Suasana rumah Wiratmadja Sore itu cukup lenggang. Tuan rumah masih tidak nampak batang hidungnya, Bude Menik dan Pak D Hardi sedang tidak berada di rumah sejak tadi pagi. Hanya berisikan Alea, mbok Yum, dan tentunya si putra sulung Danuraga Wiratmadja.
Alea terlihat sibuk dengan beberapa rangkaian bunga segar didalam tiga vas bunga miliknya, ia hampir tiga puluh menit merangkai beberapa macam bunga itu untuk dimasukkan kedalam Vas untuk dijadikan hiasan.
Lalu tidak berselang lama mbok Yum datang dengan beberapa belanjaan penuh dikedua tangannya. Disusul dengan Danu yang sepertinya baru turun dari singgasananya, lantai tiga dengan segala perlengkapan nge-gymnya. Kaos tanpa lengan serta celana pendek yang terlihat membalut tubuh atletisnya.
Kalau seperti ini Danuraga tidak seperti seorang pengacara kondang melainkan atlet binaragawan. Selalu satu kata untuknya, Sempurna.
"Aden Cari apa?" Mbok Yum akhirnya bersuara setelah pusing sendiri melihat Danu yang sibuk mengaduk isi kulkas.
"Aku kayaknya lihat puding mangga disini deh kemarin mbok. Dua kotak kan?"
"Oh itu kemarin saya disuruh mbak Alea bawa pulang den"
"Oh yaudah. Kalau gitu tolong buatin saya kopi ya mbok"
"Iya tunggu ya den"
Lalu Danu mengintari meja dapur dan duduk tepat didepan Alea yang masih sibuk dengan rangkaian bunganya. Menatap gadis cantik dengan dress motif polkadot yang selalu terlihat manis di mata Danuraga.
Kini ia bahkan lupa dengan permasalahan mereka yang kemarin. Berdebat, penuh emosi, saling ingin menang. Seolah tidak pernah terjadi apa-apa diantara keduanya. Mungkin hanya Danu yang merasakan hal seperti itu.
"Toko tutup?"
"Buka. Ada Nina"
"Kamu nggak kesana?"
"Nanti aja. Aku lagi nunggu paket datang mas"
Danu mengangguk paham, dengan fokusnya yang masih menatap Alea. Kalau dilihat-lihat Alea memang sudah tumbuh menjadi gadis yang luar biasa dari sejak mereka pertama bertemu.
Dari mulai parasnya, sifat, serta ide-ide cemerlang gadis itu memang banyak sekali perubahan yang segnifikan. Bayangkan saja, tiga belas tahun yang lalu Alea hanya seorang bocah ingusan yang cengeng dan manja. Namun, sekarang itu menghilang entah kemana. Yang ada hanya Alea yang dewasa, cerdas dan mandiri.
"Bapak sama Ibu masih lama pulangnya?"
"Kurang tahu aku mas. Tapi beliau bilang kalau kemungkinan akan pulang larut malam"
"Yasudah kalau gitu kita ngobrolnya kalau mereka pulang aja"
"Emang daritadi kita nggak ngobrol?"
"Bukan itu maksudku Ale, maksudku soal pernikahan konyol itu"
"Kenapa harus nunggu Bude dan Pak D?"
"Ngomong sama kamu itu nggak akan ada selesainya!" Nah kan, kini Danu sudah mulai tersulut lagi. Matanya bahkan sudah menajam menatap Alea, lengkap dengan emosi yang siap tumpah ruah.
Si emosian memang begitu. Panas sedikit bukan asap lagi yang keluar, melainkan semburan api maha dahsyatnya.
"Kenapa? Yang akan menikah kan kita bukan orang tua mas"
"Nah kan, sampai sini aja kamu masih nggak ngerti-ngerti juga!"
"Udahlah mas, sekarang aku tanya deh emangnya mas kenapa nggak mau nikah sama aku? Apa aku cuma anak udik yang nggak berpendidikan tinggi jadi mas nolak?"
Kali ini nafas Danuraga kembali berhembus kasar. Dibarengi dengan rasa kesal dan capek yang menjadi satu, kedua netra beningnya bertambah melotot saat Alea membalas tatapannya.
"Sekalipun kamu pengemis, kalau prioritas utama aku kamu, maka bukan cuma pernikahan yang akan ku arungi Lea. Apapun yang menjadi keinginan mu. Sayangnya kamu bukan prioritas ku saat ini"
Alea tersenyum tipis, Bahkan lebih mirip seperti senyum mengejek. Tubuhnya berdiri dan berinisiatif mendekati Danu dengan kedua tangannya yang terlipat didada, "Prioritas mas itu cuma menuruti perintah Ibu dan bapak Mas Danu. Karena mas nggak punya pilihan lain"
"Kamu pikir kamu menang dengan tameng Ibu dan Bapak?" Kali ini bergantian, Danu yang tersenyum miring. Kilatan penuh peringatan itu ia tujukan pada gadis yang tengah mencoba menantangnya ini, "Dengar Alea Garwita, Aku ini anaknya! Anak kandungnya. Darah dan air itu hal yang berbeda. Persis layaknya kamu dan aku"
"....."
"Dan satu lagi, jangan terlalu percaya diri meskipun Ibu sangat ingin kamu menjadi menantunya. Karena aku punya segala macam cara untuk membuatmu mundur dengan sendirinya!"
"Oh ya?! Buktikan dong!"
Sudah Danu bilang belum kalau Alea itu spesies yang bengal dan suka menantang? Namun jika kalah telak ia akan bersembunyi mati-matian untuk melimpahkan segala kekalahannya pada lawan bicaranya. Tipe-tipe gadis yang menyebalkan dan mau menangnya saja.
"Bukti yang bagaimana adikku sayang? Mendepak mu dari rumah ini kalau aku mau, kamu bisa langsung jadi gelandangan? Atau kamu mau kukirim ke luar kota dan negeri sekalipun agar tidak bisa kembali kesini? I can do everything easily Alea. So stop struggling"
*****