Antoni menjawab semua berjalan dan Rio tidak perlu masuk rapat.
***
Kiran membuka mata sebentar saat Bella duduk di sampingnya. Bella menceritakan ia sudah mengabari restoran bahwa Kiran belum tahu kapan kembali. Kiran menggerakkan jari, lalu Bella bertanya apakah ia ingin berhenti bicara. Kiran mengangguk.
Bella keluar dan menyampaikan bahwa Kiran perlu istirahat. Rio bertanya apakah ia ingin masuk. Bella berkata belum. Rio menerima dan duduk kembali.
***
Sore hari, hujan kembali turun. Rio memandangnya dari jendela dan teringat Kiran pernah menyebut hujan membuat jalan pulang terasa panjang. Ia tidak mengubah kenangan itu menjadi pertanda. Ia hanya merasakan rindunya.
Renaldy duduk di sampingnya. Rio berkata ia takut tak akan pernah sanggup beroperasi lagi. Renaldy menjawab itu keputusan yang tidak perlu dibuat saat Kiran masih dirawat. Rio setuju.
Mereka menunggu pembaruan berikutnya. Kiran masih dalam pengawasan dan kondisinya belum pasti. Rio belajar berada dalam ketidaktahuan tanpa menjadikan orang lain sasaran atau memaksa dirinya menemukan jawaban sekarang.
Kiran membuka mata saat Banyu menyebut bahwa Rio sempat pulang. Ia menggerakkan alis seolah bertanya. Banyu menjelaskan Rio sudah kembali setelah beristirahat dan tidak masuk tanpa izin.
Kiran mengangguk. Ia meminta Banyu mengatakan kepada Rio bahwa ia tidak marah, tetapi ingin tidak bicara malam itu. Banyu mengirim pesan sesuai kata-katanya. Rio membalas bahwa ia mengerti dan berterima kasih atas kabar itu.
***
Kiran merasa lega karena tidak harus menenangkan Rio secara langsung. Ia bisa memilih kapan ingin bicara dan tetap yakin bahwa hubungan mereka tidak akan dihukum oleh satu malam sunyi.
Rama datang memberi kabar umum dan mengingatkan bahwa tim perlu bekerja tanpa gangguan. Rio meminta maaf karena beberapa kali hampir masuk. Rama berkata ia memahami kecemasan, tetapi batas tetap harus dijaga.
***
Rio berjanji tidak akan meminta informasi dari staf yang tidak bertugas. Ia meminta semua pembaruan disampaikan melalui Prima dan Banyu sesuai persetujuan Kiran.
***
Ia sadar dahulu ia menggunakan jabatan untuk mencari alamat dan informasi. Kini ia berusaha tidak mengulangi cara itu, meski rasa takut masih mendorongnya untuk mengontrol.
Rio menghubungi Renaldy setelah malam yang sulit dan berkata ia tidak ingin sendirian. Renaldy datang, duduk bersamanya, lalu bertanya apakah ia ingin bicara.
Rio memilih diam. Renaldy tidak mengisi keheningan. Mereka duduk sampai napas Rio kembali tenang, lalu Renaldy mengantarnya ke rumah sakit.
Pagi berikutnya Rio menyusun daftar urusan rumah sakit yang harus ia delegasikan. Ia meminta Rama memimpin rapat klinis dan memberi tahu Antoni tentang penyesuaian jadwalnya. Ia tahu ia tak mampu menjadi semua hal sekaligus. Seusai mengirim daftar, ia keluar menghirup udara. Renaldy menemaninya tanpa mendesak percakapan. Kecemasan masih ada, tetapi Rio tidak membiarkannya menjadi alasan untuk melanggar batas yang telah disepakati. Ia mulai belajar meminta bantuan sebelum dirinya kehilangan kendali.