Di kamus hidup Danu bangun pagi adalah hal yang sudah menjadi kebiasaan bagi dirinya. Didikan disiplin yang di dikte oleh sang ayah pada dirinya dari kecil akhirnya terbawa hingga dirinya beranjak dewasa. Seperti saat ini tepat pukul tujuh lebih lima ia sudah berdiri menjulang di pantry dapur dengan Alea yang mondar-mandir menumpuk peralatan memasak kotor, yang ia yakini bekas memasak dengan ibu Danu beberapa jam yang lalu. Mata laki-laki itu tak pernah luput dari kegiatan Alea didepannya. Daster rumahan dengan rambut yang digelung hingga pucuk kepalanya membuat Danu sesekali berdehem untuk mengalihkan pikiran anehnya.
Hingga akhirnya, Danu yang enggan berfikiran gila terlalu lama karena akan sangat berbahaya sekali untuk kinerja jantungnya, ia sesekali merecoki Alea entah itu apa, hingga beberapa kali membuat gadis itu mencebik kesal.
"Ayo lea! Saya udah haus sekali ingin minum "
"Sebentar dong mas! Mas nggak lihat Alea lagi nyuci panci gini?"
"Nyucinya ntar aja yang penting itu--"
"Yang penting itu, mas kudu mandi dulu!! Bangun tidur bukannya mandi malah ngerepotin orang aja!"
"Saya minta tolong bukan ngerepotin!"
"Kalau gitu harus sabar! Jangan banyak mau. Lagian bikin es sirup aja nggak bisa gimana sih!"
"Ada yang bisa bikinkan kenapa saya harus repot-repot buat"
"Dasar tukang perintah. Kamu kalau cuma bikin pening mending pergi aja!"
"Kenapasih ribut-ribut masih pagi" Kemudian wanita berdaster panjang dengan rambut yang sudah disanggul itu berlari tergopoh-gopoh. Ibu Danu kembali dengan beberapa kantong plastik ditangannya, menatap Danu dan calon menantunya itu bergantian.
"Ada apa? Kenapa teriak-teriak Ale?" Lanjutnya
"Bude ini mas Danu ganggu Ale" Adunya. Wanita dua puluh tiga tahun itu menunjuk Danu dengan spon cuci piring ditangannya.
"Kenapa lagi sih Nu?! Nggak ada bosan-bosannya kamu itu gangguin Ale terus. Ini masih pagi! Jangan bikin kepala ibu bertambah uban ya!!'
"Danu nggak ganggu Bu! Danu cuma mau minta tolong buatin es sirup aja"
"Ya aku udah jawab nanti kalau selesai nyuci piring mas. Dasarnya mas aja yang nggak sabaran"
"Kamu ya Nu, udah minta tolong tapi nggak tahu diri. Sabar Ale juga masih sibuk"
"Kok Ibu jadi salahin Danu?!" Diam-diam Alea tersenyum dengan senang dalam hatinya. Berbagai senandung untuk mengejek Danu ia lantunkan dalam hati.
"Lah wong kamu yang salah kok. Sudah tahu Ale sibuk kamu masih aja merecoki. Padahal buat es sirup itu hal paling mudah yang bisa dilakukan anak TK"
"Ckck selagi ada yang bisa bikinkan, kenapa Danu harus repot-repot membuat"
PLAK
"Bu!!"
Danu meringis ketika tamparan keras milik ibunya mendarat tepat di lengannya. Ia bahkan harus mengusap lengannya yang terasa panas.
"Buat sendiri jangan manja! Awas aja kalau Sampek ibu dengar keributan lagi!"
Lihat kan? Betapa menyebalkannya Alea ini?
°°°°°
Sore itu masih terasa panas. Padahal waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Namun teriknya sinar mentari tak dapat dihalangi. Alea yang baru saja menyelesaikan mandinya mengerutkan kening ketika tanpa sengaja mendengar kasak-kusuk di luar kamarnya.
Dengan sedikit penasaran, ia keluar dari dalam kamar. Lengkap masih menggunakan handuk yang melilit kepalanya. Yang ditangkap netranya pertama kali adalah, sosok Danu dan seorang wanita berambut panjang yang tengah duduk. Bukan duduk biasa seperti tamu umumnya. Wanita itu bergelayut manja pada lengan Danu hingga membuat Alea yang melihatnya mendesis kesal.
"Ekhm!" Ia berdehem cukup keras hingga mampu membuat kedua pasangan yang dilanda asmara menjijikkan itu menoleh menatapnya.
"Kamu di rumah? Saya pikir di rumah nggak ada orang" Alea mendengus kesal. Ia cukup mengerti perihal sindiran Danu untuknya itu. Dan dapat ia lihat juga, sang wanita itu dengan cepat menjauhkan tubuhnya dari Danu secepat mungkin.
Dasar perempuan nggak tahu diri! Masih ada suami berani sekali selingkuh seperti ini.
"Kenapa? Mas Danu terganggu?"
"Ada tamu sebaiknya kamu ganti dengan pakaian yang layak"
Tidak menghiraukan perintah Danu, Alea justru bersidekap d**a menatap keduanya. Terutama wanita dengan rambut panjang itu, Alea memberinya tatapan congkak yang luar biasa.
"Oh ada tamu? Tamu apa yang bertindak kurang sopan seperti itu"
"Ale!! Masuk! Jangan buat ulah kamu!"
"Alea berbicara sesuai kenyataan kok. Ya kan mbak Ajeng?!"
Wanita berambut panjang yang tak lain Ajeng itu hanya tersenyum sungkan. Lalu tiba-tiba wanita itu berdiri dari duduknya sambil menatap Alea dan Danu bergantian.
"Maaf kalau kamu merasa terganggu dengan kedatangan saya ya Alea. Kalau gitu saya permisi dulu. Bii aku pulang dulu ya nanti aku kabari"
"Saya antar kamu ya"
"Mas Danu nggak bisa keluar! Hari ini kita harus cari catering ingat!"
"Urusan catering bisa di tunda! Saya mau nganter Ajeng dulu"
"Ckck terserah mas! Aku tinggal bilang bude kalau mas Danu nggak mau"
"Udah Bii ... Aku nggak mau kamu bertengkar sama Ibumu. Aku masih bisa naik taxi kok"
Ckckc Alea memutar bola matanya malas ketika suara wanita itu lagi-lagi mendayu yang terasa dibuat-buat. Dasar wanita silikon! Batin Alea jengkel.
"Yaudah kalau gitu aku antar kamu sampai depan aja ya"
Alea dengan kesal melangkahkan kakinya untuk kedalam kamar setelah Danu menghilang dibalik pintu keluar. Ia mendumel dalam hati memaki Danu. Sudah mau bertunangan juga masih aja laki-laki menyebalkan itu membawa kekasihnya ke rumah. Apa Danu tidak memikirkan perasaannya?
Cih! Boro-boro memikirkan perasaan mu Ale, kamu di lihat saja kadang-kadang jika Danu membutuhkan. Dasar!
"Ale?!!"
Sontak saja, Alea langsung berjengit kaget ketika suara milik Danu terdengar sedikit ketus ketika memanggilnya. Ia yakini kini laki-laki itu sudah berada didepan pintu kamarnya. Setelah menghembuskan nafas berkali-kali, barulah Alea dengan langkah pelan-pelan mendekat kearah pintu kamarnya.
Ketika pintu terbuka sempurna, Alea sudah mendapati Danu yang berkacak pinggang. Laki-laki itu memberinya tatapan menusuk.
"Puas kamu?!"
"Maksud mas apa?"
"Ckck! Kamu benar-benar bisa membuat saya ingin meremas kamu!"
"Emangnya aku cucian diremas segala!"
"Kamu jangan pernah berlaku tidak sopan seperti tadi ya. Ajeng itu tamu!"
"Cih emang mas pikir aku anak kemarin sore apa?! Alea juga tahu kalau Mbak Ajeng itu tamu. Tapi kelakuan mbak Ajeng tidak mencerminkan seperti tamu. Nggak ada tamu yang bersikap m***m seperti tadi"
"m***m bagaimana? Kamu jangan bicara ngawur yang bisa membuat orang salah paham ya"
"Alea nggak ngawur mas. Orang Aku lihat dengan kepala mata ku sendiri kok kalau kalian berdua-- hhhmmmphhh"
Alea membulatkan matanya ketika tangan besar Danu sudah membekap mulutnya tiba-tiba. Laki-laki itu mendorongnya cepat hingga membuat dirinya harus memundurkan langkahnya. Dan berakhir dirinya dan Danu kembali masuk kedalam kamarnya. Entah bagaimana Danu melakukannya, tahu-tahu pintu kamar Alea tertutup begitu saja dengan sekali dorongan dengan kaki milik Danu.
"Iih mas Danu apa-apaan sih!" Alea berteriak histeris. Gadis itu bahkan sesekali mengusap mulutnya yang berbekas oleh tangan Danu.
"Mulutmu itu memang tidak pernah dilucuti ya!"
"Memangnya mulut Alea pakaian apa harus dilucuti segala!"
"Berarti benar, mulutmu yang ngawur itu belum pernah dilucuti kan?"
"Kenapa emangnya?! Mulut mas juga! Ohh Alea lupa, mulut Maas kan udah pernah dilucuti beberapa kali ya sama cewek-cewek nggak jelas diluaran sana!"
"Sialan! Apa maksud kamu hah?!"
"Halah nggak usah ngelak lagi deh mas. Alea tahu semua ya apa yang mas lakuin dibelakang selama ini"
"Emangnya apa yang sudah saya lakukan hmm?
Danu berteriak girang ketika menatap Alea yang semakin menyalang dan menantang dirinya. Tubuh mungil gadis itu serta ekspresi konyolnya benar-benar membuatnya terhibur. Dengan ide konyol yang tiba-tiba melintas dibenaknya, Danu mencoba menggoda Alea dengan memajukan tubuhnya tegapnya. Dan hal itu sukses membuat Alea yang tadinya berdiri menantang mundur perlahan seketika.
"Banyak! Dan Aku juga -- mas iih jangan Deket Deket!!"
"Bilang saja Alea, apa yang sudah kamu ketahui tentang saya?"
"Jangan dekat-dekat mas!!" Alea semakin panik ketika tubuh menjulang Danu semakin merapat padanya. Jantungnya semakin berdebar kencang saat Aroma mint bercampur musk itu menusuk indra penciumannya. Ditambah lagi, penampilan Danu kali ini benar-benar terlihat begitu menggiurkan untuk dipeluk. Kaos oblong ketat yang mencetak beberapa otot bisepnya Alea benar-benar dibuat hampir meneteskan air liurnya.
Danu terkekeh. Sepertinya godaannya kali ini berhasil. Terbukti dari wajah Alea yang memerah, "Kalau nggak tahu apa-apa jangan sok tahu. Anak kecil sepertimu itu seharusnya tutup mulut saja!"
"Kenapa aku harus diam! Mas Danu kan emang b******k dan suka main perempuan!"
"Oh ya? Bisa berikan aku buktinya?"
"Banyak! Bukan cuma aku kok saksinya. Nina juga pernah lihat mas Danu berbuat m***m di
Untuk kali ini bukan hanya mata Alea yang kembali membulat. Namun jantung dan nafasnya juga tertahan bulat-bulat. Gadis itu mengepalkan kedua tangannya yang terkulai disamping tubuhnya. Jantungnya berdebar tidak karuan. Ia juga bahkan hampir memerosotkan tubuhnya jika saja lengan besar milik pria didepannya ini tidak menahannya.
Ditambah lagi ketika benda bertekstur kenyal itu mulai bergerak pelan. Menarik bibirnya hingga Alea lupa caranya untuk bernafas.
"Itu hukuman karena kamu banyak tahu tentang saya!"
*****