Alea Garwita menghembuskan nafasnya kasar beberapa kali. Keningnya mengerut setiap beberapa detik sekali, dan berakhir salah satu tangannya mengambil segelas air hangat diatas meja kecil yang berada disampingnya.
Keningnya terasa berdenyut dan kini tubuhnya juga sudah terlapisi oleh sweater tebal berbahan rajut miliknya. Lalu, kedua tangannya kembali sibuk dengan rangkaian bunga-bunga segar yang hampir selesai.
Matanya sudah hampir mirip mata panda sedangkan tubuhnya menggigil sempurna. Nina, karyawan satu-satunya juga hampir sama dengannya. Gadis dua puluh tahun itu sesekali melirik dirinya dengan tatapan khawatir yang kentara.
"Mbak istirahat aja deh. Ini biar aku yang lanjutin. Tinggal satu board flower lagi kan mbak?"
"Nggak usah Nin. Kita kerjain bareng aja biar cepat selesai. Biar kamu cepat istirahat juga"
"Mbak, mbak udah pucet banget loh. Nanti mbak bisa pingsan. Mbak udah sakit ini"
"Aku masih kuat Nina"
"Ya ampun mbak Sampai nggak pulang hari ini"
"Udah biasa. Kamu juga nggak pulang hari ini. Maaf ya kamu jadi lembur ekstra gini"
"Aku nggak papa mbak. Udah mbak istirahat aja"
Alea bingung. Di satu sisi, ia ingin segera merebahkan seluruh tubuhnya diatas ranjang karena kepalanya sudah hampir jatuh dari tempatnya, namun ia juga tidak bisa melakukannya mengingat pesanan bunga beberapa banyak yang akan dikirim hari ini. Dan saat ini keadaannya, beberapa karangan bunga pesanannya banyak yang belum selesai.
"Aku bantuin kamu selesaikan pesenan yang buat pagi ini aja. Setelah itu aku tinggal"
"Serius mbak aku bisa dan nggak papa. Mbak istirahat aja. Ini sudah hampir subuh mbak"
Dan pilihan utamanya menjadi keputusan Alea. Meninggalkan Nina mengurus masalh toko bunga dan pesanan-pesanan mereka sendirian. Ia kemudian berjalan dengan tertatih menuju ruangan atas yang berada di dalam rukonya, yang terdapat satu kamar disana untuknya sebagai tempat istirahat jika ia tidak punya waktu untuk pulang.
Tubuhnya seketika ambruk tepat diatas kasur, bahkan hingga matahari terbit dan tenggelam, Alea tak kunjung juga bangun dari tidurnya. Gadis itu sesekali meracau karena rasa sakit yang menyerangnya secara tiba-tiba.
Ketik jam menunjukkan pukul sembilan malam, pintu kamarnya diketuk dan terbuka secara bersamaan. Sosok Nina dengan sebungkus obat ditanganya datang dengan terburu.
"Mbak, ayo minum obat dulu mbak" Nina perlahan menepuk lengan Alea. Namun atasannya itu tidak meresponnya sama sekali kecuali racauan yang keluar dari mulutnya.
"....."
"Minum obatnya dulu mbak. Biar mbak enakan ayo mbak. Aku juga--loh buburnya belum dimakan sama sekali mbak?!!"
Nina berseru, karena satu mangkok bubur panas yang sejak beberapa jam lalu ia sajikan untuk Alea masih tidak tersentuh saa sekali. Bahkan nasi halus itu sudah berubah menjadi dingin dan berair akibat suhu AC yang direndahkan.
"Mbak kenapa kok --- YA AMPUN MBAK!!"
Kali ini Nina kembali berseru heboh karena tiba-tiba Alea bangun dengan memuntahkan seluruh cairan yang berada di perutnya. Gadis itu terlihat seperti mayat hidup. Wajah pucat pasi, badan panas, dan yang terkahir gadis itu kembali ambruk diatas tempat tidurnya.
Tanpa pilihan lain, Nina segera memanggil grab car untuk membawa gadis itu berobat ke rumah sakit. Ia takut jika terjadi sesuatu yang buruk menimpa atasannya itu.
***
Pagi itu hujan cukup lama mengguyur, tidak seperti bisanya. Curahnya juga cukup lebat hingga membuat aktivitas pagi banyak yang berhenti, diundur, bahkan ditiadakan.
Kediaman Wiratmadja saat ini terlihat cukup lenggang. Rumah dengan tiga lantai itu terlihat seperti tidak berpenghuni. Hanya ada assiten rumah tangga dan juga wanita paruh baya, nyonya Wiratmadja yang terlihat sibuk di dapur.
"Mbak Alea nggak pulang ya Bu?"
"Dia w******p aku katanya nggak pulang dan tidur di ruko karena pesanan lagi banyak mbok. Nanti minta tolong anterin makanan kesana sama Arman ya. Kasian kalau dia makan nasi bungkusan"
"Iya Bu nanti saya siapkan"
"Baru pulang kamu Nu?"
Danuraga Wiratmadja, si putra sulung itu menoleh. Dan mendapati sang ibu dengan tatapan melotot menatap dirinya, nafasnya berhembus pelan sebelum ia mendudukkan dirinya diatas kursi meja makan.
Niatnya yang hendak mengambil air minum di kulkas urung karena ibunya terlihat bergerak menghampirinya. Diikuti mbok Yum yang sepertinya peka dengan keadaan dirinya. Mbok Yum dengan cekatan memberinya air mineral dingin lalu dengan cepat ia meminumnya hingga tandas tak tersisa.
"Seperti yang ibu lihat"
"Jangan capek-capek dulu bulan ini. Ingat ya kamu harus siapkan diri buat acara pertunangan mu"
Danu mendengus kesal, rahangnya mengeras ketika ibunya memberinya ultimatum pernikahan konyol itu lagi. Niatnya pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya sebentar sebelum ia bergulat kembali dengan berkas-berkas yang menunggu di kantornya.
Sejak kemarin sore ia benar-benar tidak bisa melakukan apapun. Ia lelah dengan serangkaian aktivitas yang ia dapatkan kemarin.
Mengurus, hingga menunggu Diajeng yang tiba-tiba dirawat di rumah sakit, meeting dengan klien lama, hingga sidang yang dua kali berturut-turut dalam satu hari. Dan itu membuat dirinya tidak bisa pulang ke rumah, menyita seluruh waktunya hari itu juga. Lalu kini ketika dirinya pulang harus menghadapi ultimatum dari sang ibu.
Ia ingin marah namun masih ingat attitude dan tata krama yang setidaknya saat ini menguasai dirinya. Jadi, ia masih mencoba menahannya agar tidak membalikkan ultimatum itu pada ibunya. Lagipula bisa meledak kalau ibunya tahu alasan ia tidak pulang juga karena ia harus menunggu Ajeng yang sakit di rumah sakit.
"Darimana aja kamu kok baru pulang? Tidur dimana kamu semalam?"
"Aku di apartemen Bu. Nggak sempat pulang kerjaan banyak kemarin"
"Yaudah sana mandi habis itu sarapan. Ibu mau nemenin bapak ke pabrik hari ini"
"Ibu nggak pulang?"
"Lihat nanti aja"
Lalu kembali hening karena ibunya pergi meninggalkan dirinya, begitu pula dengan mbok Yum yang kembali kedalam dapur. Meninggalkan dirinya sendirian di meja makan.
'Halo? Kenapa wat?', Danu meletakkan ponselnya yang barusan berdering diantara pipi dan telinganya. Detik berikutnya suara perempuan dengan aksen Jawa itu terdengar disebrang sana.
'Pak saksi tiba-tiba menghilang dan sulit dihubungi. Bapak bisa ke kantor sekarang? Mbak Madya katanya mau bertemu dengan bapak'
Danu memijat keningnya cukup kuat karena hantaman rasa pening itu datang, nafasnya berhembus pelan lalu kembali menjawab asistennya disebrang sana, 'Kalau saksi nggak kredibel yaudah kita gunakan plan B aja. Sampaikan seperti itu ke Mbak Madya. Dan bilang aja saya bisa ditemui nanti waktu makan siang di kantor'
'Iya pak, kalau begitu maaf ya pak ganggu. Saya tutup kembali telfonnya'
'Tunggu tunggu!'
'Iya kenapa pak?'
'Bagaimana perkembangan kasus Marko?'
'Saya kurang paham pak. Saya juga belum bertemu pengacara Malik sama sekali. Tapi yang saya dengar pihak lawan akan kooperatif pak. Mereka sudah menjalani serangkaian tes dan juga wawancara di kepolisian'
'Yaudah kalau begitu kamu hubungi Malik. Suruh telfon saya secepatnya'
'Baiklah pak. Oh ya pak, satu lagi Tuan Fahri dari pengadilan kota meminta jadwal pertemuan dengan bapak'
'Bilang aja nanti saya aturkan jadwalnya. bilang aja kalau saat ini saya masih banyak urusan "
Sambungan telfon terputus dan Danu menghela nafas kasar, ia meremas kuat-kuat rambutnya yang sudah berantakan sejak tadi. Lalu ia bergerak, untuk segera bersiap keluar kembali. Hari ini jelas akan menjadi hari yang sangat panjang lagi, dan Danu sudah pening lebih dulu memikirkannya.
"Mbok Yum nanti tolong bilang ke ibu kalau tanya saya. Bilang aja saya ke kantor ya"
"Iya Den nanti tak sampaikan"
Dan begitulah hari-harinya dimulai hari ini. Dimulai dari serangkaian pekerjaannya di kantor, meeting, sidang hingga yang terakhir ia lakukan saat ini adalah menjenguk Ajeng yang masih terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit.
Wanita itu menatapnya dengan senyum tipis di bibir pucatnya, "Kamu pulang aja Nu. Aku okey kok. Ada asisten ku juga yang menemani"
"Nggak papa. Aku tunggu kamu sampai asisten mu datang"
"Kamu kelihatan capek banget, beneran aku nggak papa kamu tinggal kok"
"Kamu yakin?"
"Iya Nu. Lagipula, habis ini asisten mas Halim pasti Dateng juga. Aku males debat sama dia kalau lihat kamu disini"
"Yaudah kalau gitu aku pergi ya. Nanti kalau ada apa-apa hubungi aku"
"Iya hati-hati dijalan ya"
Berlalu begitu saja, Danu akhirnya memilih meninggalkan Diajeng sendirian. Kakinya menyusuri lorong-lorong rumah sakit yang cukup sepi karena memang jam kunjung pasien sudah usai satu jam yang lalu. Hanya beberapa orang ber-seragam khusus yang terlihat melintas disetiap lorong-lorong ini.
Jas mahalnya sudah tersampir di lengannya lengkap dengan kancing kemeja yang terbuka dua diatas. Tepat, ketika langkahnya melewati ruang farmasi, matanya tidak sengaja menangkap sosok wanita dengan tinggi sekitar 160 an tengah duduk sendirian, berbaur dengan para orang-orang yang tengah menunggu antrean obat mungkin?
Danu bergerak mendekat untuk memastikan jika matanya tidak salah lihat hitung-hitung efek kelelahannya. Dan benar saja ketika ia memanggil pemilik nama itu, wanita itu menoleh dan menatap ya terkejut.
"Ma-mas Danu?"
"Nina?"
"Ko-kok mas Danu bisa disini?"
"Harusnya saya yang tanya begitu ke kamu?
Kenapa Kamu bisa disini? Bukannya kamu seharusnya di toko dengan Alea? Toko sedang banyak pesanan kan?"
"A-anu mas i-itu ... Mmm--"
"WALI ATAS NAMA PASIEN ALEA GARWITA?!!"
*****