"Pagi mbak"
"Pagi Nin"
Alea membalas sapaan ceria milik Nina, pegawainya. Bibirnya tersenyum tipis sambil sesekali menyusuri beberapa meja yang berisikan aneka macam bunga segar pagi ini. Sesekali ia mengernyitkan hidung ketika dirasa bau-bau itu tidak sesuai, seperti biasanya, "Stok Lilly masih banyak nggak Nin"
"Kalau buat sampai nanti sore nggak cukup deh mbak. Soalnya stok kemarin buat pesanan hari ini semua"
"Oke. Kamu catet aja apa aja yang habis, kamu list terus kamu kirim ke aku"
"Oke mbak"
"Stok mu tolong dirangkap aja ya Nin soalnya lusa ada pesenan flower board"
"Mau dirangkap jadi berapa mbak?"
"Lipat gandakan jadi lima kali lipat aja"
"Mbak yakin? Nggak takut rusak mbak kalau kebanyakan?"
"Nggak papa nanti aku atur sendiri penyimpanannya. Terus jangan lupa stok bunga palsunya yang habis juga di list ya Nin"
"Siap mbak"
"Kalau gitu aku mau siap-siap dulu buat berangkat. Tolong handel toko ya kayak biasa"
"Loh, nggak diantar kah bunga-bunga nya mbak?"
"Sopir industri nya lagi nggak bisa hari ini Nin. Sedangkan pesenan kita untuk lusa. Kalau kita ambil besok, jelas banget nggak akan ke kejar waktunya. Makanya aku ngalah aja jadi aku yang terpaksa jemput bunga-bunganya"
"Terus mbak kesana naik motor? Sendiri?"
"Ya nggak lah Nin. Ngaco kamu. Aku mau minta tolong sama mas Danu. Tapi nggak tahu dia bisa atau nggak. w******p ku daritadi belum dibalas soalnya"
"Mbak yakin?"
" Yakin, udah aku ke atas dulu ya nanti kalau misalnya mas Danu Dateng suruh langsung keatas saja"
"Iya mbak. Beres pokoknya"
***
Alea Garwita
Mas, aku boleh minta tolong?
Me
?
Alea Garwita
Anterin aku ke paralayang sekarang.
Pesenanku lagi banyak. Pihak distributor nggak bisa kirim
Me
Grab car kan bisa
Alea Garwita
Mana ada yang mau mas grab car kalau nganter ke luar kota. Apalagi nanti bakal bawa barang super banyak
Dan yah, sesuai keinginan gadis itu Danu kini sudah berada tepat didepan ruko dua tingkat yang dulunya milik ibunya ini, kini sudah berubah seratus delapan puluh derajat menjadi toko bunga yang begitu cantik.
Kali ini Danu memang patut mengacungi jempol pada Alea. Meski dengan pendidikan yang tidak cukup tinggi, Alea memang selalu punya ide-ide cemerlang soal bisnis. Contohnya ya seperti sekarang ini.
Dulu ruko ini terbengkalai. Ayahnya hanya iseng beli karena kasihan pada pemilik sebelumnya. Dan setelah Alea dewasa, gadis itu bilang tidak ingin kuliah dan mau buka usaha saja. Dan alhasil ruko ini adalah modal utamanya.
Sebenarnya dulu kedua orang tuanya menyarankan agar membuka sejenis tempat makan, namun Alea menolak dengan alasan yang begitu logis. Ia bilang jika membuka sejenis usaha tempat makan disini akan kurang laku. Karena sekitar sini sudah banyak tempat makan yang buka lebih dulu.
Lalu berakhirlah pilihannya pada toko bunga. Ia bilang akan sangat laku untuk beberapa bulan kedepannya karena ruko ini dekat dengan area yayasan pendidikan seperti universitas, SMA dan juga gedung-gedung pendidikan lainnya. Tidak hanya itu, diujung jalan dari sini juga terdapat rumah sakit serta pemakaman umum yang saling bersebelahan.
Dan benar saja, Alea memang memanfaatkan celah pada bisnis ini. Ia memang sudah memikirkan dengan begitu baik, tidak bisa dipungkiri kini ia layak memetik hasilnya. Toko selalu ramai dan customer langganannya juga tidak sedikit.
***
"Makasih ya mas udah mau repot-repot nganterin aku"
Danu mendengus. Ia melirik gadis disebelahnya ini sebentar sebelum kembali fokus pada kemudinya, "Anggap saja permintaan maaf saya karena sudah cium kamu sembarangan kemarin"
Sialan! Kenapa harus di ingatkan lagi sih. Danu ini merusak suasana sekali. Padahal Alea mati-matian melupakan kejadian memalukan itu sejak tadi malam.
"Halah! Mas Danu tumbenan minta maaf. Biasanya kan emang udah kebiasaan m***m"
"Terserah!"
"Mas sama mbak Ajeng udah sering gituan ya jangan-jangan"
"Saya nggak suka ya kamu asumsikan nggak benar"
"Ya siapa tahu kan"
"Kamu kalau masih cerewet turun aja!"
"Iya-iya maaf mas"
"Gara-gara kamu saya harus cancel jadwal lagi!"
"Kan ada mbak Wati yang udah bisa handel mas"
"Wati ya punya kerjaan sendiri lah"
"Mas tuh sebenarnya ikhlas nggak sih nganter aku Ke paralayang? Ngomel terus!"
"Yang penting kan kita sudah berangkat! Jangan cerewet!"
Alea mendengus lalu mulai mengotak-atik mobil Danu. Mulai dari membuka kaca atas, mebereskan beberapa bungkus makanan a ringan yang berserakan dan terakhir ia membuka dashboard mobil.
Kedua matanya membelalak seketika saat sebuah benda padat dengan bahan peledak yang berada didalamnya itu mangkring dengan rapi didalamnya. Nafasnya tertahan dan ia dengan cepat menoleh pada Danu yang berada disampingnya, "I-ini apa mas?!"
Danu menoleh karena sejak tadi ia tidak terlalu fokus dengan gadis disampingnya, dan sudah mendapati Alea dengan revolver yang berada ditangannya yang terlihat sedikit bergetar.
"Taruh kembali!"
"Ma-mas, I-ini pistol be-beneran?"
"Menurutmu?"
"Ma-mas ngapain nyimpen ginian? Ini ilegal mas! Mas ini pengacara kan harusnya tahu--"
"Kalau kamu mau, saya ada banyak di apartemen!"
"GILA!!" Melemparkan pistol itu kembali ke dashboard mobil, Alea menggelengkan kepalanya kuat dan masih menatap laki-laki tampan disampingnya ini.
"Mas sebenarnya pengacara atau Napi sih?!"
"Napi!"
"Aku serius mas!"
"Kamu lihat tampang saya yang ini seperti napi memangnya?"
Napi bagian mananya coba? Orang setampan ini ngga ada tampang-tampang napinya. Jadi pengacara aja bakalan ngga ada yang percaya kalau lawyernya setampan ini. Yang ada orang-orang diluar sana yang nggak tahu Danu Wiratmadja akan mengiranya role model yang tengah naik daun.
"Terus mas ngapain sih nyimpen pistol-pistol gini mas? Beneran di apartemen juga masih ada?"
"Mau nembak orang tentu aja!"
"Beneran udah nggak waras ya kamu Mas? Gimana kalau ketahuan sama orang? Bisa dilaporin kamu!"
"Tinggal laporin aja. Nggak usah repot!"
"Astaga mas Danuuuu"
Danu hampir menyemburkan tawanya ketok wajah pias Alea semakin kentara. Ia kemudian menginjak pedal rem ketika lampu lalulintas berubah merah. Tangan kirinya yang bebas tiba-tiba menyibak rambut Alea yang jatuh menutupi wajahnya.
"Apa Dimata kamu saya se-bodoh itu?"
Alea bereaksi, kepalanya bergerak menatap Danu disampingnya yang menatap dirinya dengan pandangan bertanya, "Maksudnya?"
"Apa saya terlihat seperti laki-laki gegabah dan serampangan sampai kamu harus bereaksi seperti ini tanpa memikirkan apa alasan saya memilik benda-benda yang dilarang?"
"Aku ngga ngerti maksud mas apa"
Danu mendengus kesal. Ia menyentil dengan keras dahi Alea hingga gadis itu mengaduh kesakitan sebelum kembali menjalankan mobilnya, "Kepemilikan senjata api memang sudah diatur ketat oleh pemerintah kita. Dan itu juga ada aturannya dalam undang-undang darurat. Dan perlu kamu ketahui Pihak yang berhak memiliki senjata api selain anggota TNI/Polri, yaitu warga sipil juga bisa dengan syarat dan dengan izin khusus untuk bela diri, olahraga, ataupun koleksi. Itupun juga ada batasan tertentu harus memiliki umur yang legal, sehat fisik/psikologis, dan of course tes menembak. Saya juga sudah memiliki surat senpi"
"Apa itu?"
"Surat izin memiliki senjata api setelah rangkaian tes saya lakukan"
"Kenapa mas harus punya senjata api? Emang seorang pengacara diharuskan punya itu?"
"Nggak juga. Tapi saya nggak tahu kapan dan dimana saya bisa mati oleh musuh-musuh saya termasuk yang pernah saya jebloskan ke penjara semua"
Aah jadi itu alasannya, untuk membela diri jika ada ancaman nyawa. Sekarang Alea mengerti.
"Mas pernah nembak orang?"
"Pernah"
"SERIUS MAS?!!"
"Saya nggak budek! Stop teriak Ale!"
"Aku beneran shock mas, maaf. Jadi mas beneran pernah matiin orang"
"No! He's still life. Cuma cacat aja"
"Siapa kalau boleh tahu?"
"Of course musuh-musuh ku. Mereka yang masih nggak terima karna pernah ku jebloskan dalam penjara. Biasanya anak-anak pengusaha ibukota"
"Serem banget sih mas"
"Makanya jangan nikah sama saya. Kamu pasti juga dalam radar mereka nantinya"
"Yah, kalau itu sih aku nggak tahu mau gimana jawabnya mas. Kita lihat aja nanti"
"Kamu tuh ngebet nikah atau gimana sih sebenarnya?"
"Yang ngebet nikah kan bude sama pak de. Aku sih cuma ngikutin kemauan mereka aja mas"
"Nggak masuk akal!"
"Masuk akal dong! Kan pak de bude sudah aku anggap sebagai pengganti orangtua ku mas. Jadi aku harus nurut omongan mereka selagi kedepannya baik buatku"
Kekehan itu keluar dari mulut Danu, terlihat seperti mengejek seseorang yang kini duduk disampingnya, "Kalau kamu disuruh mati berarti mau juga? Harus nurut kan?"
"Ya nggak gitu juga mas!"
"Terus alasan mu yang logis apa? Apa kamu suka sama saya?!"
*****