Minggu ini, Jakarta sedang mendung. Ibukota tengah dilanda murung. Entah kenapa tiba-tiba seperti itu. Padahal tadi pagi sang mentari masih setia menyinari namun kini harus rela pergi demi gumpalan hitam yang mulai datang.
Kediaman Wiratmaja saat itu terlihat lenggang. Sang pemilik rumah yang tak lain Ibu dan Ayahnya Danuraga tengah ada acara di luar kota. Jadinya hanya Danu si anak sulungnya dan gadis cantik ceriwis saat ini yang tengah menghuni rumah. Maklum saja, sang putri bungsu Dinar Darpa Wiratmaja tengah mengecam pendidikan di negeri sebrang. Jadi sementara ia tidak tinggal di rumah.
Iya, Dinar anak kandung kedua dari keluarga Wiratmaja alias adik kandung Danu wiratmaja. Gadis yang yang hanya berbeda tiga tahun dari Alea Garwita.
'Mbak lama banget sih angkat telfon ku'
Suara cempreng itu seketika mendominasi ruang tamu. Alea mendengus ketika layar laptopnya sudah dipenuhi dengan gambar wajah gadis cantik yang beraut masam saat ini.
'Iya maaf Nar. Aku baru selesai mandi. Kamu nggak lihat aku masih pakek handuk dikepala gini?'
'Ibu sama Ayah mana sih mbak?! Kok telfonku nggak diangkat?"
Alea memutar bola matanya malas melihat gadis yang memenuhi layar laptopnya itu, 'Bude Menik sama om Burhan lagi keluar ada acara. Kenapa sih?'
'Aduh! Ibu gimana sih! Bapak juga nggak bisa dihubungi. Kapan pulang nya mbak kira-kira?'
'Ya mana kutahu. Mungkin nanti malem. Ada apa sih? Sini ngomong sama aku aja nantik tak sampaikan. Biasanya juga gitu kan?'
'Emang mbak mau ngomong perkara duit jajan sama aku? Duit jajan ku habis mbak'
'Emang berapa biasanya?'
'700US dollar'
Alea tersedak air liurnya seketika. Mata almondnya membulat ketika nominal angka barusan langsung dikalkulasi oleh otaknya menjadi rupiah. Itu berkisar 10juta lebih kalau Alea tidak salah menghitung. Gila! Uang jajan gadis itu benar-benar fantastis ternyata. Aaahh Alea juga lupa kalau gadis di sebrang sana tidak berada di satu negara dengannya. Melainkan di negeri antah berantah sana.
'Mbak! Kok bengong sih?! Jadi nggak ini mbak transfer duit jajanku?'
Alea tersentak. Ia kembali menatap Dinar di sebrang sana. Adik Danu itu terlihat sesekali mengerjapkan matanya menunggu jawaban darinya, "Sableng koe Nar. Aku mana ada duit segitu"
'yaudah kalau gitu sambungin ke mas Danu aja. Dia di rumah kan mbak?'
Sambungkan ke Danu? Itu artinya dia harus naik keatas untuk menemui Danu kan? Di kamar lelaki itu? Aaah Lea malas sekali jika harus bertemu Danu lagi. Ia masih kesal dengan pria itu akibat kejadian saat di butik beberapa hari yang lalu. Dimana ia hampir saja membunuh laki-laki itu jika dirinya tidak takut akan hukum Tuhan.
"Gimana mas? Bagus nggak?" Alea berceloteh ketika ia membuka bilik ganti setelah ia selesai memakai gaun tunangannya yang sudah dipilihkan oleh ibu Danu beberapa saat lalu.
Yang duduk di sofa tunggu seketika mengangkat kepalanya. Ia hampir saja meneteskan air liurnya jika sang ibu yang duduk disampingnya tidak mencubit pinggangnya keras-keras. b******k! Alea dengan segala kecantikannya, demi Tuhan kali ini ia bersungguh-sungguh jika Alea bertambah cantik dua kali lipat ketika memakai dress setengah gading itu. Lekukan tubuhnya yang selama ini tidak terlalu menonjol membuat dirinya salah fokus seketika. Ditambah lagi, model dress nya saat ini yang memperlihatkan bentuk payudaranya yang bulat. Aaah semakin meradang saja s**********n Danu saat ini. Ia pria normal. Wajar kan? Danu berdehem pelan untuk menghilangkan kecanggungan akhirnya.
"Mas?! Kok diem aja sih?! Bagus nggak?"
"Aa-aah iya! Iya bagus!"
Tapi lebih bagus lagi kalau bukan kamu yang make! Emang bener-bener sialan sekali hidupnya saat ini!
"Yaudah kalau gitu pilih yang ini aja ya? Gimana Bude?"
"Bagus kok. Kalau kamu suka dan nyaman yaudah itu aja"
"Kalau gitu Lea biar ganti baju dulu lagi ya bude"
"Iyowes kalau gitu bude ke bagian administrasi dulu ya"
"Iya"
Wanita 55 tahun itu pun meninggalkan putra bungsu dan gadis ceriwis yang kini sudah memasuki bilik ganti baju. Sedangkan Danu, yang masih duduk di atas sofa mencoba menormalkan detak jantungnya yang tiba-tiba berdenyut kencang. Laki-laki itu menatap tajam tirai didepannya. Sial! Alea dia benar-benar!
"Mas Danu?"
Sosok Danu yang masih duduk di sofa tadi seketika tersentak pada suara pelan yang mencicit memanggilnya barusan. Danu menajamkan telinganya takut-takut jika dirinya salah dengar.
"Mas ... Resleting Lea nyangkut. Tolong benerin"
Kali ini Danu benar-benar terperangah hebat. Ia tertawa setan dalam hati. Mencaci Alea dengan berbagai sumpah serapah di hatinya. Perempuan ini, sengaja memancingnya atau memang dia tidak tahu apa-apa soal hormon lelaki? Benar-benar menyebalkan!
"Mas Danu masih disitu kan?" Lagi, suara Alea mencicit. Kali ini terdengar lebih keras karena Danu tak kunjung menyahuti nya.
"Mas to--"
"Kamu benar-benar me-" Suara Danu mengambang. Matanya melotot sempurna dan nafasnya tertahan seketika. Dengan segala keputusan yang ia timang, Danu akhirnya memilih untuk membuka tirai ganti didepannya. Tirai pun terbuka dan mulutnya terbuka lebar hendak menyembur sosok gadis yang merepotkan dirinya.
Tapi ketika ia hendak menyemprot Alea didalam sana yang membuatnya kesal setengah mati, tiba-tiba semua sumpah serapahnya tertelan begitu saja ketika didepannya, terpampang jelas punggung polos tegap berwarna putih pucat yang menyurutkan akal sehatnya. Emosi yang berada di puncak kepala meluap begitu saja. Kini Danu menyesali niatnya yang hendak membantu Alea.
"Mas ... Tolongin. Kayaknya resleting nya nyangkut deh. Aku takut rusak kalau di paksa"
Kenapa rengekan Alea kini terdengar mendayu-dayu di telinganya. Suara ceriwis itu tiba-tiba berubah menjadi merdu ketika memanggil dirinya dengan sebutan 'mas'.
Aaah sial! Ada apa sebenarnya dengan dirinya ini?
"Iya yang itu mas tolong turunin sedikit"
Dan kini, Danu harus menahan nafasnya ketika tangannya tidak sengaja menyentuh kulit punggung Alea. Halus dan lembut adalah definisi yang ia rasakan dari punggung tegap didepannya. Bagian saking gilanya, Danu harus memejamkan matanya meresapi betapa lembut dan halusnya kulit milik Alea. Menghirup dalam-dalam aroma vanila milik Alea.
Oh ya Tuhan ... Kenapa engkau ciptakan manusia seperti ini yang sangat berbahaya dalam radarnya!
"Mas Danu?!! "
Teriakan keras seketika menyentak Danu. Dengan kesadarannya yang penuh, Danu menatap sosok bayangan yang kini terlihat cemberut didepannya.
Alea dengan wajah menggemaskan nya membuat nya terdiam seketika. Gadis itu terlihat menatap nya tajam. Ooh iya, ia tahu tentu saja. Pasti gadis ini tengah merutuki dirinya yang tiba-tiba berbuat kurang ajar padanya. Dan jelas saja gadis ini tahu meskipun ia berbuat ulah dibelakang. Cermin besar didepannya menujukkan semuanya.
"Mas Danu ngapain sih?! Mau berbuat m***m ya sama aku?! Aku bilangin bude nih ya!"
"Ckck saya nggak napsu sama kamu! Dasar kerempeng!"
Kalimat Danu barusan benar-benar membuat Alea dongkol bukan main. Bahkan gadis itu dengan seluruh energinya mengumpat Danu dalam hati.
'Ayo dong mbak. Aku udah nggak makan ini dari pagi. Mbak mau lihat aku mati ya?'
Cerocosan itu lagi-lagi menyentak Alea dari kenyataan. Karena tidak ingin mendengar ocehan lebih panjang dari sosok Dinar diseberang sana, akhirnya ia lebih memilih untuk mengalah. Naik keatas adalah pilihannya saat ini. Meskipun dengan akhir menyebalkan ia yang akan bertemu dengan sosok Danu lagi. Laki-laki dengan mulut merconnya.
Tok
Tok
Tok
"Mas ... Mas Danu??"
"....."
"Mas Danu didalam? Ada telfon dari Dinar mas"
"....."
"Mas Lea masuk ya?"
"....."
"Maas ini Dinar telfon mau ngobrol katanya"
Sedang tidak mendapat jawaban apapun dari pemilik kamar, Alea dengan pelan membuka pintu kamar. Kakinya mulai melangkah lebih dalam ketika netranya tidak mendapati siapapun didalamnya.
Hingga suara berat dan serak yang begitu ia kenal membuatnya menoleh. Dan saat itu juga, teriakan nyaringnya menggema di seluruh penjuru kamar milik Danu.
"Aaaaaahhkkkkkk!!!! Mas Danu mesummmmm!!!"
Danu hanya menggunakan boxer ketat membuat Alea, dengan cepat meninggalkan kamar Danu untuk kembali kebawah sana. Gadis itu bahkan beberapa kali terseok ketika menuruni anak tangga guna cepat-cepat meninggalkan kamar Danu.
"Mas Danu porno!!"