"Terus alasanmu yang masuk akal apa?"
"....."
"Nggak mungkin kamu suka sama saya kan?"
"Kalau iya emang kenapa?"
"Nggak bisa Alea, kita ini saudara. Kamu nggak boleh suka sama saya!"
"Kita kan nggak ada ikatan darah apapun mas. Jadi wajar aja kan?"
"Terserah kamu! Yang penting saya tetap nggak bisa menikah dengan kamu!"
Mobil yang Danu kendarai mulai bergerak melambat. Ia lebih memilih mengabaikan Alea yang masih menggerutu kesal disampingnyaa, kemudian ia turun dari mobil diikuti dengan gadis itu yang masih memajukan mulutnya.
"Udah ayo saya temani kamu masuk. Saya nggak mau sampai rumah malam, saya ada janji ketemu dengan orang jam delapan nanti"
"Siang mbak Alea?"
Perdebatan mereka berdua tidak berlanjut karena sosok tinggi laki-laki dengan senyum tipis menyapanya. Alea mengabaikan Danu dan beralih menerima jabatan tangan laki-laki didepannya ini.
"Hai mas Steve ya?"
"Hai mbak, apa kabar?"
"Baik sekali mas. Tumben sekali mas yang turun? Ibu kemana mas?"
"Ibu lagi kurang fit mbak jadi saya sementara yang jaga. Mbak mau diangkat sekarang bunga-bunganya?"
"Iya mas boleh. Aku kejar waktu juga ini"
Keduanya tersenyum tipis, lali dilanjutkan dengan Steve yang memanggil beberapa karyawannya, mengangkut beberapa bunga segar untuk diletakkan pada mobil double cabin milik Danu.
Sedangkan Danu sendiri sibuk memperhatikan interaksi antara Alea dan laki-laki bernama Steve itu. Keduanya kompak tersenyum, lalu saling memuji dan berakhir saling tertawa ringan.
Danu mendengus lalu dengan gerakan yang tidak manusiawi, ia menyeret Alea untuk kembali berdiri disampingnya tanpa permisi, "Kamu niat ambil bunga pesananmu atau pacaran?!"
"Maksud mas Danu?"
"Kamu daritadi cengengesan Mulu saya lihat!"
"Ya terus aku harus ngapain? Masa iya sih mas aku harus cemberut aja kan nggak mungkin"
"Terserah! Susah ngobrol sama tukang ngeyel! Saya lapar! Tempat makan terdekat disini ada nggak"
Kini bergantian Alea yang mendengus kesal. Namun meski begitu, ia tetap menuruti permintaan Danu barusan, melangkahkan kakinya menuju resto yang kebetulan sangat dekat dengan tempat mereka saat ini.
Tepatnya disebrang garden home milik Steve ini. Setelah berjalan kaki singkat, keduanya sampai di resto ini. Suasana cukup ramai karena waktu memang sudah hampir mendekati jam makan siang. Alea memilih tempat duduk didekat jendela, begitu pula Danu yang menurut saja tanpa protes.
Laki-laki itu membolak-balikkan buku menu cukup lama sebelum akhirnya pilihannya jatuh pada satu porsi rice bowl set. Sedangkan Alea hanya memesan sepotong kue dan beberapa camilan untuk sekedar mengisi perutnya.
"Kamu nggak makan?"
"Aku masih kenyang mas"
"Makan! Nanti maagh mu kambuh nggak lucu!"
"Ini aja udah cukup mas buat ganjel perut"
"MAKAN ALEA! Saya lagi nggak pengen dibantah!"
***
Alea Garwita itu cantik, baik, mandiri, dan juga pintar. Namun sayang semua kelebihannya itu seringkali dimanfaatkan oleh beberapa laki-laki yang mencoba mendekati dirinya. Ada yang tulus, ada juga yang mengincar kulit mulusnya.
Namun itu semua tidak pernah nempel terlalu lama dalam hidup Alea, seperti laki-laki mokondo, b******k, dan sejenisnya. Karena setiap Alea dekat dengan laki-laki, sudah dipastikan Danuraga Wiratmadja akan selalu di garda terdepan yang memergokinya dan berakhir dengan mengancam laki-laki tipe seperti itu. Mendepaknya jauh-jauh.
Sering berjalannya waktu, Alea juga tidak tahu pasti kapan tepatnya perasaannya pada Danu tumbuh begitu Saja. Rasa suka, dengan jantung berdebar-debar, hingga terbawa mimpi dimalam hari selalu Alea rasakan ketika neniu bernama cinta itu mulai tumbuh.
Mungkin Danu akan menolaknya mentah-mentah persis seperti yang laki-laki itus selalu katakan kalau mereka hanya sebatas saudara, tidak lebih. Tidak boleh saling mencintai, tidak boleh ada interaksi lebih dari sekedar saudara seperti pada umunya.
"Kamu pulang sendiri ya. Aku pesankan grab car. Saya ada urusan sangat penting!"
Kening Alea mengernyit. Bingung dan kesal juga menjadi satu. Camilan dalam perutnya belum tercerna sepenuhnya, bahkan makanan Danu juga masih tidak tersentuh sama sekali. Karena sejak setengah jam yang lalu Danu sibuk menerima telfon dari Ajeng tepat didepan matanya.
"Serius mas ninggalin aku?"
"Sorry, ini mendesak Alea"
"Terus bunga-bunga ku gimana? Kan ikut mobil mas Danu?"
"Nanti biar Arman yang ambil ditempat ku segera dan kupastikan sampai di toko mu dengan cepat"
"Aku nggak mau! Kita berangkatnya bareng jadi pulang juga harus bareng" Alea ikut berdiri, karena Danu juga berdiri dari duduknya. Laki-laki itu mengambil dua tiga lembar uang ratusan untuk diselipkan diatas meja.
"Nggak bisa Alea, saya nggak bisa bawa kamu pulang. Ini urusannya mendesak"
"Mendesak yang bagaimana sih mas? Itu telfon dari mbak Ajeng kan?"
Danu terdiam, nafasnya mulai berhembus dengan kasar beberapa kali pertanda ia sedang menekan kuat-kuat emosinya, kedua matanya menatap Alea dengan seksama, "Gini aja kamu bawa mobilku, biar aku yang naik Grab gimana?"
"Aku nggak bisa nyetir! Dan aku maunya pulang sama Danu"
Alea bukannya tidak bisa menyetir, hanya saja ia sudah sangat amat lama tidak menggunakan roda empat itu lagi karena traumanya yang pernah menabrak pejalan kaki sewaktu belajar dulu. Dan mungkin jika ia disuruh mengendarai kembali akan sedikit kaku nantinya. Dan Alea tidak ingin melakukannya.
"Please kali ini nurut Alea. Saya harus pergi sekarang"
"Kalau mas Danu beneran ninggalin aku sendirian disini, aku bakal telfon Bude!"
"Terserah! Saya ngga perduli. Kamu tunggu disini lima menitan, saya akan langsung pesankan grab car!"
Lalu setelahnya Danuraga benar-benar menghilang begitu cepat dari pandangannya. Laki-laki itu benar-benar meninggalkan dirinya sendirian didalam resto makan yang ramai.
Hingga pukul empat sore, ketika Alea menapakkan kakinya di toko miliknya, laki-laki itu tidak mengabarinya. Tidak menepati janjinya untuk mengantarkan bunga-bunga nya yang berada di mobilnya.
Padahal rencananya Alea akan mengerjakan semua pesanan karangan bunganya hari ini juga agar ia tidak terlalu kewalahan esok harinya. Deadline nya sudah mepet, nakun Danu dengan seenaknya membuat dirinya semakin rumit.
Telfonnya berkali-kali di reject oleh laki-laki itu dan Alea semakin dibuat kesal karenanya, "Mbak ini gimana kok mas Danu belum sampai juga? Bunga-bunganya gimana?"
"Bingung juga aku Nin. Kalau nggak kita kerjain sekarang besok kita nggak bisa buka toko. Besok ada pesenan dari kampus sebrang juga kan?"
"Mas Danu nya masih belum bisa ditelfon kah mbak?"
"Kalau sudah aku nggak bakal panik gini Nin"
"Mbak apa nggak bisa kita minta kirimkan bunga dari Garden home lagi mbak? Nanti yang di mobil mas Danu buat stok beberapa hari kedepan ya meskipun nanti beberapa banyak yang kebuang"
"Masalahnya pengiriman mereka nggak bisa hari ini Nin, kamu lupa?"
"Coba dulu aja mbak. Siapa tahu di jam segini mereka ada yang longgar drivernya. Kita nggak punya pilihan lagi Lo mbak"
Nina benar. Kalau ia nggak nekat, bisa kacau semuanya. Ia nggak mau pelanggan-pelanggan setianya kecewa berat hanya gara-gara sikap konyol dan Impluif Danu hari ini.
Tanpa kembali berfikir, alea segera menghubungi Steve. Awalnya beberapa kali tidak diangkat, namun setelah dering kelima suara bariton itu terdengar.
'Hallo mbak? Ada masalah sama flowernya?'
'Hai mas, maaf ya aku ganggu mas Steve. Garden udah close ya mas?'
'Iya, sudah mbak. Tapi kalau mbak butuh sesuatu mungkin bisa saya bantu'
Diam-diam Alea menggigit bibirnya gugup,
'Jadi gini mas, kalau misalnya aku minta kirim lagi seperti pesanan ku yang kayak tadi bisa ngga mas?'
'Oh bisa banget dong mba. Mau dibuat kapan emangnya?'
'sekarang mas'
Satu detik ..
Dua detik ..
Tiga detik ..
Tidak ada suara disebrang sana, karena hening beberapa saat. Tapi Alea masih menunggu jawaban dari sebrang sana, Mungkin Steve tengah berfikir soal pesanan mendadaknya barusan. Hingga pada detik ke lima belas, suara Steve kembali terdengar.
'Hari ini juga mba? Mba serius kan? '
'Iya mas, ini urgent banget soalnya'
'kalau boleh tahu, kenapa ya mba? Apa bunga yang tadi ada problem?'
'Oh nggak mas! Nggak sama sekali. Nanti saya ceritakan detailnya gimana deh'
Disebrang sana Steve tengah mengetukkan telunjuknya diatas meja. Keningnya berkerut, menimang-nimang permintaan dari seller-nya barusan.
'Sebenarnya sih aku bisa aja kirim mbak hari ini. Tapi mbak tahu kan driver ku belum ada yang bisa. Ini aja belum ada yang kembali tiga-tiganya masih kejebak macet di ibukota'
'Saya aja yang kesana mas nggak papa. Yang penting saya bisa dapat bunga ya hari ini'
'Gini aja deh mba, saya aja yang kirim pakai mobil pribadi. Mba tinggal sharelok aja. Saya siapin sekarang, tapi mungkin butuh waktu dua jam an ngga papa? Saya sendirian soalnya'
'aduh mas, ngga usah saya aja yang kesana'
'nggak papa mbak, itung-itung saya pengen tahu toko reseller favorit saya ini'
Lalu selanjutnya hanya gelak tawa yang terdengar sebelum akhirnya sambungan telfon terputus. Alea bisa bernafas lega setidaknya untuk saat ini sambil menunggu kabar dari Danu.
*****