"Bu, masa iya Danu harus menikahi bocah ingusan? Danu ini mau berumah tangga bukan bangun rumah-rumahan"
"Siapa yang bilang kalau kamu mau bangun rumah-rumahan"
"Kalau gitu Danu nggak bisa menikahi Lea!"
"Kenapa nggak bisa?"
"Alea udah ku anggap adik! Kita bareng-bareng selama tiga belas tahun Bu!"
"Kalian ngga punya hubungan darah. Sah sah saja!
"Nggak bisa begitu Bu. Alea itu nggak jelas. Dia juga pasti pengen bersenang-senang dulu"
"Kebanyakan alasan kamu! Tadi katanya kamu anggep adik, sekarang kamu bilang Alea nggak jelas! Kamu yang nggak jelas!"
"Pokoknya Aku tetap ngga setuju!"
"Berarti kata tidak suka tidak ada dalam daftar kamu untuk menolaknya kan?"
Danu terdiam. Pikirannya seketika tertuju pada sosok gadis 23 tahun itu. Alea Garwita. Gadis bengal, ceriwis dan selalu membuat pusing hari-harinya. Sial! memikirkan Alea sebentar sudah membuat dirinya dengan menghela nafas, bahkan keningnya kini berdenyut sakit.
"Kenapa sih Bu harus Lea?"
"Karena yang cocok sama sikap mu ini cuma Ale aja. Nggak ada lagi"
"Terus hubungan ku dengan Ajeng bagaimana Bu?"
"Ajeng masih ada suaminya. Kamu jangan ngaco ya Nu! Kamu itu pimpinan perusahaan kok attitude nya nol gitu. Kamu tau kan kalau hubungan mu dan Ajeng itu terlarang selagi dia belum ketuk palu? Jangankan ketuk palu, dia datang ke pengadilan saja masih berfikir dua kali!"
"Itu karena mantan suaminya yang mbulet Bu. Mantan suaminya nggak mau pisah"
"Ya itu bagus. Itu berarti suaminya memikirkan masa depan anaknya. Nggak kayak Wadon nya yang kegatelan!"
"Ibu nggak suka sama Ajeng?"
"Bukannya ibu nggak suka, tapi Ajeng itu ngga jelas dia janda atau bukan. Kamu jangan bikin ibu malu ya. Kalaupun Ajeng itu sudah resmi janda bersurat, mau nikah sekarangpun ibu bakal jabani kamu"
"Pokoknya Danu nggak bisa nikah sama Alea!"
"Kenapa? Beri ibu alasannya kenapa?!"
"Alea itu bengal Bu! Gimana dia bisa jadi istrinya Danu. Yang ada Danu bisa sakit kepala tiap hari"
"Alasan mu nggak logis! Pokoknya bulan depan kalian sudah tunangan titik!"
"Ibu!!"
"Apa?!! Kamu mau jadi anak durhaka?! Melawan ibu kok ya sudah jadi kebiasaan mu"
"Yang bikin Danu durhaka ya ibu sendiri"
"Masih aja jawab ya kamu! Sudah, Kalau mau nolak, bilang sendiri sama Ayahmu dan siap-siap kantor cabang menantimu, semua aset-aset mu nggak akan kamu dapatkan lagi!"
"Nggak bisa gitu dong Bu, Danu juga punya hak untuk hidup pribadi dan masa depan Danu. Ini nggak adil"
"Wis, pokok e itu keputusan final Ibu. Sekarang siap-siap sana jemput Alea di tokonya dan setelah itu kita berangkat buat fitting kebaya tunangan mu"
Danuraga Wiratmaja harus menahan emosinya yang sudah berada di puncak ubun-ubun akibat Kalimat-kalimat retoris sang ibu barusan. Yang benar saja sang ibu tetap kekeuh menyuruhnya untuk menikahi Alea setelah ribuan alasan ia kerahkan.
Padahal Ibunya sendiri yang menyuruhnya agar ia menganggap Alea Seperti adik kandungnya sendiri, Seperti perintahnya beberapa tahun lalu. Tapi apa sekarang? Alea garwita Gadis yang merangkap sebagai tetangga Ibu nya di kampung halamannya dulu tiba-tiba harus menjadi calon istrinya? Catat itu! Calon istrinya!! Kekonyolan macam apa ini? Dan lebih kebetulan, Alea ini sudah tinggal di rumah ibunya sejak ia ditinggal kedua orangtuanya hingga memutuskan untuk ikut ibunya ke kota guna melanjutkan hidup. Lebih tepatnya ibunya lah yang memaksa untuk mengadopsi gadis itu.
"Ayo Nu! Kasian Ale nunggu di toko nanti"
"Dia udah dewasa, Kenapa masih harus diantar jemput? Banyak ojol. Ada motor juga di rumah. Kenapa nggak bawa motor aja"
"Dia itu lagi ada pesenan besar katanya. Pinter kan dia. Seenggaknya meskipun dia nggak mau kuliah dia punya tujuan jelas. Lulus sekolah langsung kerja punya kios sendiri lagi. Nggak kayak cewek-cewek mu diluaran sana yang hobinya jajan-jajan nggak jelas"
"Lihat kan?! Belum jadi apa-apa aja dia sudah merepotkan Danu begini. Lagian setelah ini Danu ada rapat sama klien Bu"
"Kamu jangan pernah bilang merepotkan pada Alea ya. Kalau nggak ada emak sama bapaknya Alea dulu, kamu nggak bisa sekolah pengacara hingga sampai punya firma hukum seperti saat ini"
"Tapi Danu serius Bu, klien ku sudah nunggu"
"Klien mu sudah di handel sama Wati! Jangan banyak alasan kamu. Sudah sana berangkat!"
Perdebatan anak dan ibu siang itu akhirnya berakhir dengan Danu yang kini sudah berada di halaman depan ruko-ruko bertingkat yang kebanyakan berisi para pengusaha kecil. Danu mendengus ketika riwayat obrolannya dengan gadis bernama Alea itu terabaikan begitu saja. Gadis itu tidak membalas pesannya padahal dua menit yang lalu gadis itu masih terlihat online.
"Sial sekali hidupku!"
Tepat setelah Danu bergumam kesal, sosok yang ia tunggu muncul, Gadis itu tengah berjalan kearah mobilnya. Penampilannya kali ini membuat Danu sedikit terperangah. Rok span selutut yang ia kenakan terlihat pas di tubuhnya lengkap dengan atasan kemeja lengan panjang yang ia yakini berbahan sifon itu membungkus rapi aset didalamnya.
Dua gundukan yang Danu yakini berukuran lebih besar dari beberapa tahun lalu itu menyita perhatiannya seketika. Sial lagi-lagi seperti ini. Alea memang tidak cocok untuknya. Ia benci wanita itu yang selalu bisa membuatnya berfantasi aneh. Dan itu bukan diri Danu. Ia tidak pernah bisa berfikiran kotor jika hanya dengan melihat wanita sexy manapun sebelumnya. Hanya Alea yang membuat dirinya seperti laki-laki m***m gila jika melihat gadis itu dengan balutan pakaian ketat seperti saat ini.
Danu mengumpat dalam hati ketika sosok Alea sudah sampai pada samping mobilnya, Fantasinya buyar dan ia mencoba mengalihkan pandangannya pada Alea ketika gadis itu terduduk manis disampingnya.
"Sorry ya mas lama. Tadi Aku harus urus langsung pesenan customer langganan ku"
"Se-sibuk apasih tukang bunga sampai harus menyita waktuku yang berharga?!"
"Iya maaf mas. Aku juga nggak tahu kalau customer ku minta ketemu langsung"
"Alasan aja! Kan ada pegawai mu Nina"
"Nina juga banyak mas kerjaannya. Mas nggak lupa kan pegawai ku cuma satu"
"Hobby mu selalu merepotkan memang. Lihat, gara-gara kamu saya batal rapat"
"Salahin ibu kalau mas Danu kesal. Jangan salahin Lea. Yang punya rencana kan ibu. Lea cuma tahu-tahu sudah disuruh ke butik tadi pagi"
"Kamu kan bisa nolak nya!"
"Ckck!" Alea berdecak kesal. Ia menatap Danu yang sudah mulai menjalankan mobilnya itu, "Emang ada yang bisa nolak permintaan ibu? Wong mas Danu sendiri sebagi anak saja nggak bisa kan? Apalagi Lea!"
"Ya kamu alasan apa kek yang meyakinkan"
"Nggak ada dan Alea nggak bisa alasan!"
"Kenapa? Kebelet nikah kamu?"
Kali ini Alea tidak menjawab, Ia lebih memilih menghiraukan Danu pada jalanan lenggang didepan sana. Bibirnya mengeluarkan decakan kecil, Namun tak ayal Danu tetap bisa mendengarnya.
"Kenapa? Kamu kesal? Seharusnya yang kesal itu saya. Bukan kamu!"
"Siapa yang kesel? Aku nggak kesel"
"Decakan mu barusan. Kamu pikir saya seneng nikah sama kamu? Kenapa sih kamu nggak nolak aja waktu ibu mau nikahin kita?"
"Udah aku bilang tadi. Sebanyak apapun alasan yang aku keluarkan, ibu tetap akan nikahin kita. Mas Danu tau kenapa?"
"....."
"Itu karena ibu pernah mergoki mas Danu sama mbak Ajeng b******u. Makanya ibu khawatir mas Danu bakal ngehamilin istri orang"
"Aku nggak sebodoh itu"
"Yaudah pokonya jangan pernah mojokin aku lagi untuk menolak pernikahan ini. Karena semuanya ada ditangan ibu. Dan mas Danu terima aja. Anggap aja karma karena nyium bini orang sembarangan"
Danu semakin terperangah. Laki-laki 31 tahun ini menatap tak percaya cerocosan gadis disampingnya. Ia bahkan meremas stir mobilnya kuat-kuat demi menyalurkan emosinya.
Sabar Nu! Kalau bukan karena Ibu harusnya kamu buang gadis ini dijalan. Kalau bukan karena Ibu, kamu boleh cekik dia, tembak kepalanya pakek revolver di dashboard mobil!
*****