Bagaimana Sassa tidak menjadi gila di saat ia terjebak dengan dua pria yang terus menghancurkan hatinya. Suami yang terlihat jinak namun sampai saat ini sama sekali tidak meminta maaf dengan benar.
“Hmm.. lihat itu, dua bola matanya langsung terbuka lebar dan bersinar dengan terang hanya karena aku memberikan yang ia inginkan!”
“Kamu langsung terlihat penurut dan mematuhi segalanya hanya karena aku bisa memuaskan hasratmu!”
Sassa terus bergumam di dalam hatinya, di setiap kali ia mendekap suaminya itu. Luapan hati yang tidak akan pernah bisa selesai bila harus terus menguraikannya. Akan terus muncul dan malah mungkin saja bisa terus bertambah. Kekesalan hati yang tidak akan dengan mudah diungkapkan dan terus terpendam, bertumpuk hingga hanya tinggal menunggu kapan waktunya itu akan meledak saja.
“Bila seperti ini terus, maka semakin aku merasa bahwa kamu itu benar-benar pria yang patut untuk dibuang.”
Menghela napasnya dengan dalam dan menghemasnya perlahan, Sassa merasa bahwa sudah saatnya untuk bisa bergerak dengan lebih cepat. Ia harus segera merebut kembali seluruh hal yang telah diraih oleh Robin, secepat yang ia bisa.
“Sebelum semuanya terlambat dan aku malah terus mengharapkan sesuatu yang sia-sia, aku harus segera melakukan sesuatu, untuk merebut segalanya kembali!”
Tidak ada yang ingin rumah tangganya hancur, bahkan dengan adanya cinta sekali pun. Sassa sama sekali tidak ingin bercerai dari suaminya. Ia akan rela berjuang dan membangun rumah tangga itu lagi. Bila memang Robin menyesali perbuatannya, memohon pengampunan setulus hati pada Sassa dan tentu saja, bila Robin berjuang menunjukkan ketulusannya pada Sassa berkali-kali lipat dari apa yang ia lakukan sebelumnya. Meyakinkan Sassa bahwa ia tidak akan pernah mengulang kesalahan yang sama, serta berjanji agar mau menjaga buah hati mereka, membesarkan anak mereka dan hidup menjadi keluarga yang utuh serta saling bahu membahu.
Sungguh, Sassa hanya butuh hal itu dari Robin untuk mendapatkan pengampunannya. Namun, semua itu tidak pernah ia dapatkan. Robin malah terus berdalih dan menyalahkan Sassa atas kesibukannya, ia menuduh Sassa yang tidak becus mengurus suami karena terlalu mementingkan diri sendiri. Walau sekarang kondisi sedikit terbali, Robin justru terjerat dengan siksaan yang Sassa lakukan. Tak peduli, Sassa sibuk bekerja, sibuk dengan ponselnya, atau justru mengikatnya semalaman di atas kasur. Selama Sassa menyiksa tubuh Robin, maka Robin pun akan menjadi suami jinak yang benar-benar patuh.
“Ya, aku sudah cukup bodoh untuk mengaharapkan pernikahan yang utuh dengan Robin.”
Pada akhirnya menurut Sassa Robin hanya peduli pada hubungan di atas ranjang saja tanpa benar-benar peduli akan hal lainnya. Bahkan Robin sama sekali tidak bertanya tentang ayah dari anak yang ada di dalam kandungan Sassa.
Kecewa pada pilihan hidupnya yang rasanya selalu saja salah memilih. Sassa mengusap perutnya yang semakin hari semakin membuncit, seorang anak yang tidak bersalah dan tidak berdosa sedang tumbuh besar di dalam rahim Sassa. Itu membuat Sassa juga semakin sadar bahwa Sassa harus bertindak lebih cepat dan mempersiapkan kelahiran bayinya kelak. Melupakan sakit yang ia rasakan dan harus bisa membesarkan anaknya sebagai seorang ibu yang baik.
Apa lagi, saat ini hubungannya dengan Lori juga sedang tidak baik. Tidak ada yang benar-benar bisa membuat Sassa mempertahankan kewarasannya. Lori yang merupakan pria yang ia cintai juga tak jauh berbeda dengan suaminya Robin. Lori selalu saja membuat hati Sassa utuh dan kemudian kembali runtuh, berulang kali. Sassa selalu saja merasa dicintai dan mencintai. Namun, berulang kali pula Sassa merasa hatinya remuk di saat Lori bertindak canggung dan bingung setiap kali ada Nia di antara mereka. Menjadikan Sassa tidak tahu seperti apa perasaan Lori yang sebenarnya, mencintai dirinya atau sama saja dengan Robin yang hanya menyukai tubuhnya saja.
“Aku muak!”
“Aku benci segalanya!”
“Aku sungguh lelah!”
“Aku ingin mengakhiri segalanya.”
Luapan perasaan itu tak lagi bisa di hitung jumlahnya oleh Sassa. Sassa sungguh merasa tidak sanggup untuk segala yang harus ia hadapi. Ia muak dengan perasaannya yang terus saja mengarah pada hal yang sama, bagai jarum jam yang berulang kali berputar di arah yang sama. Sassa sungguh benci kenyataan yang begitu pahit tersebut bahwa hatinya selalu terpaut pada Lori yang sudah sejak lama ia cintai, Sassa pun sudah cukup lelah dengan kehidupan yang rasanya tidak ada kemajuan apa pun dan malah semakin buruk serta terpuruk seiring dengan berjalannya waktu dan perutnya yang kian membesar.
“Aku harus menemukan cara agar semua benar-benar berakhir. Menaruh harapan pada saat ini justru akan memberikan luka untukku dan anakku saja!”
Sekali lagi, Sassa menghela napasnya yang dalam dan panjang. Mencoba menenangkan hatinya yang sudah benar-benar rapuh.
Putus asa dengan hidupnya sendiri, Sassa yang sudah muak akan segalanya itu pun, tak lagi peduli dengan segalanya. Ia hanya ingin meluapkan seluruh amarahnya itu pada salah satu orang yang paling membuat hidupnya hancur. Ia ingin membalas segalanya dan bisa sedikit membuat hatinya merasa lebih lega.
“Andai saja pernikahanku baik-baik saja. Meski tanpa cinta dan hanya saling menghargai saja, sungguh itu sudah lebih dari cukup untukku!”
“Aku tidak pernah mengharapkan sesuatu yang lebih dari itu, tidak pula aku ingin diistimewakan, sungguh, bagiku sudah cukup dengan saling menghargai saja.”
Tidak ada sedikit pun keingian Sassa untuk bisa hidup penuh cinta dan kasih sayang yang begitu utuh, ia sudah merasa puas dengan saling berusaha dan berjuang bersama. Walau, itu pun kini hanya menjadi khayalannya saja. Rumah tangganya sudah benar-benar hancur dan tampaknya tidak lagi memiliki harapan untuk bisa kembali dibangun sampai utuh, apa lagi untuk bisa kokoh.
Saat ini, apa lagi yang bisa Sassa lakukan dengan seluruh kehidupannya yang sudah benar-benar hancur lebur. Hatinya yang selalu mengarah pada Lori dan amarahnya yang selalu ia lampiaskan pada Robin. Kedua pria yang selalu membuat Sassa menjadi gila dan nyaris kehilangan kewarasannya, berulang kali membuatnya menyerah, lalu membangkitkan semangatnya untuk tidak putus asa. Benar-benar kehidupan memuakkan yang tidak pernah bisa ia bayangkan akan menimpa dirinya. Hingga akhirnya, Sassa kembali sadar akan satu hal yang seharusnya sudah bisa membuatnya terbangun dari harapan semu yang selalu muncul bak mimpi indah itu.
“Ah, aku sampai tidak sadar bahwa sampai detik ini pun, tidak ada yang benar-benar mencemaskan kehamilanku!”
Menarik napas yang panjang dengan hembusan berat yang menderu pelan, Sassa meringkuk dalam pedihnya kenyataan yang harus ia hadapi. Setiap harinya selalu ia lalui dengan hal yang sama, jatuh cinta, kemudian dihempaskan kembali, lalu meluapkan seluruh amarahnya begitu saja dan sekali lagi meratapi kehidupannya yang tiada habisnya.
Satu hal lagi yang paling menyedihkannya adalah, selama ini Sassa merawat anak yang ada di dalam kandungannya itu sendirian. Tak peduli apa pun yang harus Sassa hadapi, Sassa tetap harus bertahan demi anak yang bahkan belum lahir tersebut. Menjaga sampai batas pada tubuh itu sanggup bertahan, mencoba untuk tatap makan meski tidak ada yang bisa ia telan dengan benar, berusaha untuk bisa tidur, walau setiap terpejam yang terlintas adalah pengkhianatan sang suami, mencoba tersenyum walau ternyata hati perih kala melihat pria yang ia cintai terlihat gagap di hadapan istrinya yang katanya ia benci itu. Sungguh kehidupan yang memuakkan dan benar-benar tidak ada yang peduli padanya dengan setulus hati.
“Duduklah, kamu pasti lelah berdiri!”
Suara itu muncul tiba-tiba, membuat Sassa terdiam sambil memandang ke arah sumber suara lembut yang penuh perhatian. Mengusik lamunan panjangnya yang selalu terlintas di dalam pikiran tanpa kenal situasi dan kondisi, muncul begitu saja tanpa mengenal waktu dan berakhir dengan mudah bak hempasan angin di saat yang tiba-tiba pula.
Tersenyum sambil memiringkan kepalanya, Vero menyeret sebuah kursi untuk Sassa dan mendorong tubuh mungil Sassa itu untuk duduk di kursi tersebut.
“Ve-vero!” terbata-bata Sassa cukup canggung dengan apa yang Vero lakukan tersebut.
Akan tetapi, tindakan itu tentu tidak berakhir begitu saja di sana. Vero tanpa rasa malu dan ragu sedikit pun langsung membungkukkan tubuhnya, ia pun berlutut di hadapan Sassa yang sudah duduk di kursi tersebut. Vero mengulurkan kedua tangannya, meraih betis Sassa yang sejajar dengan dirinya, perlahan menyentuh dari betis hingga ke pergelangan kaki Sassa dengan sangan lembut. Sentuhan yang menggelitik dan bahkan menggetarkan hati Sassa.
“Tidak baik untuk ibu hamil menggunakan hak yang terlalu tinggi seperti ini. Lain kali gunakan saja sepatu yang datar atau minimal gunakan yang haknya lebih rendah!”
Sambil melepaskan sepatu yang Sassa kenakan, Vero mengatakan hal tersebut dengan penuh perhatian dan kasih sayang yang tidak pernah Sassa rasakan sejak ia memergoki Robin berselingkuh. Begitu pula dengan Lori yang tampaknya hanya peduli dengan hubungannya dengan Sassa agar tidak ketahuan oleh Nia. Mendambakan tubuh Sassa tanpa memastikan kondisi Sassa yang sebenarnya. Lantas, dari kedua pria yang berputar di sekelilingnya itu. Bagaimana pula, bisa justru Vero yang memerhatikan kehamilan Sassa.
“Ah, dan sebaiknya kamu juga jangan terlalu banyak berdiri! Betismu pasti sakit dan pegal!”
Bersamaan dengan selesainya Vero melepas sepatu hak tinggi yang Sassa kenakan dan meletakkannya di samping kaki Sassa. Vero sentuhan terakhir di telapak kaki Sassa itu pun di pandangi dengan lekat oleh Vero.
Tangan Vero terasa hangat di telapak kaki Sassa, terasa lembut dan tampaknya juga menyentuh hati Sassa. Lantas, di saat Sassa terpesona dengan apa yang Vero lakukan. Vero pun kembali menggoda Sassa sama seperti biasanya.
“Bagaimana, apakah aku suami yang baik?”
“Apa kamu sudah terpesona padaku?”
Wajah Sassa memerah begitu saja dan ia tanpa sengaja malah menganggukkan kepalanya yang kemudian di sambut senyuman oleh Vero.
“Eh, tidak. Kata siapa aku terpesona padamu!” sangkal Sassa sedapat yang ia bisa.
Jujur saja saat ini, Sassa tidak menyangka bahwa Vero berani mengatakan hal itu di depan umum seperti ini. Membuat Sassa semakin salah tingkah dan terus bertindak canggung dengan wajah merahnya yang sudah merona hingga ke daun telinga yang terlihat berwarna merah muda.
Saat ini, mereka berada dalam sebuah tinjauan untuk melihat bahan bangunan yang akan digunakan untuk membangun kantor baru mereka. Sesuai dengan kesepekatan yang telah mereka setujui, bahwa Sassa akan ikut berperan sebagai pengawas langsung dalam proyek tersebut dan itu lah yang kini tengah mereka lakukan. Memantau bahan yang akan digunakan di toko bangunan yang kini sedang berdiskusi atas dana yang akan digelontorkan.
“Hmmm.. senang deh, melihat pengantin baru yang begitu akur dan saling perhatian!”
Tampaknya pemilik toko bangunan itu melihat kejadian tersebut dan ia langsung mengungkapkan pendapatnya yang membuat Sassa semakin salah tingkah lagi. Sedangkan Vero malah terlihat menikmati kesalahpahaman tersebut.
“Sassa sedang hamil dan saya cemas pada kondisi kandungannya. Mohon maklumi jika dia harus duduk di kursi!” tutur Vero dengan senyuman ramahnya yang tidak pernah luntur.
“Wah, senangnya.”
“Kalian benar-benar membuat iri saja.”
Pemilik toko itu menggelengkan kepalanya. Ia pun kembali meneruskan ucapannya, namun kali ini mengarah pada sang istri yang baru saja ikut bergabung bersama dengan mereka. “Sayang, lihatlah mereka. Istrinya menemani suaminya bekerja, membantu pekerjaannya dengan memilah barang yang dibutuhkan. Lalu, sang suami dengan perhatian menjaga kandungannya!”
Rangkulan pun wanita itu berikan pada sang suami, dengan senyuman yang merekah dengan sangat lebar. Sedangkan Sassa mencoba mencubit kecil tubuh Vero untuk menghentikan kesalahpahaman tersebut, namun jelas Vero mengabaikan kode kerasa dari Sassa tersebut dan malah tetap tersenyum ramah seakan tidak ada yang salah dari pendapat pemilik toko tersebut.
“Aduh, jadi ingat di saat aku hamil anak pertama, deh!”
“Benar-benar pasangan yang manis!”
“Semoga rumah tangga kalian awet sampai ajal menjemput nanti, ya!”
“Aamiin!”
Doa itu pun langsung diaminkan oleh Vero dengan penuh semangat dan pembahasan kali pun berlangsung dengan sangat mudah. Sassa mendapatkan banyak potongan harga untuk proyek tersebut karena pemilik toko itu senang akan kedekatan Sassa dan Vero yang membuat mereka merasa bernostalgia atas cinta kasih mereka di masa lampau.
“A-aku tidak percaya jika kita akan sukses seperti ini!” gumam Sassa gugup yang masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dapatkan dari negosiasi mereka yang sukses besar tersebut.
Mobil mereka melaju dengan kecepatan yang sedang dan Sassa terus saja mengulangi kalimat yang sama. Ia terlihat senang dengan pekerjaannya yang berjalan sangat lancar.
“Hmmm.. sepertinya kamu sumber keberuntunganku!”
Sassa yang terlalu semangat akan keberhasilan mereka itu pun langsung berkata seperti itu dan itu malah membuat Vero tanpa sengaja menginjak rem mobilnya begitu saja.
“Ah, maaf!”
Vero pun sadar bahwa apa yang ia lakukan itu berbahaya, namun tubuhnya memang tidak bisa berbohong jika ia terkejut akan ungkapan takjub dari Sassa tersebut.
Panik dan berusaha untuk kembali melajukan mobil tersebut, Vero pun kesulitan untuk menentukan langkah yang harus ia lakukan. Lalu, di saat kepanikan yang terjadi itu, Sassa langsung menyentuh tangan Vero untuk menenangkan Vero dari kepanikannya.
Berkat sentuhan ringan itu Vero pun berhasil mengendalikan dirinya dan melajukan mobil itu lagi dengan benar. Namun, kali ini sepanjang perjalanan keduanya hanya diam saja dengan tangan Sassa yang masih menempel di punggung tangan Vero yang tengah memegang tuas gigi mobil tersebut.
Debaran jantung dan suara desir mesin mobil justru menjadi satu-satunya sumber suara yang kini memenuhi gendang telinga mereka.