Pukul sebelas lewat dua menit malam, Danu masih setia berada didalam ruang rawat milik gadis yang beberapa saat lalu membuatnya hampir mengalami serangan jantung, Mata tajamnya menatap lamat-lamat tubuh gadis yang memunggungi nya itu. Rambut panjang yang biasanya tergerai indah itu kini terlihat terikat kusut.
Alea.
Gadis itu sebenarnya sudah baik-baik saja ketika ia datang beberapa saat lalu. Sudah ditangani oleh dokter pula, dan tentu saja kesadarannya seperti semula. Hanya saja ia yang bersikukuh untuk tetap memberinya perawatan intensif padanya. Ruangan yang tadinya kelas biasa Danu mengubahnya menjadi ruang VVIP. Rasa lelah yang tadi ia rasakan menguap begitu saja setelah mengetahui keadaan Alea, rasa lelahnya berubah menjadi rasa khawatir yang cukup besar hingga ia melupakan tujuan utamanya yaitu pulang.
Namun saat ini yang menjadi masalahnya adalah, Alea yang mendiaminya, Mengabaikannya dan enggan menatap dirinya. Padahal gadis itu sudah membuka matanya sejak kedatangannya. Namun Danu tidak terkejut sama sekali, Ia sudah menduga jika cepat atau lambat kejadian seperti ini akan menimpa dirinya. Ia bahkan sudah tahu jika saat ini, Gadis itu tengah menyimpan amarah yang cukup besar untuk dirinya.
"Ale?"
Danu bergumam pelan, memanggil gadis itu sekali lagi seperti beberapa saat yang lalu. Namun hasilnya tetap sama, Alea tidak menoleh padanya sama sekali.
"Mas Danu?"
Danu memutus pandangannya pada Alea yang memunggunginya, Ia beralih pada Nina yang berdiri diujung pintu dengan beberapa kantong plastik ditangannya.
"Nin?"
"Makan dulu mas, Ini ada nasi goreng?"
Danu mengangguk samar, Ia bergerak namun tidak menuju pada Nina melainkan mendekati Alea diranjang, "Thanks ya. Tapi saya nggak lapar"
"Mas nggak usah khawatir. Mbak Lea baik-baik aja kok"
"Gimana kejadiannya sih Nin kok sampai bisa gini?"
"Kecapean mas. Kata dokter begitu, mbak Alea dehidrasi ditambah lagi telat makan dan anemianya kumat"
Helaan nafas kasar itu terdengar memenuhi ruangan yang kembali sunyi, Danu membenarkan letak selimut Alea yang melorot sebelum kembali menatap Nina, "Kamu pulang aja Nin. Biar saya yang urus Alea"
"Nggak papa kok mas. Saya bisa jaga mbak Alea juga"
"Nggak usah, kamu besok harus tetap buka toko kan? Alea biar jadi urusan saya"
Perintah Danu mutlak, dan akhirnya Nina menurutinya. Ia pamit pergi pada Alea serta Danu bergantian hingga menyisakan dua pasang manusia yang masih saling terdiam itu.
Namun tidak berlangsung lama karena tubuh Alea yang terbaring itu terlihat bergerak Bibirnya pun tersenyum dan Detik berikutnya, tatapan sayu itu ia dapatkan.
"Jangan banyak gerak dulu! Nanti pusing lagi?"
"Kenapa? Nggak suka aku bangun?"
"Bukan begitu Ale. Saya hanya khawatir soal kamu yang--"
"Nggak perlu khawatir. Seperti apa yang Nina bilang barusan. Aku baik-baik saja!"
"Alea?"
"Aku mau pulang!"
"Besok kalau mau pulang. Sekarang saya temani kamu istirahat disini"
"Nggak! Aku mau pulang sekarang!"
"ALEA?!"
Alea seketika terdiam. Tubuh yang tadinya menghadap Danu, kini kembali berbalik memunggunginya setelah persekian detik mereka saling menatap. Helaan nafas Danu kembali terdengar, kali ini pelan namun syarat akan sesuatu yang ia tekan dan tahan.
"Ya Tuhan... Bisa nanti saja kita berdebat? Yang penting sekarang adalah kamu pulih Alea"
"....."
"Saya lelah sekali asal kamu tahu, sejak kemarin saya belum istirahat sama sekali"
"Pulang sana! Nggak ada yang nyuruh mas nunggu aku kan?"
"Please .. kali ini aja kamu nurut Alea, saya benar-benar sudah nggak punya tenaga untuk berdebat"
"Yaudah pulang!"
Demi apapun, Danu bukan tipe orang yang punya ribuan kesabaran. Jangankan ribuan, selapis tisu saja ia sangsi jika memilikinya. Marahnya ia juga tidak pernah memandang bulu, mau dia sakit, tua, muda, ataupun bayi sekalipun jika sampai membuatnya kesal tidak akan ada jaminan mereka akan lolos dari amukannya.
"Nggak usah kayak anak kecil! Sedikit-sedikit ngambek! Kamu pikir kamu hidup bersama pangeran berkuda putih yang akan sering-sering memanjakan mu?!"
"Kalau nggak suka mas Danu bisa pergi. Aku juga nggak butuh!"
"Kamu pikir kamu siapa? Memangnya kamu bisa sendirian? Ngga usah banyak gaya!"
"Kenapa nggak bisa? Aku udah terbiasa ditinggal sendirian! Jadi nggak usah sok perhatian mending mas Danu pulang sana!"
"Oke, kamu kira saya bakal bujuk kamu? Jangan harap! Saya sudah mencoba bicara baik-baik dengan kamu tapi kamu malah berbuat sesukamu! Urus saja dirimu sendiri!"
Dan berakhir Danu yang melangkah pergi meninggalkan Alea. Laki-laki tiga puluh tahun itu benar-benar tanpa basa-basi, sebenarnya jauh dalam lubuk hati kecilnya Danu sangat amat menyayangi gadis itu terlepas dari segala huru-hara yang terjadi beberapa waktu ini.
Ia juga sangat khawatir sebenarnya jika harus meninggalkan Alea sendirian di rumah sakit begini. Apalagi ibu dan ayahnya jelas belum tahu tentang kabar Alea saat ini, namun apa boleh buat juga ia terlanjur kesal dengan gadis keras kepala itu. Rasa lelah dan emosinya meledak menjadi satu, hingga menumpahkan semuanya pada Alea yang masih terbaring sakit.
Namun akal sehatnya hidup kembali. Disudut lain otaknya membenarkan sikapnya barusan, biar saja. Biar sekali-kali gadis itu harus diberi pengertian agar sedikit menghargai orang.
***
"Pagi mbak?"
"Loh nin? Kamu kok disini? Kan aku suruh kamu libur dulu"
"Aku pengen lihat mbak Alea"
"Aku nggak papa nin. Mending kamu istirahat dirumah kamu pasti capek juga kan?"
"Aku habis ngurus pesenan bunganya mbak terus habis itu sekalian kesini aja deh"
"Padahal kamu nggak perlu repot-repot Nin"
"Udahlah mbak, santai aja. Btw, Mau makan apa mbak? Belum sarapan kan?"
"Apa aja Nin"
"Soto mau nggak mbak?"
"Boleh deh. Mulutku masih nggak enak soalnya"
"Oke kalau gitu soto aja. Mbak nunggu sebentar nggak papa kan? Aku beli sotonya dulu ya?"
"Sorry ya Nin aku jadi ngerepotin kamu gini jadinya"
"Nggak papa mbak. Aku lagian seneng bisa ada temennya gini. Ada temen ngobrol daripada di kos sendirian"
"Nanti setelah aku keluar dari sini kamu boleh libur dua hari deh"
"Makasih ya mbak. Yaudah kalau gitu aku pergi sekarang beli sotonya"
Setelah kepergian Nina, Alea kembali sendirian. Tiba-tiba saja ia merasa harus buang air kecil, dengan gerakan yang sangat amat pelan dan hati-hati Alea bangkit dari atas ranjang. Mendorong tiang infus sambil berpegangan pada dinding didekatnya.
Namun rasa pusing itu kembali melanda dirinya ketika baru beberapa jalan ia melangkah, Lemas serta matanya yang berkunang-kunang tiba-tiba membuat tubuhnya hampir jatuh diatas lantai.
Jika saja sebuah tangan besar tidak menahan tubuhnya, dipastikan ia benar-benar jatuh mencium marmer rumah sakit yang dingin. Tubuhnya terasa ringan dan hangat secara bersamaan ketika rengkuhan itu ia rasakan pada punggungnya.
Kepalanya menoleh, dan mendapati sosok laki-laki berkacamata dengan stetoskop yang menggantung apik dilehernya, "Hati-hati Bu"
"Do-dokter?"
"Ibu mau ke toilet?" Dokter dengan nametag Mahatma itu tersenyum tulus padanya. Bahkan kini ia sudah berdiri kembali meskipun dengan dokter Atma yang memegangi pundaknya.
"Iya dok. Dokter mau periksa sekarang?"
"Saya tunggu ibu di depan pintu sini ya Bu. Nanti kalau ada apa-apa ibu bisa teriak. Baru setelah itu saya periksa ibu"
"Makasih ya dok. Kalau gitu saya pipis sebentar aja"
Dokter Mahatma tersenyum lagi. Ia menepati janjinya untuk tetap berdiri hingga Alea menyelesaikan kegiatannya didalam kamar mandi. Bahkan ia juga membantu Alea agar kembali berbaring diatas ranjang hingga dirinya selesai memeriksa gadis itu kembali.
"Masih pusing nggak Bu?"
"Panggil Alea saja dok"
"Oke, mbak Alea masih ada keluhan lain?"
"Cuma masih pusingnya aja dok"
"Kalau mual masih?"
" Udah nggak kok dok"
" Oke, jadi kalau gitu tinggal pusingnya saja ya mbak. Emm nanti kita lihat perkembangannya sampai nanti sore. Kalau nanti sore sudah baikan, mbak Alea sudah boleh pulang "
"Beneran dok?"
"Iya. Kalau pusingnya memang wajar ya mbak karena kan ini efek dari anemianya. Jadi untuk pr nya mbak Alea harus sering makan yang mengandung banyak kacang-kacangan dan protein tinggi ya"
"Saya nggak doyan daging sapi dok. Kalau ayam sih masih oke"
"Kalau gitu bisa dibantu pakai kapsul penambah darah mbak. Nanti saya resepkan obatnya ya mbak"
" Terimakasih ya dok. Maaf tadi sudah merepotkan dokter"
"Sama-sama mbak. Kalau begitu saya permisi dulu semoga lekas membaik ya mbak"
Lagi, Alea kembali sendirian. Kini fokusnya berlari pada selang infus yang panjang, kedua matanya menatap cairan yang turun dari tabung plastik atas itu menuju aliran darah di tubuhnya.
Ada rasa nyeri juga yang tiba-tiba merambat, bukan pada tangannya yang terinfus melainkan pada hatinya yang merasa kosong. Pikirannya melambung jauh, entah kenapa bayangan Danu tiba-tiba melintas di otaknya.
Laki-laki menyebalkan itu benar-benar nggak punya hati sama sekali.
*****